Kebaikan Itu Masih Ada

Posted on Updated on

gotong-royongWahai saudaraku. Dunia kini memang penuh dengan kerusakan dan ketidakadilan. Namun demikian, kebaikan itu masih tetap ada meski kadang tersembunyi dan tidak populer. Di tengah-tengah ketidakbenaran peradaban kini, yang namanya kebaikan itu masih selalu ada di sekitar kita, terlebih bila kita sendiri mau melakukannya. Tidak hanya kepada sesama, tetapi bahkan kepada mereka yang berbeda dengan kita. Karena sesungguhnya hakekat dari kebaikan itu tidak pernah mengenal kepada siapa harus diberikan, sebab harus tetap diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan bahkan tidak membutuhkannya.

Lihatlah, di antara kita, masih ada orang yang meski dengan kekurangannya tetap mau membantu dengan ikhlas. Meskipun ia juga sebenarnya hidup pas-pasan bahkan sangat kekurangan, namun ia tetap saja memberikan pertolongan dengan tulus. Ada pula orang-orang yang tetap jujur dalam mengemban amanah, meskipun ia kurang beruntung dalam hidupnya. Ada juga orang yang masih tetap menjalankan adat kebiasaan dan kesopanan warisan leluhur meskipun kini sering di anggap kuno dan ketinggalan zaman. Lalu ada pula orang-orang yang sangat menghargai lingkungan dan terus saja melestarikannya walaupun tidak banyak yang mendukungnya, bahkan pemerintah. Begitu pula ada orang-orang yang masih tetap menyampaikan kebenaran hakekat lewat kata-kata dan tulisan, meskipun kini jumlahnya semakin sedikit. Lantas mengapa ini bisa terjadi, padahal itu tidak menguntungkan secara materi? Itu karena mereka tidak lagi memandang segala sesuatu itu hanya dengan ukuran materi. Bahkah sebenarnya ia telah mencintai perbuatan baik yang kemudian mendorongnya untuk dapat mencintai orang lain dengan baik, bahkan kecintaan itu pada akhirnya telah kembali pada cinta kepada dirinya sendiri dengan sangat baik pula.

berbagi kebaikan

Sehingga mengapa pula kita tidak mau terus mengulurkan bantuan kepada orang lain, baik yang sama atau pun berbeda (ras, bangsa, agama dan bahasa) dengan kita. Toh sebenarnya kebaikan itu, dimanapun tempatnya, tidak jauh berbeda bahkan sama saja. Semua orang akan mudah memahaminya bahkan tanpa perlu berkata-kata, karena sesungguhnya kebaikan itu ada di dalam diri setiap manusia. Dan tidak ada orang yang selalu berbuat jahat selama hidupnya, karena pasti sesekali ia berlaku baik, khususnya ketika ia sedang menyadari siapa dirinya. Hanya saja memang tidak semua orang mau menerapkannya terus menerus dalam kehidupannya sehari-hari. Sebab, mereka memang lebih senang mengikuti jalan kejahatan hanya demi memuaskan hasratnya akan kesenangan duniawi.

Ya. Kalau bukan kita sendiri lalu siapa lagi yang akan melakukan kebaikan itu? Kalau bukan sejak kini, lantas kapan lagi engkau akan berbuat kebaikan? Bukankah itu adalah kewajiban bagi setiap orang yang berakal? Bukankah setiap orang itu akan mendapatkan manfaat saat melakukan kebaikan? Dan semakin banyak ia melakukan kebaikan, maka semakin banyak pula manfaat yang bisa ia dapatkan, baik di dunia maupun nanti di akherat. Sehingga lakukanlah banyak kebaikan, karena engkau akan merasakan banyak ketenangan dan kebahagiaan.

berbagi kebaikan 1

Selain itu, berkenaan dengan keadaan zaman ini, maka beruntunglah bagi siapa saja yang tetap teguh pada kebaikan hidupnya. Berbahagialah bagi mereka yang tidak pernah berhenti untuk selalu memberikan kebaikan dalam hidupnya, apapun itu. Karena nanti, ketika zaman ini berganti – yang tidak akan lama lagi terjadi – maka siapapun yang telah mengabdikan dirinya pada kebaikan tentu akan beroleh keselamatan, bahkan diselamatkan. Ia juga akan melihat bahwa kebaikan yang selama ini di pertahankan ada di dalam dirinya, akan menjadi sesuatu yang tidak sia-sia. Dan meskipun nanti terjadi hura-hara yang dahsyat bahkan azab perih yang menimpa seluruh penghuni Bumi, maka orang-orang yang senang dengan kebaikan hidupnya akan terhindar dari musibah besar itu. Mereka akan menjadi golongan yang bisa memulai kehidupan yang baru, di zaman yang baru dan dengan peradaban yang baru pula. Dimana hal itu akan terasa sangat indah, tertata dan penuh dengan anugerah dari Yang Maha Kuasa.

Sungguh, zaman akan berganti yang baru, sementara kehidupannya pun akan jauh berbeda dengan sekarang. Mereka yang tetap hidup – lantaran selamat pada saat proses pergantian zaman terjadi, akan menjalani kehidupan yang baru untuk beberapa waktu. Berikutnya, anak-anak dan cucu mereka; generasi yang baru, akan menjalankan kehidupan yang bertolak belakang dengan keadaan saat ini (di akhir zaman ini). Mereka akan menerapkan gaya hidup yang benar dan sesuai dengan kaidah agama dan hukum Tuhan. Mereka akan selalu mawas diri, sehingga kehidupannya akan seimbang antara kebutuhan jasmani dan ruhani. Mereka juga memiliki kemampuan yang tinggi; seperti memiliki indera keenam, telepati dan sebagainya. Otak mereka pun sangat cerdas dengan IQ (Intellegent Quotient) yang jauh di atas rata-rata manusia sekarang. Bahkan tubuh mereka pun menjadi lebih kuat dengan ukuran yang lebih tinggi dari rata-rata manusia zaman sekarang. Dan semuanya itu memang akan dicurahkan dengan berlimpah bagi mereka di zaman yang baru itu, sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pengasih.

Untuk itulah saudaraku. Marilah kita senantiasa menjadi sosok yang tetap mengutamakan kebaikan dalam hidup ini. Jangan pernah berhenti meski banyak orang yang tidak lagi mempedulikan kebaikan dalam hidupnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka justru mengatakan; “Melakukan yang tidak baik saja susah apalagi yang baik” atau “Mencari yang haram saja susah apalagi yang halal”. Padahal dengan mengatakan hal yang seperti itu, maka itu sama saja ia telah mengingkari kebenaran. Mengingkari kebenaran, sama artinya dengan mengingkari keberadaan Tuhan. Mengapa begitu? Itu karena Tuhan tentu tahu apa yang terbaik bagi setiap makhluk-Nya, dan apa saja yang ia tetapkan (perintah dan larangan) itu pasti mengandung kebaikan dan manfaat bagi setiap makhluk. Lantas mengapa seseorang justru mempertanyakan keputusan Tuhan dengan menyangkal kebenaran dari setiap perintah dan larangan-Nya? Padahal ketika seseorang mau mengikuti perintah-Nya – khususnya melakukan kebaikan – maka ia akan mendapatkan keuntungan dalam hidupnya. Namun sebaliknya, ketika seseorang tidak mau mengikutinya, maka ia akan mendapatkan kemalangan dan musibah. Belum lagi ia pun akan mendapatkan azab yang perih – di dunia dan akherat, lantaran telah mengingkari adanya Tuhan saat menolak perintah dan larangan-Nya.

Yogyakarta, 25 Januari 2015
Mashudi Antoro (Oedi“)

3 thoughts on “Kebaikan Itu Masih Ada

    Sikumbang Lajang said:
    Februari 5, 2015 pukul 5:42 pm

    Dah lama gak maen blog ini..😀

    tulisan yang menginspirasi untuk menjadi subjek kebaikan..
    ditunggu karya berikutnya..😀

      oedi responded:
      Februari 7, 2015 pukul 2:15 am

      Oh gitu ya.. lagi sibuk banget ya Nik?
      Okey, makasih ya karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat.. silahkan di tunggu aja tulisan berikutnya…🙂

    John said:
    Agustus 3, 2015 pukul 2:45 am

    keren mas😀 , Abia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s