Jalan-jalan Cinta

Posted on

dua-jalan-pilihanDalam kehidupan ini, janganlah engkau hanya merasakan yang manis-manis saja. Cobalah sesekali merasakan yang asam dan pahitnya, karena dengan begitu kau pun akan mampu lebih menghargai sesuatu yang manis. Dan ketika hal itu menjadi kebiasaan dalam hidupmu, maka sesungguhnya dirimu telah melakukan banyak kebaikan. Engkau telah ada dalam kebenaran yang sejati.

Jangan takut mengambil resiko, karena orang yang bisa memiliki pengetahuan tidak hanya dari satu sisi saja adalah yang terbaik dari semuanya. Namun saat seseorang hanya mau belajar/mengetahui dari satu sudut pandang saja, maka bagaimana bisa ia lebih memahami persoalan? Bagaimana ia bisa cerdas dalam menyikapi sebuah permasalahan? Begitu pun saat seseorang hanya mengetahui yang baik-baik saja, maka apakah bisa ia bersikap adil dan bijaksana dalam banyak persoalan?

Sungguh, kebaikan itu tidak hanya berada di segala yang baik saja. Ia tidak semata-mata dikuasai oleh hal-hal yang baik, karena sesungguhnya kebaikan itu bisa terdapat pada sesuatu yang tidak baik menurut pandangan makhluk. Atau pada sesuatu yang tidak semua orang menyukainya. Sehingga setiap orang diharuskan mencarinya dengan cara terus berjalan ke arahnya. Demi memenuhi rasa dahaganya akan kebenaran, jika memang ia menginginkannya.

Ya. Terkadang banyak pribadi yang tidak menyadari bayang-bayang yang sedang diikutinya. Ia terus saja berjalan di jalan-jalan yang penuh dengan ilusi (aturan duniawi), padahal ada yang nyata (syariat agama). Memang tidak seluruh diri seseorang akan dikuasai oleh bayang-bayang tersebut – karena hanya sebagiannya saja, tetapi itu sudah cukup membuatnya hilang kesadaran. Bahkan di dalam hubungannya dengan pengetahuan akan kebenaran Tuhan, maka setiap tindakannya pun hanya tak lebih dari ketidaksadaran.

Makanya tidak seorangpun bisa mengingkari dirinya sendiri, karena ia akan selalu terikat dengan takdir dan aturan Tuhan. Siapapun harus menerima dengan ikhlas bahwa dirinya hanyalah sosok yang lemah dan fana. Hanya Tuhan-lah yang Kekal dan Perkasa, yang dengan sifat itulah Dia pun menciptakan segala sesuatu untuk mengabdi kepada-Nya. Untuk mengagungkan Diri-Nya saja.

O… Dirimu bukanlah dirimu yang sebenarnya. Engkau adalah kiasan yang dapat terwujud dengan nyata saat tindakanmu hadir dalam kehidupan. Memang benar sesuatu yang dapat terlihat itu mengandung berat jenis, tapi apakah seseorang dapat disimpulkan hanya sebatas itu saja? Dan ketika seseorang meninggal dunia, maka orang-orang akan berkata bahwa ia telah berpisah. Namun jika begitu adanya, lantas kemanakah ia akan pergi? Bukankah dia masih tetaplah dirinya, hanya saja telah pergi ke tempat lain?

“Kehidupan saat ini hanyalah persiapan
dalam menuju pada kehidupan yang berikutnya”

Ya. Tidak semua orang bisa memaklumi kandungan madu yang manis, karena ia terlalu lemah untuk itu. Tetapi ia pasti bisa merasakannya melalui berbagai perantara, misalnya dengan kue lapis, puding atau menu makanan. Ia bisa melakukannya berulang kali, hingga pada akhirnya ia pun bisa langsung merasakan madu tanpa perantaranya lagi.

Sungguh, jalan-jalan cinta itu tersebar dimana-mana. Tetapi memang ia sering tersembunyi untuk dapat ditemukan oleh pribadi yang teguh dan berhati bersih. Tidak mudah memang, namun jika diusahakan dengan segala ketekunan, maka cinta sejati akan sudi mendekati. Seseorang akan berjalan mulus di atas jalannya dan bisa selamat sampai di tujuan.

jalan-penuh-cinta

Begitupun jalanan yang bersih itu lantaran ia sering dilalui. Pisau yang tajam itu juga karena sering di asah oleh pemiliknya. Sehingga ketika seseorang telah membiasakan dirinya dengan sesuatu yang bermanfaat – meskipun sulit pada awalnya – maka ia akan menemukan banyak kekuatan. Dan dengan kekuatan itulah ia dapat melihat hal-hal yang bukan hanya yang kasar-kasar saja (gaib). Ia akan terus melihat Cahaya Nyata tanpa perantara dari yang kasar (makhluk). Yang dengan hal itu, iapun akan mendapatkan pencerahan universal.

Untuk itu, ketika sedang menjalani kehidupan ini, maka hendaklah dirimu meletakkan cinta pada setiap langkahmu. Berjalanlah pada jalan cinta yang berasal dari cinta-Nya (perintah dan larangan-Nya) dengan sabar dan tekun (istiqomah). Jangan pernah menjadi sosok yang hanya senang melihat bunga saat ia mekar sepenuhnya. Tetapi sukailah bagian demi bagian dari bunga itu; mulai dari akar, batang, cabang, ranting, daun dan kuncupnya. Karena hanya dengan begitulah dirimu akan menemukan kebenaran yang sejati, sementara hidupmu akan beroleh berkah dan kebahagiaan.

Yogyakarta, 30 Ramadhan 1435 H/28 Juli 2014 M
Mashudi Antoro (Oedi`)
[Cuplikan dari buku Cinta di Atas Makna, karya; Mashudi Antoro]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s