Jiwa Seorang Kesatria

Posted on Updated on

kesatriaWahai saudaraku. Jiwa itu selayaknya mendapatkan dua hasil yang baik, yaitu ridha dan diridai. Sehingga menjadi satu keniscayaan bila seseorang bisa menghilangkan keburukan dalam dirinya. Ia akan terus menjalani hidup dengan tekun, sementara hatinya tenang dan tidak bergantung kepada makhluk. Dan meskipun berbagai makhluk telah datang kepadanya dengan bermacam tawaran, ia pun akan tetap bersabar dan hanya mengikuti Tuhannya.

Ya. Demikianlah keadaan pribadi yang telah mengenali hakekat dari Dzat Tuhannya. Ia hanya mengakui kekuasaan Tuhannya dan menolak pertolongan dari makhluk. Dan bila ada yang menawarkan pertolongan kepadanya, ia hanya akan berkata; Aku tidak membutuhkan pertolongan darimu, karena pengetahuan-Nya tentang diriku telah cukup membuatku untuk tidak perlu lagi meminta pertolonganmu. Cukuplah Dia saja yang menjadi pelindung dan penolongku”.

“… “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung” (QS. At-Taubah [9] ayat 129)

Sungguh, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya dan tidak pula ada yang bisa menyembunyikan sesuatu dari-Nya. Semuanya akan tampak nyata dan mudah sekali bagi-Nya untuk mengendalikan atau mengubahnya. Dia pun sangat mengetahui setiap kebutuhan dari siapa pun, baik dari sisi baik maupun buruknya. Sehingga apa saja yang dibebankan kepada manusia adalah atas pengaturan dan kehendak-Nya. Itu pun hanya untuk kebaikan dirinya sendiri. Oleh karena itu bersabarlah dirimu, insya Allah akan ada kemudahan dan anugerah-Nya untukmu.

Namun kini, begitu banyaknya pembangkangan kepada Tuhan; Dzat Allah SWT. Terlebih saat seseorang telah dianugerahi berbagai kenikmatan dan kemuliaan. Padahal pembangkangan itu adalah kematian dari agama, tauhid, dan sifat yang mulia. Siapapun akan jauh dari keikhlasan dan sifat tawakal (berserah diri), sedangkan kedua hal itu adalah gambaran nyata dari sosok yang bertaqwa. Yaitu orang yang akan diampuni oleh Tuhan; Dzat Allah SWT.

Begitu pun dimana-mana telah hilang rasa syukur yang sebenarnya. Banyak dari manusia yang sudah tidak lagi menyadari bahwa apa yang ia dapatkan adalah bentuk dari kasih sayang Tuhan; Dzat Allah SWT. Sikapnya setiap hari adalah dengan melihat bahwa nikmat itu bukan berasal dari-Nya tetapi dari hasil kerjanya saja. Sehingga waktunya akan dihabiskan dengan melepaskan ibadah yang tulus dan berbuat kufur kepada-Nya.

Untuk itu, dibutuhkan hati yang selalu bertobat atas kesalahan yang di lakukan dan tidak pernah mengulanginya lagi. Karena sadarilah bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dan kita pun sering melakukan kesalahan (sengaja atau tidak di sengaja). Tidak ada yang tidak pernah berbuat salah dalam hidupnya. Sehingga milikilah hati sebagaimana hatinya kalangan Mukmin. Yaitu hati yang tidak ada lagi sikap menentang dan membangkang aturan Tuhan (hukum Allah).

natural

Ya. Berusahalah untuk bisa menjadi orang shalih yang tunduk dan merendahkan hatinya kepada Tuhan; Dzat Allah SWT. Di setiap waktunya, maka tetaplah dirimu berserah diri kepada-Nya tanpa pamrih. Tetaplah hatimu dalam sikap yang wara` (menjaga diri) dari kekeruhan duniawi. Lakukan semua itu dengan tanpa henti, sampai hatimu merasa ridha pada semua ketetapan-Nya dan Allah SWT pun sudi meridhoimu.

O.. Jiwa akan menjadi baik dengan jalan taqwa kepada-Nya. Hilangkan kesombongan yang kerap menjangkiti hati dengan sikap tawakal hanya kepada-Nya. Engkau harus sabar menasehati dirimu sendiri tentang kekufurannya, tentang pengingkarannya. Barulah setelah itu akan bisa menata hidupmu dengan baik, karena dirimu memang berkewajiban untuk mengatur dirimu sendiri dengan baik. Sebelum kesempatan yang diberikan di dunia ini hilang, sedangkan dirimu hanya bisa menyesalinya.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 153)

Untuk itu saudaraku. Dengan mengharap pertolongan dan ampunan dari-Nya, hendaklah dirimu tetap bersabar dan semangat dalam menegakkan hukum Allah SWT. Jadilah kesatria sejati, dengan tidak pernah takut atau minder saat berusaha menjadi Mukmin yang taat. Ingatlah Allah SWT selalu dengan terus meninggalkan perhatian kepada yang tidak penting bagimu. Lakukan itu selalu, karena dunia ini penuh dengan ilusi, dunia ini penuh dengan tipuan yang menyesatkan. Sehingga tinggalkanlah itu dan masuklah ke dalam kenyataan. Yaitu mengerjakan setiap perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya dengan tekun.

Selain itu, tidak ada alasan bagimu untuk berpaling dari hukum Allah SWT. Engkau harus mencintai-Nya, karena segala sesuatu yang kau lihat dan rasakan itu adalah milik-Nya. Engkau pun harus beribadah hanya untuk-Nya, tidak untuk selain Diri-Nya. Bahkan dirimu harus takut dan tunduk kepada-Nya dalam pertobatan yang nyata, sebab hanya Diri-Nya pula yang bisa meridhai dan mengampunimu.

Yogyakarta, 12 Maret 2014
Mashudi Antoro (Oedi`)

3 thoughts on “Jiwa Seorang Kesatria

    Sri Nuryati said:
    April 14, 2014 pukul 10:15 am

    Bagus sekali mas tulisannya sangat mengena….bisa memotivasi terutama saya pribadi utk trs interospeksi diri……:)

      oedi responded:
      April 19, 2014 pukul 6:40 am

      Alhamdulillah.. syukurlah kalau senang dengan tulisan ini, makasih mbak karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat..🙂
      Mari kita sama2 untuk terus mengintropeksi dan memperbaiki diri…🙂

    adzharacv said:
    April 15, 2015 pukul 3:37 am

    Reblogged this on adzharacv.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s