Peradaban Pasar Global

Posted on Updated on

imperialismeWahai saudaraku. Sesuai dengan judul tulisannya, maka pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang apa yang di maksud dengan peradaban pasar global itu. Lalu mengapa hal ini kami angkat? itu semua karena memang saat ini prinsip pasar telah menguasai di hampir setiap lini kehidupan manusia. Sehingga sedikit sekali yang tersisa dari nilai-nilai etika, budi pekerti, kasih sayang, gotong royong dan kemanusiaan. Yang itu semua hanya akan menyebabkan semakin menurunkan prestasi gemilang dalam peradaban dunia.

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti uraian berikut ini:

Peradaban pasar itu bisa ada karena diawali dengan sejarah kehidupan bangsa-bangsa di Eropa dulu, khususnya di era abad pertengahan Masehi. Saat itu, di Eropa mulai banyak anggapan bahwa hidup ini hanya sekali di dunia saja. Sehingga harus benar-benar dinikmati dengan sepuasnya dengan cara mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Ini terus berlanjut dari zaman ke zaman dan dari generasi ke generasi berikutnya. Yang pada akhirnya membuat mereka selalu mengukur tingkat dari segala sesuatunya pun – terlebih kemuliaan seseorang – hanya dari materi yang ia miliki. Sikap inilah yang pada akhirnya menimbulkan faham Materialism di dalam kehidupan masyarakat Eropa khususnya, dan ini pula yang menjadi biang dari segudang masalah pelik di dunia hingga kini.

Selanjutnya, pemahaman materialisme ini terus bertumbuh dan berkembang sedemikian rupa dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di Eropa. Setiap kemuliaan seseorang hanya di ukur dari materi atau dari seberapa banyak harta bendanya, sehingga ini terus saja membangkitkan ego diri mereka. Salah satu contohnya, dulu di Yunani dan Inggris ada kebiasaan dalam mengukur kekayaan seseorang itu dari seberapa banyak jumlah sapi yang dimiliki. Saat itu, kebiasaan mereka ini dengan cara menghitung seberapa banyak jumlah “kepala sapi” yang ada. Dalam hal ini, maka kepala sapi itu dalam bahasa Latin disebut Caput, sementara di dalam bahasa Inggris pada masa itu bisa disebut Capit. Nah dari istilah Caput atau Capit inilah kemudian melahirkan sebuah faham baru yang dikenal dengan Capitalism. Sistem ini terus berkembang dan karena ditambah dengan kebutuhan yang mendesak dari pasar pada saat itu, maka mereka membangun sebuah lembaga khusus dan profesional dalam usahanya. Yang kemudian dikenal dengan corporation dan company. Maka dari itu, di Netherland (Belanda) kemudian muncullah sebuah perusahaan dagang terbesar dengan nama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Yang memang selanjutnya bisa menjadi perusahaan dagang terbesar di dunia, bahkan memiliki andil terbesar dalam sejarah penjajahan di dunia khususnya di Nusantara. Meskipun pada akhirnya harus hancur karena terus saja digerogoti oleh korupsi yang parah.

Lalu, ketika revolusi industri telah bergulir di Eropa dengan ditandainya kehadiran mesin uap, maka sistem kapitalisme ini terus berkembang dan tumbuh kian subur. Bahkan sesungguhnya revolusi itu sendiri adalah akibat dari adanya sistem kapitalisme yang semakin maju. Dan karena terus berkembangnya industri yang sudah ada, maka kebutuhan akan sumber daya energi pun semakin meningkat. Wilayah tempat tinggal mereka tidak lagi mampu memenuhi semua kebutuhan industri yang terus meningkat itu, terlebih mengenai kebutuhan sumber daya energinya. Sehingga pada akhirnya mereka – melalui corporation dan compeny – harus keluar dari benua Eropa untuk menjelajah ke segala penjuru dunia agar bisa menemukan sumber daya energi dan bahan baku industri yang baru. Dan sejak saat itu pula, misalnya bangsa Portugis, Spayol, Inggris, Belanda, Prancis, dan Russia mulai menjelajahi samudera hanya untuk bisa menemukan wilayah baru yang disana terdapat sumber daya yang berlimpah. Pada saat itu sumber energi yang paling dicari adalah batu bara dan akhirnya minyak bumi. Dan tentunya yang tidak ketinggalan pada saat itu adalah rempah-rempah dan emas yang mampu memperkaya para saudagar mereka, karena memang sangat mahal di benua Eropa.

piramida kapitalisme

Dari petualangan mereka ini, maka akhirnya daerah-daerah yang telah mereka datangi kemudian ingin di tempati dan dikuasai. Bahkan pada akhirnya mereka ini – khususnya Inggris – menganggap daerah-daerah yang mereka tinggali itu sebagai bagian dari kerajaan mereka, atau biasa disebut dengan Colony. Nah, dari kata “colony” inilah pada akhirnya memunculkan sebuah sistem yang dikenal dengan Colonialism atau yang kita kenal dengan wilayah persemakmuran, kata halus untuk menyebutkan penjajahan. Setiap daerah yang menjadi colony mereka ini lalu diperas habis-habisan hanya demi memenuhi prinsip hidup materialisme mereka itu. Semua kekayaan alam terus saja di monopoli oleh para kapitalis ini. Mereka bahkan tidak peduli bila harus menindas, memperbudak dan membunuh warga pribumi hanya untuk bisa menguasai hasil bumi yang ada. Yang terpenting target dari kebutuhan materi dan industri kapitalis mereka itu bisa terus terpenuhi. Mereka tidak pernah merasa puas, karena memang dengan cara itulah mereka pun merasa bisa menikmati hidup ini dengan lebih baik dan sebenarnya.

imperialisme 2

Selanjutnya, pada akhirnya sistem kolonialisme ini tidak bisa bertahan terus menerus. Dan setelah sekitar 5 abad berlalu khususnya pasca Perang Dunia ke-II, akhirnya sistem kolonialisme ini harus berakhir. Tidak “boleh ada” lagi di dunia, dengan dilarangnya atau dihapuskannya sistem ini melalui keputusan sidang di PBB. Tapi, kaum materialis dan kapitalis ini tidak bisa tinggal diam dan menerima keadaan itu. Mereka tetap eksis namun dengan pola dan gaya yang baru, yang sekiranya tidak terlihat nyata bahwa itu sebenarnya tetaplah kolonialisme. Maka dari itu kemudian muncullah sistem baru yang dikenal dengan Imperialism. Sistem ini sebenarnya sama saja dengan sistem kolonialisme dalam bentuk monopoli perdagangan dan penyerapan sumber kekayaan di satu wilayah, tetapi kali ini cara dan bentuknya lebih halus dan tidak ada lagi “perbudakan” di dalamnya. Penindasan yang di lakukan tidak lagi dalam bentuk fisik dan terbuka, tetapi secara tersembunyi dan perlahan-lahan justru menyerang ideologi yang ujung-ujungnya tentu untuk kepentingan dari prinsip materialisme dan kapitalisme mereka. Sehingga karena itu pula muncullah perusahaan baru yang berskala internasional yang menjadi pemegang saham nomor wahid dan pendonor dana bantuan yang tentunya bukan tanpa embel-embel tertentu. Mereka ini pun sering berkedok sebagai para investors (pemilik modal) dermawan yang bisa memberikan harapan baru dan angin segar bagi masyarakat di tempat mereka menanamkan modalnya. Padahal sering kali itu hanya samaran/topeng belaka, dan semua kebaikan mereka itu hanyalah “akal bulus” dan tetap saja kembali lagi pada prinsip materialisme belaka.

Lalu, ternyata prinsip materialisme dan kapitalisme yang diterapkan dalam sistem imperialisme ini tidak membuat mereka puas dan berhenti disitu saja. Karena terus berkembang dan kemudian menjadi sistem yang disebut dengan Economic imperialism. Inilah sebuah sistem yang fokusnya untuk bisa menguasai perekonomian dunia sesuai dengan keinginan dan kepentingan para penganut materialisme dan kapitalisme murni. Lalu didirikanlah World Bank (Bank Dunia) pada tanggal 27 Desember 1945, International Monetary Fund (IMF) pada bulan Desember 1945 yang bertujuan untuk bisa mengatur tentang tingkat inflation (meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus), deflation (menurunnya harga-harga secara umum dan terus-menerus), monetary (proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu), dan sistem finansial dunia. Selain itu, tentunya diaturlah kurs (nilai tukar) mata uang untuk mengontrol keuangan dunia, yang hingga kini masih saja di pegang oleh Amerika (US$). Sehingga segala sesuatu harus diukur menurut prinsip untung rugi semata dan itu harus sesuai pula dengan standar dari kaum materialis dan kapitalis yang licik. Bahkan semua lini kehidupan manusia saat ini harus menyesuaikan juga dengan kehendak dari para kapitalis dan imperialis ini. Tidak ada lagi kemerdekaan dan kebebasan yang sesungguhnya, bahwa seseorang atau sebuah bangsa itu bisa menentukan nasib diri dan bangsanya sendiri terutama dalam bidang politik, hukum dan ekonomi. Mereka tersandera dengan begitu banyaknya kepentingan dan tekanan dari kaum kapitalis dan imperialis ini. Sehingga akhirnya terpaksa harus mengikutinya. Sebagian besar produk dari politik dan hukum di sebuah negara pun – khususnya Indonesia – menjadi pesanan dari para investors kapitalis dan imperialis. Dan ini harus dilakukan, karena jika tidak mengikuti keinginan dari mereka ini, maka siapapun itu – terutama pemimpinnya (raja, presiden) –  akan dihancurkan dalam berbagai cara. Baik dengan cara-cara sembunyi (adu domba) ataupun terang-terangan (kudeta, perang), dengan alasan bahwa semua itu adalah mandat dari Dewan Keamanan PBB. Padahal kebijakan dari PBB sendiri sering kali hanya sebagai formalitas dan legalitas untuk bisa mewujudkan kepentingan dari kaum kapitalis dan imperialis ini saja.

us-imperialism

Jadi, jangan heran jika sekarang ini dunia sangat bergejolak dan terjadi peperangan dimana-mana. Begitu pula mengapa Perang Dunia I dan II bisa terjadi hingga menyebabkan krisis kemanusiaan yang sangat memilukan? Itu semua karena bisa dikatakan pula bahwa kerusuhan, pertikaian dan peperangan yang terjadi di hampir seluruh wilayah dunia ini – terlebih di Timur Tengah dan Afrika sekarang – adalah sebagai akibat dari adanya kepentingan dari sistem kapitalis dan imperialis dunia. Mereka inilah yang mencengkeram dan mengendalikan semuanya. Dan Anda jangan kaget bila sebenarnya di balik adanya Perang Dunia I dan II itu sebenarnya merupakan bagian dari bisnis bagi kaum kapitalis dan imperialis dunia, khususnya tentang jual beli senjata dan alat perang. Sebab, sebagian besar bisnis yang digeluti oleh kaum kapitalis dan imperialis dunia itu adalah produsen senjata dan alat perang. Sehingga tanpa adanya perang, maka mereka tidak akan bisa jual senjata. Tidak bisa jual senjata artinya usaha mereka akan segera bangkut. Dan ini tidak boleh terjadi, karena mereka telah menganut faham materialisme yang “menggila”. Makanya, jika tidak ada perang, maka mereka akan menciptakan sebuah perang. Dan Perang Dunia I dan II itu sesungguhnya adalah pencapaian terbesar mereka di dalam bisnis senjata dan alat perang, bahkan merekalah yang menciptakan perang besar itu. Karena di dalam sistem kapitalisme dan imperialisme itu tidak ada yang namanya belas kasihan. Yang ada hanyalah persaingan untuk bisa menang, berkuasa dan menyerap kekayaan sebanyak-banyaknya dalam bentuk apapun. Dan untuk bisa mewujudkan itu semua, maka orang-orang harus menjadi semakin buas dan serakah. Menjatuhkan lawan bisnis atau lawan politik dengan segala cara menjadi sangat wajar. Bahkan jika harus membantai rakyat jelata dengan cara menjatuhkan bom atau agresi militer, maka tidak menjadi soal. Karena yang terpenting adalah tujuan dari kapitalisme atau imperialisme – yang berakar pada faham materialisme – bisa tetap tercapai. Sehingga muncullah istilah yang memilukan, yaitu; “Homo homipus dracus” atau manusia menjadi dracula (penghisap darah) bagi manusia lainnya. Yang penting mereka bisa senang dan tetap menikmati hidupnya dengan mewah dan glamor,  meskipun itu di atas penderitaan orang lain. Padahal yang semestinya itu adalah “Homo homipus sosius” atau manusia itu bisa menjadi kawan dari manusia lainnya. Sebab, dengan prinsip seperti inilah, maka kehidupan di dunia inipun bisa lebih baik dan terhormat.

korban kapitalisme dan imperialisme dunia

Sehingga solusi mudahnya adalah, siapapun itu harus mau menerapkan prinsip “Simbiosis mutualism” atau sistem kerjasama yang saling menguntungkan. Sebagaimana yang pernah diterapkan di Nusantara tempo dulu (sebelum zaman penjajahan, khususnya sebelum Masehi), dimana saat itu pula bangsa Nusantara telah mampu membangun peradaban yang gemilang tanpa harus menjajah bangsa lain dan mengorbankan nyawa orang banyak. Mereka cukup dengan memperkuat ketahanan diri (sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan) dan mengelola kekayaan alam yang ada dengan maksimal tapi selalu bijaksana. Hasilnya kehidupan peradaban yang mereka bangun di Nusantara saat itu tetap bisa mensejahterakan rakyatnya dan bisa selalu mempertahankan nilai-nilai dari welas asih dan gotong royong. Ini bisa dilihat dengan adanya semboyan yang hingga kini masih menggema di tanah Jawa misalnya, yaitu“Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo”.

Semboyan di atas bukan hanya sekedar ucapan, slogan, atau cita-cita belaka, karena memang pernah terjadi di banyak kerajaan di tanah Jawa pada masa lalu, khususnya sebelum Masehi. Sebut saja kerajaan Artimanggala, sebuah kerajaan besar yang pernah ada di sekitar ±5.000 tahun sebelum Masehi. Kerajaan ini dulunya berpusat di Jawa Tengah, tepatnya di antara Kabupaten Sragen dan Salatiga sekarang. Kerajaan ini juga sangat mahsyur di zamannya (atap istananya saja terbuat dari emas), sangat di hormati di dunia dan rakyatnya telah hidup dalam kesejahteraan tanpa perlu menjarah atau menjajah bangsa lain. Mereka selalu menggunakan cara-cara yang sesuai dengan jiwa dan karakter orang Jawa (tolong menolong, gotong royong dan welas asih). Dimana hal itu sebagai bukti kesadaran penuh bahwa mereka memang bangga menjadi orang Jawa dan senang mewarisi sifat-sifat kejawaan itu dari nenek moyangnya dulu. Mereka pun tidak pernah ingin jadi orang lain atau ikut-ikutan aturan bangsa lain – seperti keadaan negara Indonesia sekarang. Karena sesungguhnya warisan dari nenek moyang mereka itu lebih dari cukup untuk bisa membangun peradaban yang besar. Semua yang telah dicetuskan – termasuk hukum dan ketatanegaraan – oleh nenek moyang mereka telah sempurna untuk kehidupan berbangsa dan bernegara di Nusantara. Mereka cukup mengadobsinya atau sedikit melengkapinya saja, tanpa perlu mengubah intinya. Dan yang terpenting adalah apapun yang mereka kerjakan pada saat itu tanpa dibarengi dengan prinsip materialisme dan sistem kapitalisme atau imperialisme.

Jadi, sudah semestinya sebagai bangsa Nusantara kita harus mandiri dan segera kembali menerapkan nilai-nilai luhur dari bangsa ini, seperti tolong menolong, gotong royong, rasa welas asih dan cinta. Kearifan lokal harus lebih di utamakan, karena hal itu akan bisa mensejahterakan semua orang, khususnya rakyat kelas bawah. Bukan justru dengan hukum rimba (siapa yang kuat, itu yang menang dan menindas) yang terus menerus dipertahankan dalam peradaban dunia ini. Karena itu adalah faham materialisme dan kapitalisme, yang sesungguhnya tidak akan sesuai dengan jiwa dan karakter orang-orang di Nusantara. Kalau di Eropa bisa cocok, ya mungkin itu sesuai dengan karakter dan jiwa mereka. Tapi kita ini bukanlah orang Eropa, kita orang Nusantara yang tentunya punya karakter yang berbeda dengan mereka itu. Sehingga jika tetap saja memaksakan diri untuk terus mengikuti karakter mereka (orang Eropa), maka hal itu hanya akan menyebabkan keadaan negara menjadi terus memburuk dan akhirnya chaos (negara dalam kondisi kacau dan rusuh di semua lini kehidupan), khususnya di banyak negara berkembang. Perekonomian bisa kacau balau dan hancur, yang disebabkan oleh banyaknya kesenjangan sosial, perebutan kekayaan, pertikaian, kudeta dan seringnya terjadi peperangan, tanpa peduli negara, bangsa, ras dan agamanya.

Untuk itu, dari sekelumit uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peradaban dunia yang dibangun saat ini – di hampir seluruh negara – sesungguhnya adalah peradaban pasar yang hanya bersifat transaksional belaka. Tidak ada lagi nilai-nilai luhur budi pekerti dan rasa cinta. Karena semuanya harus di ukur dari materi; nilai untung dan rugi semata, tanpa ada lagi yang namanya toleransi, tolong menolong, gotong royong, rasa welas asih dan cinta. Padahal pasar itu tentu sudah menjadi sifatnya untuk selalu kurang dan tidak peduli tentang bagaimana caranya agar bisa terus memenuhi kebutuhannya akan permintaan. Tidak ada rasa puas, sehingga kehidupan dunia pun selamanya tidak akan sampai pada tahapan damai, makmur dan sejahtera. Bahkan yang lebih buruknya lagi adalah bahwa saat ini banyak orang – sadar atau tidak sadar – yang terus saja menganggap bahwa kehidupan duniawi yang materialisme dan konsumtif itu adalah pencapaian yang setinggi-tingginya. Sehingga mereka pun menjadi sosok yang semakin serakah, individualistik, hedonis dan anti aturan agama. Padahal masih ada pencapaian tertinggi lainnya dan kehidupan berikutnya yang harus dipersiapkan dari sekarang, yaitu kehidupan di akherat nanti.

Sehingga, prinsip hidup yang berakar pada materialisme di atas itulah yang dikatakan dengan peradaban pasar global. Sebuah sistem yang menyebar di seluruh dunia namun justru menyebabkan hilangnya kemanusiaan di dalam diri seseorang. Dan jika rasa kemanusiaan itu telah hilang, maka peradaban yang dibangun tentu tanpa adanya nilai-nilai kebaikan sejati dan prinsip yang benar. Akibatnya akan banyak ketidakteraturan dan kerusakan dalam akhlak dan kehidupan sosial. Kalau pun ada kedamaian, maka semuanya hanya semu dan jumlahnya sangat sedikit, karena mayoritas dari masyarakat itu akan terus terjajah, terinjak-injak dan menjadi budak dari mereka yang kuat atau berkuasa dalam sistem kapitalis dan imperialis. Yang semuanya itu hanya akan terus mendatangkan berbagai bencana, kelaparan dan ketidakamanan – karena banyak kesenjangan ekonomi, kisruh politik dan pertikaian. Bahkan ini akan terus berlanjut sampai Tuhan sendirilah yang akan menyudahinya dengan menurunkan azab yang besar. Yang bisa menghilangkan peradaban yang telah lama dibangun hanya dalam waktu singkat. Semoga kita tidak termasuk di antara golongan yang terkena azab perih itu nanti.

Yogyakarta, 26 September 2014
Mashudi Antoro (Oedi`)

3 thoughts on “Peradaban Pasar Global

    Taufiq Hidayat said:
    Desember 23, 2014 pukul 8:50 pm

    Saya sangat berterima kasih kepada Mas, ternyata pemaparan yang disampaikan banyak sekali pengetahuan yang di dapat. syukron kasyiro!

      oedi responded:
      Desember 25, 2014 pukul 6:35 am

      Iya mas Taufiq, syukurlah masih senang dengan tulisan di blog ini.. terimakasih dan semoga tetap bermanfaat..🙂

    Sejarah Hebat Bangsaku; Nusantara « Perjalanan Cinta said:
    April 18, 2015 pukul 5:08 am

    […] lokal atau Siklus geologi dunia waktunya pergantian zaman atau Kisah sejarah Nusantara atau Peradaban pasar global]. Tapi sekali lagi, karena berbagai musibah dan bencana besar yang sering mendatangi negeri ini, […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s