Siklus Geologi Dunia, Waktunya Pergantian Zaman

Posted on Updated on

kapal borobudurWahai saudaraku. Mari kita melanjutkan pembahasan sebelumnya, yaitu tentang hebatnya bangsa kita ini; Nusantara. Karena berdasarkan bukti yang telah ditawarkan oleh Prof. Stephen Oppenheimer (penulis buku berjudul “Eden in The East”) dan dikuatkan lagi oleh Prof. Arysio Santos (penulis buku berjudul “ATLANTIS : The Lost Continent Finally Found“) lalu dengan tuturan cerita Plato, maka sangatlah mungkin bangwa Atlantis yang hilang itu kini telah berubah menjadi lautan luas yang berada di Asia Selatan dan Asia Tenggara; Wilayah Nusantara. Mengapa itu bisa terjadi? karena memang wilayah ini berada dalam zona erupsi dan sabuk pegunungan berapi dunia (ring of fire).

Di Nusantara kini semakin banyak bukti yang menguatkan teori tersebut, mulai dari pembuktian DNA hingga pemetaan sejarah dan geologi. Yang semakin hari makin memperlihatkan hal-hal yang luarbiasa, bahkan mulai mematahkan anggapan kolot selama ini, bahwa Nusantara hanyalah imbas dari peradaban yang ada di belahan Bumi lainnya. Karena dengan ditemukannya Garis Wallace dan Webber ditambah lagi dengan berdasarkan kronologis Oppenheimer – dengan bukti-bukti yang ditemukan – bahwa Nusantara sebenarnya telah lebih awal mengalami kemajuan sebagai bangsa yang besar dan pertama kali memimpin revolusi kebudayaan dari masa setelah pencairan es terakhir, tepatnya pada era Neolitikum. Namun memang perlu disadari juga bahwa bukti-bukti yang tertinggal telah hilang akibat bencana vulkanik dan tektonik yang memang dahsyat dan sering kali terjadi di Nusantara ini. Sehingga jejak-jejak itu kini hanya tinggal kepingan-kepingan yang masih menyimpan teka-teki dan misteri, bagai puzle-puzle yang mesti disusun ulang.

Ya. Kini Nusantara tengah mengalami siklus berikutnya dari jam pemetaan geologi dunia, sejak lonsornya patahan bumi yang berada di ujung Aceh, diiringi kemudian ke arah tenggara dan selatan hingga berupa gempa-gempa tektonik yang terjadi di sepanjang wilayah Sumatera dan Jawa hingga kepulauan Nusa Tenggara dan Sulawesi. Rentetan gunung berapi di Nusantara pun sudah aktif kembali dan kini sebagiannya telah mengalami erupsi. Semua ini bagi penulis sendiri adalah tarikh Geologi Bumi, yang memang sudah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Tuhan kepadanya. Sehingga mau tidak mau, maka bangsa Indonesia ini sedang berada di dalam siklus geologi dunia, yang dahulu kala juga pernah terjadi secara berulang kali. Yang menyebabkan peradaban besar yang telah ada menjadi hancur dan bahkan musnah.

atlantis2

Untuk itu, khususnya dengan berbagai kejadian luarbiasa yang kemudian diterjemahkan sebagai bencana alam akhir-akhir ini, maka tanpa harus mengurangi rasa hormat dan bukan semata-mata membahas masalah yang sifatnya mitologi, ideologi bahkan cerita-cerita legenda, kini bangsa Nusantara telah dituntut untuk menjelma sebagai bangsa yang dinamis dan berusaha bangkit dalam kemajuan, untuk mempersiapkan kebutuhan bagi anak cucu di masa depan. Bencana yang terus saja terjadi belakangan ini bukan semata-mata karena kemarahan Tuhan Yang Kuasa, tetapi memang hasil dari perilaku Bumi serta seisinya – termasuk manusia sebagai pelaku yang dominan. Juga sebagai peringatan dini agar kita, bangsa Nusantara ini, kembali ke jati diri kita sendiri. Yang sesungguhnya dahulu kala, ketika menjalani kehidupan duniawi ini, tetap menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari alam semesta yang tak terpisahkan, yang harus hidup berdampingan dengan bijaksana. Tidak serakah dan mau menang sendiri.

O.. Saat ini, kita sebagai anak manusia yang selamat dari proses keseimbangan dan pemurnian zaman sebelumnya (Jurassic, Banjir Besar Nabi Nuh AS, musnahnya Atlantis, dll) sudah semestinya melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan yang terburuk. Kita harus mawas diri sejak kini, saat dimana puncak dari proses keseimbangan dan pemurnia kehidupan di Bumi ini akan mencapai puncaknya nanti. Dan ini tidak lagi bisa di abaikan, karena kita telah di hadapkan dengan kenyataan-kenyataan yang getir pada masa akhir-akhir ini (Tsunami Aceh, Gempa Jogja dan Padang, letusan Merapi dan Kelud, tanah longsor dan banjir dimana-mana, dll). Dan bukan tidak mungkin bahwa nanti Nusantara yang terkenal sebagai mutiara dari khatulistiwa atau Aden in the East ini akan tenggelam dan hilang seperti keberadaan Atlantis dalam cerita klasik Plato.

nusantara_rising

Untuk itu, realitas jati diri bangsa ini yang sebenarnya telah terbangun jauh hari kebelakang sebelum – katakanlah – sistem kapitalis mengendap di negeri ini pada masa VOC, atau setidaknya sejak Gubernur Jenderal Deandels berkuasa. Namun karena proyek kolonialisme itu, maka sejak saat itu pula bangsa ini hidup dalam kenyataan yang tidak real, palsu atau hanya bayang-bayang dari sistem kapitalis murni yang dibawa oleh para orientalis, indonesianis, imperialis, dan liberalis sekurang-kurangnya satu abad terakhir. Terus-terusan menjadi pengekor kalau tidak mau dibulang jongos/budak bangsa lain. Sehingga menjadi hal yang sangat mendesak bagi kita semua untuk segera menemukan kembali apa dan siapa diri kita sebenarnya sebagai sebuah bangsa yang besar di tanah kepulauan ini.

Ya. Realitas eksistensi dari bangsa ini sebenarnya telah ada sejak sekurangnya 1.500 SM. Bangsa ini merupakan kaum penjelajah samudera yang menciptakan diaspora pertama kali di dunia. Jauh sebelum bangsa Yahudi, Persia, Armenia, Skandinvia, Yunani, Romawi, Arab, India dan China melakukannya. Karena pada 35.000 tahun lalu saja, nenek moyang bangsa Nusantara sudah kembali melakukan penjelajahan samudera ke kepulauan Admiralty di gugusan kepulauan Bismarck yang berjarak 200 KM. Bandingkan dengan fakta bangsa Eropa penghuni pulau Siprus dan Kreta kali pertama, mereka baru ada disana pada 8.000 tahun lalu. Dan penjelajahan bangsa Nusantara ini tidak berhenti disini saja, karena pada 5.500 tahun lalu telah menyeberangi Pasifik untuk tiba dan berdiam di pulau Fiji dan pulau Paskah (salah satu tempat paling terpencil di dunia), bahkan Hawaii dan dua pulau besar di Selandia Baru.

Jejak-Warisan-Pelaut-Nusantara-di-Afrika

Sungguh, bangsa Nusantara adalah bangsa yang pertama kali melakukan Globalisasi, namun tidak dengan paksaan dan intimidasi, melainkan dengan rendah hati dan selalu dalam pendekatan cara berpikir, kebudayaan, keyakinan dan perdagangan. Tak ada ambisi untuk menguasai, mendominasi apalagi menjajah, sebagaimana sudah menjadi adab dari masyarakat Nusantara itu sendiri. Namun, semua kekuatan alam dan kekayaan intelektual yang pernah dimiliki oleh bangsa ini, yang terbangun selama puluhan milenia itu,  kini seperti tiada bekasnya. Karena kemudian datanglah manusia-manusia dari “dunia beradab” daratan yang dibawa atau ikut dalam ekspedisi pelaut Nusantara dengan nafsu dan ambisi untuk menguasai atau setidaknya mendominasi wilayah yang berlimpah kekayaannya ini, Eden in the east. Dan itu sudah menjadi fakta sejarah yang sangat menyakitkan bagi bangsa kita. Bahkan yang lebih menyesakkan dada adalah sebagian besar generasi bangsa ini justru menerimanya mentah-mentah dan semakin melupakan tradisi Nusantara yang adi luhur.

Jadi, zaman akan segera berganti dan seharusnya bangsa Nusantara sekarang ini bisa menjelma secara fisik, emosional, spiritual dan intelektual yang menyerupai nenek moyangnya dulu. Sosok baru dengan sebuah energi dan sinergisitas yang dinamis dan mampu merebut kembali ruang dan waktu barunya di masa depan. Dengan semangat nasionalisme, seharusnya sudah menempatkan diri dalam posisi sebagai bangsa yang kembali memimpin peradaban dunia – dengan turut membenarkan kembali peradaban dunia yang sudah salah arah ini – karena sesunggguhnya tetap tersambung dengan masa lalunya yang gemilang. Dan semua itu harus dimulai, setidaknya dengan memperhatikan kembali sejarah asli dari bangsa ini – dalam kisaran waktu 10.000 tahun belakang ini saja – dan segera merevolusi kembali bangsa ini untuk kembali ke jati dirinya. Tidak hanya untuk urusan pribadi atau sekedar revolusi metal saja, tetapi dalam semua aturan berbangsa dan bernegaranya sekaligus. Karena hanya dengan begitulah bangsa Nusantara yang dicintai ini akan bisa bangkit dan memimpin dunia lagi.

Yogyakarta, 22 Februari 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* Buku Peradaban Atlantis Nusantara.

2 thoughts on “Siklus Geologi Dunia, Waktunya Pergantian Zaman

    Sejarah Hebat Bangsaku; Nusantara « Perjalanan Cinta said:
    April 18, 2015 pukul 5:08 am

    […] Sistem yang sesuai dengan kultur bangsa atau Membangkitkan Nusantara dengan kearifan lokal atau Siklus geologi dunia waktunya pergantian zaman atau Kisah sejarah Nusantara atau Peradaban pasar global]. Tapi sekali lagi, karena berbagai […]

    Atlantis Ada di Nusantara « Perjalanan Cinta said:
    Juli 29, 2015 pukul 5:44 am

    […] Perlu diketahui, argumentasi pengusulan lokasi-lokasi sebagai Atlantis pada umumnya didasarkan pada sejarah Yunani kuno, kemajuan bangsa Eropa masa kini, dan secara fisik pada leutusan besar gunung Thera pada abad ke-17 atau ke-16 SM yang menyebabkan tsunami besar yang diduga menghancurkan peradaban Minoa di sekitar pulau Kreta. Para ahli Eropa beranggapan bencana seperti itu mungkin saja terjadi pada masa lalu yang menghancurkan benua Atlantis. Argumen lain adalah kemampuan migrasi suatu bangsa ke berbagai belahan dunia, terutama ke benua Amerika, sebagaimana bangsa Viking untuk argumen pengusulan Eropa Utara sebagai negeri Atlantis. Padahal hal yang demikian merupakan hal yang biasa terjadi di wilayah SundaLand dimasa lalu, jauh sebelum perhitungan Masehi dimulai. [Baca: Siklus geologi dunia, waktunya pergantian zaman] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s