Puisi Cintaku

Posted on

puisi cintaKetika pertama kali menuliskan puisi cinta, saat itulah muncul dorongan yang membuatku harus menggubahnya. Waktu itu pun terasa sangat efektif untuk bisa mengungkapkan rasa dan perasaan di hati. Bahkan sekarang, ketika dorongan telah lesu dan ide pun telah tenggelam, maka puisi cinta masih tetap saja efektif untuk bisa menemani kesendirian.

 Wahai kekasihku.
Engkau adalah cinta sejatiku,
Karena benih cinta yang kau berikan di hatiku telah mengakar kuat.
Tidak bisa lagi berganti atau berpaling,
Karena cinta yang kau berikan padaku datangnya dari langit ketulusan.
Aku adalah pelengkap bagi dirimu,
Sedangkan dirimu adalah penyempurna bagi diriku.
Dan demi Hari Akhir yang pasti terjadi,
Tidaklah mungkin aku sanggup mengkhianati cinta sucimu.
Aku akan senang bisa mati di pangkuanmu,
Karena dalam cinta suciku, aku hanya ingin selalu bersamamu.

Begitulah cara Tuhan dalam memelihara sesuatu ketika ia terbit, saat banyak bermunculan akibat dari tindakan, yang menyebabkan lahirnya hikmah dari jalan kehidupan ini. Bahkan ketika pemeliharaan itu ikut tenggelam bersama hari yang berganti, maka penjagaan-Nya akan tetap ada bagi setiap pribadi. Untuk terus mendatangkan kebaikan bagi siapapun kecuali Diri-Nya, karena Dia pun telah cukup untuk Diri-Nya sendiri.

Ya. Seseorang itu bagaikan busur di tangan pemanah-Nya. Bagaimanapun hidupnya, tentu akan tergantung dari keinginan Sang Pemanah. Tuhan-lah yang menentukan bagaimana dan untuk apa sebuah busur diciptakan. Dan pada hakekatnya, busur pun hanyalah sebagai alat, sebuah cara dan bukan penyebabnya. Namun karena demi kestabilan dunia, maka busur itu tidak sadar akan pengaruh Tuhan, padahal itulah yang nyata dan sebenarnya.

O… Apa yang bisa ku katakan lagi tentang dunia yang kini terus menerus membuat gila para pecintanya? Apa yang harus ku jelaskan tentang dunia yang penopang dan pendukung utamanya adalah hati yang berada di dalam ketidakpedulian? Padahal tidakkah engkau sadari bahwa seorang yang telah terbangun dari “tidur ketidakpeduliannya” akan berlaku dingin terhadap dunia yang berusaha menipunya. Dia tidak akan tertarik dan merana bila masih saja merindukan yang bukan kehidupan akheratnya. Sehingga ia pun bisa terselamatkan.

Sungguh, dari kanak-kanak, remaja hingga dewasa, manusia itu sering berada di dalam ketidakpedulian. Padahal sikap itu hanya akan membuatnya tersingkir jauh dari ridha dan ampunan-Nya. Tuhan pun telah memberikan peringatan keras dan ancaman azab yang perih kepadanya, tetapi sayang hanya sedikit saja yang ia pedulikan. Dan kenyataannya sekarang justru ketidakpedulian itu kian memuncak, dengan alasan sekedar mengikuti kehendak bebas yang sebenarnya keliru.

Ya. Diri sejati seorang manusia itu sebenarnya telah sempurna, tetapi kini banyak yang seperti tumpukan sampah. Apabila timbunan sampah itu tidak lagi berharga, maka itu semua karena Sang Raja telah menutup rapat tumpukan itu dari manfaatnya. Ia tetap ada, tetapi sudah tidak lagi berguna. Dan bila memang sudah tidak lagi berguna sama sekali, maka suatu saat nanti pasti akan disingkirkan dari kehidupan ini.

natural

Begitulah kisah yang akan dialami oleh sebagian besar penduduk Bumi saat ia tidak lagi peduli dengan kehidupan yang benar dalam nama Tuhannya. Ia hanya ibarat sampah yang berserakan, yang tentunya harus dibersihkan agar kehidupan di dunia ini tetap bersih, tertata dan rapi. Agar siapapun yang hidup di masa yang akan datang bisa merasakan kebaikan, keteraturan dan kesejahteraan lagi. Yang tentunya itu semua telah sesuai pula dengan aturan Tuhan di Bumi sejak zaman Nabi Adam AS.

O… Ini adalah kisah yang berulang kali terjadi. Hanya saja kali ini keadaannya akan jauh berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Jika dulu ada azab yang dahsyat, maka nanti akan ada azab yang maha dahsyat. Jika dulu satu kaum saja yang diberikan azab, maka nanti akan berlaku hampir di seluruh dunia secara berbarengan. Mengapa demikian? Itu karena saat ini kerusakan akhlak manusia telah merata di sepenjuru dunia, bahkan di dalam kota yang di anggap paling suci.

Untuk itu, apabila engkau melihat gelas yang bersih, maka perhatikan apakah air yang ada di dalamnya juga bersih. Apakah yang melandasi ketertarikanmu itu karena gelasnya yang bersih atau airnya yang bersih atau kedua-duanya? Sebab, banyak orang yang hanya memperhatikan satu bagian tetapi melupakan bagian lainnya yang sebenarnya sangat penting. Sehingga terjadilah yang namanya kesenjangan, kemunafikan dan kebodohan yang menyebabkan hancurnya peradaban.

Pun, tetaplah engkau semangat dalam menyampaikan kebaikan. Karena bila dirimu rajin dalam menyampaikannya, maka kebaikan itu akan kembali kepadamu. Ajakan kebaikan yang kau sampaikan kepada orang lain tidak akan pernah sia-sia, karena hakekatnya telah langsung ditujukan bagi dirimu sendiri. Sehingga bila semakin banyak dirimu menyampaikan kebaikan, tentunya akan semakin banyak pula kebaikannya untukmu.

Maka dari itu, apabila engkau membiasakan dirimu berbicara tentang kebaikan, maka sesungguhnya dirimu telah berada di dalam taman syurga-Nya. Termasuklah dalam urusan puisi cinta, maka sudah selayaknya dirimu hanya menyampaikan puisi itu demi mengutarakan kebaikan bagi siapapun. Sampaikanlah ia sesering mungkin dan tidak harus dalam bahasa yang tinggi dan membingungkan. Tetapi cukuplah hanya dengan bahasa yang sederhana namun berisi ajakan dalam kebenaran Tuhan. Dengan begitu, maka siapapun akan menyukaimu dan Tuhan pun akan senang meridhaimu.

Yogyakarta, 19 Ramadhan 1435 H/18 Juli 2014 M
Mashudi Antoro (Oedi`)
[Cuplikan dari buku Cinta di Atas Makna, karya; Mashudi Antoro]

4 thoughts on “Puisi Cintaku

    Sri Nuryati said:
    Agustus 6, 2014 pukul 4:26 pm

    Menyentuh sekali…..izin share ya mas,minal aidzin wal fa idzin mohon maaf lahir batin telat gpp ya yg penting masih dlm suasana bulan syawal🙂

      oedi responded:
      Agustus 9, 2014 pukul 5:37 am

      Alhamdulillah jika senang dengan tulisan ini… makasih karena masih mau berkunjung….
      Wah silahkan aja mbak, saya malah senang kok kalau mbaknya mau share ke temen2 lainnya.. jadi dakwah ini bisa terus menyebar lebih luas…
      Iya mbak gak apa2 kok kan masih bulan syawal… sama2 saling memaafkan aja ya… moga kita bisa menjadi hamba yang baik di hadapan-Nya…🙂

    Ivan said:
    Januari 15, 2015 pukul 7:40 am

    Bagus bg puisinya bg….. ^_^

      oedi responded:
      Januari 18, 2015 pukul 7:28 am

      Oh ya? wah syukurlah kalau suka… terimakasih ya untuk kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s