Pesan Bijak Leluhur Untuk Kita Sekarang; Kehancuran NKRI

Posted on Updated on

Pesan leluhur bijakWahai saudaraku. Apakah engkau ingin tahu apa yang akan terjadi di Nusantara nanti? Apakah dirimu ingin kuberi tahu tentang sesuatu yang akan terjadi dalam waktu dekat ini, di tanah pertiwi kita? Karena yakinlah, tidak akan mungkin kejahiliyahan yang terjadi sekarang ini terus berjaya selamanya. Tidak akan mungkin Tuhan membiarkan orang-orang yang kufur di negeri ini tetap hidup dengan melakukan banyak kerusakan. Bahkan bangsa ini pun akan hancur, musnah dan hanya meninggalkan sejarah kelam, jika saja kerusakan yang ada sekarang ini tetap di pelihara oleh para pemimpin dari negeri ini.

Untuk itu saudaraku. Kisah kejayaan masa lalu akan terulang kembali dengan nyata. Sedangkan di Nusantara, maka semuanya akan dimulai dan dipusatkan. Engkau akan menyaksikan, bahwa yang legenda akan kembali menjadi fakta dan yang fakta akan membenarkan mitos yang ada. Untuk itu bersiaplah, karena sebelum itu terjadi maka ada bencana dahsyat yang datang. Yang akan menyapu seluruh permukaan Bumi dengan banyak kerusakan. Dan bencana besar yang kumaksudkan itu bukan hanya sekedar fenomena alam biasa, tetapi di tambah lagi dengan perang dunia ke III.

Namun sayang, di akhir zaman ini, tidak banyak lagi yang masih menaruh harapan itu, terlebih meyakini pesan dan peringatan dari para leluhur kita yang bijak. Dan dengan ilmu yang sedikit, mereka lantas begitu mudahnya mengatakan bahwa itu semua hanyalah mitos dan dongeng belaka. Semuanya mustahil. Padahal banyak sekali dari keajaiban yang hingga kini tetap tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan ilmiah dan teknologi moderen, padahal nenek moyang kita sudah menjelaskannya sejak dulu. Karena yakinlah, bahwa azab dan laknatullah itu akan tetap ada, selama ada kejahiliyahan di dalam kehidupan manusia.

Untuk itu, agar lebih jelas, berikut ini ku sampaikan di antara pesan leluhur kita dulu, yang berasal dari Prabu Jayabaya (Raja kerajaan Kediri) dan Prabu Siliwangi (Raja kerajaan Pajajaran):

”Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri)
Artinya: ”Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti zaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri)

”Nakoda melu wasesa, Kaduk bandha sugih wani, Sarjana sirep sadaya, Wong cilik kawelas asih, Mah omah bosah-basih, Katarajang marga agung, Panji loro dyan sirna, Nuli Rara ngangsu sami, Randha loro nututi pijer tetukar.”
Artinya: ”Nakhoda ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (orang pandai) tidak berdaya. Rakyat kecil sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu, janda dua kali dibawah bayang-bayang”

“Selet-selete yen mbesuk ngancik tutup ing tahun sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu bakal ana dewa ngejawantah apeng awak manungsa apa surya padha bethara Kresna watak Baladewa agegaman trisula wedha jinejer wolak-waliking zaman wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar utang, nyawa bayar nyawa utang wirang nyaur wirang” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri),
Artinya: “Selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu) akan ada dewa tampil berbadan manusia, berparas seperti Batara Kresna, berwatak seperti Baladewa, bersenjata trisula wedha. Tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar hutang, nyawa bayar nyawa, malu dibayar malu” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri)

“Saking marmaning Hyang Sukma, jaman Kolobendhu sirna sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjaniro, karaton ing tanah jawa mamalaning bumi sirna, sirep dur angkara murka” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri)
Artinya: “Atas kehendak Tuhan, zaman Kolobendu hilang berganti zaman yang baru, kalian akan teratur dalam kemulian dan kemakmuran, kerajaan di tanah jawa hilang dari muka bumi, sirnalah angkara murka” (Prabu Joyoboyo, Raja Kediri)

Nusantara jaya

”Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan”
Artinya: ”Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu: tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah negara akan pecah, pecah oleh kerbau bule (bangsa Eropa; kolonialisme), yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. Semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan”

“Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!”
Artinya: “Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet (kapitalisme). Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa zaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah! (saat sekarang)”

Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon”
Artinya: “Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet (orang serakah dan kapitalis)! keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit, sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. Mereka tidak sadar bahwa zaman sudah berganti cerita lagi”

Engkau masih kurang jelas? Baiklah, kuberikan termejahan lengkap dalam bahasa Indonesia, yang diambil dari Unggah Wangsit Prabu Siliwangi, yaitu:

“Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”

Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!

Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!

Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya.

Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!

Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah! Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian.

Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong dan bahkan berlebihan kalau bicara.

Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai zaman yang satu datang lagi satu zaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap zaman membuat sejarah. Setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.

Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah negara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. Semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa, sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.

Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet (Kapitalisme). Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa zaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!

Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet (orang serakah dan kapitalis)! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit, sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. Mereka tidak sadar bahwa zaman sudah berganti cerita lagi.

Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. Seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi… ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.

Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi zaman. Ganti zaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.

Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin (Indonesia). Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah.

Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. Memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.

Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.

Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule (bangsa Eropa; Belanda, Inggris, Portugis), mereka tidak sadar zaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan. Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara.

Yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa. Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné! Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati.

Dengarkan! zaman akan berganti lagi, tapi nanti, setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala. Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!”

Nusantara jaya 2

Selain itu, untuk melengkapinya, berikut ini kusampaikan pula pesan yang berasal dari Serat Kalatidha; karya R.Ng. Ronggowarsito (Pujangga Mataram Islam) yang tertuang dalam Serat Centhini jilid IV (karya Susuhunan Pakubuwono V) pada Pupuh 257 dan 258:

“Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata”
Artinya: “Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati”

“Keh wahyuning eblislanat kang tamurun, apangling kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon kang sirna wiwirangira”
Artinya: Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu

“Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata, akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa”
Artinya: “Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin beraneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya”

“Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila dadra andadi, akeh maling malandang marang ing marga”
Artinya: “Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat, kejahatan/perampokan dan pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan”

“Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret warsa”
Artinya: “Alampun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi”

“Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun tentreming wardaya”
Artinya: “Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram di hati”

Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar silastuti titi tata”
Artinya: “Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan”

“Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban rubeda”
Artinya: “Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah/kesulitan.

“Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak-cakrak”
Artinya: “Para pemimpin mengatakan seolah-olah bahwa semuanya berjalan dengan baik, padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek”

“Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda hardaning wong sanagara”
Artinya: “Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu (zaman sekarang), makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dan berbeda-beda tingkah laku/pendapat orang se-negara”.

“Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang mangkono yen niteni lamampahan”
Artinya: “Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana (zaman sekarang), begitu agar kejadiannya/yang akan terjadi bisa jadi peringatan”

“Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan”
Artinya: “Untuk dibuktikan, akan mengalami zaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan (saat sekarang ini)”

“Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren wekasane”
Artinya: “Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan”

“Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada”
Artinya: “Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur)”

“Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka, sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan memaronira”
Artinya: “Pada saat itu sudah dekat berakhirnya zaman Kaladuka. Hilangnya pemimpin karena sesama teman menjadi musuh diri sendiri”

“Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka”
Artinya: “Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Nusantara menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murka pun mereda”

kota-masa-depan

Bagaimana saudaraku? Lihatlah! Bahwa gambaran singkat tentang kondisi di negeri ini sudah dijelaskan oleh para leluhur kita yang bijak, bahkan sebelum semuanya itu terjadi. Atas rasa cinta mereka kepada kita, maka sejak dulu mereka pun sudah mengingatkan kita untuk waspada dan bersatu ke dalam satu panji, yaitu Nusantara. Tetapi memang bangsa ini masih terlalu egois bahkan senang melupakan sejarah. Terlebih para pemimpinnya kini, mereka masih saja larut dalam kesenangan harta dan tahta belaka. Sehingga apa yang sudah di ramalkan oleh para leluhur kita dulu – tentang kerusahan dan kehancuran – terus saja terbukti hingga kini.

Ingatlah wahai semuanya, ingatlah kembali tentang pesan mulia ini; “Bhinnêka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa: Terpecah belah tapi satu jualah, tiada kerancuan dalam kebenaran” (Kitab Negara kertagama, pupuh 139, bait 5, karya Empu Tantular). Sebab, jika ini di abaikan maka itu pulalah yang menjadi salah satu penyebab mengapa bangsa ini tidak bisa bangkit seperti dulunya. Dan kau jangan pernah berkata dan meyakini bahwa hanya Medang, Sri Wijaya dan Majapahit saja yang pernah jaya di Nusantara ini. Karena justru bila dibandingkan dengan Nusantara di masa lalu (jutaan – milyaran tahun silam), maka ketiga kerajaan ini masih terbilang negara yang kecil. Begitu banyak sejarah yang sudah terjadi, bahkan disaat Nusantara ini masih berbentuk satu daratan, maka begitu banyak peradaban luarbiasa yang pernah ada di tanah pertiwi ini. Bahkan bila di bandingkan dengan sekarang, maka perabadan mereka jauh lebih maju dari kita.

Ya. Jika dirimu memang benar-benar mengetahui sejarah dan arkeologi, tentunya engkau sudah bisa mengetahui begitu luarbiasanya bangsa ini. Satu bangsa yang dahulunya sangat hebat dan berulang kali menjadi pusat peradaban dunia. Mereka sangat disegani, bahkan semua peradaban dunia kini masih tetap dipengaruhi oleh banyak hal yang pernah ada di Nusantara tempo dulu. Begitu pun sosok para pemimpinnya, yang karena kehebatan dan kharismatiknya yang luarbiasa, bahkan hingga di jadikan dewa dan disembah oleh bangsa lain (khususnya di benua Eropa, Afrika dan Amerika).

Tetapi memang, kini kita tidak bisa berkata tentang banyak hal, tentang luarbiasanya nenek moyang kita dulu. Terlebih kita pun sulit menemukan bukti dan sisa-sisa dari kejayan mereka itu. Bahkan kita sendiri pernah dijajah oleh bangsa asing selama ±350 tahun. Sehingga kalau pun sudah banyak bukti sejarah ditemukan, maka semua itu sudah berada di negara mereka; para penjajah. Dan jika masih ada disini, maka pemerintah republik tidak menaruh perhatian yang serius.

Makanya, ada “sesuatu” wahai saudaraku. Ada banyak pihak yang tidak menginginkan bila bangsa ini kembali pada jati dirinya, bangkit dan berjaya seperti dulu. Karena bagi mereka (golongan serakah, kapitalis), jika itu benar terjadi maka kita akan hidup dalam keteraturan dan keadilan. Manusia akan hidup dalam kesejahteraan dan kedamaian. Sehingga menurut mereka, nanti mereka tidak bisa lagi mengeruk kekayaan dari negeri ini. Dan mereka ini (kaum jahiliyah), akan tetap berusaha merusak negeri ini agar tidak bisa bangkit, agar mereka tetap bisa mencengkeram dengan kuat, salah satunya dengan merusak akhlak para pemimpin bangsa kita sekarang.

Untuk itulah semuanya, aku dan dirimu, mari mulai menyingkirkan perbedaan kita. Mari kita kembali bergotong royong dalam membangun negeri tercinta ini. Lakukan apa saja yang bisa kita lakukan di tempat kita, di rumah kita, di kampung kita, yang penting itu semua hanya untuk kemajuan bangsa tercinta ini. Dan jika memang Tuhan menakdirkan bahwa nanti ada bencana yang dahsyat (laknatullah dan perang dunia ke III), maka biarkanlah. Teruslah beserah diri dan mempersiapkan segala kemungkinan yang terburuk sejak saat ini. Tetaplah demikian, karena jika Tuhan mengizinkan, maka kita pun akan bertemu di zaman yang baru dan peradaban yang baru pula, nanti.

Yogyakarta, 11 Desember 2013
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Tulisan yang terkait dengan artikel ini: Ramalan Jayabaya (Jongko Joyoboyo) tentang Nusantara]

42 thoughts on “Pesan Bijak Leluhur Untuk Kita Sekarang; Kehancuran NKRI

    Ismunandar Christanto said:
    Desember 11, 2013 pukul 1:21 pm

    kalau menurut saya hjal tersebut cuma untuk menghibur bangsa/penduduk yg sedang mengalami kesusahan agar cepat bangkit dan menata diri kembali.

      oedi responded:
      Desember 11, 2013 pukul 2:10 pm

      Wah gak ngira sudah langsung ada yang komentar, padahal tulisan ini baru saja saya upload.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya..🙂
      Hmm.. gitu ya pendapat Anda, silahkan saja karena setiap orang pun berhak untuk berpendapat.. gak di larang kok, wong ini negara demokratis.. Tapi saya pun punya pendapat, bahwa ini bukan sekedar hiburan belaka, tetapi sebuah petuah dan wasiat yang hingga kini terus terbukti kebenarannya… karena menurut saya semuanya sudah terbukti benar dan tinggal menunggu apa lagi yang akan terjadi nanti, apakah masih tetap sesuai dengan apa yang sudah para leluhur di atas sampaikan.. Untuk itu, apa saja yang sudah di wasiatkan dan belum terjadi agar secara sadar di jadikan sebagai pengingat dan bahan refleksi untuk kita mempersiapkan diri… Karena bila nanti benar2 terjadi, kita pun sudah siap bahkan bila seandainya harus melewati hal yang terburuk sekalipun..
      Sementara disini saya hanya menyampaikan dan mengingatkan saja kok, percaya atau tidak kembali ke diri masing-masing dan tidak ada paksaaan. Begitu pun benar atas salahnya, ya kita buktikan saja nanti..🙂

      eko said:
      Januari 23, 2016 pukul 8:57 am

      menurut pendapat saya yang terulis bukan semata mata menghibur karana mmemang akan berproses sesuai kehendak illahi, dan ada yang memproses utk itu

      sukartono said:
      April 12, 2016 pukul 4:36 pm

      Percaya atau tidak ,,bumi ini berputar..ada susah ada senang ada sengsara juga ada nikmat,,untuk perubahan pasti ada pengorbanann dan akan timbul kenikmatan ,,allah huakbar

        oedi responded:
        April 13, 2016 pukul 2:11 am

        Saya setuju dengan Mas Sukartono, karena memang demikianlah ketetapan Tuhan bagi kehidupan dunia ini.. Terus berputar/berganti sampai pada masa terakhirnya (kiamat) nanti.. Dan kita sekarang sudah berada dalam masa pergantian dari keburukan menuju pada kebaikan, hanya saja nanti akan ada proses transisi yang sangat menyakitkan bagi seluruh penghuni Bumi. Akan ada perang, kehancuran dan bencana alam yang dahsyat demi memurnikan planet Bumi. Agar nanti bisa ditinggali oleh generasi yang baru yang sebelumnya terpilih untuk membangun peradaban terbaik..🙂

    Sri Nuryati said:
    Desember 11, 2013 pukul 4:48 pm

    Baru tahu yang sebenarnya mas oedi….dulu aku hy bisa tahu kisah ramalan kitab Jaya baya dan Pujangga ki Ronggo Warsito ini dari cerita ayahku saja, tanpa prnh bisa membaca sendiri krn untuk memperoleh buku” itu ku rasa skrng sangat sulit,tapi dengan membaca artikel mas oedi ini aku bisa lebih jelas & gamblang untuk mengetahui apa” yang telah di pesankan oleh para leluhur negeri ini dlm sebuah konsep ramalan yang memang sudah terbukti & benar faktanya,meskipun cuma berupa ramalan/gambaran sebenarnya ini adalah peringatan utk kita(kaum) yang mau berpikir……
    Semoga bagi siapa saja yang telah menbaca tulisan ini bisa menjadikan motivasi/cambuk utk terus lebih meningkatkan keimanan & taqwa kita pada Allah swt sehingga sebuah tatanan NKRI yang gemah ripah lohjinawe yang baru akan segera terwujud….. aamiin allahumma aamiin. di tunggu linknya mas oedi…..makasih sebelumnya.salam santun ukhuah🙂🙂

      oedi responded:
      Desember 12, 2013 pukul 5:15 am

      Iya mbak sama2.. makasih juga karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat..🙂
      Wah beruntung banget mbak, karena punya ayah yang tahu tentang ramalan ini dan mau pula menceritakannya.. Saya pun sama mbak, pada awalnya saya mendapatkan pesan bijak leluhur kita ini dari tutur kata yang berasal dari kakek, nenek dan kedua orangtua ku, bahkan sejak masih kecil dulu.. mereka semuanya sering sekali mengingatkan bahwa nanti bangsa ini akan semakin rusak, khususnya akhlak, bahkan suatu saat nanti akan mengalami masa kehancuran yang di tandai dengan banyaknya bencana alam dan “goro-goro/perang”… tapi selanjutnya, setelah itu terjadi maka akan ada pula masa kebangkitan, yang akan menjadikan bangsa ini lebih berjaya dan lebih hebat dari sebelumnya… begitulah secara singkat apa yg keluarga saya pernah sampaikan sejak saya masih anak-anak dulu, yang kata mereka sudah diwariskan pula dari sejak buyut2 mereka dulu…🙂
      Nah, setelah hijrah ke Jogja barulah saya mendapatkan pesan yang lebih lengkap tentang wasiat bijak tersebut, dan tidak hanya dari tutur kata melainkan secara tulisan, bahkan di antaranya masih dalam bahasa aslinya.. sehingga hal ini semakin menambah keyakinan diri saya bahwa bangsa kita ini memang luarbiasa dan sebenarnya lebih unggul dari bangsa lain.. mengapa demikian? karena ternyata mereka terkadang bahkan bisa melihat masa depan… Semakin saya menggali sejarah ttg bangsa ini, semakin mata saya terbuka lebar bahwa dulunya bangsa ini pernah memimpin dunia dan di puja-puja oleh bangsa lain di seluruh dunia… di antara mereka pun sering dijadikan guru untuk berbagai disiplin ilmu (mulai dari ilmiah hingga batiniah/kesaktian), bahkan dianggap dewa lalu di sembah-sembah.. Sehingga saya pun terus merasa takzim dan menaruh hormat yang sangat tinggi kepada mereka, betapa mereka dulunya pernah mencapai peradaban yang luarbiasa hebatnya.. bahkan kini saya pun masih terus berharap bahwa bangsa kita sekarang bisa mengulanginya lagi.. memang berat dan tidak mudah mewujudkannya, terlebih bangsa ini sudah kehilangan jati dirinya sendiri, tidak lagi menghargai warisan yang ditinggalkan oleh para leluhur dulu; misalnya kanuragan, olah batin, tirakat, puasa bahkan bertapa…. tetapi jika kita mau dan berusaha, tentu Tuhan akan membukakan jalannya dan bangsa ini akan bangkit seperti dulu…🙂
      Ya semoga bangsa ini segera sadar dan mau bangkit mengejar ketertinggalannya selama ini, kembali kepada jati dirinya sendiri, karena hanya dengan begitulah bangsa ini pun akan maju dan bisa memimpin dunia sekali lagi… SEMANGAT!🙂

    Amin Sodick said:
    Desember 12, 2013 pukul 10:55 am

    Matur nuwun njih mas artikel le.

    Dados nambah ngelmu.😀

      oedi responded:
      Desember 13, 2013 pukul 4:03 am

      Injih mas Sodick sami2, semugo bermanfaat..🙂

    new be said:
    Desember 23, 2013 pukul 5:17 pm

    kalo lihat dari wasiat leluhur kita dan wasiat nabi Muhammad SAW banyak persamaannya,berarti itu bukan cerita atau khayalan saja….tapi keyakinan yang nyata…..
    perbanyak kang.
    insya allah dukung terus

      oedi responded:
      Desember 24, 2013 pukul 4:47 am

      Tentu, karena untuk bisa mendapatkannya maka beliau-beliau dulu harus melakukan jalan hidup dan olah batin yang tidak mudah, bahkan jika perlu harus mati raga dalam waktu yang cukup lama.. hingga pada akhirnya mereka pun menjadi orang yang linuwih (sakti dan bisa melihat masa depan), waskita (bijaksana dalam ucapan dan tindakan) dan mau meninggalkan pesan buat kita sekarang… Itu semua karena sebelumnya mereka telah mendapatkan petunjuk gaib yang hingga kini terus terbukti kebenarannya.. tinggal beberapanya saja yg belum terbukti karena memang belum waktunya saja..
      Siap, semoga saja ada yang lainnya dalam waktu dekat… bahannya sudah ada, tetapi memang belum saya upload di blog ini.. belum kepengen aja hehe…🙂
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat dan lebih banyak lagi orang seperti sampeyan ini, yang tetap menghargai warisan para leluhur, karena dengan begitu bangsa ini bisa kembali ke jati dirinya sendiri dan bangkit untuk memimpin dunia sekali lagi…🙂

    Redy Suhendar said:
    Desember 24, 2013 pukul 12:55 pm

    Apapun itu semua… memang BENAR apa adanya… semua petuah dari yang disebut leluhur, nabi2 berikut yang menerima pesan itu…sejak awal sampai saat ini semuanya itu sama sumbernya.. siapa yang MEMBISIKKAN pesan lewat hati mereka ?

      oedi responded:
      Desember 24, 2013 pukul 1:47 pm

      Tentua hanya Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa, yang bisa membolak-balikkan hati setiap makhluk-Nya dan memberikan petunjuk – lewat bisikan gaib maupn wahyu – tentang beberapa hal yang penting bagi kehidupan mereka hingga anak cucunya kelak.. Sehingga kita yang hidup setelahnya silahkan untuk mengikuti bagi yang percaya dan meyakini tetapi tolong menghargai bagi yang tidak percaya.. Setiap orang punya hak yang sama untuk berpendapat dan meyakini tentang suatu hal.. karena setiap manusia punya hak asasinya sendiri-sendiri..
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    […] RSS ← Pesan Bijak Leluhur Untuk Kita Sekarang; Kehancuran NKRI […]

    fathima alkenza said:
    Januari 18, 2014 pukul 4:36 pm

    Keren, sy sharring dikit ya mas,mhn dluruskan.kbetulan kmrn sy mbaca surat jin,nyambung dgn ramalan dari prabu siliwangi dkk y notabene noni,kyakny mrk dpt wangsit dari jin kali ya mas.tp intinya akan ada ymbawa perubahan yaitu anak gembala ybersih hati mendekati manusia bjenggot.sy yakini bahwa itu kebangkitan islam d indonesia,klo liat blog org malaysia,mrk yakin islam akan bangkit d malaysia baru d indonesia.
    Pokokny keren mas,jzkmlh khoir.
    Sy izin bc artikel lainnya ya mas oedie

      oedi responded:
      Januari 19, 2014 pukul 8:46 am

      Oh silahkan saja mbak, gak perlu minta izin karena dengan senang hati saya mempersilahkannya.. justru sayalah yang harusnya berterimakasih, karena mbak Fathima masih mau berkunjung di blog saya ini, semoga tetap bermanfaat..🙂
      Hmm.. menurut saya mereka tidak mendapatkannya dari jin, karena dengan kesaktian yang dimiliki saat itu mereka justru bisa mengandalikan/mengatur bangsa jin untuk menjadi pasukannya.. sehingga dalam hal ini mereka tetap mendapatkannya dari Tuhan, dimana Dia bisa memberikan pengetahuan kepada makhluk-Nya dengan berbagai cara yang luarbiasa… jadi intinya petunjuk yg mereka dapatkan itu berbentuk ilham dari Tuhan yang mereka dapatkan setelah melakukan olah batin yang tidak mudah.
      Tentang Al-Qur`an, kita tidak usah ragu lagi, karena sebenarnya di dalamnya sudah mencakup informasi tentang segala bentuk kejadian dari zaman dulu hingga kiamat nanti, hanya saja Al-Qur`an sering menggunakan bahasa qiyas (tersirat) yang tersamar dan perlu kajian yang mendalam untuk bisa memahami dan mengambil makna yang ada di dalam ayat-ayatnya, hingga kita pun mengerti lalu di gunakan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari..
      Tentu mbak dan saya sangat yakin bahwa kelak akan ada yang membawa perubahan dan kebangkitan besar, karena hal itu memang sudah dikabarkan oleh Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya, silahkan baca tulisan saya ini: https://oediku.wordpress.com/2013/04/26/kebangkitan-islam-dari-nusantara/#more-5436 , disitu saya sudah membahasnya.
      Hmm.. iya saya juga beberapa kali pernah baca blog dari orang Malaysia ttg kebangkitan Islam yang menurut persepsi mereka akan dimulai dari sana… tapi saya tidak sependapat dg mereka itu dengan beberapa alasan berikut:
      1. Hanya leluhur orang2 di tanah Jawa saja yang memberikan Nubuwat tentang kebangkitan, tidak pernah dari orang Malaysia. Itu karena memang orang Malaysia (Melayu) pun mengikuti dan bergurunya dengan orang di tanah Jawa, lantaran memang orang2 yg hidup di tanah Jawa memiliki kemampuan yang lebih dari mereka. Artinya, hal ini jelas bahwa yang layak dan bisa memimpin dunia kelak dengan aturan Tuhan ya orang yang berasal dari tanah Jawa saja.
      2. Hanya di Indonesia lah pernah terdapat kerajaan yang sangat besar dan berpengaruh di dunia, bahkan Medang, Sri Wijaya dan Majapahit itu hanya sebagian kecil dari yang pernah ada di Nusantara. Ini jelas menunjukkan bahwa orang2 di Nusantara khususnya di tanah Jawa lah yang lebih layak untuk memulai kebangkitan besar, karena sudah terbukti dalam sejarah dunia. Bukan orang2 Malaysia.
      3. Islam sudah sampai ke tanah Jawa bahkan sejak Rasulullah SAW masih hidup di kota Madinah (meskipun dalam lingkup kecil di daerah pesisir selatan pulau Jawa), yang ketika itu melalui perantara sahabat yang bernama Muawiyah, lalu pada masa Khulafaur Rasyidin dan selanjutnya ada lagi pada masa Khalifah Umar ibn Abdul Aziz yang ketika itu sempat berkoresponden dengan raja kerajan Sri Wijaya yg bernama Sri Indravarman> Dalam suratnya sang raja meminta khalifah Umar agar mengutus seorang guru agama (Ulama) untuk mengajarkan Islam di kerajaan Sri Wijaya (silahkan baca tulisan saya ini: https://oediku.wordpress.com/2010/11/25/mengupas-sejarah-masuknya-islam-di-nusantara/). Artinya, ini adalah sebuah indikasi bahwa ada yang istimewa dari Nusantara khususnya tanah Jawa, sehingga mengapa pula para sahabat dan orang2 Islam zaman awal bergegas datang ke tanah Jawa. Dan menurut saya sebenarnya mereka sudah tahu bahwa Islam akan bangkit untuk yang kedua kalinya hanya dari Nusantara, tepatnya tanah Jawa. Dan tentu informasi itu datangnya dari Rasulullah SAW sendiri, cuma haditsnya sudah hilang atau memang sengaja dihilangkan oleh yang tidak suka (masa perang Salib).
      4. Memang sekarang negara kita kondisinya carut marut dan seolah-olah gak ada lagi harapan, tetapi kita pun jangan pernah lupa bahwa dulu kondisi kota Makkah juga sama, bahkan lebih parah lagi… tetapi atas izin Allah SWT, semuanya itu berubah sebaliknya setelah kedatangan seorang yang terbaik, yaitu Rasulullah SAW. Jadi bisa saja kondisi negara kita pun akan sama, hancur terlebih dulu lalu baru akan bangkit setelah sebelumnya muncul sosok pemuda yang dijanjikan..
      Jadi, menurut saya pribadi kebangkitan Islam yang kedua yang dulu dikabarkan oleh Rasulullah SAW itu hanya akan berawal dari Nusantara, khususnya dari tanah Jawa Dwipa. Semoga kita bisa menyaksikan dan terlibat di dalamnya..🙂

    yulia said:
    Februari 27, 2014 pukul 9:51 am

    bagus mas tulisan tulisannya. saya jadi lebih “sadar situasi”. keep posting mas, oya kalau ada yang suka bawa2 nama tuhan sambil bilang semua yang berasal dari “mbah2 kita dimasa lalu” ini sesat dan tak perlu dipercaya, yakinlah mas jangan dihiraukan sebab mereka sendiri sangat malang tak pernah mengenal Allah SWT beserta kebesarannya. ya suka-suka Allah donk mau ngasih pengetahuan apapun ke siapapun.. pokoknya keep posting, keep sharing hehehe…

      oedi responded:
      Maret 3, 2014 pukul 9:09 am

      Alhamdulillah kalu senang, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Siap, saya akan tetap posting apa aja yg menurut saya baik, dan tentunya juga akan bersikap cuek pada anggapan yg gak penting, terlebih kalau itu gak menambah ilmu saya… dan saya setuju dengan mbaknya bahwa kalau kita selalu memakai “kaca mata kuda” dalam beragama maka akhirnya akan jadi fanatik sempit dan ujung2nya akan jadi orang bodoh dan tersesat, yang tentunya tidak akan bisa mengenal Tuhan dengan benar..
      Dzat Allah SWT itu adalah Tuhan yang Maha Berkuasa, jadi janganlah kita mengkerdilkan hakekat-Nya, yaitu dengan membatasi harus begini dan begitu, padahal Dia tidak terikat dengan apapun, karena justru segala sesuatu itulah yang terikat dengan-Nya.🙂

    Totok ChemScout said:
    Maret 14, 2014 pukul 5:12 pm

    mas oedi,lear biasa tulisannya,,,
    mas bisa di listkan ndak, list pemimpin di negri ini,,
    ramalan—>> orangnya
    heeh, bentar lagi kan akan pemilu,,

      oedi responded:
      Maret 19, 2014 pukul 6:19 am

      Alhamdulillah.. syukurlah kalau senang dengan tulisan ini, semoga bermanfaat..🙂
      Hmm… untuk perkara siapa pemimpin yang bakal memimpin negeri ini maaf banget saya gak bisa berikan.. banyak faktor yang menyebabkan mengapa tidak bisa saya berikan disini… jadi sekali lagi maaf banget..🙂
      Tapi, bisa sedikit saya sampaikan disini, bahwa menurut saya dari semua tokoh yang telah muncul saat ini baik di daerah maupun di tingkat Nasional maka tidak ada yang memenuhi syarat yang layak untuk memimpin dan membawa negeri ini pada puncak kejayaannya, alias memimpin dunia sekali lagi… alasan yang jelas adalah karena tiada satu pun dari mereka yang berhati bersih (karena penuh dusta dan kemunafikan) sehingga tidak bisa menerima Wahyu Cakra Ningrat apalagi Wahyu Keprabon Nusantara… sehingga mustahil baginya untuk bisa memimpin Nusantara menuju kebangkitan dan kejayaannya sekali lagi, sebagaimana di zaman para leluhur kita dulu.. dan kalau pun nanti ada yang terpilih menjadi presiden ke 7, maka yang terjadi adalah semakin kacaunya kondisi negeri ini di semua sektor, bahkan akan terjadi perang besar baik antar sesama bangsa sendiri maupun dengan bangsa lain…
      Pemimpin yang akan memimpin negeri ini sudah ada tetapi masih tersembunyi, kita mungkin sudah pernah bertemu dengan dia tetapi memang kita tidak tau kalau dia itulah orangnya, itu terjadi karena memanglah dia itu adalah sosok pemuda yang bukan dari kalangan pejabat, ulama, ahli supranatural, pengusaha, atau orang terkenal. Dia sudah hidup di sekitar kita dalam ketersembunyiannya, yang semua itu pun memang atas kehendak Tuhan sementara dia hanya mengikutinya… dia akan muncul bila sudah di perintahkan untuk muncul oleh Tuhannya, untuk memimpin negeri ini menuju kejayaan dan kesejahteraan yang luar biasa…

    adenbdg said:
    Maret 19, 2014 pukul 1:48 pm

    Pembawa amanah selalu buntu untuk ditelusuri (untuk taslim),
    Kalau boleh tau Pembawa amanah bergelar apa …?
    ciri nya apa …?
    amalannya Pembawa Amanah apa?…
    apa kalam nya karena khusus ?…..
    puji-pujiannya khusus atas dasarnya apa ?
    Siapa yang dipimpinnya serta siapakah yang
    meminpinnya ?
    Apa korelasi antara uga wangsit dan Pembawa Amanah dekat atau jauh?..
    itu lah hal terkecil yang ingin sy ketahui .
    Agar HAK ITU HAK BATIL ITU TETAP BATIL ,…..
    Semua ada perjalanannya(sunnattullah) ,ada aturan serta latar belakang jelas (bibit bobot)

      oedi responded:
      Maret 22, 2014 pukul 6:56 am

      Hmm… terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, dan maap bila saya tidak bisa menjawab pertanyaan Anda saat ini.. silahkan jika ada dari pembaca sekalian yang bersedia menjelaskannya, monggo..:)

      eko said:
      Januari 23, 2016 pukul 9:00 am

      saya kok nggak nggak nyambung dengan pertanyaan nya ya…………

    tituspermadi said:
    Mei 28, 2014 pukul 9:06 am

    Reblogged this on Titus Permadi's Weblog and commented:
    Ulasan yang bagus, relevan dengan tulisan berikutnya tentang “Wahyu Keprabon”

    Maranathà Marpaung said:
    September 24, 2014 pukul 9:10 am

    Ternyata Prabu Siliwangi telah mengetahuinya sejak dulu ya? Anak Gembala..Presiden ke 7, dan satria piningit..

      oedi responded:
      September 28, 2014 pukul 10:23 am

      Ya begitulah, orang2 dulu itu lantaran sering olah batin akhirnya mendapat kesempatan untuk bisa melihat sekilas tentang apa yang terjadi di masa depan… dn luarbiasanya lagi mereka itu sempat menyampaikannya sebagai pesan dan wasiat untuk anak cucu… tinggal bagaimana sikap dari kita sekarang, apakah mau mengikuti nasehat leluhur itu atau justru tidak peduli..
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

      eko said:
      Januari 23, 2016 pukul 9:02 am

      satrio piningit sebentar lagi……

        oedi responded:
        Januari 31, 2016 pukul 2:11 am

        Semoga saja mas.. ingin rasanya bisa melihat perubahan dan revolusi terbesar itu..🙂

    reza said:
    Oktober 1, 2014 pukul 6:51 am

    mantap ni tulisannya.. saya memang sudah lama mencari sejarah para leluhur.. tanks mas oedi
    smg jg apa yg pernah sy impikan selama ini sesuai keinginan para leluhur..

    CAGAK NEGORO said:
    Januari 12, 2015 pukul 5:10 pm

    Menurut saya biarpun pemimpin yg dimaksud datang tetap negara ini tak akan pernah benar2 makmur jika dikalangan elitenya masih ada yg masih berkoalisi yg akan berdampak terpecah belahnya rakyat yg dibawahnya, kalau kita pengen menjadi negara yg kuat & makmur ya harus bersatu untuk membangun bangsa hilangkan koalisi2 di negara ini, mendirikan koalisi hanya akan menambah panjang masalah dinegara ini…. Koalisi yg ada sekarang ini hanya menguntungkan orang yg berada didalamnya bukan rakyat… “HANYA SEBUAH ALASAN UNTUK MEREKA APA YG MEREKA LAKUKAN UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT PADAHAL HANYA UNTUK KOALISI. SAMPAI SAAT INI SAJA HASIL APA YG TELAH DICAPAI OLEH YG NGAKUNYA WAKIL RAKYAT HANYA REBUTAN JABATAN DAN PERKELAHIAN & YG LEBIH PARAH LAGI ADA KOALISI YG BERSEBERANGAN DENGAN DASAR HUKUM NEGARA KITA (PANCASILA) DENGAN TIDAK MENGIKUTI SILA ke 4 tapi menggantinya dengan “PERMUSYAWARATAN YANH DIPIMPIN OLEH HIKMAT KETIDAKBIJAKSANAAN DALAM PERPAKETAN PERKOALISIAN”….
    Mungkin ini bisa menjadi pelajaran berharga generasi muda kita untuk tidak meniru apa yg dilakukan oleh yg katanya para wakil-wakil rakyat jika kita menginginkan kemakmuran dan kesejahteraan yg sebenarnya marilah kita bersama2 bersatu untuk membangun negara ini menjadi lebih baik….. MERDEKA

      oedi responded:
      Januari 13, 2015 pukul 8:52 am

      Tapi kalau kedatangannya gak sama dengan yang sudah pernah terjadi selama ini gimana? Tanpa parpol, tanpa mahkota, tanpa tedeng aling-aling? Tapi dengan kekuatan dahsyat yang selama ini tersembunyi di Pusat Nusantara?

    widya said:
    Februari 19, 2015 pukul 6:45 am

    ya mas oedi, saya sangat setuju statement terakhir mas oedi, dan terimakasih share-nya, njenengan sdh berusaha sebaik-baiknya memisahkan apa yg menjadi opini dan apa yg menjadi fakta bagi sampeyan. terimakasih, dan sumonggo terus berbagi, barokallah

      oedi responded:
      Februari 22, 2015 pukul 7:40 am

      Terimakasih mbak Widya atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat🙂
      Ya sebagai manusia biasa saya hanya bisa berusaha semampu saya dan dengan kemampuan yang telah dianugerahka Tuhan selama ini… semoga semua ini berguna bagi kita semua, khususnya bangsa pewaris Nusantara jaya.. Dan semoga dengan tulisan ini kita pun benar-benar mempersiapkan diri sebaik mungkin, karena yakinlah bahwa zaman akan berganti dan tidak akan mungkin terus-terusan seperti ini – lengkap dengan kerusakan yang merajalela di segala lini kehidupan. Ada kehidupan yang lebih baik di masa depan, tapi memang hanya diperuntukkan bagi pribadi yang mawas diri dan selalu ingat bahwa kehidupan itu bukan hanya sekali di dunia ini saja, karena ada kehidupan selanjutnya yang abadi…

    Rohingya Anti Budha Hindu said:
    Juni 15, 2015 pukul 4:07 am

    Kamu Anti Arab atau Anti Islam?

    Oleh: @Jonru

    Saya heran sama orang yang anti Arab. Alasannya apa?

    Kalau alasannya, “Kita harus cinta dan menjaga budaya asli Indonesia,” berarti kita juga harus anti Amerika, anti Korea, anti India, anti Australia, anti China, dan sebagainya.

    Kalau alasannya, “Arab menjajah Indonesia dengan tameng penyebarluasan agama,” maka sungguh lucu! Karena justru orang-orang Eropa yang TERBUKTI menjajah Indonesia sambil membawa agama Kristen. Sedangkan Islam masuk ke Indonesia lewat perdagangan dan secara damai, bukan lewat penjajahan.

    * * *

    Kau bilang, “Ini Indonesia, bukan Arab. Tak perlu pakai istilah akh, antum, syukran, jazakallah, abi, umi, dst.”

    Padahal saat merayu pacarmu, kamu berkata, “I Love you. I miss you.” Saat patah hati, kamu berkata, “Gue gagal move on, nih.”

    Hm.. itu bahasa Indonesia atau bukan, ya?

    Kau terlihat sangat anti Arab dengan alasan “Kita harus cinta pada budaya Indonesia.” Padahal di saat yang sama kamu membela ajang Miss World, yang jelas-jelas bukan budaya Indonesia.

    Orang yang suka lagu nasyid berbahasa Arab kamu cela-cela dengan alasan, “Itu bukan dari Indonesia.” Padahal kamu justru memuja-muja para boyband dari Korea, tergila-gila pada film India, dan cinta buta terhadap film dan musik dari Amerika.

    Kamu mungkin lupa:

    Nama-nama hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu itu berasal dari bahasa Arab.

    Istilah musyawarah dan adab juga dari bahasa Arab.

    Banyak sekali istilah bahasa Arab yang kini diserap ke dalam bahasa Indonesia, dan ternyata sering kamu pakai, dan kamu menyukainya!

    Bahkan kalau kamu belajar sejarah Bahasa Indonesia, kamu akan KAGET DAN SHOCK, karena ternyata bahasa Arab memiliki pengaruh yang SANGAT KUAT terhadap bahasa Indonesia.

    Kamu mungkin belum tahu, bahwa struktur bahasa Indonesia dan Arab itu PERSIS SAMA. Saking samanya, kita bisa dengan mudah melakukan penerjemahan kata demi kata. Hal seperti ini tidak bisa dilakukan terhadap bahasa lain.

    Coba kamu terjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dengan sistem terjemahan perkata. Bisa? Dijamin tak bisa. Karena pasti hasil terjemahannya akan sangat ngaco.

    Tapi bahasa Arab BISA. Itula salah satu bukti bahwa bahasa Indonesia dan Arab punya hubungan yang sangat erat.

    Kalau kamu mencela Islam sebagai agama dari Arab, bukan dari Indonesia, hei… apa kamu lupa bahwa Kristen, Hindu dan Budha pun bukan dari Indonesia. Agama asli Indonesia adalah ANIMISME.

    Katanya TKW dibunuh di Arab Islam, lalu yang menjajah kita 350 tahun agama nya apa? Yang memberi kita pengalaman romusha agama nya apa? Yang membunuh TKW di hongkong agamanya apa? Lupa, ya?

    Jadi kenapa harus anti Arab?

    Jangan-jangan kamu sebenarnya anti Islam, bukan anti Arab.

      oedi responded:
      Juni 20, 2015 pukul 3:59 am

      Okey terimakasih atas kunjungan dan komentarnya… Semangat🙂

    […] Baca tulisan yang terkait dengan tulisan Avatar di atas: * Sang Avatar Nusantara * Ramalan Jayabaya tentang Nusantara * Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang; kehancuran NKRI […]

    Sang Avatar Nusantara « Perjalanan Cinta said:
    Juni 25, 2015 pukul 6:45 am

    […] Baca tulisan yang terkait dengan Avatar di atas: * Avatar dalam berbagai agama (Hindu, Buddha, Zoroaster, Nasrani, Islam) * Ramalan Jayabaya tentang Nusantara * Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang: kehancuran NKRI […]

    […] Baca tulisan yang terkait dengan tulisan Avatar di atas: * Sang Avatar Nusantara * Ramalan Jayabaya tentang Nusantara * Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang; kehancuran NKRI […]

    Sang Avatar Nusantara | Bayt al-Hikmah Institute said:
    Juni 27, 2015 pukul 12:37 pm

    […] Baca tulisan yang terkait dengan Avatar di atas: * Avatar dalam berbagai agama (Hindu, Buddha, Zoroaster, Nasrani, Islam) * Ramalan Jayabaya tentang Nusantara * Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang: kehancuran NKRI […]

    […] [Tulisan yang terkait dengan artikel ini: Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang; Kehancuran NKRI] […]

    Dikki said:
    November 21, 2016 pukul 5:36 pm

    Jika ingin kembali ke hakekat kita sebagai orang asli nusantara, maka baiknyalah kita kosongkan jati diri kita. Terlahir kembali sebagai anak nusantara yg tidak terpengaruh dari manapun, tapi hanya berpegang teguh pada budi pekerti dari sang leluhur.

      oedi responded:
      November 21, 2016 pukul 11:04 pm

      Hmm mungkin yg lebih tepatnya bukan “mengosongkan jati diri” tapi kembali ke jati diri kita yg sejati sebagai orang Nusantara.. Caranya ya dg kembali mengikuti apa yg pernah dilakukan oleh para leluhur dulu.. warisan itu harus diterapkan kembali dalam setiap lini kehidupan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s