Ramalan Jayabaya (Jongko Joyoboyo) Tentang Nusantara

Posted on Updated on

perjalanan zaman dan waktuWahai saudaraku. Melanjutkan pembahasan kita sebelumnya, berikut ini saya berikan uraian yang cukup lengkap mengenai bait-bait prediksi yang pernah di tulis oleh Prabu Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri/Kediri (1135-1159 Masehi). Apa yang terdapat di dalamnya adalah rujukan bagi orang Jawa dulu tentang apa yang sudah, sedang dan akan terjadi nanti. Sehingga bisa juga kita jadikan rujukan dalam kehidupan kita sekarang dan nanti.

Adapun tujuan artikel ini tidak bermaksud untuk membuat Anda sekalian memasuki dunia khayal dan mitos belaka, tetapi agar kita semua kembali merenungkan apa yang telah terjadi saat ini, khususnya mengenai kerusakan zaman dan moral manusia. Karena lihatlah, bangsa ini pun sangat sulit untuk maju, masih saja dijajah secara politik, ekonomi, budaya, dll (karena menjadi negara boneka Amerika) dan menjadi budaknya dari bangsa lain. Yang salah satu penyebabnya tentu karena melupakan sejarah bangsa dan wasiat bijak dari para leluhur yang waskita.

Untuk mempersingkat waktu, berikut ini adalah uraiannya:

1. Pendahuluan
Ramalan yang bernada pilu itu pantas dikumandangkan lagi agar kita bisa berkaca diri. Para elite politik dan pemegang tampuk kekuasaan pun selayaknya merefleksikan diri atas segala sesuatu yang telah dilakukannya, yang seakan-akan justru “menggenapi” ramalan itu.

Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang dipercaya telah ditulis oleh Prabu Jayabaya, raja dari kerajaan Kadiri/Kediri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal usul utama serat Jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musarar yang digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan tentang keasliannya, tapi sangat jelas bunyi pada bait pertama dari kitab Musarar yang menuliskan bahwasanya Jayabaya lah yang membuat ramalan-ramalan tersebut; “Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.”

2. Asal-usul Ramalan
Tradisi Jawa mengakui, Ramalan Jayabaya ditulis oleh Prabu Jayabaya, Raja Kerajaan Kadiri/Kediri (1135-1159 Masehi) yang bergelar Sri Maharaja Sri Warmmeswara Madhusudanawatarani ndita Suhrtsingha Parakrama Digjayottunggadewan ama. Gelar yang amat panjang itu tertera pada tiga prasasti batu yang ditemukan dan dikenal sebagai peninggalan sang raja, yakni prasasti Hantang (1135 M), prasasti Talan (1136 M), dan prasasti dari Desa Jepun (1144 M).

Pada zamannya, ditopang kekuatan armada laut yang tangguh, kekuasaannya meluas tidak hanya meliputi Tanah Jawa, tetapi hingga pantai Kalimantan. Bahkan, Ternate pun menjadi kerajaan subordinat kerajaannya. Sebagai raja dan pujangga, Prabu Jayabaya memandang jauh ke depan dengan mata hati dan perasaan. Ia meramalkan keadaan kacau balau, yang disebutnya sebagai “wolak-walik ing zaman” atau keadaan zaman yang serba jungkir balik.

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang dikumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak zamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).

Kitab Jongko Joyoboyo pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah “Perdikan” yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Prabu Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru; Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat sang baginda bernama Sabda Palon dan Nayagenggong.

Disamping itu beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala zamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.

Sang pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam’iah 1672 Jawa atau 1747 Masehi, yang pada zamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 Masehi.

3. Isi Ramalan
Jongko Joyoboyo yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut “Kitab Asrar” karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakangnya juga menyebut nama baru itu. Kitab Asrar/Musarar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak zaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Islam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedaton”.

Berikut ini adalah sebagian dari isi kitab Musarar yang merupakan gubahan dari Jongko Joyoboyo:

a). Asmarandana
1.Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.
2.Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.
3.Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negaranya.
4.Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum (Kontantinopel/Istanbul) bernama, Sultan Maolana.
5.Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati.
6.Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu mengenai Kitab Musarar.”
7.Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata.
8.Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis 3 kali.
9.Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Ka`bah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah.
10.Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke Pulau Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.
11.Raja Pandita pamit dan musnah dari tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu memanggil putranya.
12.Setelah sang putra datang lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung.
13.Disana ada Ajar bernama Ajar Subrata. Menjemput Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Bhatara Wisnu.
14.Karenanya Sang Prabu sangat waspada, tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita gaib.
15.Bila Islam seperti Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.
16.Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah duduk ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengan endangnya.
17.Jadah (ketan) setakir, bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang, sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus.
18.Kedelapan endang seorang. Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah: “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya.
19.Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian karena takut. Sedangkan putra raja kecewa melihat perbuatan ayahnya.
20.Sang putra akan bertanya merasa takut. Kemudian mereka pun pulang. Datang di kedaton, Sang Prabu berbicara dengan putranya.
21.Hai anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujen tatkala masih muda.

b). Sinom
1.Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, musnah raja-raja di Pulau Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3 kali lagi (menitis).
2.Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada jaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang Jaman catur semune segara asat.
3.Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia di atas bumi. Menghancurkan keburukan.
4.Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut. Kemudian ada jaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.
5.Di dalam teken sang guru Maolana Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada zaman Anderpati yang bernama Kala-wisesa.
6.Lambangnya: Sumilir naga kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata negara, Setelah seratus tahun kemudian musnah.
7.Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki Ajar. Kemudian berganti jaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.
8.Demikian nama raja bergelar Sang Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar.
9.Hidangannya Jadah satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti jaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.
10.Enam puluh lima tahun kemudian musnah. Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.
11.Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti jaman Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian musnah.
12.Negara ini diberi lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti jaman di Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.
13.Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.
14.Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat.
15.Kemudian berganti lagi dengan lambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.
16.Berdagang di tanah Jawa kemudian mendapat sejengkal tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga terpandang di pulau Jawa. Zaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang.
17.Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian berganti.
18.Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi (Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita; Sukarno) kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki (Raja yang disegani/ditakuti, namun nista; Suharto). Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan.
19.Waktu itu pajaknya rakyat adalah uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.
20.Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka (Raja-raja yang saling balas dendam). Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram (Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan).
21.Nakhoda (Orang asing) ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu, randa loro nututi pijer tetukar (Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya; Megawati).
22.Tidak berkesempatan menghias diri (Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.
23.Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. Orang jahat makin menjadi-jadi. Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.
24.Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.
25.Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.
26.Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
27.Kemudian kelak akan datang tunjung putih semune Pudak kasungsang (Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah (Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.
28.Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa (Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
29.Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar, sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan, senyumnya manis sekali.

satrio piningit 3

c). Bait-bait lain dari Jongko Joyoboyo
1.Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda (mobil).
2.Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi (rel kereta api).
3.Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berjalan di angkasa (pesawat terbang).
4.Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan mata air.
5.Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara (mall, plaza).
6.Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
7.Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut/ mengecil (karena majunya teknologi).
8.Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.
9.Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.
10.Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.
11.Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman— Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik (zaman edan).
12.Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.
13.Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
14.Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan/senang berbuat salah.
15.Ora ngendahake hukum Hyang Widhi— Tak peduli akan hukum Hyang Widhi (Tuhan).
16.Barang jahat diangkat-angkat— Yang jahat dijunjung-junjung (diagungkan).
17.Barang suci dibenci— Sesuatu yang suci (justru) dibenci.
18.Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.
19.Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.
20.Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.
21.Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.
22.Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.
23.Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.
24.Nantang bapa— Menantang ayah.
25.Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.
26.Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.
27.Kanca dadi mungsuh — Kawan menjadi lawan.
28.Akeh manungsa lali asale — Banyak orang lupa asal-usul.
29.Ukuman Ratu ora adil — Hukuman raja/pemimpin tidak adil.
30.Akeh pangkat sing jahat lan ganjil-— Banyak pejabat jahat dan ganjil.
31.Akeh kelakuan sing ganjil — Banyak ulah-tabiat yang ganjil.
32.Wong apik-apik padha kapencil — Orang yang baik justru tersisih.
33.Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin — Banyak orang kerja yang halal justru merasa malu.
34.Luwih utama ngapusi — Lebih mengutamakan menipu.
35.Wegah nyambut gawe — Malas untuk bekerja.
36.Kepingin urip mewah — Inginnya hidup mewah.
37.Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka — Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
38.Wong bener thenger-thenger — Orang (yang) benar termangu-mangu (dan kesulitan).
39.Wong salah bungah — Orang (yang) salah gembira ria.
40.Wong apik ditampik-tampik-— Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
41.Wong jahat munggah pangkat— Orang (yang) jahat naik pangkat.
42.Wong agung kasinggung— Orang (yang) mulia dilecehkan.
43.Wong ala kapuja— Orang (yang) jahat dipuji-puji.
44.Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malunya.
45.Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang perwira/kejantanannya (sifat kesatria).
46.Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.
47.Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.
48.Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.
49.Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.
50.Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang tukar istri/suami.
51.Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda (melanggar kodratnya karena menjadi kepala keluarga).
52.Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu (pemalas).
53.Randha seuang loro— Dua janda seharga seuang (Red: seuang = 8,5 sen).
54.Prawan seaga lima— Lima perawan seharga lima picis (murah).
55.Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang (asal kaya walaupun jelek tetap laku).
56.Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu (ustad, ulama gadungan).
57.Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri (kampanye).
58.Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.
59.Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsu belaka.
60.Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.
61.Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.
62.Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.
63.Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi (tanpa nikah).
64.Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne — Banyak anak lahir mencari bapaknya.
65.Agomo akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.
66.Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.
67.Omah suci dibenci— Rumah suci (tempat ibadah) dijauhi.
68.Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.
69.Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Perempuan menjual diri dimana-mana.
70.Akeh laknat— Banyak kutukan
71.Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.
72.Anak mangan bapak—Anak makan (menindas) bapak.
73.Sedulur mangan sedulur—Saudara makan (menindas) saudara.
74.Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.
75.Guru disatru—Guru dimusuhi.
76.Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.
77.Kana-kene saya angkara murka — Angkara murka semakin menjadi-jadi.
78.Sing weruh kebubuhan—Barangsiapa tahu terkena beban.
79.Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.
80.Besuk yen ana peperangan—Kelak jika terjadi perang.
81.Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara (perang dunia).
82.Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.
83.Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.
84.Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
85.Wong salah dianggep bener-–Orang salah dipandang benar.
86.Pengkhianat nikmat—Pengkhianat nikmat.
87.Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.
88.Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.
89.Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.
90.Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.
91.Sing curang garang— Yang curang berkuasa.
92.Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.
93.Pedagang akeh sing keplarang— Pedagang banyak yang tenggelam.
94.Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.
95.Akeh barang haram—Banyak barang haram.
96.Akeh anak haram—Banyak anak haram.
97.Wong wadon nglamar wong lanang—Perempuan melamar laki-laki.
98.Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.
99.Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.
100.Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.
101.Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.
102.Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.
103.Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencari rezki ibarat gabah ditampi.
104.Sing kebat kliwat—Yang tangkas lepas.
105.Sing telah sambat—Yang terlanjur menggerutu.
106.Sing gedhe kesasar—Yang besar tersasar.
107.Sing cilik kepleset—Yang kecil terpeleset.
108.Sing anggak ketunggak—Yang congkak terbentur.
109.Sing wedi mati—Yang takut mati.
110.Sing nekat mbrekat—Yang nekat mendapat berkat.
111.Sing jerih ketindhih—Yang hati kecil tertindih.
112.Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur.
113.Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.
114.Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.
115.Sing waras nggagas—Yang sehat pikiran berpikir.
116.Wong tani ditaleni—Orang (yang) bertani diikat.
117.Wong dora ura-ura—Orang (yang) bohong berdendang.
118.Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raja/pemimpin ingkar janji, hilang wibawanya.
119.Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.
120.Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.
121.Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.
122.Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.
123.Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.
124.Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.
125.Anak lali bapak—Anak lupa bapa.
126.Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.
127.Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.
128.Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.
129.Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati kelaparan di samping makanan.
130.Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berlimpah harta tapi hidup sengsara.
131.Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.
132.Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok (orang jahat) membangun rumah mewah dan mahligai.
133.Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
134.Ana peperangan ing njero—Terjadi perang di dalam.
135.Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
136.Durjana saya ngambra-ambra—Kejahatan makin merajalela.
137.Penjahat saya tambah—Penjahat makin banyak.
138.Wong apik saya sengsara—Yang baik makin sengsara.
139.Akeh wong mati jalaran saka peperangan—Banyak orang mati karena perang.
140.Kebingungan lan kobongan—Karena bingung dan kebakaran.
141.Wong bener saya thenger-thenger-–Si benar makin tertegun.
142.Wong salah saya bungah-bungah—Si salah makin sorak sorai.
143.Akeh bandha musna ora karuan lungane—Banyak harta hilang entah ke mana.
144.Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe—Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
145.Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—Banyak barang haram, banyak anak haram.
146.Bejane sing lali, bejane sing eling—Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
147.Nanging sauntung-untunge sing lali—Tapi betapapun beruntung si lupa.
148.Isih untung sing waspada—Masih lebih beruntung si waspada.
149.Angkara murka saya ndadi—Angkara murka semakin menjadi.
150.Kana-kene saya bingung-–Di sana-sini makin bingung.
151.Pedagang akeh alangane—Pedagang banyak rintangan.
152.Akeh buruh nantang juragan—Banyak buruh melawan majikan.
153.Juragan dadi umpan—Majikan menjadi umpan.
154.Sing suwarane seru oleh pengaruh—Yang bersuara tinggi (politikus) mendapat pengaruh.
155.Wong pinter diingar-ingar—Si pandai direcoki.
156.Wong ala diuja—Si jahat dimanjakan.
157.Wong ngerti mangan ati—Orang yang mengerti makan hati.
158.Bandha dadi memala—Harta benda menjadi penyakit
159.Pangkat dadi pemikat—Pangkat/jabatan menjadi pemukau.
160.Sing sawenang-wenang rumangsa menang — Yang sewenang-wenang merasa menang.
161.Sing ngalah rumangsa kabeh salah—Yang mengalah merasa serba salah.
162.Ana Bupati saka wong sing asor imane—Ada bupati berasal orang beriman rendah.
163.Patihe kepala judhi—Maha menterinya bandar judi.
164.Wong sing atine suci dibenci—Yang berhati suci dibenci.
165.Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
166.Pemerasan saya ndadra—Pemerasan merajalela.
167.Maling lungguh wetenge mblenduk — Pencuri (koruptor) duduk berperut gendut.
168.Pitik angrem saduwure pikulan—Ayam mengeram di atas pikulan.
169.Maling wani nantang sing duwe omah—Pencuri menantang si empunya rumah.
170.Begal pada ndhugal—Penyamun semakin kurang ajar.
171.Rampok padha keplok-keplok—Perampok semua bersorak-sorai.
172.Wong momong mitenah sing diemong—Si pengasuh memfitnah yang diasuh.
173.Wong jaga nyolong sing dijaga—Si penjaga mencuri yang dijaga.
174.Wong njamin njaluk dijamin—Si penjamin minta dijamin.
175.Akeh wong mendem donga—Banyak orang mabuk doa.
176.Kana-kene rebutan unggul—Di mana-mana berebut menang (pilkada dan pemilu).
177.Angkara murka ngombro-ombro—Angkara murka menjadi-jadi.
178.Agama ditantang—Agama ditantang.
179.Akeh wong angkara murka—Banyak orang angkara murka.
180.Nggedhekake duraka—Membesar-besarkan durhaka.
181.Ukum agama dilanggar—Hukum agama dilanggar.
182.Prikamanungsan di-iles-iles—Perikemanusiaan diinjak-injak.
183.Kasusilan ditinggal—Tata susila diabaikan.
184.Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
185.Wong cilik akeh sing kepencil—Rakyat kecil banyak tersingkir.
186.Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
187.Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—Lalu datang Raja /pemimpin berpengaruh dan punya berprajurit.
188.Negarane ambane saprawolon—Lebar negeri seperdelapan dunia.
189.Tukang mangan suap saya ndadra—Pemakan suap semakin merajalela.
190.Wong jahat ditampa—Orang jahat diterima.
191.Wong suci dibenci—Orang suci dibenci.
192.Timah dianggep perak—Timah dianggap perak.
193.Emas diarani tembaga—Emas dibilang tembaga.
194.Dandang dikandakake kuntul—Gagak disebut bangau.
195.Wong dosa sentosa—Orang berdosa sentosa.
196.Wong cilik disalahake—Rakyat jelata dipersalahkan.
197.Wong nganggur kesungkur—Si penganggur tersungkur.
198.Wong sregep krungkep—Si tekun terjerembab.
199.Wong nyengit kesengit—Orang busuk hati dibenci.
200.Buruh mangluh—Buruh menangis.
201.Wong sugih krasa wedi—Orang kaya ketakutan.
202.Wong wedi dadi priyayi—Orang takut jadi priyayi.
203.Senenge wong jahat-–Berbahagialah si jahat.
204.Susahe wong cilik—Bersusahlah rakyat kecil.
205.Akeh wong dakwa dinakwa—Banyak orang saling tuduh.
206.Tindake manungsa saya kuciwa—Ulah manusia semakin tercela.
207.Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi—Para raja/pemimpin berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
208.Wong Jawa kari separo—Orang Jawa tinggal setengah.
209.Landa-Cina kari sejodho — Belanda-Cina tinggal sepasang.
210.Akeh wong ijir, akeh wong cethil—Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
211.Sing eman ora keduman—Si hemat tidak mendapat bagian.
212.Sing keduman ora eman—Yang mendapat bagian tidak berhemat.
213.Akeh wong mbambung—Banyak orang berulah dungu.
214.Akeh wong limbung—Banyak orang limbung (kosong pikiran).
215.Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teko—Lambat laun nanti terbolak-baliknya zaman pun datang.

Tambahan:
Selain yang telah disebutkan di atas, Prabu Jayabaya pada akhirnya membagi zaman yang sudah, sedang dan akan terjadi nanti, khususnya di Nusantara. Lama waktunya yaitu 2.100 tahun matahari (1 tahun matahari = ±10,3 tahun kita sekarang). Ramalannya itu lalu menjadi Tri-takali, yaitu:

1.Zaman permulaan disebut KALI-SWARA, lamanya 700 th matahari (721 th bulan). Pada waktu itu di jawa banyak terdengar suara alam, gara-gara geger, halintar, petir, serta banyak kejadian-kejadian yang ajaib dikarenakan banyak manusia menjadi dewa dan dewa turun ke Bumi menjadi manusia.
2.Zaman pertengahan disebut KALI-YOGA. Pada waktu ini banyak perubahan pada Bumi, Bumi belah menyebabkan terjadinya pulau kecil-kecil, banyak makhluk yang salah jalan, karena orang yang mati banyak menjelma (nitis).
3.Zaman akhir disebut KALI-SANGARA, 700 th. Pada waktu ini banyak hujan salah mangsa (musim) dan banyak kali dan bengawan (sungai) bergeser, Bumi kurang manfaatnya, menghambat datangnya kebahagian, mengurangi rasa-terima, sebab manusia yang mati banyak yang tetap memegang ilmunya.

Tiga zaman tersebut lalu masing-masingnya dibagi lagi menjadi Saptama-kala, artinya zaman kecil-kecil. Tiap zaman rata-rata berumur 100 tahun matahari (103 tahun bulan). Seperti berikut ini:

I. JAMAN KALI-SWARA dibagi menjadi:
1) Kala-kukila 100 th, (th. 1-100): Hidupnya orang seperti burung, berebutan mana yang kuat dia yang menang, belum ada raja, jadi belum ada yang mengatur/memerintah.
2) Kala-buddha (th. 101-200): Permulaan orang Jawa masuk agama Buddha menurut syariat Hyang Jagadnata (Bhatara Guru).
3) Kala-brawa (th. 201 – 300): Orang-orang di Jawa mengatur ibadahnya kepada Dewa, sebab banyak Dewa yang turun ke bumi menyiarkan ilmu.
4) Kala-tirta (th. 301-400): Banjir besar, air laut menggenang daratan, di sepanjang air itu bumi menjadi belah dua. Yang sebelah barat disebut pulau Sumatra, lalu banyak muncul sumber-sumber air, disebut umbul, sedang, telaga, dsb.
5) Kala-swabara (th. 401-500): Banyak keajaiban yang tampak atau menimpa diri manusia.
6) Kala-rebawa (th. 501-600): Orang Jawa mengadakan keramaian-kesenian dsb.
7) Kala-purwa (th. 601-700): Banyak tumbuh2an keturunan orang-orang besar yang sudah menjadi orang biasa mulai jadi orang besar lagi.

II. JAMAN KALA-YOGA dibagi menjadi:
1) Kala-brata (th. 701-800): Orang mengalami hidup sebagai fakir.
2) Kala-drawa (th. 801-900): Banyak orang mendapat ilham, orang pandai menerangkan hal-hal yang gaib.
3) Kala-dwawara (th. 901-1.000): Banyak kejadian yang mustahil.
4) Kala-praniti (th. 1.001- 1.101): Banyak orang mementingkan ulah pikir.
5) Kala-teteka (th. 1.101 – 1.200): Banyak orang datang dari negeri-negeri lain.
6) Kala-wisesa (th. 1.201 – 1.300): Banyak orang yang terhukum.
7) Kala-wisaya (th. 1.301 – 1.400): Banyak orang memfitnah.

III. JAMAN KALA-SANGARA dibagi menjadi:
1) Kala-jangga (th. 1.401 – 1.500): Banyak orang ulah kehebatan.
2) Kala-sakti (th. 1.501 – 1.600): Banyak orang ulah kesaktian.
3) Kala-jaya (th. 1.601 – 1.700): Banyak orang ulah kekuatan untuk tulang punggung kehidupannya.
4) Kala-bendu (th. 1.701 – 1.800): Banyak orang senang berbantahan, akhirnya bentrokkan (zaman kita sekarang).
5) Kala-suba (th. 1.801 – 1.900 ): Pulau Jawa mulai sejahtera, tanpa kesulitan, orang bersenang hati.
6) Kala-sumbaga (th. 1.901 – 2.000): Banyak orang tersohor pandai dan hebat.
7) Kala-surasa (th. 2.001 – 2.100): Pulau Jawa ramai sejahtera, serba teratur, tak ada kesulitan, banyak orang ulah asmara.

Semoga hal ini lebih bisa menjadi perenungan untuk kita semua – khususnya pada point yang sudah ditebalkan hurufnya. Bukan untuk mendahului takdir Tuhan, tetapi agar kita semua bisa terus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Jika seandainnya nanti zaman berganti, yang dimulai dengan bencana dahsyat, maka kita sudah siap. Tetapi jika tidak terjadi, tentunya tidak menjadi masalah, karena justru kita sudah berusaha menjadi orang yang baik dan mengikuti perintah Tuhan. Sehingga kehidupan pun akan menjadi lebih baik.

3. Penutup
Wahai saudaraku. Sebagai generasi penerus, kita sepatutnya bangga dengan kearifan yang telah dimiliki oleh bangsa ini, bahkan sejak ribuan tahun silam. Lihatlah! Dengan kemampuan yang lebih dan kewaskitaannya, leluhur kita bisa mengetahui masa depan – jauh setelah kehidupan mereka – dan mau membagikannya kepada kita dalam betuk wasiat. Ini bertujuan agar kita, anak cucuk mereka, tidak masuk ke dalam pola hidup yang semrawut (kacau balau) dan jauh dari aturan agama. Yang pada akhirnya menyengsarakan kehidupan kita sendiri.

Tetapi, sungguh sangat disayangkan, banyak dari kita, khususnya para pemimpin dan generasi muda sekarang, yang tidak lagi memperhatikan hal ini. Banyak dari kita yang justru tidak tahu atau menganggap apa yang pernah diwariskan oleh para leluhur kita itu hanya sebagai dongeng dan tidak memiliki arti apa-apa dalam kehidupan ini. Padahal lihatlah, hampir semua yang telah mereka wasiatkan itu terbukti benar dan sangat mempengaruhi perjalanan sejarah bangsa ini.

Untuk itu, marilah kita semua, khususnya para pemimpin dan generasi muda bangsa ini untuk kembali pada jati diri kita sendiri sebagai bangsa Nusantara. Mari kita menilai apa yang sudah diwasiatkan oleh para leluhur di atas sebagai bahan refleksi untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara kedepannya. Banggalah menjadi bagian dari bangsa yang dulunya sangat besar – bahkan pernah memimpin dunia – ini, dengan terus membangkitkan rasa percaya diri dan tidak terlalu gandrung dengan budaya bangsa lain. Paculah kemajuan bangsa dengan banyak berkarya dan tidak hanya menjadi masyarakat konsumtif, yang ujung-ujungnya jadi “sapi perahnya” bangsa lain. Karena kita ini hebat dan punya kebudayaan yang tinggi, yang dulunya pernah disegani di seluruh dunia.

Selain itu, cukupkanlah perilaku yang tidak lagi sesuai dengan norma agama dan norma susila yang berlaku. Karena itu adalah sumber utama kehancuran bangsa ini nanti. Azab Tuhan akan menghampiri kita, semua dari kita, jika hal ini tidak segera diperbaiki. Terlebih saat banyak dari kita yang tidak lagi peduli bahwa ada kehidupan setelah mati. Maka bangsa dan negeri tercinta ini akan benar-benar hilang ditelan bencana dan azab Tuhan dalam waktu dekat. Sebagaimana dulu, nenek moyang kita yang harus meninggalkan tanah air tercinta ini – ribuan tahun – demi menyelamatkan diri dari bencana dahsyat (azab Tuhan) yang terjadi.

Akhirnya, semoga tulisan ini bisa menambah pengetahuan sejarah bagi Anda sekalian, yang pada akhirnya tetap menjadikan Anda bangga sebagai bagian dari bangsa yang besar ini; Nusantara. Bagi yang setuju dan meyakininya, silahkan ikuti dan jadikan prediksi di atas sebagai acuan dalam kehidupan dan tentunya untuk bekal mempersiapkan diri dalam menghadapi sesuatu yang akan menggemparkan dunia nanti. Namun bagi yang tidak mempercayainya, silahkan tinggalkan dan tolong hargai siapa saja yang sudah percaya dengan wasiat leluhur ini. Karena setiap orang punya hak yang sama dalam meyakini dan berpendapat. Kita semua harus menghormati hal yang mendasar ini, karena kita pun manusia.

Semoga zaman segera berganti, dari zaman Kala Bendu menjadi Kala Suba. Karena disanalah akan ada kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan yang sesungguhnya. Bangsa kita pun akan bangkit kembali dan memimpin dunia. Sementara kita, semoga saja bisa menyaksikan dan ikut serta dalam menikmatinya.

Yogyakarta, 24 Desember 2013
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Tulisan yang terkait dengan artikel ini: Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang; Kehancuran NKRI]

100 thoughts on “Ramalan Jayabaya (Jongko Joyoboyo) Tentang Nusantara

    Sri Nuryati said:
    Desember 24, 2013 pukul 5:19 pm

    Subhanaallah…..terima kasih mas untk pengetahuannya yg amat samgat berharga ini,semoga dg ini kita semua segera insyaf dan mempersiapkan diri agar zaman kebangkitan NKRI yg sesungguhnya lekas menjadi kenyataan…….aamiin allahumma aamiin insyaallah🙂

      oedi responded:
      Desember 25, 2013 pukul 10:11 am

      Iya mbak sama2.. terimakasih juga karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat..🙂
      Amiin.. semoga saja demikian, karena zaman akan segera berganti bahkan nanti tidak ada lagi yang namanya NKRI, karena semuanya akan digantikan dengan ketatanegaraan yang baru dan jauh lebih baik dari sekarang… cara-caranya pun baru, karena model zaman yang baru pula…🙂

      123456789alvina said:
      Agustus 13, 2015 pukul 7:26 am

      ya ampun kak sri kasih tau dong

      Agus Iswahyudi said:
      Oktober 5, 2016 pukul 5:25 am

      Terimakasih mas atas pengetahuan yang di berikan , saya amat menyukai ini karena waktu saya kecil juga pernah di ceritakan oleh bapak saya.., karena bapak sayapunya buku JONGKO JOYO BOYO.

        oedi responded:
        Oktober 30, 2016 pukul 7:59 am

        Iya mas Agus, sama2lah kalo gitu.. terimakasih juga karena sudah mau berkunjung, semoga bermanfaat..🙂
        Benar sih, khususnya generasi 80 ke bawah apalagi dia orang Jawa tulen biasanya orangtuan mereka mewejangkan tentang Jongko Joyoboyo ini, ya untuk bekal hidup anaknya nanti.. Saya termasuk mas hehe..🙂

    […] RSS ← Ketenangan Jiwa Pecinta Ramalan Jayabaya (Jongko Joyoboyo) Tentang Nusantara → […]

    Abid Ahmad (@abid_regalia) said:
    Januari 27, 2014 pukul 6:15 am

    daftar pustakanya mana ya?

      oedi responded:
      Januari 27, 2014 pukul 1:05 pm

      Hmm… maaf ini cuma artikel ringan dan bukan buku bacaan yang tebal..🙂

    abdulah said:
    Februari 16, 2014 pukul 4:48 am

    Ini Merupakan Karangan anda saja<<<<<ono ono wae sampean

      oedi responded:
      Februari 24, 2014 pukul 7:09 am

      Okey.. terimakasih..🙂

    putera djitan putik ulak libo said:
    Februari 20, 2014 pukul 2:55 am

    hanya sebatas ramalan,…………..

      oedi responded:
      Februari 24, 2014 pukul 7:21 am

      Okey.. makanya judul tulisannya pun Ramalan, percaya atau tidak, kembali ke diri masing2.. hehe…🙂

    Budi Sarli Sinto said:
    Februari 28, 2014 pukul 2:58 pm

    Terimakasih.
    Salam sukses untuk anda; penulis.

      oedi responded:
      Maret 3, 2014 pukul 9:10 am

      Iya sama2 mas Budi, terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Sukses dan bahagia juga untuk Anda..

    bagus poerwanto said:
    Maret 5, 2014 pukul 8:49 am

    bagus om oedi,, ramaannya mungkin bisa jadi kenyataan.. thx tulisannya.

      oedi responded:
      Maret 5, 2014 pukul 9:34 am

      Alhamdulillah.. syukurlah kalau senang.. terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Hmm… ya saya setuju bahwa ramalan di atas bisa saja jadi kenyataan… dan berdasarkan kajian dengan melihat fakta sejarah selama ini maka semua yg telah di sampaikan dalam ramalan di atas telah terjadi… tinggal beberapa lagi yg menurut saya pribadi tinggal nunggu waktunya aja.. karena saat ini – jika melihat semua fenomena yang terjadi – rasanya sudah sangat dekat..

    ahid said:
    Maret 6, 2014 pukul 7:10 pm

    Kala-bendu (th. 1.701 – 1.800): Banyak orang senang berbantahan, akhirnya bentrokkan (zaman kita sekarang).
    5) Kala-suba (th. 1.801 – 1.900 ): Pulau Jawa mulai sejahtera, tanpa kesulitan, orang bersenang hati.
    6) Kala-sumbaga (th. 1.901 – 2.000): Banyak orang tersohor pandai dan hebat.
    7) Kala-surasa (th. 2.001 – 2.100): Pulau Jawa ramai sejahtera, serba teratur, tak ada kesulitan, banyak orang ulah asmara.

    Bagian yang ini maksudnya gmn mas? thanks

      oedi responded:
      Maret 8, 2014 pukul 6:19 am

      Hmm gimana apanya mas? coba dibaca ulang lg dengan teliti keterangan sebelumnya… rasanya sudah saya jelaskan tuh…
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    najib jauhari said:
    Maret 20, 2014 pukul 4:21 am

    Ramalan Putra Arjuna, “Cri ranggarajasa Shang Hyang Amurwabhumi Raja Singhasari Seng Saiki Najib aremania Jauhari cakep sekali”, Semua kalian yang baca akan sukses makmur sejahtera jika punya rencana yang baik, usaha yang baik, evaluasi yang baik dan diridhoi Tuhan!. Salam perjuangan, Jasmerah. Trims.

      oedi responded:
      Maret 22, 2014 pukul 6:57 am

      Okey, terimakasih atas kunjungan, dukungan dan pesannya.. semoga kita termasuk golongan yang beruntung dunia akherat.. Salam🙂

    Eriq Yuachen said:
    April 21, 2014 pukul 12:58 pm

    oleh di kopy ra yo?

      oedi responded:
      April 22, 2014 pukul 4:28 am

      Oh monggo mas… tapi tolong disertakan sumbernya… Terimakasih🙂

      123456789alvina said:
      Agustus 13, 2015 pukul 7:27 am

      ye gak tau samakak

    putro kinasih ing mboro said:
    Mei 8, 2014 pukul 7:02 am

    lakukan yang terbaik, tinggalkan yang dilarang , yakin dan percayalah Gusti kang akaryo jagat akan selalu mengabulkan permohonan umatnya. amin.

      oedi responded:
      Mei 15, 2014 pukul 7:25 am

      Aamiin ya Robb, terimakasih atas kunjungan, dukungan dan pesannya.. semoga bermanfaat…🙂

    putro kinasih ing mboro said:
    Mei 8, 2014 pukul 7:04 am

    ojo podo sembrono, eling lan waspodo,

      oedi responded:
      Mei 15, 2014 pukul 7:26 am

      Seeplah.. pancen iku sing kudu dilakoni sak jabane urip…
      Terimakasih atas kunjungan, dukungan dan pesannya, semoga bermanfaat…🙂

    zappulete said:
    Mei 10, 2014 pukul 6:29 pm

    artikel ciamik🙂,,,mas bahas tentang harta kerajaan nusantara mas…
    @akumasihpenasaran😉

      oedi responded:
      Mei 15, 2014 pukul 7:29 am

      Hmmm.. untuk masalah yang itu saya belum bisa share di blog ini, karena memang sulit untuk disampaikan, terlebih memang sangat berkaitan dengan sesuatu yang tidak kasat mata…
      Okey, terimakasih atas kunjungan, dukungan dan sarannya, semoga bermanfaat..🙂

    Djuwadi Hadiwidayat said:
    Mei 18, 2014 pukul 5:47 pm

    Bisa-bisa aja sbg refrensi, utk wacana kehidupan.

      oedi responded:
      Mei 23, 2014 pukul 3:36 am

      Okey.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    fandri said:
    Mei 20, 2014 pukul 3:10 pm

    luar biasa tulisan anda…

      oedi responded:
      Mei 23, 2014 pukul 3:36 am

      Syukurlah jika begitu… terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    baayoo said:
    Mei 29, 2014 pukul 2:56 pm

    Maap sblmnya.. Ini kitab udh banyak yg dirubah… Kitab yg asli mungkin masih dirahasiakan atau sdh dimusnahkan, krn ini menyangkut kebudayaan & keyakinan ajaran Siwa-Budha pd masa itu… Yg tdk diperbolehkan diperlihatkan..

    Tetep Eling Lan Waspada,

      oedi responded:
      Juni 10, 2014 pukul 5:54 am

      Okey, terimakasih atas kunjungan dan komentarnya, semoga bermanfaat..🙂

      kadek subudi said:
      November 24, 2014 pukul 6:59 am

      benar sekali……kayaknya sudah banyak disesuaikan dgn keadaan sekarang, sudah tidak asli.

    kasdono said:
    Juni 9, 2014 pukul 5:40 pm

    Mas baayoo maaf bukan mau berdebat di halaman mas oedi. menurut saya nggak usah persoalkan ajaran siapa kalo mengajak yang baik, soal keyakinan dan ibadah, bagimu agamamu bagiku agamaku. Kalao saya salah mohon dimaafkan

      oedi responded:
      Juni 10, 2014 pukul 6:11 am

      Hmm.. terimakasih atas kunjungan dan komentarnya…🙂

    でうい (^^) _旦~~ (@weedeewee) said:
    Juni 11, 2014 pukul 1:05 pm

    bagus.. (y) saya suka

      oedi responded:
      Juni 12, 2014 pukul 3:36 am

      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    Hamba Allah said:
    Juni 15, 2014 pukul 10:36 pm

    trim infonya yang bagus

      oedi responded:
      Juni 16, 2014 pukul 6:09 am

      Okey sama2… terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    ghulam said:
    Juni 16, 2014 pukul 12:34 pm

    ajip

      oedi responded:
      Juni 23, 2014 pukul 8:39 am

      Okey.. makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    shakti agusthyna said:
    Juli 12, 2014 pukul 5:13 pm

    rasanya, sangat sedikit sekali orang yg mau berbenah, mengingat ni sdah zaman akhir, rsanya cuman bsa menunggu bencana yg dahsyat sgera terjadi sja. Mengingat orang yg bijak n lurus akhlak, budi dsb.. tinggal segelintir orng sja.

    wanda ariesta said:
    Juli 21, 2014 pukul 9:51 pm

    saya mencari tulisannya yang berisi “nto nogoro” pada naskah-naskah Jayabaya itu, di nomor berapa ya ?

    wanda ariesta said:
    Juli 21, 2014 pukul 9:53 pm

    saya mencari-cari tulisan Jayabaya yang berisi noto nogoro, pada tulisan yang mana ya ? (saya ingin penjelasan dari naskah aslinya)

    patrick tello said:
    Juli 23, 2014 pukul 8:26 am

    tolong ulas teknologi ufo secara terpisah dong mas oedi,tapi di beri tambahan referensi..
    thamx..🙂

    Andi Muhammad Nur Ichsan said:
    Juli 23, 2014 pukul 7:01 pm

    boleh minta facebooknya? sy sangat tertarik membahas ini bersama Anda🙂

    Yoga chyank ayah said:
    Agustus 12, 2014 pukul 9:21 am

    Jika semua umat manusia tau dan memahami arti ramalan ini .
    Insya alloh selamat dunia akhirat..
    Berbuat baiklah sesama umat manusia dan selalu ingat dan bersyukurlah kpd tuhanmu.
    Pasti selamat dunia akhirat..

    Warning..

    Seng Welas asih sak podho.podho. Yo.

      oedi responded:
      Agustus 12, 2014 pukul 9:35 am

      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Benar yang Anda katakan, karena tiada yang lebih mulia dari pribadi yang senang dalam mematuhi aturan Tuhan dan pandai bersyukur atas karunia hidup yang telah diberikan-Nya. Yang semua itu dapat terlihat nyata hanya dengan selalu mengedepankan rasa cinta dan kasih sayang…🙂

        Rianto said:
        September 16, 2014 pukul 6:58 am

        Saling mengingatkan dalam kehidupan ini akan indah rasanya. Perbedaan jangan dijadikan suatu permusuhan namun maknai sebagai bentuk kekuatan dan kebersamaan.

    Andi Risnawan said:
    Agustus 27, 2014 pukul 1:45 pm

    klo ini ramalan joyoboyo yang disesuaikan dengan pandangan islam, dan saya heran kenapa cerita jaman dahulu selalu disesuaikan dengan islam …? seperti kisah prabu barawijaya, kisah prabu siliwangi

    klo boleh sharing sebenarnya jaman sekarang adalah sudah masuk dalam akhir ramalan joyoboyo, ramalan bencana – bencana alam yang terjadi di dunia sebagai peringatan Tuhan agar manusia kembali pada kesadaran spritual karena jika klo manusia masih bersikap seperti sekarang ini pasti bencana besar akan terjadi yaitu GORO – GORO.
    Maksud Goro -goro adalah terjadinya perang dimana – mana (perang semua belahan dunia/ perang dunia III) sampai pembantaian juatan orang, kelaparan dimana- mana dan pada akhirnya pengendalian manusia dan pada saat inilah orang busuk akan lebih jaya daripada orang benar karena mereka pengikut setia seorang diktator/dajal/pembohong besar/ si dalang perang
    Saya pikir ramalan joyoboyo saat ini bisa membantu menganalisa teori konspirasi agar manusia eling waspada bagaimana manusia bersikap dan berjaga-jaga.

      Rianto said:
      September 16, 2014 pukul 6:54 am

      Setuju Mas Andi, kesimpulannya sebagai umat apapaun kepercayaannya kita harus tetap eling lan waspada antispasi terjadinya GORO-GORO

      Dodik Kriswantoro said:
      Oktober 16, 2014 pukul 8:48 pm

      Zaman fitnah akan segera muncul, di zaman itu seseorang yg paginya iman disore hari menjadi kafir, gambarannya seperti orang yg akan berpuasa esok harinya maka malamnya supaya saur agar esok harinya mampu menahan rasa lapar, haus & dahaga. Penulis melihat saat ini hawa jahat menyelimuti bumi ini disegala penjuru, rusia yg memiliki bom nukleur terbanyak setelah AS mulai beradu kekuatan dengan eropa yg saat ini merupakan ekonomi terkuat didunia, penulis melihat ke depan mereka akan sama-sama hancur dalam peperangan, disisi lain AS dengan Yahudinya mulai melancarkan perang habis-habisan kpd seluruh umat islam dinegeri arab atas dasar isis/terorisme, penulis melihat kedepan perang Arab vs AS/Israel ini akan semakin membesar dan akan meluluh lantakkan ketiga kawasan tersebut baik wilayah Arab pada umumnya maupun wilayah AS sendiri, semua perkotaan di wilayah Arab maupun AS akan luluh lantak dan akan menjadi kota mati, terakhir dinegeri ini negeri Indonesia Raya atau Nuswantoro sedang dirundung duka, rakyatnya kelaparan, pemimpinnya berebut kekuasaan, pemilu telah usai namun penulis melihat sesungguhnya perang baru dimulai, setiap hari, waktu dan bulan ke depan suhu politik akan semakin memanas, bentrokan akan terjadi disana-sini dan negeri ini akan menjadi neraka bagi siapapun saja yg berada di dalamnya, nyawa manusia tidak lagi ada harganya, pembunuhan terjadi dimana-mana diseluruh penjuru negeri ini negeri Nuswantoro

    basuki said:
    September 8, 2014 pukul 12:51 pm

    walaupun itu cuma ramaln tpi sekarang sudah menjadi kenyataan,wong liyo dadi sedulor,sedulor koyo wong liyo,pasar ilang kumandange,wong wedong ilang wirange,dll,skrang sudah terbukti

    Rianto said:
    September 16, 2014 pukul 6:41 am

    Matur nuwun Mas Oedi, artikel anda bisa mensuport niat saya untuk menelusurui keberadaan beberapa peninggalan leluhur berbagai zaman umumnya dan khususnya yang berkaitan dengan peninggalan Sang Pabru Sri Aji Joyoboyo di wilayah Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri Jatim sebagai bekal atau pengetahuan anak bangsa agar ingat dengan para leluhurnya yang sudah tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah setempat. Hingga saat ini tidak ada lagi kepedulian anak bangsa untuk merawat dan melestarikan peninggalan leluhur tersebut dan dianggapnya tindakan kita aneh serta gila. Dengan mengabaikan hal tersebut, mudah-mudahan teman-teman yang sejalan pemikirannya dengan kita akan saling bisa membantu mewujudkan masyarakat adil makmur dan berkepribadian sesuai dengan perubahaan zaman mendatang. Ingat ! banyak ramalan sesepuh bahwa perubahan zaman akan dimulai dari Kadipaten Kediri dengan ditandai musibah atau prahara alam besar dan itu tanda-tandanya sudah dekat saudaraku.(mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang masih bisa ‘nemoni’ /diberi kesempatan melihat zaman tersebut).

      oedi responded:
      September 16, 2014 pukul 10:59 am

      Iya mas sama2… Nuwun juga karena sudah mau berkunjung di blog ini, semoga apa yg ada di tulisan ini bisa bermanfaat, ya paling tidak kita semakin sadar bahwa kita ini bangsa Nusantara yg sesungguhnya adalah bangsa yang hebat… nenek moyang kita dulu sudah membuktikannya…🙂
      Lihat saja nanti, tidak lama lagi akan ada revolusi terbesar yang terjadi di Nusantara ini.. semuanya akan berubah di berbagai lini kehidupan…

    Dodik Kriswantoro said:
    Oktober 16, 2014 pukul 8:44 pm

    Pandangan Spiritual oleh DODIK KRISWANTORO: Kepada Pemimpin Tertinggi di Republik Indonesia ini Sdr. Joko Widodo agar memperbanyak kesabarannya dalam melayani seluruh rakyat Indonesia, demikian halnya dengan Sdr. Prabowo Subianto. Karena saudara menjadi pemimpin RI ketika negeri ini sedang dalam kondisi emosi rakyat yg intensitasnya sangat tinggi dan merata hampir di seluruh negeri, saat ini rakyat sangat sensitif dan mudah terpancing untuk melakukan tindakan-tindakan anarkis yg sering kali berujung pada pengrusakan, penjarahan bahkan sampai pembunuhan, jadi bersabarlah wahai pemimpinku. Dalam pandangan spiritual saya melihat, ada seorang putri yg telah membunuh dua ekor harimau, lalu sang putri menguliti kedua harimau yg telah mati tersebut, setelah itu sang putri berpesan: “silahkan kalian berdua memakai kulitnya untuk baju kalian namun jangan memakan dagingnya”. Saya melihat orang pertama telah memakai baju tersebut dan sepenglihatan saya beliau juga tidak memakan dagingnya, sedangkan orang kedua sudah memegang baju itu namun belum memakai bajunya. Keterangan: yang dimaksud sang putri beliau adalah Ibu Mega (ketika beliau lahir Soekarno melihat Mego di ufuk barat, jadilah itu nama yg disematkan untuk sang putri). Menurut penglihatan spiritual saya, beliaulah yg sebenarnya adalah pemilik wahyu Keprabon tersebut (Presiden RI), namun beliau mengamanahkan wahyu tersebut kepada Sdr. Prabowo Subianto (pada tahun 2009) dan Sdr. Joko Widodo (pada tahun 2014), yg dimaksud orang pertama adalah Sdr. Joko Widodo dan yg dimaksud orang kedua adalah Sdr. Prabowo Subianto. Sedangkan Kulit yg berarti merupakan lambang kekuasaan tertinggi (kursi Presiden), sedangkan yg dimaksud daging adalah merupakan pemegang kendali seluruh aset negeri (kursi Menteri). Dalam kesempatan yg lain pada suatu siang menjelang sore, sukmo dari pada Ibu Mega silaturahmi kekediaman saya di gading mangu perak jombang jawa timur, waktu itu adalah setelah Pileg dan sebelum Pilpres 2014, beliau menemui saya dan menanyakan solusi ketidak harmonisan hubungan beliau dengan Sdr. Prabowo Subianto, setelah kami berbincang-bincang kecil, lalu beliau berpamitan kembali pulang. Saran WAJIB saya untuk kedua pemimpin bangsa diatas yaitu Sdr. Prabowo Subianto dan Sdr. Joko Widodo agar segera berangkulan tangan meskipun saudara berbeda dalam visi dan misi akan masa depan Republik yg kita cintai ini, tujuannya adalah untuk menyatukan hati rakyat negeri ini dan untuk menghindari korban jiwa akibat dari konflik yg menurut penglihatan penulis tidak lama lagi akan segera terjadi, khususnya di akar rumput (rakyat) Indonesia.
    Megawati dan PDIP
    Rakernas IV Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah mengusulkan secara resmi Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri untuk kembali memimpin partai…
    nasional.sindonews.com

    Dodik Kriswantoro said:
    Oktober 16, 2014 pukul 8:47 pm

    Selamat atas suksesi kepemimpinan Nasional, Presiden RI Sdr. Joko Widodo, DPR RI Sdr. Setya Novanto, dan MPR RI Sdr. Zulkifli Hasan. Saudara-saudaraku para pemimpin bangsa, perlu saudara mengerti bahwa saudara bukan lagi milik partai namun saudara adalah milik seluruh rakyat Indonesia, oleh karena itu janganlah saudara bertengkar lagi, mulai hari ini marilah kita bergandengan tangan, redakan emosi dan bersama-sama bahu-membahu mewujudkan Nuswantoro menjadi poros dunia, menjadi negeri yang makmur dan sejahtera. Penulis yakin dengan seyakin-yakinnya bahwasannya kita bisa dan mampu mewujudkan hal itu semua asalkan tekad, semangat dan kebersamaan kita utuh. Sesuai dengan pesan dari lagu kebangsaan Indonesia Raya, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”. Membangun jiwa (rohani) haruslah lebih didahulukan dari pada membangun badan (fisik), karena kekayaan yang dimiliki negeri kita sesungguhnya bisa memberi kemakmuran kepada bangsa ini, namun ditangan para pemimpin negara yang miskin jiwa, sebanyak apapun sumber kekayaan alam kita tak akan bisa mencukupi kesejahteraan rakyat Nuswantoro. Sesuai pesan Bapak pendiri bangsa Ir. Soekarno bahwa negeri yang kita dirikan ini haruslah negeri gotong-royong yang dilaksanakan dengan semangat pengabdian dan tanggung jawab oleh setiap satu-satunya rakyat Indonesia. Oleh karenya bila kita sebagai generasi penerusnya mau menjalankan pesan Bapak pendiri bangsa tersebut dengan kebersamaan yang utuh maka kesejahteraan hidup dalam berbangsa dan bernegara yakin wajib dan pasti akan terwujud diseluruh penjuru negeri kita tercinta, Indonesia Raya. ((Pesan penulis khusus untuk TVONE dan Metro TV agar supaya saudara segera menghentikan penyiaran-penyiaran yang tidak berimbang dan berbau adu domba, hal ini jauh-jauh hari sudah diingatkan oleh Bpk. Presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono, namun penulis melihat sampai hari ini saudara tidak memperhatikan peringatan itu, perlu saudara ketahui bahwa hal itu semua akan dapat menimbulkan konflik di tengah masyarakat kita, dan selanjutnya ke depan akan membawa negeri ini dalam kekacauan yang luar biasa, hentikanlah saudara-saudaraku!!))

      gentho said:
      November 22, 2014 pukul 9:40 am

      Menawi dipun keparengaken, dalem badhe ndherek “urun rembug”…
      Saat ini bangsa kita membutuhkan kemauan. Kemauan untuk mengerti, memahami dan berperilaku benar. Demikian pula pada saat mengartikan “ramalan”, jangan sampai menunjuk subyek-subyek ataupun kelompok-kelompok tertentu karena itu masih bersifat asumsi. Kelak suatu saat biarlah anak cucu kita yang akan menyimpulkan dari sejarah yang kita ukir saat ini.
      Ramalan apapun jika dan hanya jika dipahami dan diambil sisi positifnya akanlah baik juga hasil dan faedahnya.
      Dari kitab-kitab orang suci dan agama-agama sekalipun mengenali dan meng-amin-i ramalan dengan sudut pandang positif. Seperti sudah banyak pula saudara-saudara kita ungkap di atas, iya atau tidak, benar atau salah bukanlah cara yang tepat untuk menanggapi dan menyikapi ramalan. Layaknya orang akan menyeberang jalan (biarpun sudah di jalur yang seharusnya), alangkah baik dan bijak jika melihat terlebih dahulu ke kiri dan ke kanan.

      Cekap semanten atur dalem, nyuwun panapunten sedaya lepat.

      Matur sembah nuwun…

        oedi responded:
        November 29, 2014 pukul 3:38 am

        Wah terimakasih atas kunjungan, dukungan dan komentarnya mas, semoga bermanfaat..🙂
        Benar sekali, janganlah kita anti terhadap ramalan atau nubuwat, karena lebih baik melihatnya dari sudut pandang positif dan niat untuk mengambil pelajaran dan pengingat diri kita… Apapun itu jika dilakukan dengan kejernihan hati dan pikiran akan membawa manfaat yang berlimpah.. Teruslah bersikap kritis namun jangan lupa untuk lebih dewasa dalam bersikap dan menilai tentang sesuatu hal.. Jangan terlalu mudah menyalah-nyalahkan dan memberi label sesat dan kafir, karena itu akan lebih menyelamatkan diri sendiri..🙂

    jalak said:
    November 25, 2014 pukul 1:03 am

    sangat setuju sekali dgn artikel mas edi…dan benar adanya,lintang kemukus sdh keluar.tanda” persiapan pergerakan sdh di mulai
    bukanya musrik ato apa,smua perubahan untuk smua umat n tidak untuk satu golongan
    yg pasti demi kesejahteraan smua umat terutama rakyat nusantara.
    untuk mencari jwban silahkan berkunjung ke situs” peninggalan kerajaan yg masih ada.
    krn saya mendapatkan jwbnya dri stu jg..antara trowulan sama kediri
    silahkan mendapatkan apa yg menjadi tanda tanya dan jawaban yg sekian lama menanti..
    ingat jaman nabi nuh…mana mungkin di padang pasir ada banjir(di jaman itu panjenengan” saya yakin gak bakalan percaya klo bakalan ada banjir).keadaan umat saat itu hampir sama dgn sekarang yg sama bejatnya.
    akan tetapi nabi nuh di utus membuat perahu untuk menyelamatkan umatnya yg percaya akan kekuasaan yg maha pencipta alam.
    allahualam…stelah perahu selesai di buat,maka para pengikutnya di sarankan masuk ke dlm perahu dan hewan” di ikut sertakan masuk ke dlm perahu.
    apa yg terjadi…????hujan lebat dan banjir yg menghanyutkan smua umat nabi nuh yg keblinger dan yg pasti kata” ampun,saya percaya,tobat sdh tidak berlaku lagi.
    skrg saya bertanya kepada panjenengan ” apa yg panjenengan lakukan kalau PC/komputer panjenegan penuh dgn firus??? scan,format ulang ato jual beli yg baru???jwban ada di hati panjenengan smua
    smoga bermanfaat n mohon maaf bila ada kata” saya yg kurang benrkenan di hati pembaca sekalian

      oedi responded:
      November 29, 2014 pukul 3:48 am

      Terimaskasih mas atas kunjungan, dukungan dan komentarnya, semoga bermanfaat..🙂
      Benar mas, apa yang sekarang sedang terjadi bahkan di seluruh dunia adalah perulangan dari kesalahan yang pernah dilakukan oleh kaum-kaum yang dulu telah di musnahkan… Mereka dan yang ada sekarang ini pun sering menyepelekan peringatan alam bahkan menolak mentah-mentah peringatan dan nasehat dari mereka yang menginginkan kebaikan.. Hasilnya ya terjadilah bencana yang sangat perih.. Kita tunggu saja, bahwa sejarah akan terulang kembali – sementara tanda-tandanya sudah semakin jelas terlihat di sekitar kita, karena zaman akan berganti yang baru… Bumi akan di format ulang agar kehidupan yang ada di dalamnya kembali normal dan bisa menciptakan hakekat kehidupan yang sejati bagi semua makhluk…🙂

    ngatman tok said:
    Desember 2, 2014 pukul 12:03 pm

    Sesuai dengan Al-Quran dan Al-Hadist….

      oedi responded:
      Desember 10, 2014 pukul 6:43 am

      Syukurlah kalau begitu menurut Anda, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    surajianto said:
    Februari 14, 2015 pukul 10:09 pm

    Matur suwun mas oedi…dengan tulisanya disini..semoga kita semua setidaknya bisa tau tentang ramalan leluhur kita..agar kita bisa ada batas batas pengati ati atau bisa waspada..dengan sedikit peringatan yang diberikan leluhur kita..untuk kehidupan yang sekarang..semoga bisa berman faat..amin!!!monggo di pun lanjut …marur suhwuuunnn.

      oedi responded:
      Februari 22, 2015 pukul 7:34 am

      Iya sama2lah mas, terimakasih juga karena sudah berkunjung… semoga bermanfaat…🙂
      Ya, sudah waktunya bangsa ini kembali ke jati dirina yang sesungguhnya, salah satunya dengan gemar mengenali kembali pesan, falsafah dan warisan dari leluhur… Semua itu pasti akan bermanfaat dan bahkan menjadi tonggak awal kebangkitan bangsa Nusantara ini.. namun jika tidak, maka bersiaplah untuk menjadi bangsa yang kalah lagi dan tetap menjadi budak bangsa lainnya..

    ach. wawan said:
    April 8, 2015 pukul 1:53 pm

    Jangan heran bila prabu sri jaya baya menuliskan ramalan seperti di atas karena saya pernah dengar dari seorang teman bahwasannya memang prabu jaya baya mempunyai banyak kelebihan diantara salah satunya bisa menembus waktu. allahu alam hanya hanya tuhan yang tahu

      oedi responded:
      April 15, 2015 pukul 1:57 pm

      Hmm.. banyak hal yang luarbiasa yang pernah di miliki dan di lakukan oleh leluhur kita di masa lalu.. sayang tidak banyak, atau bahkan tidak ada lagi yang meneruskannya sekarang, semua karena tradisi dan budaya yang ada justru di singkirkan dari kehidupan masyarakat sehari.. sedikit-sedikit syirik, kafir dan sesat katanya.. Tapi lihatlah nanti, tidak akan lama lagi, apa yang dulu pernah ada di masa kehidupan leluhur kita dan apa yang sekarang hanya dianggap mitos, dongeng, dan legenda akan muncul di hadapan kita… orang-orang hanya akan terpana tampa bisa mengelaknya..🙂
      Okey mas Wawan, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    ach. wawan said:
    April 8, 2015 pukul 1:54 pm

    Piece

    Baron said:
    Mei 21, 2015 pukul 8:39 am

    Wow….. lengkap tenan ulasane mas oedi,… matur nuwon seratane jan jos. saya salah satu dari sekian orang yg suka spritual namun blom ngerti apa2. aku asli gunungkidul/jogja mas. kalau dari sekian pembaca atau mungkin penulis boleh membagi sedikit gambaran “makna sabda raja” itu nanti gimana? trus dr beberapa artikel lain juga saya baca ini berhubungan dengan penguasa ratu kidul dan mitos lain. ini saya mohon maap dulu bagi para pembaca yg imannya sudah top jika rada mengganggu, tapi ini sedikit penting buat saya?

    matur nuwon sak derenge.

      oedi responded:
      Mei 22, 2015 pukul 7:21 am

      Ya begitulah mas, saya cuma berusaha memberikan sedikit info utk poro sedulur, sebatas kemampuan saya yang tentunya banyak kekurangannya.. Syukurlah nek sampeyan suka dengan tulisan ini, semoga bermanfaat..🙂
      Hmmm… tentang Sabda Tama dan Sabda Rojo dari Sultan yang baru-baru ini terjadi, menurut saya sangat berkaitan erat dengan apa yang tidak lama lagi bakal terjadi khususnya di Nusantara ini dan umumnya di dunia nanti, dan tentunya ini sangat berkaitan pula dengan apa yang telah di ramalkan oleh leluhur kita dulu, salah satunya oleh Prabo Joyoboyo, Prabu Siliwangi dan Ronggo Warsito.. Akan ada sesuatu yang menggemparkan dunia, dan tanda-tandanya sudah sangat nyata dan jelas di hadapan kita sekarang..
      Satu hal lagi, sesungguhnya orang Jawa yg sejati itu tidak pernah terlepas kaitannya dengan para leluhur, terutama dalam urusan kebatinannya.. karena dengan begitu pula, maka mereka – yang telah waskita – akan mendapat petunjuk dan pencerahan hidup.. Bahkan dalam kondisi tertentu, orang Jawa sejati tetap bisa berkomunikasi dengan leluhurnya meski mereka sudah tidak hidup di alam nyata dunia ini.. Dan apa yg dilakukan oleh Sultan tentu ada kaitan erat dengan bimbingan dari para leluhur, makanya Sultan pun mengatakan bahwa apa yg ia lakukan hanya atas dawuh para leluhurnya yg datang dari Mataram sampai Majapahit…
      Persiapkan saja diri kita sebaik mungkin, palajari dan lakoni apa yg sudah menjadi warisan turun temurun dari para leluhur kita.. karena dengan begitu kita punya harapan bisa selamat saat pergantian zaman terjadi nanti..🙂

    […] tulisan yang terkait dengan tulisan Avatar di atas: * Sang Avatar Nusantara * Ramalan Jayabaya tentang Nusantara * Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang; kehancuran […]

    Sang Avatar Nusantara « Perjalanan Cinta said:
    Juni 25, 2015 pukul 6:45 am

    […] dengan Avatar di atas: * Avatar dalam berbagai agama (Hindu, Buddha, Zoroaster, Nasrani, Islam) * Ramalan Jayabaya tentang Nusantara * Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang: kehancuran […]

    […] tulisan yang terkait dengan tulisan Avatar di atas: * Sang Avatar Nusantara * Ramalan Jayabaya tentang Nusantara * Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang; kehancuran […]

    Sang Avatar Nusantara | Bayt al-Hikmah Institute said:
    Juni 27, 2015 pukul 12:37 pm

    […] dengan Avatar di atas: * Avatar dalam berbagai agama (Hindu, Buddha, Zoroaster, Nasrani, Islam) * Ramalan Jayabaya tentang Nusantara * Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang: kehancuran […]

    […] Ramalan Jayabaya (Jongko Joyoboyo) Tentang Nusantara […]

    danu said:
    Juli 9, 2015 pukul 9:52 am

    Aku percaya mas karena raja jaya baya pemegang prtama tauhid dipulau jawa jauh sebelum syekh siti jenar kalau tidak salah sih. Semoga makin bermanfaat bagi seluruh masyarakat yah mas🙂

    Awan said:
    September 11, 2015 pukul 5:23 pm

    Terima kasih mas atas informasi yang telah dibagikan
    Semua yang ada di bumi karena kuasa sang maha pencipta
    seberapa peka kita untuk melihat kekuasaan-kekuasaan sang maha pencipta
    untuk mengupgrade diri menjadi manusia lebih baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

    matur sembah nuwun

    ibu ani said:
    Oktober 30, 2015 pukul 1:49 am

    terima kasih ini wawasan baru bagi sy. sy tdk punya banyak pengetahuan tentang ramalan ramalan tsb. tapi sy punya keyakinan tentang isi dan kmeberadaannya. bukti sdh banyak bila kita bisa memaknainya. semoga akan menggugurkan semua bentuk bentuk kesombongan kita dan membawa pada fitrah kemanusiaan kita. agar kebenaran dan keadilan akan menyejahterakan umat manusia. agar negara kita makmur dan bermartabat tinggi. semoga generasi muda kita terjaga dalam kesadarannya utk memulyakan orang tua, bangsa dan negara ini. ……. sekedar mimpi sy semoga bisa menjadi nyata

      oedi responded:
      Oktober 30, 2015 pukul 8:52 am

      Terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Semoga saja Ibu Ani, semoga kedepannya nanti bangsa ini bisa mencapai kejayaan dan kegemilangan peradabannya.. meskipun harus melalui kehancurannya terlebih dulu, sebagaimana nasib hancurnya satu kerajaan/negara demi bangkitnya kerajaan/negara yang baru di masa lalu, yang lebih hebat dan makmur, semoga kita atau anak cucu kita nanti bisa menikmati hidup dan kehidupan yang lebih baik dari masa kita sekarang..
      Dan semoga tulisan ini tetap menjadi bahan renungan dan arahan tentang apa yg akan di lakukan kedepan, khususnya generasi muda bangsa ini agar tidak mengulangi kesalahan yg pernah di lakukan oleh generasi sebelumnya..

    Nurul Maghfiroh said:
    Desember 31, 2015 pukul 8:40 am

    awalnya masih gak ngerti yang mana yang disebut2 ramalan joyoboyo itu ya…. setelah baca blog ini saya jadi paham, pantas banyak masyarakat yang meyakininya karena apa yang ditulis mirip dengan tanda2 yang dikisahkan dalam al-quran dan hadist dan juga sesuai dengan kondisi dan situasi jaman skrg ini, selain itu asal mula kitab joyoboyo pun dari jamannya sunan giri ada baiknya diambil yang positif dan kita lebih mempersiapkan diri lagi……

    alfanov said:
    Januari 3, 2016 pukul 8:53 am

    luar biasa….terimakasih banyak

    NUROKHMAN said:
    Januari 22, 2016 pukul 4:18 am

    Tadir itu jika sesuatu telah terjadi, jika belum terjadi kita juga bisa menentukan dan mengusahaka takdir, sesuai firman Allah : tidak berubah nasib suatu kaum tanpa kaum itu merubah nasibnya.
    Wallahu a’lam bissawab.

      oedi responded:
      Januari 31, 2016 pukul 2:26 am

      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Hmmm.. menurut pemahaman saya mas, takdir itu tidak sama dengan nasib. Takdir itu tidak bisa diubah, sementara nasib bisa jika di usahakan. Nah di dalam ayat yang mas sebutkan di atas itu adalah tentang nasib, bukan takdir. Karena itulah bisa diubah jika di usahakan.
      Contoh takdir adalah kelahiran dan kematian atau jenis kelamin atau jenis ras, sedangkan contoh nasib adalah kaya dan miskin atau cerdas dan bodoh atau maju dan primitif. Kelahiran dan kematian atau jenis kelamin atau jenis ras tidak bisa diubah oleh siapapun, sedangkan seperti kaya atau miskin, maka seseorang bisa menentukannya. Kalau ingin kaya ya seseorang harus berusaha, kalau tidak ingin kaya ya dia cukup bermalas-masalan saja. Artinya, takdir tidak bisa diubah karena sudah dipatenkan oleh Tuhan bagi setiap hamba-Nya, sementara nasib adalah pilihan yang diberikan oleh Tuhan kepada hamba-Nya, mana yang akan ia pilih. Dan setiap pilihan akan mengandung konsekuensinya masing-masing.

    yudi said:
    Januari 23, 2016 pukul 4:44 am

    satu persatu wasiat sudah mulai terbukti kebenarannya, percaya tidak percaya ga pa2 hanya quran dan hadits yang menjadi pegangan dan wajib di percaya kebenarannya oleh seluruh umat manusia. “MARI KITA BACA SHOLAWAT SUPAYA SELAMAT DUNIA DAN AKHIRAT AMIN….”

      oedi responded:
      Januari 31, 2016 pukul 2:14 am

      Bagi yang terbuka mata hatinya, maka ia akan merasakan bahwa satu persatu ramalan para leluhur telah terbukti benar, tinggal beberapa nya saja yang masih menunggu waktunya.. Mari kita persiapkan diri sebaik mungkin, semoga saja kita bisa selamat saat revolusi terbesar itu terjadi..🙂

    Aditya said:
    Februari 6, 2016 pukul 11:33 pm

    Ok oke wae

      oedi responded:
      Februari 8, 2016 pukul 1:21 am

      Seeplah.. makasih atas kunjungan dan dukungannya.. moga bermanfaat..🙂

    hafidz said:
    Maret 6, 2016 pukul 11:31 am

    Aku g tau ini benar apa salah tp y aku tau ini menambah wawasan keilmuan yang bermanfaat. Smoga kita dan semuanya diberi khusnhl khotimah amiiiiin

      oedi responded:
      Maret 7, 2016 pukul 9:50 am

      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Saya juga gak tau benar atw salahnya mas, karena yg bisa tau hanya Tuhan.. Tapi menurut yg saya pantau dan rasakan hampir semua yg disebutkan dalam jongko terbukti benar, tinggal bbrp yg menunggu utk dibuktikan..
      Mari memperbanyak wawasan, apapun itu, trus di seleksi mana yg menguntungkan diri.. Dengan begitu kita pun akan makin bijak dlm hidup ini..
      Aamiin.. Moga demikian..🙂

    wordwidewrite said:
    Maret 14, 2016 pukul 4:46 pm

    Coba kita bandingkan dengan https://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/uga-wangsit-siliwangi/ atau aslinya https://nurahmad.wordpress.com/wasiat-nusantara/uga-wangsit-siliwangi-sunda/ budaya yang hampir sama karena berdekatan, saya sependapat sekali dengan KH Fahmi Basya tentang Borobudur adalah sisa peninggalan jaman nabi Sulaiman, Negri Saba dan Pajajaran menjadi negri yang sehancur-hancurnya, Boleh dikatakan Prabu Siliwangi yang saat itu belum masuk periode Islam, melakukan moksa ke selatan, dan sisa kerajaan yang terbagi ke utara barat dan timur diteruskan oleh keturunan dewan 9 wali.

      oedi responded:
      Maret 15, 2016 pukul 10:43 am

      Terimakasih atas kunjungan, dukungan dan infonya, semoga bermanfaat..🙂

    wordwidewrite said:
    Maret 16, 2016 pukul 8:02 am

    Asmarandana no 12 ttg gunung padang, sudah jelas puing2 jaman batu ditemukan, disekitar gunung padang cianjur jawa barat,
    Sinom no 6 pajajaran disebutkan, sementara saya tidak berpatokan dulu sama tahun,
    Mengenai pajajaran yang hilang dan rajanya memisahkan diri dalam kawih ini, terjadi perang saudara, sementara borobudur simpan dulu, karena cerita tak diungkap dalam kawih2, mungkin sudah tertimbum dahulu,
    Sebelum lenyapnya pajajaran di negri sunda, ada kawih dari rajanya Prabu Siliwangi, isinya adalah berupa ramalan kekuasaan kerajaan selanjutnya di tanah jawa. Sampai penguasa jaman sekarang,

    Disini dikatakan pemimpinnya diberi gelar ratu adil, dijelaskan sosok atau karakter itu banyak yang menanti, tapi tetap menunggu masanya Kawih pupuh terakhir adalah masa kebangkitan, tapi ada juga yang mencoba mencari bahkan yang mencoba memerankannya

    Jika saya baca bolak-balik dari bahasa asli sunda atau bahasa Indonesia, dan mencoba makna langsung, aslinya saya orang sunda,

    Dari bait awal, pesan yang tersingkap adalah sang prabu meninggalkan sifat diniawi, dan ajaran berupa puasa, makna yang tersirat dari kesengsaraan dan orang tak akan kuat mengikutinya.
    Ilmu akan terungkap dengan dasar (sajadah) kata lain adalah ibadah
    Pemuda berjanggut di banyak ditangkap, karena disebut raja yang berkuasa dikiasi monyet, dan semuanya dikuasai monyet, arti monyet di kawih itu adalah orang serakah dan kaki tangan bamgsa lain
    Silih bergantinya jaman sampai gagk bertengger di tunggul, artinya itu burung garuda sudah tidak bermakna lagi.
    Kesimpulannya adalah pemimpin disini bukan untuk kekuasaan lagi dalam bentuk kerajaan atau negara, kepeminpinnan disini adalah jalan yang lurus menuju keagungan Tuhan, Perbekalan nya Ilmu kebajikan dan taat pada sang pencipta,
    Singkat kata Adalah Kiamat, sehingga Surgalah kerajaan kemakmuraannya,

    Bait terakhir disebut gunung gede meletus diikuti 7 gunung lainnya. Dipulau jawa 8 gunung meletus berurutan apa yang terjadi? Coba renungkan saudaraku

      oedi responded:
      Maret 21, 2016 pukul 5:09 am

      Ikut menyimak..🙂
      Terimakasih karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat..🙂

    RM Bambang sasongko BSc said:
    April 24, 2016 pukul 4:33 pm

    Sungguh dahsat bila yg di ramalkan itu sungguh terjadi. Marilah kita intropeksi diri dan berbuat baik pada sesama kita dan untuk negara dan bangsa. Mari bergandengan tangan untuk saling asah asih dan asuh, utk mawujutkan negara dan bangsa yg adil dan makmur. Segeralah datang RATU ADIL yg akn menyejahterakan rakyat yg adilmakmur gamah ripah loh jinawi. Selamat datang ratu adil, segeralah duduk di tahta yang sudah di sediakan. Salam dan hormat saya.

    Putra Milan said:
    September 19, 2016 pukul 7:03 pm

    yang perlu di ingat bagaimana kita bisa dekat dgn yang nggelar jagad…
    joyoboyo bisa begini hanya beliau dekat dengan yang nggelar jagad…

      oedi responded:
      September 20, 2016 pukul 4:38 am

      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Setuju mas Putra, itulah yang terpenting dalam hidup ini.. berusaha untuk mendekat dan kembali kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s