Buka Mata, Telinga dan Hatimu untuk Nusantara

Posted on Updated on

buka mata dan telingaMari sedikit kita kupas bahwa sebenarnya bangsa ini belumlah merdeka. Dan kemerdekaan yang selama ini terus digadang-gadang, sebenarnya adalah dongeng belaka, semu dan tak nyata, agar rakyat di negeri kepulauan ini tidak marah. Semua tipu daya terus di lancarkan, sejak zaman kolonial hingga sekarang. Bangsa ini terus terjebak dalam arus kekuatan dan kekuasaan dunia yang imperealism, yang jelas sekali tidak mungkin mau berpihak dengan negara ketiga. Sehingga jadilah bangsa ini sebagai bangsa pengekor, kalau tidak mau dibilang jongos dari bangsa-bangsa besar di dunia (Amerika Serikat dan sekutunya).

Ya. Semua itu bermula karena Amerika Serikat (AS) memilki pemikiran ideologi yaitu sekularisme, liberalisme dan kapitalisme. Lalu bersumber pada pemikiran itu, maka AS membangun segala peraturan untuk “memecahkan dan mengatasi” berbagai problematika hidup manusia. Sebagai pengusung liberalisme, AS juga sangat mengagungkan kebebasan. Mereka mempertahankan kebebasan manusia yang terdiri atas kebebasan beragama, berpendapat, hak milik dan pribadi. Dari kebebasan hak milik inilah maka muncullah sistem ekonomi kapital yang menjerat.

Lalu, untuk memperjuangkan kepentingan itu, maka langkah pertama yang dilakukan AS adalah dengan mengajak seluruh dunia untuk menjadikan kapitalisme sebagai standar, persepsi serta keyakinan yang berlaku di segala aspek kehidupan seluruh manusia di dunia. Untuk itulah AS pun melakukan internasionalisasi faham kapitalisme sebagai asas interaksi dan undang-undang internasional. AS dan sekutunya kemudian membuat PBB dan piagam PBB yang menjadi legitimasi atas semua tindakannya. Sebagai pembentuk organisasi terbesar internasional itu, tentu AS mendapat jaminan bahwa kepentingan-kepentingannya bisa tetap terjamin lancar. Dari sana maka dibuatlah Dewan Keamanan PBB dengan anggota tetap (Amerika, Rusia, China, Inggris dan Perancis) yang memiliki hak veto. Dengan hak ini, AS dapat dengan mudah menggagalkan segala keputusan yang di anggap mengganggu kepentingannya, tak peduli meskipun semua negara mendukung keputusan tersebut.

Dalam bidang politik, maka berbagai aturan yang jelas-jelas bersumber dari ideologi kapitalisme dibuat dan diinternasionalkan. Lahirlah di antaranya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada tahun 1947 – ironisnya setelah AS memenangkan Perang Dunia ke II, setelah membantai jutaan orang dengan cara meluluh lantakkan Jepang dengan bom atom. Deklarasi ini mencantumkan penjaminan akan kebebasan manusia, terutama kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan dan perilaku. Internasionalisasi ini sangat dibutuhkan oleh AS agar semua tindakannya di dunia bisa legal (sah) meskipun sebenarnya sekedar untuk kepentingan ekonomi AS saja.

Begitu juga dalam bidang ekonomi, internasionalisasi kepentingan AS telah lama terjadi, yaitu dengan membuat suatu tatanan ekonomi internasional dengan seperangkat organisasinya seperti IMF, World Bank (Bank Dunia) dan WTO. Langkah yang paling penting AS adalah dengan mengubah sistem mata uang dunia dengan menjadikan Dollar sebagai standart untuk menilai mata uang yang berbeda-beda. Pada tahun 1944, delegasi 44 negara yang mengadakan pertemuan di Bretton Woods menerima gagasan itu – suka rela atau mungkin dipaksa. Sehingga AS bisa memaksa penggunaan Dollar, karena saat itu AS merupakan negara yang sangat kuat secara politik dan militernya di dunia. Dollar AS sejak saat itu lalu mendominasi dunia.

Untuk lebih menjamin kepentingan AS, negara itu membentuk badan internasional seperti IMF (International Monetary Fund) pada bulan Desember 1945. Meskpun di dukung negara-negara barat lain, AS lah yang memiliki saham paling banyak di IMF. Karena itu bisa pula dikatakan kepentingan IMF sangat indentik dengan kepentingan AS sendiri. Dan untuk memperkokoh dominasinya atas negara-negara miskin, IMF memberikan bantuan hutang – Indonesia termasuk penghutangnya. Tidak jarang itu di lakukan dengan terlebih dulu merekayasa krisis di sebuah wilayah – ini terjadi di Indonesia pada tahun 1996-1998.  Akibatnya negara tersebut membutuhkan pinjaman hutang namun yang bersangkutan harus menjalankan program-program IMF.

IMF

Beberapa program yang sering disyaratkan oleh IMF adalah suku bunga tinggi yang mengakibatkan mandeknya roda perekonomian dan industri. IMF juga memaksa negara pengutang untuk mengurangi belanja negara dengan meningkatkan pajak dan tarif jasa serta menghentikan subsidi untuk barang-barang konsumtif. Implikasinya beban masyarakat semakin berat, karena disebabkan naiknya biaya bagi sektor jasa seperti telekomunikasi, transportasi, listrik, air, pendidikan dan kesehatan. IMF juga mensyaratkan perdagangan bebas dan kebebasan berinvestasi. Bukankah ini sudah dan sedang terjadi di negeri ini?.

Di samping program IMF, maka perdagangan bebas juga menjadi program utama WTO (World Trade Organization) yang dipelopori AS. Tujuan utama dari liberalisasi perdagangan ini adalah untuk membuka pasar seluruh dunia dari produk unggul dan investasi negara-negara kapitalis. Dengan demikian negara-negara berkembang akan selalu berada di bawah hegemoni AS, tidak akan bisa maju. Dan tidak diragukan lagi bahwa perdagangan bebas dalam kondisi sekarang lebih memiskinkan dunia ketiga. Liberalisasi perdagangan pada faktanya hanya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan negara-negara maju, sebagai akibat adanya perbedaan yang tajam dalam daya saing. Barat lebih diuntungkan, karena mereka memang lebih unggul dilihat dari kemampuan sumber daya manusia, basis industri, teknologi dan modal. Sama halnya dengan kebebasan investasi, yang lebih menguntungkan barat. Bagaimanapun juga, dalam kondisi ekonomi dunia yang terpuruk seperi ini hanya Barat yang memiliki modal yang besar untuk melakukan investasi dan membeli saham perusahaan-perusahaan di negara berkembang. Akhirnya kekuatan modal Barat akan memonopoli perdagangan dan industri yang ada di negara-negara miskin atau berkembang.

wto-logoNamun, di tengah kuatnya Dollar AS yang mencengkeram ekonomi dunia, sekarang Uero ternyata sudah terapresiasi sebesar hampir 100% dari harga sebelumnya. Yang artinya, bila kartel perdagangan minyak dunia misalnya mau berbuat “jahat” kepada Amerika, maka caranya gampang sekali. Mereka cukup bilang “kita sekarang hanya mau bertransaksi pake Uero”, maka hancurlah Dollar AS. Sebuah kebangkrutan besar negara adidaya itu. Karena kalau kita punya uang tunai $1 di tangan, maka secara ekonomi itu artinya Anda memberi hutang ke Bank Federal Amerika dan Bank Federal Amerika “berjanji” akan membayar hutangnya sebesar $1 tersebut kepada Anda. Sekarang karena kita tinggal di Indonesia yang Rupiahnya sangat parah, maka jelas secara rasional kita berusaha untuk terus memegang $1 di tangan dari pada di tukar ke Rupiah. Sehingga secara ekonomi itu artinya Bank Federal Amerika tidak perlu menebus hutangnya, karena hutangnya yang $1 tersebut tidak kita minta untuk dibayarkan. Sehingga, Amerika itu bisa berhutang tanpa perlu bayar sama sekali – sepanjang ekonominya memang masih kuat – sepanjang greenback atau Dollar itu masih jadi standart pengganti emas.

Dengan alasan di atas itulah maka Amerika berani bermain defisit selama ini, karena toh mereka memang tidak perlu membayar defisitnya, sebab orang sedunialah yang harus membayar defisit Amerika tersebut. Supaya jelas mari kita lihat Rupiah, kalau RI itu defisit maka negara Indonesia ini harus nombok dengan cara menjual barang (ekspor) atau mencari utangan. Jadi, defisit harus dibayar, yang kalau tidak bisa bayar maka akan terjadi seperti pada krisis ekonomi tahun 1997-1998 lalu, yang sampai sekarang belum pulih betul. Tapi Amerika lain, defisit buat mereka berarti justru malah positif, karena defisit Amerika itu cara bayarnya adalah dengan memotong nilai $1 yang kita pegang secara intristik (yang terkandung di dalamnya). Berarti kalau AS defisit maka yang rugi adalah kita orang non Amerika yang memegang Dollar.

Tapi akan menjadi sangat mengerikan bagi AS karena kenyataannya bahwa 80% dari Dollar AS berada di luar negerinya, di tangan negara-negara seperti Indonesia, China, Jepang, India dan lainnya. Jika mendadak saja semua negara penghasil minyak bilang “Sejak sekarang kami hanya mau bertransaksi pake Uero”, maka kiamatlah ekonomi Amerika Serikat. Dan hal ini mungkin sekali terjadi, karena semua negara perlu beli minyak. Cara kerja sistem ekonomi kapitalis yang imprealis semacam ini berlaku selama orang atau negara masih percaya dengan Dollar AS dan menyimpan cadangan devisanya dalam bentuk Dollar AS. Namun Eropa tahu tentang strategi busuk ini, yaitu makan gratis dan utang tanpa harus membayar ini. Karena alasan itulah, Eropa kini punya mata uang Euro.

Lalu bagaimana dan apa yang harus kita lakukan sekarang?
Wahai saudaraku. Pilihan tentang cara kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah sebuah pilihan yang tentunya akan memberi konsekuensi pada kita untuk menggunakannya sebagai mekanisme atau sistem yang mengatur cara kita hidup, menciptakan masa depan dan menetapkan cara bagaimana mencapainya. Sebuah pilihan yang ternyata dan amat di sayangkan hanya menjadi bagian dari konspirasi para elite (pemegang kekuasaan dan yang mendominasi proses-proses pengambilan kebijakan). Yang kemudian ditetapkan sebagai fait accompli (bahkan dicapai) bagi konstituennya, alias rakyat pada umumnya. Maka hiduplah kita sekarang, misalnya dalam sistem hukum, politik dan ekonomi tertentu, yang sangat kita ketahui dalam praktiknya ternyata hanya menjadi cover atau pelindung, benteng kokoh dari kepentingan para elite saja. Rakyat secara sistematis dan struktural akhirnya hanya menjadi konsumen, tepatnya korban dari penerapan sistem itu. Rakyat selalu dinafikkan dan lebih jauh lagi juga dihinakan.

natural-scenery

Untuk itu, tiada pilihan lain bahwa kita diminta kembali untuk segera menemukan kembali siapa diri kita sebenarnya. Sebuah penemuan kembali yang akan memperjelas keberadaan (existence) kita saat ini di atas bola dunia, dari mana sebenarnya kita berasal, hendak kemana kita pergi, dan bagaimana caranya kita bisa sampai di tempat tujuan. Tanpa mengindentifikasi hal-hal mendasar ini, maka kita akan sulit untuk bisa merumuskan tujuan dan cara yang tangguh untuk bisa mendapatkan pemahaman tentang kenyataan baru, hal-hal yang mungkin menjadi rintangan bagi kita untuk bisa maju dan terus berkarya dengan merdeka.

Dan ternyata untuk menemukan kembali diri sendiri itu, dengan penelusuran diri ke belakang adalah satu hal yang tak terelakkan lagi. Namun sayangnya berbagai buku-buku panduan yang tersedia untuk itu, termasuk yang disediakan oleh negara, bukan hanya tidak cukup, tetapi perlu dikaji ulang kalau tidak harus dimusnahkan. Karena berbagai penemuan mutahir telah memperlihatkan bagaimana buku-buku sejarah yang sudah sekian lama menjadi pengisi memori bangsa ini ternyata memuat data yang tidak akurat, bahkan keliru, terutama dalam kesimpulan-kesimpulan yang diambilnya. Contohnya saja tentang sejarah bangsa ini yang selalu diyakini dimulai dari abad ke 4-5 Masehi, saat di temukannya beberapa prasasti di Kutai dan Bogor yang menunjukkan di masa itu. Sebuah indikasi yang pada akhirnya selalu menempatkan bangsa ini sebagai kelanjutan  – dengan pembaruan seadanya – dari adab, budaya dan peradaban dari tanah seberang (India, China, Taiwan, Eropa, dll). Padahal sebenarnya sejak 500 SM saja, para pelaut negeri ini sudah merajai semua ekspedisi laut di seluruh dunia, dimana banyak negara dan bangsa besar yang sangat tergantung padanya.

Ya. Masyarakat kepulauan Nusantara ini telah lama di bangun melalui bandar-bandar yang berdiri secara independen (otonom), baik dalam penciptaan dan pembangunan masyarakat, budaya, sistem bernegara dan lainnya. Masyarakat yang dibangun di setiap bandar ini memiliki ciri-ciri yang khas kepulauan, seperti terbuka, kosmopolitan, egaliter-demokratis, plularis, cair dalam kodifikasinya (tidak kaku) dan berkesadaran multikultural yang tinggi.

borobudur tempo dulu

Selain itu, data-data mutahir dari para ahli maritim, baik tentang Afrika, Eropa atau Asia Tenggara, menghasilkan temuan-temuan yang sangat mengejutkan. Dimana temuan itu secara jelas telah menunjukkan bahwa bangsa Nusantara adalah raksasa maritim yang diakui, dijadikan acuan bahkan sangat disegani oleh bangsa-bangsa besar seperti yang ada di Mesir, Mesopotamia, China, India dan Eropa. Hal itu sudah dimulai dari sebuah tarikh yang mengagumkan, yaitu lebih dari 60.000 tahun lalu – bahkan menurut penulis sendiri hingga jutaan dan milyaran tahun lalu. Maka tak heran bila seorang arkeolog yang bernama Giorgio Buccelati menemukan wadah berisi cengkih di rumah seorang pedagang di Terqa, Eufrat Tengah yang hidup di 1.700 SM. Karena tidak ada penjelasan yang paling mungkin, selain cengkih yang pada masa itu hanya tumbuh di kepulauan Maluku dibawa oleh para pelaut handal dari tanah Nusantara ini. Bahkan Claudius Ptolemeus (90-168 M), seorang ahli geografi, astronom, dan astrolog yang hidup pada zaman Helenistik di provinsi Romawi, Aegyptus, berulang kali menyebutkan kata Baroussai, yang diyakini sebuah kota dagang kuno Barus di pulau Sumatera Tengah. Sebuah wilayah penghasil kayu barus dan pengekspor bahan-bahan utama balsem untuk pengawetan mayat raja Ramses II pada 5.000 SM.

Keterangan di atas membalikkan uraian sejarah formal yang mengatakan bahwa Nusantara dibentuk oleh para pendatang dari sungai Mekong pada 3.000 tahun SM atau kemudian “diadabkan” oleh orang dari bangsa India, disusul oleh Arab, China dan Eropa. Padahal kenyataannya bangsa ini justru sudah berdagang jauh sebelum tarikh Masehi dan orang-orang di belahan dunia Barat berlayar menyeberangi samudera luas.

Sehingga sadarlah wahai saudaraku, bahwa sejarah yang selama ini memutus hubungan Nusantara dengan Atlantis misalnya, memang sengaja dilakukan oleh para penjajah kolonial. Data-data yang ada pun sengaja di sembunyikan dan sebagiannya lagi di musnahkan. Namun kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa disini, karena salah satu bentuk dari kolonialisme adalah penghancuran identitas suatu bangsa. Dan kalaupun ada yang beranggapan bahwa bangsa ini tidak meyakinkan untuk dikatakan sebagai pewaris dari bangsa Atlantis yang hebat, maka itu wajar saja sebagai suatu proses maju dan mundurnya sebuah peradaban dalam kurun waktu lebih dari 10.000 tahun. Justru kini, sebagai penerus bangsa Nusantara, kita harus bersemangat dan memacu karya dan cipta kita – yang tentunya berdasarkan falsafah nenek moyang kita. Kita harus bisa unggul namun tetap dengan jiwa Nusantara yang murni, bukan sekedar meniru bangsa lain.

Untuk itu, apa yang diperlukan kini adalah bangkit dalam kemerdekaan jati diri – kalau tidak berusaha untuk segera memerdekakan diri yang sebenarnya, yang berkaitan dengan sejarah bangsa ini. Dengan suatu keyakinan dan pemahaman baru itu, maka bangsa ini harus memacu semangatnya untuk secepatnya kembali ke jati dirinya sendiri dan tidak lagi mengekor pada bangsa lain – secara fanatik. Karena bangsa ini dulu pernah memimpin dunia, karena selalu menjadi acuan dalam peradaban. Dan sebagai Avatar nya Atlantis, maka kehidupan dan peradaban bangsa ini harus segera di kembalikan dan mengikuti jejak serta warisan luhur nenek moyang kita – baik dalam urusan politik, hukum, ekonomi hingga agama. Yang semuanya itu sudah ada dan tertata rapi; misalnya pada masa kerajaan Sri Wijaya dan Majapahit. Sehingga cita-cita “gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo” yang selalu didegungkan sejak dahulu bisa benar-benar terwujud dalam kehidupan ini. Tidak sekedar semu, sebagaimana yang terjadi selama ini.

Yogyakarta, 17 Februari 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
*Buku Peradaban Atlantis Nusantara
*Buku Meyingkap Fitnah dan Teror

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s