Negeri ½ (setengah) Tiang: Penyebab Keterpurukan Bangsa

Posted on Updated on

setengah tiangWahai saudaraku. Bila engkau memperhatikan dengan mata hatimu, apa yang tampak olehmu di negeri ini? Apa yang salah selama ini? Mungkin di anggap kecil dan biasa-biasa saja oleh kebanyakan orang, tapi renungkanlah baik-baik bahwa sesungguhnya itu sangat mempengaruhi kehidupan di negeri ini. Bahkan sebagai penentu dari kebaikan dan kesejahteraan semuanya.

Terkait dengan “sesuatu yang kecil” itu, cobalah cermati dengan seksama bahwasannya apakah negeri ini tetap menjadi bagian dari dirinya sendiri? Atau apakah yang diterapkan selama ini telah menunjukkan bahwa bangsa ini tetaplah sebagai bangsa Nusantara yang utuh dan tangguh? Karena lihatlah, banyak hal termasuk tentang konsep kepemimpinan yang oleh bangsa ini diambil langsung mentah-mentah dari tradisi Barat yang human-centris, individualistis, dan cenderung meniadakan Tuhan. Mungkin itu yang efektif di dunia Barat, saya tidak tahu, karena mungkin lebih cocok dengan konteks sosio-kultural disana. Dan mungkin konsep yang melibatkan agama atau Tuhan tidak relevan diterapkan disana. Tapi kita ini bukanlah orang Barat, dan kehidupan di tanah Nusantara ini tidak bisa dilepaskan dari peran agama dan Tuhan. Kita adalah orang Nusantara yang punya karakter dan kulturnya sendiri. Sehingga mengapa kita masih saja ikut-ikutan mereka yang sebenarnya memang tidak pernah sejalan dengan karakter dan kultur bangsa Nusantara? Bukankah sebaiknya karena kita memiliki kekhasan nilai, budaya, dan sejarah, maka kita harus menggali kearifan lokal kita sendiri untuk merumuskan konsep-konsep tentang berbagai hal, salah satunya mengenai kepemimpinan dan negara? [baca: https://oediku.wordpress.com/2014/06/23/kisah-sejarah-nusantara/#more-5739]

Selain itu, ingatkah dirimu beberapa waktu yang lalu setelah pelantikan presiden negeri ini. Apa yang mereka lakukan? Dengan suka cita layaknya seorang yang memenangkan sebuah perlombaan, lalu diadakanlah pesta dan hiburan yang gemerlapan. Padahal bukankah jabatan itu adalah amanah yang sangat berat bagi siapapun, yang mendapatkan ataupun yang mendukungnya? Bukankah seharusnya tidak perlu ada pesta dan hiburan semeriah itu, karena jika seseorang benar-benar menyadari bahwa jabatan itu adalah amanah, maka ia justru akan cemas dan bila perlu menangis. Ia akan benar-benar tidak pernah merasa tenang sebelum amanah itu bisa ia tunaikan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang pernah di tunjukkan oleh khalifah Umar ibn Abdul Aziz, selama ia memimpin Daulah Umayyah.

Ya. Bukankah seharusnya yang lebih baik adalah segera memohon keridhoan dari Tuhan Yang Maha Kuasa? Bukankah semestinya yang menerima jabatan dan pendukungnya itu justru segera mendekatkan diri kepada Tuhan dan memohon perlindungannya? Yang semua itu – paling tidak – bisa di wujudkan dengan acara syukuran (bukan sekedar seremonial) yang penuh hikmat dan jauh dari hingar bingar hiburan. Bahkan sebaiknya lagi harus dengan sikap yang zuhud dan banyak melakukan amal ibadah kepada Tuhan.

Mengapa ini saya angkat? Itu karena memang hanya Tuhanlah tempat kita berlindung dan memohon kebaikan, khususnya bagi negeri ini. Bukankah Dia yang memberikan rahmat dan anugerah? Bukankah Dia pula yang menurunkan bencana dan azab nantinya? Sehingga mengapa tidak banyak dari mereka itu yang menyadari ini? Apakah mereka lupa, bahwa hanya dengan mendekatkan diri kepada-Nya, memohon bantuan dan perlindungan sejak di awal kepemimpinan adalah sikap yang terbaik. Bahkan sebaiknya, sang presiden itu justru mengajak seluruh bangsa ini untuk bermunajat kepada-Nya – sesuai dengan keyakinan masing-masing – dengan penuh keshuyukan demi kesejahteraan dan keselamatan bersama. Tapi itu tidak di laksanakan, karena malah justru berpesta pora ala barat, seolah-olah tidak lagi memiliki rasa hormat pada tradisi dan agama sendiri.

Disini saya tidak bermaksud menentang hiburan, apalagi anti musik, karena saya pun senang dengan musik, bukanlah pula dari mereka yang mendukung salah satu capres, hanya saja semua itu harus tepat pada tempatnya. Seharusnya di masa paling awal setelah pelantikan jabatan presiden, semua orang itu – terutama presiden dan pendukungnya – sebaiknya lalu bersyukur kepada Tuhan (sesuai keyakinan masing-masing) dan tidak lupa untuk memohon keridhoan-Nya. Menghaturkan permohonan khusus kepada Tuhan agar Dia pun mau memberikan petunjuk dalam menjalankan pemerintahan di negeri ini, agar negeri ini bisa kembali bangkit seperti dulu. Yang semua itu tentunya hanya bisa tercapai dengan mengikuti aturan dalam tradisi dan agama, bukan dengan mengikuti aturan para penyembah kesenangan duniawi.

alam2

O.. Ini sangat sesuai dengan hukum Ilahi, bahwa hati yang terhubung dengan Tuhan Yang Menciptakan segala kejadian, maka akan kuat seperti baja. Jika hati telah kuat, siapapun akan bekerja dengan gigih, penuh amanah dan berani memerangi kebatilan. Ia pun akan mengobati penyakit yang menjangkiti bangsa ini dan tidak ada lagi yang dapat menyangkal bahwa penyembuhan yang paling efektif adalah merasa senang dan bahagia bila terus mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam segala hal, ia akan terus mencintai dan mengingat-Nya secara total, mengabdi dan menaruh perhatian khusus kepada-Nya dan senantiasa memohon bantuan-Nya saja. Hanya orang-orang bodoh yang mengingkari fakta ini, yaitu orang yang otaknya tumpul, pemahamannya tentang hakekat manusia amat buruk serta mereka itu adalah golongan yang sangat jauh dari Tuhan, karena telah menyembah dunia.

Wahai saudaraku. Renungkanlah! Bahwa terkadang kita sering mengabaikan hal-hal yang kecil yang dipandang tidak penting dan tidak akan berakibat banyak bagi bangsa dan negara ini. Tetapi sadarilah karena sikap yang seperti itulah yang mengakibatkan bangsa ini tidak bisa keluar dari banyak masalahnya. Bisa jadi bangsa Indonesia ini pun memang berdiri setengah tiang atau dalam artian termasuk bangsa yang kufur kepada nikmat Tuhan selama ini. Atau bisa di bilang juga karena tidak benar-benar mendirikan bangsa ini dengan sepenuhnya menerapkan apa yang pernah di terapkan oleh nenek moyang kita dulu dan mengagungkan Tuhan. Karena justru terlalu sibuk mengekor kepada bangsa lain, terutama Barat yang meniadakan Tuhan dalam bernegara. Dan itu jelas terlihat nyata – dengan mata hati – salah satunya saat di awal-awal kepemimpinan baru di negeri ini. Betapa tidak banyak yang menyadari bahwa seharusnya bukan mengadakan pesta dan hiburan yang hingar bingar, melainkan bermunajat kepada Tuhan dengan hikmat dan khusyuk.

Sehingga karena itu pula, jangan banyak bertanya mengapa keadaan bangsa ini kian carut marut. Tidak ada kebangkitan yang membanggakan, yang besar layaknya Sri Wijaya dan Majapahit di masa lalu. Itu semua karena begitu banyak pribadi yang tidak lagi memahami arti sebenarnya dari rasa syukur dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sudah tidak banyak lagi yang memahami arti sesungguhnya sebagai manusia sejati – dengan mengutamakan kata hati dari pada nafsu dan syahwat duniawi.

Yogyakarta, 22 Nopember 2014
Mashudi Antoro (Oedi`)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s