Bukti Kejayaan Nusantara: Sistem yang Sesuai dengan Kultur Bangsa

Posted on Updated on

Gajah-madaWahai saudaraku. Kali ini kita akan kembali mengulik tentang kejayaan peradaban nenek moyang bangsa kita lagi. Karena sesungguhnya banyak yang perlu di ketahui kemudian di jadikan acuan dasar dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan ketika bangsa ini mau mengikuti kembali apa yang pernah diterapkan oleh nenek moyang kita dulu itu – dengan terus menyesuaikan dengan kondisi yang kekinian, maka tidak ada alasan bagi bangsa ini untuk tidak maju dan berjaya lagi.

Ada banyak contoh penataan perikehidupan yang pernah ada di tanah Nusantara, yang dilakukan oleh nenek moyang kita dulu. Misalnya penataan masyarakat yang ada di Tatar Sunda – yang pernah ada sebelum tarikh Masehi hingga munculnya kerajaan Salakanegara, bahwa mereka mengenal tiga pemimpin di dalam masyarakatnya, yaitu:

  1. Rama. Ini adalah istilah asli Jawa/Sunda Kuno yang bukan dari bahasa Sanskerta, yang berarti pemimpin wilayah tertentu. Pemimpin yang langsung berurusan dengan masyarakat.
  2. Resi. Ini adalah istilah bagi para orang-orang “suci” karena tekun bertapa dan mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan). Selain itu, ini dapat berarti orang yang dituakan karena pengetahuan spiritualnya yang tinggi.
  3. Ponggawa. Ini sebenarnya juga berarti pemimpin atau ketua, tetapi kerap kali istilah ini mengacu pada pemimpin kemiliteran, komandan militer atau pegawai keamanan.

Sehingga dengan begitu maka terdapatlah tiga pemimpin dalam masyarakat Sunda Kuno, yaitu pemimpin wilayah, pemimpin spiritual dan pemimpin bidang keamanan. Sebuah sistem penataan yang tidak di jumpai bahkan pada masyarakat Hindu di India. Sehingga ketiga pembagian itu adalah asli temuan orang dari Tataran Sunda. Namun kemudian ketika budaya dari tanah India datang dalam rupa agama Hindu – aliran Siwa atau Wisnu – maka istilah-istilah itu di ganti dengan kata Sanskerta kecuali kata Rama yang masih tetap di pertahankan. Inilah yang dikenal dalam Kropak 632 (Amanat Galunggung) yang berbunyi; “Jagat daranan di sang rama, jagat kreta di sang resi, jagat palangka di sang prabu : Dunia bimbingan berada di tangan sang rama, dunia kesejahteraan berada di tangan sang resi, dunia pemerintahan berada di tangan sang raja”

peradaban nusantara

Lalu sejarah bangsa ini terus berkembang dengan pesatnya. Dan khususnya di dalam masyarakat Jawa pasca kerajaan Medang atau Mataram kuno, maka susunan ketatanegaraan menjadi semakin komplek dan luas. Kita ambil contoh kerajaan Majapahit yang memiliki struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah selama perkembangan sejarahnya. Untuk lebih jelasnya, mari ikuti uraian berikut ini:

Dalam menjalankan roda pemerintahannya, sebagai kepala negara Prabu (Raja) dibantu oleh beberapa aparat birokrasi. Perintah raja biasanya diturunkan kepada pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:

1. Rakryan Mahamantri Katrini (biasanya dijabat putra-putra raja)
1) Mahamantri i Hino (putera mahkota)
2) Mahamantri i Sirikan
3) Mahamantri i Halu

2. Rakryan Mantri Pakira-kiran (dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan)
1) Rakryan Mahapatih atau Patih Hamangkubhumi (Perdana Menteri);
2) Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan);
3) Rakryan Demung (Pengaturan Rumah Tangga Kerajaan);
4) Rakryan Rangga (Pembantu Panglima);
5) Rakryan Kanuruhan (penghubung dan tugas-tugas protokoler).

3. Arya (pejabat di bawah Rakryan)
1) Sang Arya Patipati: Pu Kapat;
2) Sang Arya Wangsaprana: Pu Menur;
3) Sang Arya Jayapati: Pu Pamor;
4) Sang Arya Rajaparakrama: Mapanji Elam;
5) Sang Arya Suradhiraja: Pu Kapasa;
6) Sang Arya Rajadhikara: Pu Tanga;
7) Sang Arya Dewaraja: Pu Aditya;
8) Sang Arya Dhiraraja: Pu Narayana.

4. Dharmadhyaksa (para pejabat hukum keagamaan)
1) Dharmadhyaksa ring Kasiwan (urusan agama Siwa)
2) Dharmadhyaksa ring Kasogatan (urusan agama Buddha)

5. Dang Acarya (para pendeta Siwa dan Buddha)
1) Dharmadhyaksa Kasaiwan: Dang Acarya Dharmaraja;
2) Dharmadhyakasa Kasogatan: Dang Acarya Nadendra;
3) Pamegat Tirwan: Dang Acarya Siwanata;
4) Pamegat Manghuri: Dang Acarya Agreswara;
5) Pamegat Kandamuni: Dang Acarya Jayasmana;
6) Pamegat Pamwatan: Dang AcaryaWidyanata;
7) Pamegat Jambi: Dang Acarya Siwadipa;
8) Pamegat Kandangan Tuha: Dang Acarya Srigna;
9) Pamegat Kandangan Rare: Dang Acarya Matajnyana.

Selain itu, melihat struktur di atas maka kerajaan Wilwatikta/Majapahit yang berdiri pada abad ke 13-16 Masehi jelas merupakan negara kesatuan yang telah memiliki satu sistem ketatanegaraan yang jelas, detil dan terstruktur – bahkan menurut saya jauh lebih bagus dari Indonesia sekarang. Dan jika dikaitkan dengan sistem negara yang moderen saat ini, maka Wilwatikta/Majapahit adalah negara yang telah menganut sistem negara serikat jauh sebelum USA (United States of America) berdiri. Wilwatikta/Majapahit juga telah mengenal sistem otonomi daerah bahkan ratusan tahun sebelum NKRI menerapkannya. Sehingga pertanyaannya kini adalah “siapa yang meniru siapa?”.

Kemudian saat Majapahit memasuki era kemaharajaan Thalasokrasi saat pemerintahan Gajah Mada, beberapa negara bagian di luar negeri juga termasuk dalam lingkaran pengaruh Majapahit, sebagai hasilnya, konsep teritorial yang lebih besar pun terbentuk. Di antaranya:

1. Negara Agung, atau Negara Utama, inti kerajaan. Area awal Majapahit atau Majapahit Lama selama masa pembentukannya sebelum memasuki era kemaharajaan. Yang termasuk area ini adalah ibukota kerajaan dan wilayah sekitarnya dimana raja secara efektif menjalankan pemerintahannya. Area ini meliputi setengah bagian timur Jawa, dengan semua provinsinya yang dikelola oleh para Bhre (bangsawan), yang merupakan kerabat dekat raja.

2. Mancanegara, area yang melingkupi Negara Agung. Area ini secara langsung dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa, dan wajib membayar upeti tahunan. Akan tetapi, area-area tersebut biasanya memiliki penguasa atau raja pribumi, yang kemungkinan membentuk persekutuan atau menikah dengan keluarga kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit menempatkan birokrat dan pegawainya di tempat-tempat ini dan mengatur kegiatan perdagangan luar negeri mereka dan mengumpulkan pajak, namun mereka menikmati otonomi internal yang cukup besar. Wilayah Mancanegara termasuk didalamnya seluruh daerah Pulau Jawa lainnya, Madura, Bali, dan juga Dharmasraya, Pagaruyung, Lampung dan Palembang di Sumatra.

3. Nuswantara, adalah area yang tidak mencerminkan kebudayaan Jawa, tetapi termasuk ke dalam koloni dan mereka harus membayar upeti tahunan. Mereka menikmati otonomi yang cukup luas dan kebebasan internal, dan Majapahit tidak merasa penting untuk menempatkan birokratnya atau tentara militernya di sini; akan tetapi, tantangan apa pun yang terlihat mengancam ketuanan Majapahit atas wilayah itu akan menuai reaksi keras. Termasuk dalam area ini adalah kerajaan kecil dan koloni di Maluku, Papua bagian barat, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.

Ketiga kategori itu masuk ke dalam lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit. Akan tetapi Majapahit juga mengenal lingkup keempat yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar negeri, yaitu:

4. Mitreka Satata, yang secara harafiah berarti “mitra dengan tatanan (aturan) yang sama”. Hal itu menunjukkan negara independen luar negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan sebagai bawahan dalam kekuatan Majapahit. Menurut Negarakertagama pupuh 15, bangsa asing adalah Syangkayodhyapura (Ayutthaya di Thailand), Dharmmanagari (Kerajaan Nakhon Si Thammarat), Marutma, Rajapura dan Sinhanagari (kerajaan di Myanmar), Kerajaan Champa, Kamboja (Kamboja), dan Yawana (Annam). Mitreka Satata dapat dianggap sebagai aliansi Majapahit, karena kerajaan asing di luar negeri seperti China dan India tidak termasuk dalam kategori ini meskipun Majapahit telah melakukan hubungan luar negeri dengan kedua bangsa ini.

Pola kesatuan politik khas sejarah Asia Tenggara purba seperti ini kemudian diidentifikasi oleh sejarahwan modern sebagai “mandala”, yaitu kesatuan politik yang ditentukan oleh pusat atau inti kekuasaannya daripada perbatasannya, dan dapat tersusun atas beberapa unit politik bawahan tanpa integrasi administratif lebih lanjut. Daerah-daerah bawahan yang termasuk dalam lingkup mandala Majapahit, yaitu wilayah Mancanegara dan Nusantara, umumnya memiliki pemimpin asli penguasa daerah tersebut yang menikmati kebebasan internal cukup luas.

Selain tata negara di atas, kami juga akan memberikan gambaran sekilas dari kemegahan tata kota yang ada di negara Majapahit. Berikut ini cuplikan yang di kutip dari kitab Negarakertagama tentang deskripsi ibukota Majapahit saat itu:

Tersebut keajaiban kota : tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda jaga paseban. Di sebelah utara bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir. Di sebelah timur : panggung luhur, lantainya berlapis batu putih-putih mengkilat. Di bagian utara, di selatan pekan rumah berjejal jauh memanjang sangat indah.

Di selatan jalan perempat : balai prajurit tempat pertemuan tiap Caitra. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah, menghadap padang watangan. Yang meluas ke empat arah, bagian utara paseban pujangga dan Mahamantri Agung. Bagian timur paseban pendeta Siwa-Buda yang bertugas membahas upacara. Pada masa grehana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia. Di sebelah timur pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil Siwa. Di selatan tempat tinggal wipra utama tinggi bertingkat menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat, di utara tempat Buda bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir, berhamburan bunga waktu raja turun berkorban. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, disela tanjung berbunga lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat berkeliaran para perwira. Tepat di tengah-tengah halaman bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau. Di dalam di selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua.

Dibuat bertingkat tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri. Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela. Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar tutur. Inilah para penghadap : pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang, Nyu Gading Jenggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi, tanpa upama. Waisangka kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang, Jayagung dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan dan banyak lagi. Begini keindahan lapangan watangan luas bagaikan tak berbatas. Mahamantri Agung, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka. Bayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua. Di sebelah utara pintu istana di selatan satria dan pujangga. Di bagian barat : beberapa balai memanjang sampai mercudesa.

Penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga. Di bagian selatan agak jauh: beberapa ruang, mandapa dan balai. Tempat tinggal abdi Sri Baginda Paguhan bertugas menghadap. Masuk pintu kedua, terbentang halaman istana berseri-seri. Rata dan luas dengan rumah indah berisi kursi-kursi berhias. Di sebelah timur menjulang rumah tinggi berhias lambang kerajaan itulah balai tempat terima tatamu Srinata di Wilwatikta. Inilah pembesar yang sering menghadap di balai witana : Wredamentri, tanda Mahamantri Agung, pasangguhan dengan pengiring Sang Panca Wilwatikta : mapatih, demung, kanuruhan, rangga. Tumenggung lima priyayi agung yang akrab dengan istana. Semua patih, demung negara bawahan dan pengalasan.

Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh. Jika datang berkumpul di kepatihan seluruh negara lima Mahamantri Agung, utama yang mengawal urusan negara. Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana. Begitu juga dua darmadyaksa dan tujuh pembantunya. Bergelar Arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan. Itulah penghadap balai witana, tempat takhta yang terhias serba bergas.

Pantangan masuk ke dalam istana timur agak jauh dan pintu pertama. Ke Istana Selatan, tempat Singa Wardana, permaisuri, putra dan putrinya. Ke Istana Utara. tempat Kerta Wardana. Ketiganya bagai kahyangan semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni Cakinya dari batu merah pating berunjul, bergambar aneka lukisan. Genting atapnya bersemarak serba meresapkan pandang menarik perhatian. Bunga tanjung kesara, campaka dan lain-lainnya terpencar di halaman. Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng. Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja. Selatan Buda-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka. Barat tempat para arya Mahamantri Agung dan sanak-kadang adiraja.

Di timur tersekat lapangan menjulang istana ajaib. Raja Wengker dan rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci. Berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem. Tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta. Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi. Di situ menetap patih Daha, adinda Sri Paduka di Wengker. Batara Narpati, termashur sebagai tulang punggung praja. Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak. Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada. Mahamantri Agung wira, bijaksana, setia bakti kepada negara. Fasih bicara, teguh tangkas, tenang, tegas, cerdik lagi jujur. Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda negara. Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus. Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Buda. Terlangkahi rumah para Mahamantri Agung, para arya dan satria. Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura. Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang. Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa upama. Negara-negara di nusantara dengan Daha bagai pemuka. Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa Wilwatikta. [Untuk lebih jelasnya tentang kejayaan Majapahit, silahkan baca tulisan ini: https://oediku.wordpress.com/2010/03/28/majapahit-bukti-kejayaan-nusantara/ ]

Selanjutnya, dalam urusan hukum pidana dan perdata, maka bangsa di Nusantara telah sangat maju dan tertata. Mereka pun sudah memiliki hukum ketatanegaraan yang jelas, yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun di antaranya adalah yang sudah tertuang di dalam kitab hukum Dharmawangsa, Dharmasastra, Siwasasana, Adigama, Kutarasastra, Manawasastra dan Kutara Manawa. Sedangkan sejak masa Ratu Shima dari kerajaan Kalingga (sekitar abad ke 6-7 Masehi), maka orang Jawa sudah mengenal sekitar 172 pasal hukum ketatanegaraan. Sehingga dengan diterapkannya pasal-pasal hukum tersebut, maka khususnya masyarakat Kalingga sudah hidup dalam keteraturan dan kesejahteraan, bahkan keadilan sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Buktinya saja putra dari Ratu Shima sendiri telah di potong tangannya – dalam versi lain kakinya – hanya karena ia pernah menyentuh barang milik orang lain tanpa izin. Selain itu, daerah wilayah kekuasaan kerajaan Kalingga meliputi 28 wilayah. Menurut Rouffaer, dalam menjalankan pemerintahannya raja atau ratu telah dibantu oleh 32 orang menteri, empat orang duduk di pusat kerajaan dan 28 orang lainnya berada di daerah-daerah.

Kemudian, pada masa kerajaan Singhosari (1268 – 1292 M) pasal-pasal tersebut di lengkapi lagi menjadi sekitar 242 pasal. Lalu yang terakhir pada masa kerajaan Wilwatikta/Majapahit ( 1293 – 1500 M), tepatnya pada masa Maha Patih Gajah Mada, maka pasal hukum yang berasal dari kerajaan Kalingga tersebut lalu di sempurnakan lagi menjadi sekitar 270 pasal. Inilah hukum ketatanegaraan yang kemudian dikenal dengan nama Kutara Manawa. Sebuah hukum yang telah paripurna dan sesuai pula dengan kebutuhan dan karakter bangsa Nusantara. Sehingga dengan diterapkannya pasal-pasal hukum Kutara Manawa pada saat itu, maka nyatalah slogan dari negeri khatulistiwa; “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo”.

Ya. Pemerintahan Majapahit warisan dari Raden Wijaya ini merupakan susunan pemerintahan yang sangat kuat. Pemerintahan Majapahit terbagi atas struktur bawah, tengah dan atas. Bagian bawah dijalankan oleh susunan persekutuan adat seluruh Nusantara. Desa-desa di seluruh Nusantara di atur sesuai dengan adat yang berlaku di daerah itu. Bagian bawah bertanggungjawab kepada bagian tengah. Sedangkan bagian tengah dikepalai oleh Bupati dan Patih, baik di darat maupun di pesisir. Para Bupati diberi kekuasaan yang otonom untuk mengurusi rumah tangganya masing-masing. Mereka diberi kekuasaan untuk membuat pasukan dengan jumlah yang ditentukan untuk menjaga kedaulatan kadipatennya dari serangan yang tidak diinginkan. Jika terjadi gangguan keamanan yang membahayakan, mereka berhak mengajukan bantuan pasukan keamanan kepada pemerintahan pusat. Dimana itu adalah bagian atas yang berada di ibukota negara. Susunannya sangat memadai dan memegang peran yang terbagi-bagi dengan jelas. Di puncak pemerintahan, maka duduklah seorang raja di singgasananya, sementara di bawah sang raja yang terlibat dalam olah pemerintahan, maka ada seorang Maha Patih yang sangat piawai.

Selain itu, kejayaan bangsa ini dulu tidak terlepas dari sistem pendidikannya yang baik dan mengutamakan karakter luhur dengan watak yang mampu bernalar postif. Dan pada masa Gajah Mada, maka ada tiga jenis nilai yang dikembangkan dalam diri manusia, terutama pelajar di sekolah, yaitu:

  1. Shastratama. Ini adalah norma-norma tentang apa yang disebut dengan indah dan apa yang disebut dengan jelek.
  2. Buwanatama. Ini adalah nilai-nilai tentang kepekaan sosial, yaitu nilai kebersamaan, empati dan kepedulian terhadap permasalahan kemasyarakatan.
  3. Susilatama. Ini adalah kaidah-kaidah atau norma-norma tentang apa yang benar dan apa yang salah menurut berbagai jenis ketentuan yang berlaku dalam masyarakat.

Sehingga akhlak, watak dan moral tinggi merupakan sebuah sikap yang ditandai dengan pengikatan diri secara sukarela kepada nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan benar. Yang dengan begitu akan menaikan derajat dan kemampuan bangsa ini. Namun seperti yang telah diungkapkan di atas, maka pendidikan saat ini kurang menekankan pada hal-hal tersebut. Konsep pendidikan negara kita kini telah mengabaikan watak dan kemampuan bernalar, sehingga manusia Indonesia menjadi tidak peka terhadap nilai-nilai benar dan salah, karena pengetahuan yang didapatkan di bangku sekolah hanyalah pengetahuan yang kosong dari makna. Padahal tanpa pendidikan watak dan kemampuan bernalar yang benar, sekolah hanya akan menjadi beban karena tidak bisa menjadi alat untuk berpikir secara logis dan konseptual. Oleh karena itu, pembinaan watak, karakter dan kemampuan bernalar harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan.

natural

Kemudian, setelah konsep pendidikan yang sangat penting bagi kehidupan, maka ada juga visi spiritual yang pernah diterapkan, yang diberi nama Tri Hita Wacana. Visi Tri Hita Wacana ini adalah tiga penyebab bahagia atau dengan kata lain tiga hubungan yang harmonis yang menyebabkan timbulnya kebahagiaan. Adapun di antaranya yaitu:

  1. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan.
  2. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia lainnya, bahkan makhluk lainnya (jin, hewan, tumbuhan).
  3. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam atau lingkungannya.

Ketiga hubungan yang harmonis ini diyakini akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan ini, yang kemudian diwujudkan dalam tiga unsur, yaitu:

  1. Parahyangan atau tempat suci.
  2. Pawongan atau manusia itu sendiri.
  3. Palemahan atau alam semesta atau lingkungan.

Selanjutnya, ada pula visi Tri Kaya Parasada, yang merupakan salah satu bagian dari ajaran susila. Tri Kaya Parasada artinya tiga perilaku manusia yang suci. Perilaku yang suci sama dengan perilaku yang baik dan benar. Adapun bagian-bagiannya adalah:

  1. Manacika; berpikir yang baik dan benar.
  2. Wacika; berkata yang baik dan benar.
  3. Kayika; berbuat yang baik dan benar.

Adapula visi yang tak kalah pentingnya, yaitu visi Tri Parama Arta. Artinya adalah tiga macam perbuatan untuk bisa mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan diri sendrii dan orang lain. Tri Parama Arta terdiri dari:

  1. Tresna Asih (cinta kasih). Artinya menyayangi dan mengasihi sesama makhluk sebagaimana mengasihi diri sendiri. Tujuannya agar terwujud kerukunan, kedamaian dan keharmonisan dalam hidup ini.
  2. Punila. Artinya perwujudan cinta kasih dengan wujud saling tolong menolong dengan memberikan sesuatu atau harta benda yang manusia miliki secara ikhlas dan berguna bagi yang diberi. Punia atau pemberian dengan ikhlas ini dapat dibedakan menjadi empat hal, yaitu:
    a. Pemberian berupa makanan dan minuman.
    b. Pemberian berupa pakaian dan perhiasan.
    c. Pemberian berupa pelayanan.
    d. Pemberian berupa ilmu dan pengetahuan.
  3. Bhakti. Artinya perwujudan hati nurani berupa cinta kasih dan sujud kepada Tuhan, menghormanti orang tua, guru dan pemerintah. Bahkan lebih jelasnya lagi ada konsep khusus yang disebut dengan Bhakti Marga, yaitu cara atau jalan untuk melakukan hubungan kepada Tuhan adalah dengan jalan sujud bakti kepada-Nya.

Untuk itu, bilakah sebuah perbuatan dikatakan benar atau salah, baik atau buruk? Padahal Tuhan menuntun selalu dunia ini melalui jalan yang benar. Segala sesuatu yang dapat menolong dunia ini melalui jalan yang telah ditentukan Tuhan sendiri adalah benar, dan segala sesuatu yang menghalanginya adalah salah. Dan Tuhan berada dimana-mana dan Tunggal. Menjadi dasar hidup segala ciptaan-Nya yang berpisah-pisah. Sebagaimana matahari yang menyinari segala pelosok, meskipun ribuan rumah yang membatasi, akan tetapi sinar matahari akan menyinari semuanya dengan sinar serta panas pada tiap-tiap rumah itu, yang berasal dari matahari yang tunggal. Sehingga jika tata susila mendasarkan ajarannya hanya kepada ke-Esaan Tuhan saja – karena mendasari setiap makhluk – ini berarti tiap-tiap perbuatan yang baik dan tidak baik, yang dilakukan oleh seseorang pada orang lain, berarti juga berbuat baik/tidak baik kepada dirinya sendiri.

*****

Ya. Pada masa lalu persatuan Nusantara juga merupakan persatuan dalam bidang budaya, politik, hukum adat, peradaban dan nasib. Melihat hal itu, maka persatuan Nusantara memang terdiri dari aneka ragam suku, budaya, bahasa, agama bahkan ras. Adapun kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia juga antara samudera Hindia dan Pasifik ini telah lama dipandang sebagai suatu kesatuan teritorial yang diduduki oleh suatu bangsa yang memiliki keturunan yang dekat dan memiliki kultur yang sama. Mereka mempunyai ikatan emosi yang erat dan dengan tidak menentukan batas yang lebih jelas, maka kepulauan ini adalah satu. Dan kenyataannya bahwa Nusantara Satu masih terngiang sampai pada akhir pendudukan Belanda, sehingga kini bersatulah ke dalam satu bahtera besar yang bernama Indonesia.

Wahai saudaraku. Lihatlah! Apakah kita masih meragukan kemampuan bangsa kita ini sendiri? Tidakkah engkau perhatikan struktur yang luarbiasa di atas? Bahwasannya apa yang pernah ada pada masa pemerintahan kerajaan Majapahit telah membuktikan betapa cerdasnya nenek moyang kita dulu. Semua perangkat di atas di susun dengan menyesuaikan pada kultur budaya dan keadaan yang ada pada masanya. Sangat maju dan tertata di saat bangsa Eropa masih dalam dunia kegelapan. Lalu mengapa kita tidak kembali pada jati diri kita sendiri sebagai bangsa Nusantara, dengan menerapkan sistem seperti di atas bagi kehidupan di bangsa ini sekarang? Karena kini kita justru mengikuti sistem ketatanegaraan yang diwariskan oleh para penjajah. Yang banyak bertolak belakang dengan kearifan lokal. Dan tidaklah aneh bila sejak awal berdirinya negara ini banyak kekacauan dan kerusakan yang berlarut-larut.

Yogyakarta, 17 Maret 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* Buku Misteri Gajah Mada
* Buku Peradaban Atlantis Nusantara

3 thoughts on “Bukti Kejayaan Nusantara: Sistem yang Sesuai dengan Kultur Bangsa

    […] bidang batiniah sekaligus yang bersifat ilmiah. [baca tulisan berikut: Negeri Arya Nuswantara dan Bukti kejayaan Nusantara: Sistem yang sesuai dengan kultur bangsa]. Sehingga mengikuti hukum dan aturan Tuhan pada masa itu adalah mutlak di lakukan. Tidak seperti […]

    Sejarah Hebat Bangsaku; Nusantara « Perjalanan Cinta said:
    April 18, 2015 pukul 5:08 am

    […] ini sudah berlangsung jutaan bahkan milyaran tahun lamanya [baca: Negeri Arya Nuswantara atau Bukti kejayaan Nusantara: Sistem yang sesuai dengan kultur bangsa atau Membangkitkan Nusantara dengan kearifan lokal atau Siklus geologi dunia waktunya pergantian […]

    […] bidang batiniah sekaligus yang bersifat ilmiah. [baca tulisan berikut: Negeri Arya Nuswantara dan Bukti kejayaan Nusantara: Sistem yang sesuai dengan kultur bangsa atau Kehancuran peradaban global dan kebangkitan kejayaan Nusantara]. Sehingga mengikuti hukum dan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s