Pencarian Makna dalam Era Konseptual

Posted on Updated on

tanda-tanyaHampir selama satu abad ini masyarakat Dunia pada umumnya dan masyarakat Barat khususnya, didominasi oleh satu bentuk pemikiran dan pendekatan hidup yang hampir bersifat reduktif dan sangat analistis. Masa kita dulunya adalah era “pekerja pengetahuan”, manipulator informasi dan pengguna keahlian yang sangat terpelajar. Namun itu sedang berubah. Berkat sejumlah kekuatan – kelimpahan materi yang memperdalam hasrat non-materil kita, globalisasi yang mengirim pekerjaan kerah putih ke luar negeri dan teknologi-teknologi hebat yang menghapus jenis-jenis pekerjaan tertentu secara bersamaan – kita sedang memasuki era baru. Ia merupakan satu era yang dihidupkan oleh satu bentuk pemikiran yang berbeda dan satu cara hidup yang baru – sesuatu yang menghargai kecerdasan-kecerdasan yang disebut “high concept” (konsep luhur) dan “high touch” (sentuhan tingkat tinggi).

High concept mencakup kapasitas untuk mendeteksi pola-pola dan peluang-peluang, menciptakan keindahan dan menggabungkan gagasan-gagasan yang tampak tidak berhubungan ke dalam sesuatu yang baru. High touch meliputi kemampuan untuk bersikap empati terhadap yang lain, memahami seluk beluk interaksi manusia, menemukan kesenangan dalam diri seseorang dan memasukkannya kepada yang lainnya, dan melewati keseharian dalam mencari tujuan dan makna hidup.

Ya. Ada dua jenis orang di dunia, karena terdapat anggapan bahwa memang segala sesuatu dibagi ke dalam dua kategori. Lalu manusia secara alami tampaknya agak cenderung melihat kehidupan dalam pasangan-pasangan yang saling berlawanan. Timur versus Barat, Mars versus Venus, logika versus emosi, kiri versus kanan. Tetapi dalam banyak hal kita biasanya tidak harus melakukannya. Misalnya, logika tanpa emosi adalah keberadaan yang memuakkan (seperti Spock yang membosankan di dalam film Star Trek). Sebaliknya emosi tanpa logika adalah dunia histeris yang menyedihkan, dimana jam-jam dinding tidak pernah akurat dan kendaraan umum yang selalu terlambat. Pada akhirnya Yin akan selalu membutuhkan Yang.

Yin-Yang

Singkatnya, kita kini telah bergerak maju dari sebuah masyarakat petani kepada masyarakat pekerjan pabrik, lalu ke suatu masyarakat pekerja pengetahuan. Dan sekarang ini kita sedang bergerak maju sekali lagi, yaitu ke suatu masyarakat pencipta dan pemberi simpati, pengindentifikasi pola dan pembuat makna. Inilah yang disebut dengan Era Konseptual.

ERA AGRIKULTUR (abad 18) => ERA INDUSTRI (abad 19) => ERA INFORMASI (abad 20) => ERA KONSEPTUAL (abad 21)

Sehingga pada akhirnya sangat diperlukan pemahaman terhadap makna. Karena makna itu  sendiri adalah yang sesungguhnya dicari oleh siapapun yang hidup di muka Bumi ini. Mungkin dalam semangat penderitaan – malahan terkadang dapat muncul dari penderitaan. Namun sebenarnya penderitaan bukanlah prasyarat untuk menemukan makna. Pencarian makna adalah dorongan yang ada di dalam diri kita sendiri – dan kombinasi dari keadaan-keadaan eksternal dan internal akan cepat mendorongnya ke permukaan. Dan terbukti, dalam tahun-tahun pertama dari abad ke 21, beberapa kekuatan berkumpul untuk menciptakan keadaan-keadaan untuk mencari makna dalam suatu skala yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Kini, hantu-hantu terorisme bergentayangan, memberikan kartu-kartu peringatan tentang kehidupan transit ini dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan-tujuannya. Pada saat yang sama, teknologi melanjutkan gerakannya yang tiada henti, membanjiri kita dengan data-data dan mencekik kita dengan pilihan-pilihan. Semua kekuatan ini berkumpul ke dalam suatu badai kondisi yang sempurna yang membuat pencarian makna menjadi lebih mungkin dan keinginan untuk menemukan makna sebagai kecerdasan tertinggi dari Era Konseptual menjadi kian relevan.

20140118_LDP001_0

Untuk itulah, dalam Era Konseptual ini, sudah saatnya kita mencari makna sebenarnya dari kehidupan ini. Atau setidaknya kita harus mengambil spritual secara serius dikarenakan kemampuan demonstratifnya untuk meningkatkan kehidupan kita – sesuatu yang mungkin lebih bernilai ketika begitu banyak dari kita memenuhi (dan terlalu memuaskan) kebutuhan-kebutuhan materil kita saja. Misalnya, sebagian dari penyakit-penyakit kehidupan modern – stres, serangan jantung, dst – dapat dikurangi dengan mendatangi spiritual. Karena menurut suatu penelitian di Universitas Duke, maka orang-orang yang berdoa secara reguler rata-rata mempunyai tekanan darah yang lebih rendah dari pada mereka yang tidak.

Para peneliti John Hopkins juga telah menemukan pula bahwa menghadiri ritual-ritual keagamaan dapat memotong resiko kematian dari penyakit serangan jantung, bunuh diri dan kanker. Dan menurut sebuah studi di Dartmouth Collage, satu alat peramal tentang ketahanan hidup di kalangan pasien yang menderita penyakit jantung adalah tentang berapa banyak pasien itu bersandar pada keimanan dan doa. Orang-orang pergi ke masjid, gereja, kuil, atau sinagog secara reguler juga tampak hidup lebih lama daripada mereka yang tidak. Hal ini terlihat dengan mengontrol sejumlah veriabel biologis dan perilaku para pasien. Bahkan menurut Newsweek, “72% orang Amerika berkata bahwa mereka akan menyambut baik sebuah percakapan dengan dokter tentang keimanan”. Itulah satu alasan bagi sebagian dokter untuk mulai mengambil “sejarah-sejarah spiritual” dari pasiennya sembari menanyakan kepada mereka apakah mereka bagian dari sebuah komunitas beriman, entah apakah mereka melihat sebuah makna yang lebih mendalam dalam kehidupannya. Dan ini bisa menjadi topik pembicaraan yang menyenangkan.

Ya. Kita telah hidup dalam era kelimpahan dengan standar-standar kehidupan yang tidak sesuai lagi dalam sejarah dunia. Kita terbebas untuk bertahan hidup, tapi punya kewajiban untuk lebih mencurahkan kehidupan kita kepada pencarian makna yang sejati. Karena makna adalah aspek sentral dari kerja dan kehidupan kita. Tapi kini kesenjangan spiritual itu masalanya sama besar dengan masalah kesenjangan materi, bahkan lebih besar lagi. Yang membuat sebagian dari kita bahkan belum mampu bersifat sebagai manusia.

*****

Untuk itu, apalagi yang kau cari kalau bukan makna dari kehidupanmu ini. Dunia ini hanya sementara, lalu mengapa tidak senang mengisinya juga dengan kebutuhan (bekal) untuk kehidupan yang abadi nanti; Akherat. Hendaklah engkau membiarkan dunia di tanganmu untuk kebaikan dirimu dan hamba-hamba-Nya – jangan pelit. Keluarkanlah dunia dari hatimu – jika perlu –  hingga dunia sama sekali tidak membahayakanmu. Janganlah kenikmatan dunia dan perhiasannya menipumu selalu. Sebab, tidak lama lagi engkau akan pergi dari dunia ini dan dunia pun pergi setelah kepergianmu itu.

O… Zaman ini adalah zaman dimana banyak orang yang menukar sesuatu yang penting (iman, agama, spiritual) dengan uang dan kesenangan sesaat duniawi. Sebuah zaman yang di dalamnya terdapat banyak angan-angan yang semakin tinggi dan ketamakan menjadi semakin kuat. Oleh karena itulah, hendaklah kita terus berjuang agar tidak termasuk orang-orang yang celaka karena melakukan perbuatan yang sia-sia, yaitu tidak mencari makna sesungguhnya dari hidup ini.

Yogyakarta, 03 Maret 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* Buku Misteri Otak Kanan Manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s