Sakit Cinta

Posted on Updated on

cinta sejati 2Pada suatu ketika datanglah seorang pria paruh baya lengkap dengan peralatan medis yang ia miliki. Ternyata ia seorang tabib istana yang bertanggung jawab dalam kesehatan semua kerabat dari sang raja. Dan saat itu ada seorang gadis cantik yang bernama Wulandari sedang jatuh sakit yang cukup parah. Ia tidak mau makan, tubuhya semakin kurus dan wajahnya pun semakin pucat.

Raja Arsaringga yang adalah bapaknya sangat khawatir melihat keadaan putri kesayangannya itu. Ia lantas memerintahkan sang tabib untuk segera mengobatinya. Sang tabib patuh, namun seketika itu juga meminta semua yang berada di dalam kamar sang putri untuk menjauh. Ia berkata; “Wahai raja, kosongkan ruangan ini. Jangan biarkan ada yang melihat ke dalam kamar ini. Jangan ada yang mendekat dan jauhkan orang asing dari tempat ini. Agar aku bisa menanyakan beberapa perkara penting kepada gadis ini”

Meskipun awalnya sang raja terkejut, tapi ia mengikuti kata-kata sang tabib dan segera memerintahkan semuanya untuk keluar ruangan. Membiarkan sang tabib hanya tinggal berdua saja dengan sang putri.

Ruangan telah dikosongkan dan tidak seorangpun yang diizinkan untuk mendekat. Kecuali sang tabib dan putri Wulandari, maka hanya perabotan yang tertinggal di dalam kamar itu. Dengan perlahan lalu sang tabib memeriksa keadaan sang gadis. Ia berbicara dengan lembut, katanya: “Wahai putri, selain di istana ini engkau bisa menikmati suasana, dimanakah dirimu terakhir kalinya berwisata? Karena aku akan memberikan obat sesuai dengan apa yang terakhir kali di alami oleh si sakit, yang setiap orangnya bisa berbeda”.

Di jawab pelan oleh sang putri dengan berkata; “Aku tidak banyak berjalan-jalan di luar istana ini. Sesekali saja pernah ku lakukan. Dari kota yang satu ke kota yang lainnya. Dan yang terakhir kalinya di sebuah kota yang asri dan penuh dengan keramahan penduduknya”

Sang tabib lalu meletakkan jari tangannya di atas nadi sang putri dan kembali mengajukan pertanyaan. Satu demi satu tentang kehidupan sang putri belakang ini. Katanya; “Di kota itu engkau bertemu dengan siapa saja ? Lalu apakah berjumpa dengan seseorang dan kalian bergaul bersama dalam keramah tamahan?

Sang putri lalu menceritakan apa yang terjadi dan apa pula yang ia rasakan. Sambil mendengarkan hal itu, sang tabib tetap mengamati denyut nadi dan jantung sang putri. Jika ada nama yang membuat jantung sang putri itu berdebar-debar, maka tahulah ia siapa sasaran kerinduan dari jiwanya di dunia ini.

Sang tabib lalu menghitung dan mengamati orang-orang atau tempat yang telah diceritakan oleh sang putri. Dan ia kemudian kembali bertanya; “Di kota mana kau paling lama berada disana? Kapan kau meninggalkan kota itu?”

Putri Wulandari lalu menyingkap lingkungan dimana ia pernah berada disana. Ia lalu menyebutkan sebuah kota dan dari situ ia juga menyebutkan desa-desa yang ada tanpa perubahan warna pada wajahnya. Bahkan pernah berkali-kali ia menyebutkan sebuah nama tapi urat nadinya tetap saja seperti biasa dan rona wajahnya tidak berubah sedikitpun. Tidak bertambah pucat ataupun berubah memerah. Sampai ia ditanya tentang sebuah kota yang bernama Yogyakarta. Sebuah kota yang asri dan sangat berbudaya.

Mendengar kata Yogyakarta, sekarang barulah denyut nadinya melompat dan wajahnya berubah menjadi merah padam, karena ia telah berpisah dengan seseorang disana. Ketika sang tabib menemukan rahasia itu, segeralah ia mengambil sumber kepiluan dan duka cita itu. Ia lalu bertanya; “Kapan kau meninggalkan kota itu. Lalu di kota itu, dimanakah engkau bertemu dengannya?” Yang di jawab oleh sang putri dengan berkata; “Sekitar setahun yang lalu. Di sebuah pedesaan dekat kaki gunung Merapi. Saat itu kami bertemu di sawah, ketika ia sedang bekerja disana”.

“Lalu apa saja yang terjadi?” Tanya sang tabib untuk menelusuri. “Kami bertemu dengannya secara tidak di sengaja. Saat itu, aku dan dayangku sedang berjalan-jalan menyusuri area persawahan. Kami terus berjalan sampai pada akhirnya berhenti karena melihat seorang pemuda yang sedang asik bekerja. Meskipun hanya seorang petani, namun wajahnya berseri dan menyiratkan pribadi yang tulus dalam menerima apa yang sudah Tuhan tetapkan bagi dirinya. Ia adalah seorang pemuda desa yang rupawan dan layaknya seorang priyayi yang tidak pernah aku bertemu bangsawan seperti itu. Ia bekerja dengan penuh kesungguhan. Tanpa merasa jenuh, ia pun terus mencangkuli tanah di sawahnya itu untuk bisa segera ditanami padi sebelum musim hujan tiba. Saat itulah kami lewat di hadapannya dan ia segera memberi hormat dan senyuman yang manis. Kami lalu berkenalan dan ia sangat sopan dalam tingkah lakunya, padahal saat itu ia tidak tahu siapa kami sebenarnya. Sikapnya itu tidak seperti kebanyakan orang yang akan tersenyum cerah dan bersikap ramah saat ia tahu bahwa lawan bicaranya itu adalah seorang yang terpandang, orang kaya atau bangsawan yang terhormat” jawab sang putri.

mencangkul di sawah1

Mendengar jawaban itu sang tabib langsung mengetahui sebab dari penyakit sang putri. Ia lalu tersenyum dan berkata; “Aku tahu jenis penyakitmu dan nanti akan kuperlihatkan sebuah seni sulap yang menarik untuk memulihkan keadaanmu. Berusahalah tetap gembira dan merasa bebas dengan kenanganmu itu. Jangan khawatir, karena aku ingin hujan anugerah bisa tetap tercurahkan pada ladang hatimu”

“Benarkah demikian wahai tabib? Padahal setiap orang tidak bisa melihat duri di dalam hatinya. Sepucuk duri yang menusuk kaki saja sulit untuk dicungkil keluar. Lantas bagaimana dengan duri yang ada di dalam hati? Bagaimana pula aku bisa menghilangkan rasa sakit ini?” Tanya sang putri seakan-akan ia tidak percaya.

Di jawab oleh sang tabib dengan berkata; “Wahai putri, aku boleh mencemaskan keadaanmu, tetapi engkau tidak boleh cemas. Aku lebih ramah dibandingkan seratus ayah kepadamu. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya seorang tabib itu bisa melihat duri di dalam hati pasiennya. Tinggal menunggu waktu yang tepat agar duri itu bisa di angkat dengan mudah. Karena ketika hati sedang merasakan pedih tertusuk rahasia ini, maka harapannya adalah apa yang kau rindukan akan segera tercapai. Rahasiakan saja dulu, sebab Nabi telah bersabda; “Siapapun yang menyembunyikan niatnya, maka keinginannya akan segera terpenuhi” . Dan ketahuilah bahwa jika benih di tanam ke dalam tanah, maka ia akan tumbuh menjadi tanaman yang menghijau dan bermanfaat. Begitu pun emas dan permata itu jika disembunyikan di dalam tempat rahasia, maka ia akan menjadi harta karun yang lebih berharga dan membahagiakan siapa saja yang bisa menemukannya nanti?”

Mendengar kata-kata itu sang putri hanya bisa terdiam. Ia seperti tersihir, karena janji dari kata-kata sang tabib telah memberikan kesegaran dalam hatinya. Kata-kata itu membuat sang putri tidak merasa takut sedikitpun. Sebab kata-kata yang tulus akan menenteramkan hati, sementara kata-kata yang palsu hanya akan mendatangkan kegelisahan.

Dan selanjutnya memang keadaan dari putri Wulandari kian membaik. Ia merasa sedikit lega karena bisa menceritakan kenangan indahnya kepada sang tabib. Sang putri tetap merahasiakan kisahnya itu dari siapapun, karena ia sadar akan batasannya sebagai seorang putri raja. Namun sang tabib justru melakukan hal yang berbeda. Ia langsung menghadap kepada raja Arsaringga dan menceritakan rahasia itu kepadanya. Dan karena sang raja memanglah seorang yang bijak, maka ia mau menerimanya dengan lapang dada dan bersikap tenang. Ia bahkan hanya tersenyum dan mengingat kembali masa mudanya dulu. Saat ia pertama kali bertemu dengan seorang gadis desa yang cantik yang kini sudah menjadi permaisurinya. Ternyata putri kesayangannya itu sedang menderita sakit rindu oleh sebab cinta pada pandangan pertama.

Yogyakarta, 30 September 2014
Mashudi Antoro (Oedi`)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s