Wahyu Keprabon Untuk Pemimpin Besar Nusantara

Posted on Updated on

wahyu keprabonWahai saudaraku sekalian. Kali ini kita akan membahas tentang Wahyu dalam tradisi Jawa. Mengapa hal ini saya angkat? karena saat ini sudah terjadi kemunduran dalam diri orang Nusantara, khususnya orang Jawa. Telah banyak yang lupa dengan sejarah dan jati diri bangsanya sendiri. Bahkan banyak sekali dari mereka yang “wis lali jiwane: sudah lupa dengan jiwa/dirinya sendiri” atau “akeh wong jowo nin ora jowo: banyak orang jawa tetapi tidak benar (hidupnya)”.

Sepeninggalan Prabu Hayam Wuruk dari kerajaan Wilwatikta (Majapahit), maka tidak ada lagi Wahyu yang agung yang di turunkan di tanah pertiwi ini. Terlebih pada saat Prabu Siliwangi dari Pajajaran pun memilih untuk tinggal dalam dimensi keabadian dengan jalan moksa, maka sudah tidak ada lagi Wahyu yang di turunkan di Jawa Dwipa. Kalau pun ada, maka hanya yang berskala kecil dan ringan kadarnya. Sehingga setelah raja dari kerajaan Wilwatikta (Majapahit) itu, maka tidak ada lagi pemimpin besar dan sangat disegani oleh dunia dari tanah Jawa. Tidak ada lagi spiritualis yang mampu menghasilkan karya-karya besar yang sebanding dengan yang dihasilkan pada zaman kerajaan Hasipraya, Pasatra, Astapura, Karimun, Medang Kamulan, Sriwijaya dan Majapahit. Para empunya pun tidak lagi mampu menghasilkan pusaka yang setanding dengan pusaka-pusaka yang dihasilkan pada zaman kerajaan Hasipraya, Pasatra, Astapura, Karimun, Medang Kamulan, Sriwijaya dan Majapahit.

Tanah Jawa setelah masa Wilwatikta (Majapahit) berakhir, maka telah kehilangan pamornya. Tidak ada lagi kejayaan, karena yang ada hanyalah kerajaan-kerajaan kecil saja. Bahkan kemudian tanah Jawa pun menjadi jajahan dan jarahan bangsa-bangsa lain dari tanah seberang. Lalu setelah zaman kerajaan berakhir, di Nusantara pun berganti ke zaman republik. Tanah Jawa pun tetap menjadi bahan perebutan kekuasaan dan jarahan dari orang-orang yang tidak berbudi luhur. Dan hingga hari ini, yang lebih menyakitkan lagi adalah bahwa kita pun masih tetap di jajah namun bukan oleh bangsa asing, tetapi oleh bangsa kita sendiri. Merekalah para petinggi dan pesohor di negara ini yang telah berkhinat pada amanah rakyatnya.

Begitu pun tidak ada lagi peranan dan campur tangan langsung dari para Sang Hyang, Bhatara, Dewa dan Resi – mereka ini adalah para leluhur orang Jawa yang telah hidup di dalam dimensi keabadian (moksa) – untuk membantu negeri ini keluar dari masalahnya. Mereka tidak akan turun ke tanah Jawa – untuk memberikan wejangan dan arahan terbaik dalam membangun sebuah peradaban besar – bila tidak ada seorang kesatria yang telah menerima Wahyu Keprabon dari Tuhan. Karena tanpa hal itu, maka tiada seorang pun dari mereka yang bisa turun dari Kahyangan ke tanah Jawa Dwipa. Kalau pun bisa, tentu mereka tidak akan mau. Karena Wahyu Keprabon itu ibarat sebuah pintu dimensi yang mengharuskan mereka untuk masuk ke dalam urusan rumah tangga yang besar, yaitu membangkitkan kejayaan Nusantara. Artinya, perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah Nusantara ini bila tanpa adanya Wahyu Keprabon, maka akan berjalan sendiri. Ia tetap ada namun tanpa adanya pengayoman dari para leluhur Nusantara, sehingga tidak akan ada kejayaan yang semestinya. Karena hanya berjalan sendiri dan lepas kendali, sehingga terus saja menuju kehancurannya sendiri.

Untuk itu, pada kesempatan kali ini saya pun mengajak Anda sekalian untuk lebih mengenal tentang sejatinya bangsa Nusantara itu. Dan tentunya dalam hal ini kita harus mengetahui apa saja yang ada di tanah pertiwi ini. Sesuatu yang special atau setidaknya satu hal yang membedakan antara Nusantara dengan wilayah lain di belahan Bumi ini.

Jadi, dalam hal kepemimpinan tertinggi, maka ada satu hal yang membedakan antara Nusantara – khususnya pulau Jawa – dengan wilayah lainnya di seluruh dunia. Hal itu adalah tentang Wahyu yang di turunkan oleh Tuhan kepada seorang pemimpin besar Nusantara. Yang dengan itu pula, maka bangsa Nusantara ini baru akan perkasa dan kembali memimpin dunia. Lalu apa yang dimaksudkan dengan Wahyu disini? Apakah itu berarti ayat-ayat yang ada di dalam kitab suci agama? Atau sesuatu yang hanya di terima oleh para Nabi?

Baiklah, agar Anda sekalian menjadi jelas, berikut ini akan saya coba terangkan semampunya:

Dalam kontek kebudayaan Jawa, Wahyu itu diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia dari Tuhan yang diperoleh manusia secara gaib. Wahyu juga tidak dapat dicari, tetapi hanya diberikan oleh Tuhan kepada seorang yang special. Sedangkan manusia hanya dapat melakukan upaya dengan melakukan “mesu raga” dan “mesu jiwa” dengan jalan tirakat, puasa, bersemedi, bertapa dan berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan laku batin. Tapi tidak setiap kegiatan laku batin itu akan mendapatkan Wahyu, selain atas kehendak atau anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan kata Wahyu menurut kamus Purwadarminta mempunyai pengertian suatu petunjuk Tuhan atau ajaran Tuhan yang perwujudannya bisa dalam bentuk mimpi, ilham dan sebagainya.

Disebutkan dalam kitab Babad Tanah Jawa, bahwa turunannya Wahyu digambarkan sebagai cahaya terang bagaikan bulan purnama – bisa juga berwujud gumpalan cahaya atau seberkas sinar putih – yang jatuh dari angkasa dan menyatu dalam tubuh seorang manusia yang sedang “mesu raga” dan “mesu jiwa“, apakah dalam bentuk semedi atau bertapa. Sedangkan dalam lakon wayang, tanda-tanda akan turunnya wahyu diperoleh manusia berupa wangsit oleh seorang resi, brahmana atau pendeta – dalam pengertian ini adalah orang yang sudah bersih jiwanya – melalui mimpi. Wangsit yang diterima itu lalu diberitahukan kepada orang lain, dalam hal ini biasanya orang yang sedang berguru atau menuntut ilmu kepadanya, atau kepada orang lain agar ia melakukan hal tertentu untuk mendapatkan sesuatu yang besar di kemudian hari. Misalnya dengan jalan menyepi di dalam wisma pemujaan atau bertapa di dalam hutan. Namun keputusan tentang siapa yang akan memperoleh Wahyu, sepenuhnya berada di tangan Sang Maha Pencipta. Sedangkan manusia hanya bisa sekedar berusaha.

Sehingga tidaklah mudah menjalani laku raga dan batin untuk menerima Wahyu yang kita bicarakan ini. Terlebih untuk mendapatkannya, maka tidak sembarangan orang yang bisa dan sanggup memenuhinya. Sebab ia pun harus sudah bersih hatinya, tenang jiwanya dan terpilih untuk memangkunya.

Lalu, khusus untuk seorang pemimpin besar di Nusantara – yang akan membawa negeri ini pada kejayaannya kembali; memimpin dunia, maka seseorang itu harus sudah menerima Wahyu yang semestinya. Setidaknya ada lima Wahyu yang harus ia dapatkan, yang bisa di klasifikasikan sebagai berikut:

1. Wahyu Purba
Kata purba dalam bahasa Sanskerta berarti kekuasaan atau wewenang. Sehingga Wahyu Purba ini berarti suatu kebenaran Ilahi yang bersifat mengatur atau menguasai. Ini mengandung makna bahwa di dalam kehidupan alam semesta dan isinya, termasuk manusia itu di atur dan di lakukan oleh kekuasaan Ilahi. Tegasnya, satu-satunya pengatur dan pemerintah di alam semesta dan segala isinya adalah Tuhan itu sendiri.

“Owah ono gingasring kahanan iku soko kersaning Pangeran Kang Murbahing Jagad”
artinya: Perubahan itu hanya atas kehendak Tuhan Yang Menguasai Jagad (alam semesta).

Apabila semua manusia berpegang pada kaidah ini, maka manusia akan hidup dengan tidak perlu harus merasa takut pada kekurangan, menderita karena tidak punya jabatan, mengalami ketidakadilan, kehilangan kemerdekaan atau kebebasannya. Ia akan tetap bisa menjalani hidup dengan tekun, sabar dan ikhlas dengan tidak perlu harus ambisius demi pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sehingga ketenangan pun akan di dapatkan dalam arti yang sebenarnya.

Namun kenyataannya dalam menjalankan kehidupannya, banyak manusia yang masih saja senang mengukur nilai-nilai kehidupannya dengan ukuran yang tidak menentu. Kadang mengukur sesuatu dengan kebenaran Ilahi, tetapi terkadang mengukur suatu tindakan itu selaras dengan kepentingannya sendiri. Akibatnya, tatanan kehidupan menjadi tidak menentu, kacau dan terus merugikan pihak lain. Bahkan pada akhirnya timbulah sifat serakah dan keangkaramurkaan. Dan inilah yang banyak terjadi pada diri para petinggi dan pesohor di negeri ini sekarang. Sehingga bangsa ini pun semakin terpuruk dan jauh dari kejayaan yang semestinya. Miskin di tengah tumpah darah yang berlimpah kekayaan.

Jadi, seorang pemimpin besar Nusantara itu harus mendapatkan Wahyu Purba ini. Artinya, ia sudah bisa menemukan bahwa dirinya selalu berada pada kondisi hati yang telah benar-benar merasa cukup dan pandai bersyukur. Semua itu ia lakukan karena memang telah mengenal siapa Tuhannya dan siapa dirinya sendiri. Jika seseorang belum bisa memahami tentang kesadaran akan hakekat Tuhannya, maka wahyu yang selanjutnya tidak akan pernah ia dapatkan. Sebab, bagaimana bisa ia mendapatkan wahyu yang lainnya bila ia sendiri tidak mengenal siapa Tuhannya dan siapa dirinya sendiri dengan benar.

“Lamun siro kepengin wikan marang alam jaman kelanggenan, siro kudu weruh alamiro pribadi. Lamun siro durung mikani alamiro pribadi adoh ketemune”
artinya: Jikalau engkau ingin mengetahui alam abadi, engkau harus lebih dulu mengenali alam pribadimu. Kalau engkau belum mengetahui alam pribadimu, masih jauhlah alam abadi itu dari dirimu.

2. Wahyu Sejati
Kata Sejati berarti ada, nyata, yang  tunggal atau tidak dualistis. Sehingga Wahyu Sejati itu berarti suatu kebenaran yang bersifat tunggal. Artinya bahwa kebenaran itu tidak memiliki sifat ganda atau berpasangan yang terdiri dari dua hal yang berbeda sifatnya atau berlawanan. Seperti terang dengan gelap, panas dengan dingin, benar dan salah, putih dan hitam atau merah, dan lain sebagainya.

“Ora ono kesakten sing mandhi papesthen, awit papesthen iku wis ora ono sing biso murungake”
artinya: Tidak ada kesaktian yang bisa menyamai kepastian Tuhan, karena tidak ada yang dapat menggagalkan kepastian Tuhan.

Ini suatu pelajaran hidup bahwa di dalam kehidupan alam semesta dan segala isinya termasuk manusia, hanya terdapat satu kebenaran yang sejati, yaitu Kebenaran Ilahi. Apabila manusia hidup dalam kaidah-kaidah ajaran kebenaran yang sejati, maka kehidupannya pun akan memperoleh kedamaian dan kesejahteraan yang dapat menumbuhkan sifat cinta, toleransi, gotong royong dan saling membantu. Sehingga peradaban yang ada atau sedang di bangun akan semakin maju dan bisa mensejahterakan semua pihak.

Namun kenyataannya pada saat ini – khususnya pada diri sebagian besar petinggi negeri – hanya percaya bahwa hidup itu diatur oleh Tuhan atau kebenaran Tuhan namun tetap melakukan ketidakbenaran dan kejahatan yang dapat menimbulkan kekacauan dan mengganggu keselarasan, kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan rakyat. Semua itu terjadi sebagai akibat dari sudah terjadinya pelanggaran terhadap hukum kebenaran Ilahi. Sehingga jadilah negara ini semakin terpuruk di segala bidang, tanpa henti dan bahkan sedang menuju kehancurannya.

Jadi, untuk bisa menjadi seorang pemimpin besar Nusantara itu seseorang harus mendapatkan Wahyu Sejati ini. Artinya, ia sudah benar-benar mendapatkan dirinya telah mengerti betul tentang arti dari kebenaran hidup ini. Ia pun dengan teguh menjalani kehidupan dengan tidak pernah mengingkari hakekat kebenaran, terlebih melanggar aturan Tuhan. Ia pun sudah selesai dengan dirinya sendiri dan keluar sebagai pemenangnya. Karena tanpa hal itu, seseorang hanya akan menjadi sosok yang mudah terjebak dengan kesenangan sesaat duniawi. Yang pada akhirnya tentu bisa menjadikan dirinya sebagai sosok yang paling jahat.

3. Wahyu Cakra Ningrat
Kata Cakra Ningrat berarti lingkaran ilmu pengetahuan yang tinggi. Sehingga Wahyu Cakra Ningrat ini berarti petunjuk dari Tuhan berupa ilmu pengetahuan yang bersifat paripurna. Dengan petunjuk tersebut, pribadi yang mendapatkannya akan memiliki cara pandang yang sangat luas dan bijaksana. Ia akan menguasai berbagai disiplin ilmu, baik yang umum di masyarakat atau pun yang khusus, bahkan telah hilang di masanya. Sehingga dalam keadaan apapun, ia bisa terjaga dari nafsu yang tidak sesuai dengan tujuan hidup manusia yang sebenarnya.

Jadi, seorang pemimpin besar Nusantara itu juga harus sudah mendapatkan Wahyu Cakra Ningrat ini. Karena seseorang yang akan membangkitkan kejayaan Nusantara itu haruslah cerdas dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan, terlebih ilmu agama dan kasampurnan. Ia harus menguasai berbagai ilmu kehidupan, mulai dari yang bersifat ilmiah sampai yang bersifat batiniah atau yang berhubungan dengan kebutuhan duniawi hingga ukhrawi. Mulai dari ilmu pertanian sampai dengan ilmu sejarah, geografi dan astronomi. Mulai dari masalah dunia nyata hingga pada kehidupan di alam gaib. Bahkan ia pun harus sakti mandraguna, karena suatu ketika kemampuan itu sangat dibutuhkan untuk memimpin bangsanya dalam berbagai perang terbuka atau yang tertutup. Dan hanya dengan mendapatkan Wahyu Cakra Ningrat inilah, maka seseorang itu bisa memenuhi syarat atau mengatasinya.

Namun kenyataannya, banyak dari petinggi negeri ini hanya menguasai atau berfokus pada urusan perut dan dibawah perutnya saja. Ia hanya terjebak dengan rutinitas yang mengarah pada penyembahan kepada popularitas, harta dan jabatan semata. Terlebih masalah agama, ia pun tidak banyak menguasai ilmunya, sehingga tidak pernah peduli dengan kemunduran akhlak di tengah-tengah rakyatnya. Padahal ketahuilah bahwa sumber masalah di setiap peradaban itu adalah karena rusaknya akhlak manusia.

4. Wahyu Makutha Rama
Kata Makutha Rama berarti kebenaran Tuhan yang bersifat memancar. Sehingga Wahyu Makutha Rama ini berarti suatu petunjuk hidup yang berasal dari pancaran cahaya Tuhan. Dan karena sumbernya langsung dari Tuhan, maka seseorang akan terbimbing dalam setiap tindakannya. Seumpama air adalah sumber dari kehidupan, maka air yang mengalir dari sumber itu adalah pancarannya.

Makna dari Wahyu Makutha Rama ini adalah pelajaran hidup agar kita pun sadar bahwa tujuan dan kewajiban manusia di dunia ini yaitu mencerminkan atau memancarkan sifat Tuhannya. Semakin banyak seseorang bisa mencerminkan sifat Tuhan (kebaikan, ikhlas, cinta, persaudaraan, dll) dalam hidupnya, maka akan semakin kaya dirinya dalam mendapatkan berkah dan kasih sayang dari Tuhan. Sehingga apapun tindakannya akan berujung pada kemuliaan, yang tidak untuk dirinya sendiri, melainkan juga mereka yang ada disekitarnya.

Jadi, seorang pemimpin besar Nusantara itu haruslah mendapatkan Wahyu Makutha Rama ini. Karena pribadi yang akan mengembalikan kejayaan Nusantara itu juga harus mendapatkan bimbingan langsung dari Sang Maha Pencipta. Segala tindakannya harus berdasarkan petunjuk dari Tuhan, bukan atas dasar keinginan dan nafsunya sendiri. Yang tentunya akan memberikan dampak yang sangat baik bagi kehidupan makhluk di dunia.

Namun kenyataanya, pemimpin negeri ini tidak lagi mendapatkan Wahyu ini. Ia tidak lagi mendapatkan bimbingan dari Tuhannya, karena sebelumnya tidak mendapatkan beberapa Wahyu yang diperlukan. Ia lupa dengan amanah yang sedang ia emban, karena memang lebih menyukai pencitraan dalam tindakannya. Harta, jabatan dan kenikmatan duniawi pun tak pelak menjadi tujuan akhir dari hidupnya kini. Sehingga ia selalu merasa nyaman dengan kondisi tuanya yang terjamin. Sementara lihatlah kondisi mayoritas bangsa ini – terlebih dengan mata hati kita – sungguh sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan.

5. Wahyu Keprabon
Wahyu Keprabon ini pada hakekatnya merupakan puncak dari keseluruhan Wahyu yang diturunkan. Ini adalah Wahyu yang terakhir yang di terima oleh seseorang, sebagai petunjuk dari Tuhan agar ia memimpin Nusantara. Syaratnya tentu ia sudah menjalani tirakat hidup manusia sejati dan menerima semua Wahyu di atas. Tidak mudah, makanya hanya satu orang saja dalam setiap periodenya. Ia pun benar-benar sosok kesatria pilihan yang terbaik di zamannya, karena hatinya bersih dan memancarkan cahaya yang menyejukkan. Sehingga pada prakteknya, orang yang menerima Wahyu ini tidak pernah grasak-grusuk dalam mencari jabatan dan harta. Ia tidak pernah mengejar-ngejar popularitas atau meminta orang lain untuk memilihnya dan bahkan sebenarnya ia tidak pula menginginkan kedudukan apapun di dunia ini. Ia selalu bersikap zuhud dalam hidupnya, tunduk hanya kepada Tuhannya, karena ia pun yakin bahwa segala sesuatunya itu tentu ada waktunya.

Pun, sosok yang telah menerima Wahyu ini adalah dia yang telah mendapat restu dari semua yang hidup dalam dimensi keabadian, dan bisa pula berkomunikasi dengan mereka. Ini bukanlah hal yang menyimpang atau kemusyrikan, karena Tuhan telah menunjuknya dengan memberinya hak atas kepemimpinan Nusantara. Alam pun terus mendukungnya, hewan dan tumbuhan juga mengikutinya, sementara para jin dan malaikat pun senang bersamanya. Mengapa bisa begitu? Itu semua karena ia pun sangat senang bersama mereka, bersaudara dengan mereka dan terus menyayanginya dengan tulus atas nama Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun kenyataannya kini, para petinggi dan pesohor di negeri ini tidak ada yang memimpin dunia. Mereka lebih senang dengan popularitas duniawi saja, itu pun hanya sekitar Nusantara. Tidak ada dari mereka yang mendapat restu dari siapapun yang berhati bersih. Karena mereka senang dengan meminta orang lain untuk memilihnya (pamrih/riya`) dan ia pun terus mengejar-ngejar jabatan di pemerintahan (loba/serakah). Yang ujung-ujungnya hanya untuk pemenuhan harta benda semata. Ia pun terus sibuk dengan urusan duniawinya saja, tidak pernah atau bahkan tidak pernah tahu cara lakon hidup yang sejati. Sehingga kehidupan pun semakin tidak seimbang dan jauh dari keselarasan yang semestinya. Banyak pula terjadi ketidakadilan dan kesewang-wenangan, kesejahteraan sangat jauh dari kenyataan, karena banyak sekali dari mereka yang bertindak dengan menghilangkan budi pekerti yang luhur.

*****

Wahai saudaraku. Demikianlah sekilas penjelasan tentang Wahyu dalam tradisi Jawa. Yang ternyata sebuah petunjuk dari Tuhan untuk seorang pemimpin besar di Nusantara. Banyak pemimpin di negeri ini tetapi ia bukanlah seorang pemimpin besar Nusantara. Karena pemimpin besar Nusantara itu adalah sosok yang sudah menerima setidaknya lima Wahyu di atas. Itulah uniknya Nusantara, dan itu pula yang membedakan antara orang Nusantara dengan mereka yang ada di belahan Bumi lainnya. Sehingga tidak perlu bertanya mengapa Indonesia kini tidak begitu disegani oleh dunia atau menjadi negara adidaya. Itu semua karena memang selama ini belum ada lagi sosok yang telah menerima Wahyu dari Tuhan.

Pun, banyak orang yang kini bahkan hanya menonjolkan dirinya seolah-oleh dialah yang layak menjadi presiden atau pemimpin besar. Tetapi bila dilihat dengan mata batin kita maka rasanya tidak. Dan dari semua petinggi atau pesohor di negeri ini, terlihat belum ada yang sesuai dengan sosok yang telah menerima ke lima Wahyu di atas. Belum ada dari mereka yang sejatinya telah menerima hak untuk memimpin Nusantara ini – sebagai pemimpin besar – menuju kejayaannya seperti dulu. Karena bagaimana bisa mereka itu, sebab tentang jati diri bangsa atau syarat untuk layak di katakan sebagai seorang pemimpin besar Nusantara saja tidak bisa mereka penuhi. Caranya salah dan sistem yang ada di negeri ini pun sudah lama salahnya.

Tiada jalan lain untuk kebangkitan bangsa ini, kecuali revolusi. Tiada pilihan lain untuk kejayaan bangsa ini, kecuali kembali pada jati diri kita yang sebenarnya sebagai orang Nusantara. Terus berusaha mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh nenek moyang kita, yaitu kamruh jowo”

Untuk itu, kita lihat saja nanti siapakah sosok yang sudah menerima “pulung gaib” dari Wahyu Tuhan itu. Siapa sebenarnya pemuda yang telah menerima semuanya itu, yang kemudian akan bisa membawa Nusantara pada kejayaannya kembali. Tentu ada orangnya, dan ia sekarang mungkin sudah berada di antara kita atau kita pun sudah pernah bertemu dengannya tetapi kita masih belum mengetahuinya. Karena memang dia pun sengaja menyembunyikan jati dirinya, dan tentunya itu berdasarkan petunjuk dari Tuhannya. Terlebih segala sesuatunya itu ada waktunya nanti. Dan semoga saja itu tidak akan lama lagi.

Yogyakarta, 28 Mei 2014
Mashudi Antoro (Oedi`)

(Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi)

20 thoughts on “Wahyu Keprabon Untuk Pemimpin Besar Nusantara

    tituspermadi said:
    Mei 28, 2014 pukul 9:02 am

    Ulasan yang lengkap dan menyeluruh. Mohon ijin share di blog saya, bolehkah?

      oedi responded:
      Mei 28, 2014 pukul 10:35 am

      Syukurlah kalau suka dengan tulisan ini, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Oh silahkan saja, tapi tolong tetap disertakan sumber tulisannya..🙂

    tituspermadi said:
    Mei 28, 2014 pukul 9:05 am

    Reblogged this on Titus Permadi's Weblog and commented:
    Ulasan yang lengkap, perlu menjadi renungan para pembelajar kepemimpinan

      oedi responded:
      Mei 28, 2014 pukul 10:36 am

      Syukurlah jika demikian, semoga banyak yang sudi membaca dan merenungkan tulisan ini… tentunya demi kebaikan diri sendiri dan bangsa ini kedepannya…🙂

    esa said:
    Desember 24, 2014 pukul 10:05 am

    kata ‘presiden,demokrasi,n smcamny itu ‘1 paket’ dari ‘pakem’ pnjajah. Nusantara hrus dipimpin oleh ‘wali nagari’ pandita sinisihan wahyu sbagai ‘wakil’ ‘Yang Maha Tunggal’ di muka ‘bumi nusantara’. Dia Yang tdk brbilang,tdk trbagi,tdk brupa tdk diserupakn dgn siapa atau apapun,tdk mnitis,tdk branak tdk dpranakn,tdk mnjlma,Dia Maha Hidup tapi bukn ruh bukn pula apapun,tdk brawal tdk brakhir,tdk ada sekutu bagiNya,Pnguasa alam semesta. Artikel2ny bagus2. Trmksh.

      oedi responded:
      Desember 25, 2014 pukul 5:49 am

      Ya. Jika ingin bangkit dan berjaya, maka Nusantara ini (semua elemennya) harus kembali ke sejatinya lagi, sebuah bangsa perkasa yang bijaksana dan tetap mengutamakan aturan Tuhan dalam kehidupannya, bahkan hanya mengikuti petunjuk-Nya saja…🙂
      Okey, makasih juga mas/mbak atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    Negeri Tanpa Pemimpin | Perjalanan Cinta said:
    Februari 11, 2015 pukul 6:38 am

    […] yang ada di Langit – nyata ataupun goib, karena ia telah menerima Wahyu Keprabon [baca: https://oediku.wordpress.com/2014/05/28/wahyu-keprabon-untuk-pemimpin-besar-nusantara/#more-5704%5D. Sebuah syarat yang harus dimiliki oleh seseorang untuk bisa memimpin negeri besar ini kembali […]

    Negeri Arya Nuswantara | Perjalanan Cinta said:
    Februari 11, 2015 pukul 6:53 am

    […] yang ada di Langit – nyata ataupun goib, karena ia telah menerima Wahyu Keprabon [baca: https://oediku.wordpress.com/2014/05/28/wahyu-keprabon-untuk-pemimpin-besar-nusantara/#more-5704%5D. Sebuah syarat yang harus dimiliki oleh seseorang untuk bisa memimpin negeri besar ini kembali […]

    widya said:
    Februari 19, 2015 pukul 7:27 am

    terimakasih mas , barokallah

      oedi responded:
      Februari 22, 2015 pukul 7:45 am

      Tarimakasih juga mbak Widya karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat..🙂

    Sejarah Hebat Bangsaku; Nusantara « Perjalanan Cinta said:
    April 18, 2015 pukul 5:43 am

    […] dan telah di pimpin oleh seorang kesatria yang terpilih, yang telah diramalkan sejak dulu [baca Wahyu keprabon untuk pemimpin besar nusantara atau Kebangkitan spiritual modal kebangkitan Nusantara atau Ilmu-kesempurnaan diri] . Sehingga pada […]

    […] Lalu, khususnya bagi para pemimpin di negeri ini, jika Anda mau mengasah hati dan jiwamu, atau bahkan mampu berkomunikasi batin dengan orang yang telah moksa, tentunya Anda akan mendapatkan banyak bimbingan. Dan untuk bisa kembali membangun negeri ini agar bisa memimpin dunia lagi, maka para leluhur kita itu tentu akan bersedia membantu. Asalkan Anda sekalian mampu berkomunikasi dengan mereka secara sopan dan baik-baik. Sehingga kejayaan di negeri ini akan muncul kembali, bahkan bisa lebih cepat dan hebat dari yang pernah ada sebelumnya. Namun sayang, hal yang seperti itu kini terlanjur dianggap kuno, nyeleneh, tidak masuk akal, gila dan sesat. [Silahkan baca: Mitologi dan agama: Tentang ajaran moksa atau Wahyu keprabon untuk pemimpin besar Nusantara] […]

    Prinsip Hidup Raja Mataram Kuno (Medang) « Perjalanan Cinta said:
    November 22, 2015 pukul 4:23 am

    […] Jadi, kesimpulan yang dapat kita ambil adalah bahwa dibutuhkan sebuah sistem yang sangat nasionalis alias yang benar-benar mengakar pada karakter, kultur, tradisi dan budaya Nusantara untuk bisa membangkitkan kejayaan pada bangsa ini. Bukan yang hanya sekedar meng-copy atau ikut-ikutan bangsa lain biar dianggap setara. Karena tanpa hal itu, ibarat membangun sebuah rumah namun tanpa pondasi yang sesuai. Selain itu, harus ada pula pemimpin yang memiliki prinsip hidup yang kuat yang ia pegang dan laksanakan setiap hari. Dimana prinsip itu adalah yang ia ambil dari hasil renungan, tafakur, meditasi, semedhi atau tapa brata yang sudah ia lakukan dengan sungguh-sungguh. Yang setiap point-nya adalah untuk kebaikan bersama dan tanpa tedeng aling-aling dan riya`. Karena pemimpin yang sejati adalah dia yang telah selesai dengan dirinya sendiri dan sudah tidak lagi terikat dengan kepentingan golongan atau bahkan duniawi. Dialah pemimpin yang merdeka, sehingga bisa memerdekakan orang lain dan mampu mensejahterakan mereka. [baca: Wahyu keprabon untuk pemimpin besar nusantara] […]

    ijin share said:
    November 22, 2015 pukul 10:22 pm

    Izin share yah Mas ?? Di group FB ku.

      oedi responded:
      November 28, 2015 pukul 10:15 am

      Oh silahkan saja, moga bermanfaat..
      Tapi tolong ttp sertakan sumbernya ya..🙂

    himpass01 said:
    Desember 31, 2015 pukul 2:29 am

    وَجَعَلْنٰهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَاۤ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَآءَ الزَّكٰوةِ ۚ وَكَانُوْا لَـنَا عٰبِدِيْنَ  ۙ
    Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.
    [QS. Al-Anbiya: Ayat 73]pemimpin/imam Dengan wahyu dan menerima wahyu

    وَجَعَلْنٰهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَاۤ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَآءَ الزَّكٰوةِ ۚ وَكَانُوْا لَـنَا عٰبِدِيْنَ  ۙ
    Dan وَجَعَلْنٰهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا وَاَوْحَيْنَاۤ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِقَامَ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَآءَ الزَّكٰوةِ ۚ وَكَانُوْا لَـنَا عٰبِدِيْنَ  ۙ
    Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.
    [QS. Al-Anbiya: Ayat 73]Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.
    [QS. Al-Anbiya: Ayat 73]

    Telah datang pemimpin yang dinantikan… http://Www.al-jaabir.com

    himpass01 said:
    Desember 31, 2015 pukul 2:33 am

    085266665854 http://www.al-jaabir.com

    Apakah kamu memang menunggu kedatangan pemimpin untuk mengikutinya atau memerangunya…

    […] Ya. Mekanisme kehidupan di alam semesta ini adalah bersifat dinamis. Dinamika kehidupan itu berada dalam pola hubungan yang mengikuti prinsip-prinsip keharmonisan, keseimbangan, atau keselarasan (sinergi) jagad raya dan segala isinya. Dinamika dan pola hubungan demikian sudah menjadi hukum atau rumus dari Tuhan Yang Maha Memelihara sebagai anugerah terindah kepada semua wujud ciptaan-Nya; baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Dan di antara anugerah terindah itu, maka dalam terminologi Jawa disebut Wahyu. Wahyu adalah sesuatu yang diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia Tuhan yang diperoleh manusia secara gaib. Wahyu juga tidak dapat dicari, tetapi hanya diberikan oleh Tuhan, sedangkan manusia hanya dapat melakukan upaya dengan melakukan mesu raga dan mesu jiwa dengan jalan tirakat, ber-semedhi, bertapa, maladi hening, dan berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan laku batin. Tapi tidak setiap kegiatan laku batin itu akan mendapatkan wahyu, selain atas kehendak atau anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan wahyu menurut kamus Purwadarminta mempunyai pengertian suatu petunjuk Tuhan atau ajaran Tuhan yang perwujudannya bisa dalam bentuk mimpi, ilham dan sebagainya. Dalam konteks budaya Jawa, wahyu dipandang sebagai anugerah Tuhan yang sekaligus membuktikan bahwa Tuhan bersifat Universal, Maha Luas tanpa batas, dan Tuhan yang Maha Pengasih tidak akan melakukan pilih kasih dalam menorehkan wahyu. Sehingga dalam falsafah Jawa, wahyu bukanlah hak atau monopoli dari satu suku, ras, golongan, atau bangsa tertentu. Melainkan bagi siapa saja yang terus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan jalan laku raga dan batin dengan benar dan disiplin. Baca tulisan berikut: Wahyu keprabon untuk pemimpin besar Nusantara. […]

    rony arsyad said:
    Mei 10, 2016 pukul 1:26 pm

    Asslmkum, rahayu ..salam budhaya
    Saya rony arsyad dari bagelen ..apa bisa sya bertemu untuk ngobrol2 dngn bpk..?bisa dikasih kontak..
    Mtrnembahnuwun

      oedi responded:
      Mei 11, 2016 pukul 8:09 am

      Wa`alaikumsalam.. Rahayu gemah ripah..
      Oh sampeyan dari Bagelen Purworejo ya? wah disana pernah jadi pusat peradaban Medang/Mataram kuno.
      Hmm.. sebelumnya saya MINTA MAAF mas, karena sepertinya kita akan sulit bertemu karena sekarang saya berada di Jambi.. Mungkin kita cukup berkomunikasi di blog ini saja, terlebih saya ini bukan siapa” kok mas, wong cuma orang awam aja.. Untuk kontak HP, sekali MAAF mas karena saya belum bisa kasih, tapi kalau masnya tetap mau berkumunikasi silahkan kontak saya lewat FB aja mas, namanya Mashudi Antoro. Disitu kita mungkin bisa ngobrol lebih banyak..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s