Kehancuran Peradaban Global dan Kebangkitan Kejayaan Nusantara

Posted on Updated on

kehancuran duniaAbad ke-20 dan ke-21 adalah masa untuk menuai badai dan kehancuran yang telah ditanam sejak era Renaisans di Eropa. Sains dan teknologi yang menjadi tumpuan manusia modern untuk menggapai kebahagiaan ternyata kini berbanding terbalik dan mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Telah dua kali perang besar dunia terjadi yang memakan korban ratusan juta jiwa hanya oleh senjata hasil dari rekayasa teknologi. Berbagai senjata mutakhir, mulai dari senjata mesiu, senjata kimia sampai pada senjata nuklir dibuat untuk menciptakan perang dan membunuh banyak manusia, atau setidaknya untuk bisa mengertak dan mengancam negara lain, sebagaimana yang sering di lakukan oleh USA, Uni Soviet (Russia) dan Israel.

Manusia modern telah menyaksikan dan merasakan bahwa perkembangan sains dan teknologi ternyata tidak berkolerasi positif terhadap kesejahteraan umat manusia. Sekjen PBB Kofi Annan sendiri di dalam peringatan hari PBB pada 24 Oktober 1999 lalu bahkan menyebutkan bahwa abad ke-20 sebagai abad yang paling kelam dan terkejam sepanjang sejarah umat manusia, abad yang paling sumpek dengan kisah penderitaan manusia.

Proyek pembebasan manusia yang dicanangkan oleh Renaisans, Aufklarung dan Reformasi di Eropa telah gagal. Hal itu disebabkan manusia modern telah dibelenggu oleh mitos-mitos baru, berhala-berhala baru, ilusi-ilusi baru, takhayul-takhayul baru dan tuhan-tuhan baru. Manusia modern telah terjerumus dalam krisis eksistensi manusia yang menyangkut hakikat, tujuan dan makna kehidupannya. Mereka semakin hampa dalam spiritual, krisis makna dan legitimasi misi hidupnya, serta kehilangan visi dan terasing dari alam semesta, Tuhan dan dirinya sendiri.

Sejak awal abad ke-20, maka perkembangan mutakhir dari ilmu pengetahuan telah diluar dugaan dan harapan manusia modern. Terlebih sejak terjadinya perang Dunia ke-I, maka teknologi justru menggerogoti keyakinan umat manusia modern terhadap faham positivisme ilmiah yang sebelumnya seolah-olah telah menjadi rukun iman kedua mereka. Munculnya Fisika modern dengan tercetusnya teori Relativitas Einstein dan mekanika quantum telah merobohkan paradigma mekanika positivisme yang telah tiga abad dianut oleh manusia modern. Alam semesta ternyata menyimpan banyak misteri yang tak habis-habisnya untuk di kaji.

Universe

Kini, bahkan telah muncul kesadaran baru pada manusia modern, terutama kaum akademisi dan terpelajar, bahwa mereka belum mengetahui apa-apa tentang seluruh alam semesta dan realitasnya. Bahwa ternyata manusia dan alam semesta itu sangat berhubungan secara mendalam dan pasti. Bagi kalangan terpelajar, kesadaran ini telah memusnahkan hasrat manusia modern untuk dapat menundukkan dan mengeksploitasi alam sesukanya, di samping juga secara bersamaan alam pun telah memberontak terhadap eksploitasi yang sewenang-wengan oleh manusia. Contohnya dalam bentuk polusi udara, air dan tanah, memanasnya iklim dunia, perubahan cuaca yang sulit diprediksi lagi, menipisnya lapisan ozon dan tentunya rentetan bencana alam dimana-mana. Sehingga pada tataran teoritis, yaitu kosmologi dan epistemologi, maka kesadaran ini bahkan mengguncangkan keyakinan manusia modern terhadap sains. Akibatnya, berkembanglah gerakan skeptisisme dan nihilisme yang tak lagi mempunyai apresiasi terhadap sains, bahkan juga terhadap seluruh pengetahuan manusia. Generasi sophisme postmodern telah lahir kembali dan manusia telah mundur 2.500 tahun seperti pada masa sophisme di Yunani kuno.

Untuk itu, mulai hari ini kita akan terus menghadapi masa-masa memanen hasil. Setelah enam abad manusia mencanangkan kedaulatan dirinya dan mendeklarasikan kematian agama dan Tuhan, maka keadaan justru kini berbalik. Jarum sejarah telah mengguncang sendi-sendi keyakinan manusia modern dan rukun iman mereka pun tumbang. Rasionalitas, otonomi subjek, antroposentrisme, positivisme, sains dan teknologi kini bersiap-siap menjadi puing-puing peradaban. Energinya kian sirna dan semangatnya mulai pupus. Senja peradaban manusia modern telah datang dan akan segera mati.

Manusia modern telah mati dan sebagian dari mereka telah menampakkan dirinya dalam perilaku yang ganjil, cheerful robot atau manusia yang berusaha melarikan diri dari kegelisahan diri dalam hiburan, kenikmatan sensual (terutama seksual), konsumsi produk-produk mewah yang sesungguhnya tidak penting, pelesir ke tempat-tempat menyenangkan dan sibuk beraktraksi dengan berbagai permainan kesenangan. Semuanya di lakukan dengan tidak sadar dan sepenuhnya tunduk pada rekayasa psikologis dari para kapitalis-imperialis dunia. Bahkan sebagiannya lagi telah berperilaku bagai zombie (mayat hidup) yang bergentayangan di jalan-jalan untuk mencari mangsa; dan berdarah dingin tanpa emosi, lalu bertindak anarkis-destruktif sesukanya.

Lalu titik baliknya bagaimana?

Jika memang benar hipotesa dari Prof. Aryso Santos tentang Atlantis benar – bagi penulis itu adalah kebenaran, maka sesungguhnya kebudayaan dan peradaban dunia itu bermula di Nusantara dan menyebar ke Mesir, Mesopotamia, China, India, Eropa, dan Amerika. Pada masa dahulu – pada saat daratan Nusantara masih menyatu dengan Asia dan Australia – maka peradaban yang ada di tanah Nusantara telah sampai pada puncaknya. Ilmu pengetahuan dan teknologi (baik spiritual dan material) telah sangat berkembang dan maju. Awalnya bisa berkembang secara seimbang, namun semua itu tidak berlangsung selamanya, karena terjadi bencana – kalau bisa dibilang azab – yang maha dahsyat dengan tenggelamnya sebagian besar wilayah daratan Nusantara dan menjadi ribuan pulau seperti halnya sekarang ini. Akibatnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang luarbiasa itu “menghilang” atau sebelumnya telah disembunyikan secara rahasia. Tersimpan hanya sebagian kecil dalam kelompok esoteris yang telah hijrah ke Mesir, Mesopotamia, Yunani, India, China, Tibet, Amerika dan sebagiannya lagi tetap berada di tanah Jawa.

 

Teotihuacan, Mexico

Dalam perjalanan sejarahnya, maka kaum esoteris ini lalu mengajarkannya pada beberapa orang yang kemudian berkembang di berbagai kalangan. Hal inilah yang menimbulkan bangkitnya peradaban besar di wilayah Mesir, Iraq, China, Yunani, Meksiko dan lain sebagainya pada kurun waktu sebelum Masehi. Namun akhirnya kelompok esoteris ini pun mulai menyadari bahwa dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi saja tanpa dibarengi dengan mengembangkan kebajikan spiritual, maka akan sangat berbahaya dan menjadi penyebab dari kehancuran dunia sekali lagi. Untuk itulah, kelompok esoteris ini lalu juga mengembangkan kemampuan spiritual seperti meditasi, yoga, dan tantra untuk meningkatkan kesadaran dalam diri manusia. Bahkan ilmu ini kemudian menjadi dasar utama dalam beberapa agama besar di dunia hingga sekarang. Sementara itu, ilmu pengetahuan dan teknologi masih disimpan dulu dan hanya akan diajarkan kepada orang-orang yang dianggap telah mampu mengembangkan kesadaran dan kasih sayang di dalam dirinya (bijaksana).

Namun manusia memanglah makhluk yang ironis dari berbagai species yang ada di Bumi. Betapa kemudian ilmu spiritual ini justru berkembang menjadi agama formal yang bahkan menjadi kekuatan politik. Agama justru menjadi pusat konflik dan pertikaian dimana-mana. Sungguh ironis bahwasannya ilmu yang tadinya dimaksudkan untuk mencegah konflik justru menjadi pusat konflik selama berabad-abad – misalnya di abad pertengahan Masehi ada perang Salib. Tapi itu bukan salah agama, melainkan kesalahan dari para pengikut agama itulah yang tidak siap untuk memasuki inti dari agamanya sendiri, atau bahkan tidak pernah tahu.

Pada masa sejak Renaisans dan Aufklarung, maka manusia modern lalu mengantisipasi buruknya akibat dari agama yang berkembang menjadi kekuatan politik itu dengan mengembangkan kembali ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia modern kemudian memasuki era baru dalam kehidupannya dan mereka terbebas dari kungkungan para pemimpin agama yang fanatik dan munafik. Tetapi, sejarah ironis kembali terulang pada manusia. Peradaban dunia kini justru menjadi sangat materialistis. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang seharusnya digunakan untuk “mensejahterakan” kehidupan sehari-hari manusia – agar mereka punya waktu cukup untuk menggali dirinya sendiri – justru menjadi sumber dari pertikaian baru. Perang dan konflik terjadi dimana-mana dan ribuan bom nuklir yang kekuatannya 1000 kali lebih dahsyat dari Bom Atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 telah hadir di Bumi ini. Siap untuk meluluhlantakkan semua species di muka Bumi ini hanya dalam waktu hitungan detik. Belum lagi eksploitasi yang membabi buta terhadap alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup terus saja terjadi dimana-mana. Tentunya ini punya dampak yang sangat serius pada peningkatan efek rumah kaca dan menimbulkan pemanasan global. Diperkirakan jika manusia tidak segera bertindak bijaksana dengan mengurangi emisi gas dan mengatasi kerusakan lingkungan, maka 20-30 tahun lagi banyak negara besar yang tenggelam, termasuk New York, Amsterdam, Tokyo, Rio de Jenero dan tentunya Jakarta. Sehingga sejarah tenggelamnya negeri Atlantis akan terulang kembali di abad ini.

Kehancuran dunia 2

Ya. Zaman ini adalah zaman penentu nasib seluruh manusia modern di muka Bumi. Pada saat ini, dua akar konflik yaitu “agama” dan materialisme telah bersukutu dan saling memanfaatkan satu sama lainnya. Keduanya menjadi satu kekuatan yang terus menerus menyebarkan konflik di muka Bumi ini. Agama yang sesungguhnya mengajarkan cinta dan kebenaran, maka karena perilaku penganutnya yang ngawur justru menjadi dogmatik, formalistik, fanatik dan anti kemanusiaan. Ini persis dengan perkembangan agama pada masa abad pertengahan di Eropa dulu. Agama menjadi alat untuk menguasai harta dan wilayah, meningkatkan keserakahan di dalam diri manusia.

Padahal esensi agama itu adalah spiritual yang bertujuan untuk mengembangkan kesadaran dan kasih sayang di dalam diri manusia. Agama tidak boleh bersekutu atau tunduk pada kekuatan politik apapun. Agama tidak juga boleh menjadi kendaraan politik, sebagaimana yang terjadi dimana-mana kini. Namun kini begitu banyak “partai-partai agama” yang berkuasa di berbagai negara termasuk Indonesia dengan tidak mengindahkan ajaran agama. Akibatnya agama tidak lagi murni sebagai cara agar seorang itu tetap utuh sebagai manusia yang memiliki kemanusiaan sejati.

Namun ketahuilah bahwa Nusantara ini sesungguhnya telah dipersiapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai tempat persemaian untuk tumbuh kembangnya kearifan Ilahi yang telah berevolusi melalui kearifan lokal. Semua itu telah dipahami oleh para leluhur bijak Nusantara di masa lalu. Sehingga mereka pun menyampaikan beberapa prediksi (ramalan) sejak zaman mereka dulu. Dan kini, gejala kebangkitannya itu telah kembali dipahami oleh para ahli makrifat yang waskita. Walau hal ini berkembang dan tampil dalam kehidupan yang tak kasat mata, namun tetaplah bersifat pasti. Anda bisa merasakannya sendiri dengan cara membuka mata batin Anda lebar-lebar. Dan lihatlah sesungguhnya telah ada pergerakan yang aktif – khususnya di tanah Jawa – untuk membangkitkan kejayaan Nusantara lagi, tapi tidak banyak diketahui orang, alias tidak kasat mata dan bersifat rahasia. Hanya mampu di lihat oleh mereka yang bersih hatinya dan tinggi ilmu kasuyatan-nya. Sehingga siapapun kita harus mengambilnya sebagai peringatan dini dalam mengantisipasi apa yang akan terjadi di masa depan. Sesuatu yang luarbiasa dan akan menggemparkan dunia.

Untuk itu, jika Anda sekalian meyakini bahwa Atlantis itu memang benar di tanah Nusantara ini, hal itu berarti kita yang tinggal disini memiliki tugas yang sangat penting. Ini bukanlah suatu kebetulan belaka, karena kita harus membangkitkan kembali kesadaran spiritualnya, bangkit kemanusiaannya, bangkit kasih sayang dan cintanya, bangkit sains dan teknologinya yang baik untuk bisa mengubah jalannya sejarah dunia yang telah keliru ini. Kejayaan masa lalu bukan hanya untuk dikenang, melainkan sebagai motivasi diri agar bangkit dan melanjutkan cita-cita leluhur yang belum kesampaian. Yaitu menciptakan peradaban dunia yang indah, penuh dengan cinta dan sesuai pula dengan kodrat diri sebagai makhluk Tuhan yang bersifat kemanusiaan. Tidak seperti sekarang ini yang penuh dengan angkara murka dan keserakahan.

Yogyakarta, 08 Nopember 2014
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Sebagian tulisan di sadur dari buku Peradaban Atlantis Nusantara]

7 thoughts on “Kehancuran Peradaban Global dan Kebangkitan Kejayaan Nusantara

    ghestRo said:
    Januari 14, 2015 pukul 3:37 am

    Reblogged this on MOTIVASI CORNER.

    […] Negeri Arya Nuswantara dan Bukti kejayaan Nusantara: Sistem yang sesuai dengan kultur bangsa atau Kehancuran peradaban global dan kebangkitan kejayaan Nusantara]. Sehingga mengikuti hukum dan aturan Tuhan pada masa itu adalah mutlak di lakukan. Tidak seperti […]

    […] Negeri Arya Nuswantara dan Bukti kejayaan Nusantara: Sistem yang sesuai dengan kultur bangsa atau Kehancuran peradaban global dan kebangkitan kejayaan Nusantara]. Sehingga mengikuti hukum dan aturan Tuhan pada masa itu adalah mutlak di lakukan. Tidak seperti […]

    Rian S. said:
    Februari 23, 2016 pukul 2:33 am

    Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh…

    Pada suatu masa, Rasulullah SAW di tanya oleh sahabatnya: “wahai Rasul, mengapa engkau selalu memalingkan wajahmu ke arah timur?” Rasul menjawab pertanyaan itu: “suatu saat nanti, hukum Allah (aturan haq untuk manusia sejati) akan tegak kembali di negeri tempat matahari terbit (arah timur Makkah)”

    Agama diciptakan sebagai landasan/aturan hidup paripurna bagi manusia. Lantas apa yang terjadi di negeri ini? Secara perlahan namun pasti, kita telah memisahkan kehidupan kita dari tuntunan agama/aturan yang telah diturunkan oleh Ar-Rahman kepada leluhur kita.

    Mas Oedi, terima kasih atas pemaparanya. Semoga Allah meberkahi kita semua.

    Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh…

      oedi responded:
      Februari 24, 2016 pukul 4:54 am

      Wa`alaikumsalam…
      Sama-sama mas, terimakasih juga karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat..🙂
      Saya setuju dengan mas Rian, bahkan menurut saya, yang menjadi penyebab utama kerusakan di dunia ini sekarang adalah karena tuntunan agama sudah tidak lagi diterapkan di hampir semua negara dan kerajaan.. Padahal agama itu jelas-jelas adalah tuntunan dari Sang Maha Pencipta kehidupan, yang pasti tahu kebutuhan dari setiap makhluk-Nya.. lantas mengapa kita sebagai makhluk tidak mau mengikuti aturan dan hukum-Nya? Bukankah ini sama dengan pembangkangan??? Bukankah sikap konyol seperti ini akan mencelakan diri sendiri di dunia dan akherat nanti??
      Mari kita ber-muhasabah (intropeksi diri), tadabbur (berpikir, mengkaji), tafakur (merenung, meditasi), memperbaiki diri dan mempersiapkan diri terus menerus.. zaman akan berganti. Saat itu akan ada penyeleksian dan pemurnian kehidupan di muka Bumi ini. Hanya mereka yang berhati suci saja yang akan selamat dan melanjutkan kehidupan yang bahagia…🙂

    Paket Wisata Dieng said:
    November 18, 2016 pukul 3:30 am

    wahh makasih nih artikelnya sangat menarik

      oedi responded:
      November 21, 2016 pukul 3:23 am

      Oke, sama2lah.. makasih juga karena sudah mau berkunjung, semoga bermanfaat..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s