Kisah Sejarah Nusantara

Posted on Updated on

candi-sewu (Nusantara)Tersebutlah sebuah negeri yang terletak di antara pertemuan dua samudera dan dua benua yang luas. Dari dulu hingga sekarang, negeri ini selalu ramai dilalui atau dikunjungi oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia. Yang tentunya mereka itu memiliki keperluan penting dengan negeri ini, di antaranya adalah perdagangan rempah-rempah, barus dan emas.

Waktu terus bergerak sementara sejarah terus mengukir kisahnya di negeri yang makmur ini. Dari zaman pertama, berulang kali telah muncul dan tenggelam peradaban yang besar dan luarbiasa. Bahkan tidak jarang negeri ini bisa menjadi pusat peradaban dunia di masa lalu. Orang-orang dari berbagai latar belakang, bangsa, bahasa, agama dan ras yang berbeda pun datang berdunyun-dunyun ke negeri ini. Semua itu dilakukan hanya untuk bisa menikmati kekayaan yang berlimpah dan peradaban yang gemilang dari negeri yang terkenal dengan slogan “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo” ini.

Sebut saja Amartadwipa, Hasipraya, Sanjasurya, Kamadiyangan, Aripura, Pasatra, Astapura, Karimun, Tarturaka, dan Medang Kamulan. Semua itu adalah di antara nama-nama kerajaan besar yang pernah ada dan sangat berjaya di negeri khatulistiwa ini – namun kini tidak diketahui lagi oleh banyak orang bahkah para ahli sejarah, tetapi masih tersimpan di beberapa tempat secara rahasia. Sementara Sriwijaya dan Majapahit, yang sering diagung-agungkan oleh sebagian orang sekarang, maka keduanya masih terbilang biasa saja bila dibandingkan dengan kerajaan besar yang pernah jaya di zaman dahulu itu.

Perlu diketahui, bahwa sejarah peradaban yang telah ada di negeri ini sesungguhnya sudah berlangsung jutaan, bahkan milyaran tahun lamanya. Ia sering timbul dan tenggelam oleh berbagai sebab. Salah satunya akibat dari azab Tuhan yang diturunkan kepada penduduk negeri ini, seperti gunung meletus, tsunami, gempa bumi, dan tanah yang di tenggelamkan atau di balik. Semua itu sering terjadi dalam jangka waktu yang relatif lama – bahkan mengakibatkan daratan di negeri ini terpisah-pisah dan sempat kosong tak berpenghuni selama ribuan tahun – sebagai akibat dari sikap kufur yang telah dilakukan oleh penduduk negeri ini terhadap nikmat Tuhan.

Tetapi, jika Anda tidak menemukan catatan atau bukti sejarah yang menjelaskan tentang peradaban yang saya sebutkan di atas, maka itu semua memang sudah direncanakan oleh kalangan tertentu. Ingatlah kembali, bahwa negeri khatulistiwa ini pernah di jajah selama berabad-abad oleh bangsa lain. Saat itulah, apapun itu yang menyangkut dengan sejarah kejayaan Nusantara tempo dulu akan disembunyikan oleh mereka, bahkan dibakar atau di “gondol” ke negaranya. Dan satu lagi yang termasuk di dalam agenda terpenting dari para penjajah itu adalah mengubah sejarah yang ada di tanah khatulistiwa ini dengan membuat catatan sejarah yang sebelumnya telah dimanipulasi, alias di putar balikkan. Tujuannya adalah agar generasi penerus bangsa khatulistiwa pun tidak pernah menyadari akan keagungan dari bangsanya sendiri dan terpecah belah. Sehingga mereka tidak pernah kembali ke jati dirinya sendiri lalu membangkitkan kejayaannya seperti dulu. Nah jika itu terus terjadi, maka mereka (para penjajah) akan lebih mudah untuk menyerap kekayaan alam yang dimiliki oleh bangsa ini tanpa disadari sepenuhnya.

Jadi, negeri yang berada di lintang aquator ini, yang oleh orang Arab dulu sering disebut sebagai negeri Timur Jauh, adalah negeri yang dijanjikan untuk selalu berjaya di dunia. Semua modal untuk itu selalu ada, karena memang  negeri ini sangat kaya, letaknya strategis dan penduduknya sebenarnya pintar. Tetapi sungguh disayangkan kini, karena yang terjadi justru negeri ini masih terjajah oleh kekuatan asing. Ia belum merdeka sepenuhnya, karena segala urusan di dalam negeri ini sendiri masih dikendalikan oleh pihak asing – di antaranya IMF. Dan yang lebih buruknya lagi adalah bahwa sebagian dari petinggi di negeri ini telah berkhianat kepada rakyatnya sendiri, dengan menjadi “agen” dari kekuatan asing untuk menghisab kekayaan alamnya.
Dan tahukah kalian, bahwa kejayaan yang pernah diraih oleh bangsamu dulu itu tidak pernah ada campur tangan bangsa asing. Mereka hanya percaya kepada bangsanya sendiri, sehingga hanya membuat dan mengikuti hukum ketatanegaraan yang dibuatnya sendiri. Tidak pernah mereka mengadopsi buatan bangsa lain apalagi para penjajah, karena mereka memang mampu untuk membuat yang lebih baik dari seluruh bangsa di dunia. Bahkan sebenarnya, banyak bangsa di dunia yang justru mengadopsi hukum dan ketatanegaraan yang pernah berlaku di negeri kalian (Nusantara).

prambanan_temple_indonesia_original

Termasuklah bangsa-bangsa Eropa. Mereka pernah mengadopsi hukum dan peraturan yang sudah dibuat oleh bangsa khatulistiwa ini. Semua itu terjadi pada masa-masa awal perhitungan Masehi, bahkan jauh sebelumnya. Karena ketika mereka masih tinggal di dalam goa atau gubuk kayu yang usang (primitif), bangsa Nusantara sudah memiliki kota-kota kerajaan yang besar. Tata lingkungannya moderen dan bangunannya terbuat dari batu marmer atau bata yang tersusun rapi, bahkan atap rumahnya sudah menggunakan bahan dari perunggu, perak atau emas. Mereka pun sudah memiliki hukum ketatanegaraan yang jelas, yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun di antaranya adalah yang sudah tertuang di dalam kitab hukum Dharmawangsa, Dharmasastra, Siwasasana, Adigama, Kutarasasta, Manawasastra dan Kutara Manawa. Sementara bangsa-bangsa di Eropa justru masih hidup dalam dunia kegelapan. Mereka baru mengenal hukum ketatanegaraan yang kongkret, memihak rakyat dan menjunjung hak asasi manusia untuk yang pertama kali sejak di tulisnya Magna Carta (Piagam Besar) di Inggris pada tanggal 15 Juni 1215 Masehi. Itupun hanya berisikan 8 buah pasal saja.

Sedangkan di Nusantara, contohnya pada masa Ratu Shima dari kerajaan Kalingga (sekitar abad ke 6-7 Masehi), maka orang Jawa sudah mengenal sekitar 172 pasal hukum ketatanegaraan. Sehingga dengan diterapkannya pasal-pasal hukum tersebut, maka khususnya masyarakat Kalingga sudah hidup dalam keteraturan dan kesejahteraan, bahkan keadilan sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Buktinya saja putra dari Ratu Shima sendiri telah di potong tangannya – dalam versi lain kakinya – hanya karena ia pernah menyentuh barang milik orang lain tanpa izin. Selain itu, daerah wilayah kekuasaan kerajaan Kalingga meliputi 28 wilayah. Menurut Rouffaer, dalam menjalankan pemerintahannya raja atau ratu telah dibantu oleh 32 orang menteri, empat orang duduk di pusat kerajaan dan 28 orang lainnya berada di daerah-daerah.

Selanjutnya, pada masa kerajaan Singhosari (1268 – 1292 M) pasal-pasal tersebut di lengkapi lagi menjadi sekitar 242 pasal. Lalu yang terakhir pada masa kerajaan Wilwatikta/Majapahit ( 1293 – 1500 M), tepatnya pada masa Maha Patih Gajah Mada, maka pasal hukum yang berasal dari kerajaan Kalingga tersebut lalu di sempurnakan lagi menjadi sekitar 270 pasal. Inilah hukum ketatanegaraan yang kemudian dikenal dengan nama Kutara Manawa. Sebuah hukum yang telah paripurna dan sesuai pula dengan kebutuhan dan karakter bangsa Nusantara. Sehingga dengan diterapkannya pasal-pasal hukum Kutara Manawa pada saat itu, maka nyatalah slogan dari negeri khatulistiwa; “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo”.

Itu belum lagi tentang sistem ketatanegaraannya. Kita ambil contoh saja kerajaan Wilwatikta/Majapahit yang berdiri pada abad ke 13-16 Masehi. Negara kesatuan ini telah memiliki satu sistem ketatanegaraan yang jelas, detil dan terstruktur – bahkan menurut saya jauh lebih bagus dari Indonesia sekarang. Dan jika dikaitkan dengan sistem negara yang moderen saat ini, maka Wilwatikta/Majapahit adalah negara yang telah menganut sistem negara serikat jauh sebelum USA (United States of America) berdiri. Wilwatikta/Majapahit juga telah mengenal sistem otonomi daerah bahkan ratusan tahun sebelum NKRI menerapkannya. Sehingga pertanyaannya kini adalah “siapa yang meniru siapa?”.

Lalu mengapa bangsa ini tidak mau menggunakan salah satu dari hukum-hukum yang terdapat dalam kitab yang disebutkan di atas? Karena terbukti hingga kini masih mengikuti hukum buatan penjajah VOC. Dan mengapa bangsa pemenang ini sekarang justru seperti pecundang atau bangsa yang kalah dan bisanya hanya mengekor kepada yang lainnya (Demokrasi ala Barat). Tidak lagi percaya diri dan menggunakan sistem yang dibangun berdasarkan karakter dan ciri khas dari bangsanya sendiri. Sangat senang mengikuti tren kekinian yang sebenarnya tidak selalu bisa menguntungkan, bahkan lebih banyak merugikan rakyat. Padahal, kalau dulu nenek moyang kita bisa mendirikan kerajaan yang besar, dengan aturan dan hukum sendiri, dengan cara sendiri yang tentunya sesuai pula dengan karakteristik bangsa sendiri dan tidak cuma ikut-ikutan bangsa lain, lalu mengapa kita sekarang tidak? Kita sebenarnya bisa dan pasti bisa, hanya saja hingga kini tidak punya keberanian untuk mencobanya. Bangsa ini terlalu takut dan mentah-mentah dalam mempercayai apa yang dikatakan oleh mereka yang dulunya pernah menjajah negeri ini. Akhirnya, sampai kapanpun akan selalu menjadi bangsa pecundang kalau tidak berani mengambil resiko untuk bisa kembali ke jati dirinya sendiri secepatnya.

Selain itu, banyak hal termasuk tentang konsep kepemimpinan yang oleh bangsa ini diambil langsung mentah-mentah dari tradisi Barat yang human-centris, individualistis, dan cenderung meniadakan Tuhan. Mungkin itu yang efektif di dunia Barat, saya tidak tahu, karena mungkin lebih cocok dengan konteks sosio-kultural disana. Dan mungkin konsep yang melibatkan agama atau Tuhan tidak relevan diterapkan disana. Tapi kita ini bukanlah orang Barat, dan kehidupan di tanah Nusantara ini tidak bisa dilepaskan dari peran agama dan Tuhan. Kita adalah orang Nusantara yang punya karakter dan kulturnya sendiri. Sehingga mengapa kita masih saja ikut-ikutan mereka yang sebenarnya memang tidak pernah sejalan dengan karakter dan kultur bangsa Nusantara? Bukankah sebaiknya karena kita memiliki kekhasan nilai, budaya, dan sejarah, maka kita harus menggali kearifan lokal kita sendiri untuk merumuskan konsep-konsep tentang berbagai hal, salah satunya mengenai kepemimpinan dan negara?

Dan kini pertaruhannya adalah bahwa zaman akan segera berganti baru dan akan ada perubahan besar secara global. Namun apakah bangsa besar ini (Indonesia) akan bisa bertahan jika tidak punya kekhasannya sendiri? Apakah ada kemuliaan yang semestinya, jika kita masih saja mengekor – bahkan menjadi budak – kepada bangsa lain? Apakah ada kejayaan jika kita masih saja terus-terusan menjadi tamu di negeri sendiri? Karena bagi siapa saja yang mengekor, maka ia akan selalu tertindas. Selamanya ia akan menjadi “jongos” dari yang mereka ikuti itu.

Lalu apakah bangsa ini akan tetap seperti ini selamanya? Apakah akan terus-terusan di tipu dan dipermainkan? Menurut saya tentu tidak, karena suatu saat nanti – dalam waktu dekat – akan berubah dan berganti dengan yang baru. Akan ada revolusi terbesar dengan nama yang baru dan kekuatan yang baru pula, namun justru akan sesuai dengan jiwa bangsa Nusantara yang sejati. Lalu bagaimana itu bisa terjadi di negara yang berdaulat ini? Itu semua mudah bila sudah waktunya, terlebih hal yang semacam ini sudah berulangkali terjadi di Nusantara. Sedangkan nanti akan ada revolusi terbesar di akhir zaman ini, yang tidak pernah terjadi di masa sebelumnya. Sebab sebelumnya rakyat pun telah jenuh dengan janji dusta yang sering dikatakan oleh para pemimpinnya sekarang. Terlebih lagi karena mereka itu memang nihil karakter, kejujuran, cinta kasih, semangat pengabdian, miskin kompetensi dan pengetahuan sejarah, dan tanpa kearifan lokal dalam memimpin.

Untuk itu, sudah selayaknya sebagai pewaris budaya kita perlu mereferensikan arah navigasi kapal NKRI ini pada nenek-moyang kita sendiri, selain juga memperkayanya dengan sumber-sumber lain. Sudah saatnya kita kembali ke jati diri kita sendiri sebagai generasi bangsa Nusantara. Dan sadarlah wahai semuanya, sejak nenek moyangmu dulu, kita adalah satu bangsa yang besar dan hebat. Kita pernah sangat disegani oleh bangsa manapun di dunia ini lantaran peradaban besar yang telah dimiliki. Ilmu pengetahuan kita pernah sangat maju – bahkan telah bisa menjelajahi angkasa luar, kekayaan negeri kita berlimpah ruah, bahkan kesaktian orang-orang dari kita dulu sangat ditakuti oleh bangsa perkasa di dunia. Semua orang akan sangat berbahagia saat bisa berada di negeri kita ini, terlebih ketika ia bisa juga mempelajari apa saja yang ada di dalam peradaban bangsa kita. Sehingga teruslah bersyukur dengan anugerah dan kesempatan itu, terlebih mau berusaha untuk menjaganya dan kembali membangkitkan kejayaannya sekali lagi. Karena tidak ada bangsa yang besar jika tidak bisa menjadi diri bangsanya sendiri.

Yogyakarta, 23 Juni 2014
Mashudi Antoro (Oedi`)

16 thoughts on “Kisah Sejarah Nusantara

    Amin Sodick Iragohamnida said:
    Juni 24, 2014 pukul 10:25 am

    wah artikel yang bagus. maaf ya mas baru sempet mampir nih.

      oedi responded:
      Juni 26, 2014 pukul 8:38 am

      Oh nyantai aja mas, saya yg seharusnya berterimakasih karena sampeyan masih mau berkunjung.. semoga tetap bermanfaat..🙂

    Ademiftahuddin (@dmiftahuddin) said:
    Juli 16, 2014 pukul 4:01 am

    mantap informasinya, makasih mas

      oedi responded:
      Agustus 9, 2014 pukul 7:43 am

      Iya sama2 mas, terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    […] Terkait dengan “sesuatu yang kecil” itu, cobalah cermati dengan seksama bahwasannya apakah negeri ini tetap menjadi bagian dari dirinya sendiri? Atau apakah yang diterapkan selama ini telah menunjukkan bahwa bangsa ini tetaplah sebagai bangsa Nusantara yang utuh dan tangguh? Karena lihatlah, banyak hal termasuk tentang konsep kepemimpinan yang oleh bangsa ini diambil langsung mentah-mentah dari tradisi Barat yang human-centris, individualistis, dan cenderung meniadakan Tuhan. Mungkin itu yang efektif di dunia Barat, saya tidak tahu, karena mungkin lebih cocok dengan konteks sosio-kultural disana. Dan mungkin konsep yang melibatkan agama atau Tuhan tidak relevan diterapkan disana. Tapi kita ini bukanlah orang Barat, dan kehidupan di tanah Nusantara ini tidak bisa dilepaskan dari peran agama dan Tuhan. Kita adalah orang Nusantara yang punya karakter dan kulturnya sendiri. Sehingga mengapa kita masih saja ikut-ikutan mereka yang sebenarnya memang tidak pernah sejalan dengan karakter dan kultur bangsa Nusantara? Bukankah sebaiknya karena kita memiliki kekhasan nilai, budaya, dan sejarah, maka kita harus menggali kearifan lokal kita sendiri untuk merumuskan konsep-konsep tentang berbagai hal, salah satunya mengenai kepemimpinan dan negara? [baca: https://oediku.wordpress.com/2014/06/23/kisah-sejarah-nusantara/#more-5739%5D […]

    esa said:
    Desember 24, 2014 pukul 4:23 am

    pnja2h2 bnyak mmalsukn naskah2 kuno,mrampas mmbawa naskah2 kuno asli ke dan dijaga ketat di ngara2 pnjajah2. Kitab n atau naskah2 kuno yg ditulis pd tahun abad sblum kdatangan n atau tdk jatuh ke tangan pnjajah2, dipastikn asli.

      oedi responded:
      Desember 25, 2014 pukul 6:33 am

      Namanya juga penjajah, mana ada yg mau mengatakan yg sebenarnya tentang kejayaan bangsa yg mereka jajah, terlebih saat mereka masih menjajah negeri ini, karena itu sama saja dengan bunuh diri.. itu justru akan mengobarkan semangat perjuangan dan kemerdekaan daerah jajahan mereka… makanya pastilah mereka akan mengatakan hal yg dusta dan jelas merendahkan martabat bangsa ini… bahkan hingga kini mereka tetap saja mengatakan bahwa sebelum perhitungan Masehi bangsa Nusantara masih berada dalam keadaan sangat primitif, bangsa ini di gambarkan sebagai bangsa yg hampir tanpa busaha dan tanpa budaya.. mereka masih tinggal di goa-goa, yang kerjanya hanya cukup mencari makan dengan cara berburu dan berpindah-pindah tempat… padahal sesungguhnya tidak demikian, justru sebelum Masehi nenek moyang kita sudah berhasil membangun peradaban yang besar dan maju, mereka bahkan telah membangun piramida lebih dulu dari bangsa Mesir… dan itu semua murni hasil karya cipta dan daya nalar bangsa ini sendiri..

    esa said:
    Desember 24, 2014 pukul 4:29 am

    tdk adany kmandirian ahli2 sjarah arkeolog indonesia utk mmbuat sumbr rujukn sndiri,tdk mmakai sumbr rujukn yg dibuat pnjajah2. Tdk adany kbranian pmrintah utk mngambil paksa kmbali smua bukti2 pninggalan sjarah sbagai hak waris bangsa yg drampas pnjajah2.

      oedi responded:
      Desember 25, 2014 pukul 6:26 am

      Itulah kekurangan selama ini yg masih saja di teruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.. wong penjajah kok di percaya.. sebuah hal yang ironis dari perjalanan sejarah bangsa ini.. Tentang bukti peninggalan bangsa ini yg di gondol ke negeri penjajah, saya curiga bahwa para pemimpin bangsa ini bukannya tidak mau mengambilnya, tapi mereka dari awal adalah sosok “boneka/wayang” dari para penjajah, Kapitalis dan Imperialis, jadi pasti sangat pakewuh – tepatnya gak berani – untuk meminta kembali warisan leluhur yg sudah di curi itu.. Dan ini terbukti, hingga presiden SBY pensiun warisan dari Majapahit seperti Kitab Negarakertagama dan pusaka kerajaan Mataram yg berupa berlian dan keris tetap saja berada di Belanda, padahal itu jelas2 milik bangsa ini dan harusnya ada di musium yg ada di negeri ini, bukan malah di musium Belanda..

    esa said:
    Desember 24, 2014 pukul 5:25 am

    mngangkt pmimpin2 di tiap tingktan kpmrintahan brdasarkn kunggulan trah kbangsawanan,harta,suara,gelar pndidikn tinggi,massa,golongan,kesukuan itu smua trbukti ‘ksombongan’ yg mlukai mnyayat rasa keadilan kmanusian; pmbngunan sndi2 khdupan yg tdk mrata brakibat braneka mcm kjahtan,kmrosotan moral,kmiskinan,krusuhan,pmbrontakn,bncana2,dsb.

      oedi responded:
      Desember 25, 2014 pukul 6:07 am

      Entahlah di bangsa dan wilayah lain, tapi disini adalah Nusantara, yg tentu berbeda.. menurut saya seharusnya seorang pemimpin itu sudah menerima Wahyu Keprabon dulu baru bisa memimpin tampuk tertinggi dari kekuasaan di negeri ini.. ia bahkan tidak butuh partai penyokong dan pastinya tidak takut dengan ancaman dan tekanan apapun, karena dia cerdas, sakti dan selalu dalam perlindungan Yang Maha Kuasa.. bahkan ia akan mendatangkan keamanan, ketertiban, kesejahteraan, dan kemakmuran, karena hanya itu tujuan hidupnya, terlebih dia sudah di restui oleh alam semesta untuk memimpin…

    esa said:
    Desember 24, 2014 pukul 5:39 am

    Contohnya angkatlah calon2 pmimpin2 brdasarkn trbaik mntal spiritual relijius,budi pkrti yg mulia n ‘prstasi’ nya. Bukn prstasi mndu2ki,dsb jabatan,karya tulis n smcamnya namun prstasi dgn modal sndiri tlah brhasil mnjadikn masyarakat suatu daerah atau wilayah mnjadi masyarakat relijius n brkcukupan.

      oedi responded:
      Desember 25, 2014 pukul 5:58 am

      Yang jelas bangsa ini sudah lupa dengan jati dirinya sendiri, buktinya saja terlalu mengagungkan karakter dan budaya bangsa lain, padahal itu pasti banyak gak cocoknya… bahkan menyerapnya dengan mentah-mentah, contohnya saja hukum buatan VOC yg hingga kini masih saja di pakai dan ketatanegaraan Demokrasi ala Barat (tepatnya Amerika) yg membuat bangsa ini terus gaduh (terutama para elitnya) dan lambat majunya… padahal nenek moyang kita sudah mewariskan yg paling sesuai dan cocok bagi kehidupan bangsa ini, bahkan dulu telah terbukti mengantarkan bangsa ini – salah satunya Majapahit – sebagai bangsa yang sangat makmur dan sangat di segani bangsa2 di dunia.. semuanya terwujud tanpa harus meniru-niru bangsa lain, karena justru bangsa lainlah yg menirunya..

    ghestRo said:
    Januari 14, 2015 pukul 6:17 am

    mangtrabzzzzzzzzzzzzzzzzzz

      oedi responded:
      Januari 18, 2015 pukul 7:27 am

      Makasih mas karena masih mau berkunjung, moga tetap bermanfaat..🙂

    Sejarah Hebat Bangsaku; Nusantara « Perjalanan Cinta said:
    April 18, 2015 pukul 5:08 am

    […] Nusantara dengan kearifan lokal atau Siklus geologi dunia waktunya pergantian zaman atau Kisah sejarah Nusantara atau Peradaban pasar global]. Tapi sekali lagi, karena berbagai musibah dan bencana besar yang […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s