Pekikan Takbir Kemenangan: Kapankah terdengar lagi?

Posted on Updated on

Mobile WallpaperWahai saudaraku. Kapan terakhir kali kalian mendengar pekikan suara takbir yang menggetarkan hatimu? Kapan kalian merasa sangat terharu ketika pekikan kalimat takbir di kumandangkan. Dan dengan sikap itu, pernahkah kalian merasa bergelora untuk menegakkan keadilan Tuhan meskipun nyawa sebagai taruhannya.

Aku tidak mengajakmu untuk berperang wahai saudaraku, terlebih atas nama golongan dan mazhabmu. Aku hanya mengingatkan sekaligus mengajakmu untuk kembali berpikir dan merenungkan hari depan. Tentang bagaimana jadinya bila kerusakan akhlak yang selama ini terjadi tetap saja dibiarkan. Bagaimana nasib anak cucuk kita nanti, bila dari sekarang kita tidak lagi peduli dengan penegakkan hukum Allah SWT secara kaffah (menyeluruh). Bukankah azab Allah SWT yang sangat perih itu akan diterima bagi siapa saja yang kufur dan rusak akhlaknya?

Wahai saudaraku. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi?? Kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi? Akankah kerusakan moral yang kian menjadi-jadi sekarang kita abaikan dengan sikap diam dan tak mau peduli? Atau justru engkau hanya merasa bahwa yang terpenting dirimu tidak ikut-ikutan mereka yang rusak, lalu membiarkannya? Begitu?

O.. Jangan begitu wahai saudaraku. Janganlah pernah berpikir bahwa dirimu akan selamat dari murka Tuhan jika di dalam hatimu masih tersimpan sikap egois dan mau baik sendiri. Engkau tidak akan dianggap hebat bila hanya terus menghindar. Dirimu tidak akan bisa selamat, jika hanya mencintai dirimu sendiri. Perhatikan orang-orang disekitarmu dengan seksama, ajaklah mereka dengan baik-baik, rangkullah hatinya dengan cinta, agar mereka pun bisa kembali ke jalan yang benar.

Tanyakan hatimu wahai saudaraku. Apakah masih ada kebaikan di dalam sana, atau semangat untuk bisa menegakkan hukum Allah SWT yang mulia itu? Seperti dulu lagi, akankah dirimu ingin hidup dalam keteraturan dan keadilan yang sejati. Yang hanya patuh pada satu hukum yang membawa kesejahteraan bagi seluruh makhluk, yaitu hukum Allah SWT?

Sekali lagi aku tidak mengajakmu untuk berperang wahai saudaraku. Tetapi jika tidak ada lagi pilihan dan engkau sudah berusaha maksimal, maka perang pun menjadi pilihan terbaik. Meskipun peperangan itu akan berdampak buruk, tetapi demi tegaknya keadilan yang sejati, terkadang ia harus di lakukan. Karena perang pun adalah satu bentuk dari ikhtiar (usaha) dan istiqomah (ketekunan, kesungguhan) yang sesungguhnya.

Jangan takut wahai saudaraku. Jangan jadi seorang pengecut, apalagi pecundang. Bangkitlah, karena lihatlah para pejuang Islam terdahulu, yang dengan gagah berani mampu menaklukkan sepertiga dunia. Derap langkah kaki mereka mengecilkan nyali lawan, sementara pekikan suara takbir dari mulut mereka menakutkan seluruh hati musuh dan melemaskan sendi-sendi di tubuh mereka. Dan mereka tetap saja berjuang dengan gigih dan ikhlas, hingga sejarah pun mengenang mereka dengan tinta emas peradaban.

kesatria muslim 4

Namun kini, sungguh sangat disayangkan, pekikan suara takbir tidak lagi terdengar nyaring. Memang azan terus berkumandang dari menara-menara masjid di seluruh dunia, tetapi seolah-olah tidak ada lagi gaungnya. Tidak lagi menggetarkan hati, apalagi membangkitkan semangat dalam keharuan untuk menegakkan hukum Allah SWT. Semuanya hanya tinggal seremonial belaka dan tidak mengubah keadaan hati umat agar menjauh dari kemunafikkan.

Kita sudah kehilangan semangat yang Islami. Terlebih sebelumnya kita pun telah lebih dulu kehilangan pemimpin yang sejati dan mengikuti manhaj (tata cara) kenabian. Yang ada sekarang bukanlah pemimpin, tetapi hanya raja, ketua dan para tuan tanah. Yang mereka ini sejatinya tetaplah sebagai pewaris Fir`aun dan Qorun, tetapi pandai menyembunyikan keburukannya (pencitraan). Tidak benar-benar memikirkan nasib rakyat yang dia pimpin, apalagi tentang kehidupan agamanya. Karena para pemimpin zaman sekarang tidak lagi benar-benar mengerti akan seluk beluk dari agamanya sendiri.

Mari wahai saudaraku sekalian. Cukupkanlah kelalaianmu selama ini. Sudahilah ketidakpedulianmu akan kondisi akhlak umat selama ini. Jadilah seorang hamba Allah SWT yang terbaik, dengan terus berusaha membaikkan akhlakmu. Jadilah seorang pribadi yang berarti, dengan terus saja mengajak siapapun pada kebenaran yang sejati. Dan ketika terdengar olehmu nanti pekikan suara takbir – dari arah timur – dari orang-orang yang tulus dan ikhlas menegakkan hukum Allah SWT, maka sambutlah. Bergembiralah untuk itu dan cepatlah bergabung dengan mereka, karena tugas besar sudah menantimu.

Bangkitlah wahai kesatria. karena insya Allah dunia ini akan ditata kembali dengan indah, dengan hukum Allah SWT sebagai acuan dasarnya. Dan itu semua akan bermula dari Nusantara, karena di Nusantaralah Islam pun akan bangkit dan menata dunia dengan keadilan.

Yogyakarta, 22 Oktober 2013
Mashudi Antoro (Oedi`)

6 thoughts on “Pekikan Takbir Kemenangan: Kapankah terdengar lagi?

    dika21 said:
    Oktober 22, 2013 pukul 10:51 am

    Suara kumandang takbir dalam medan perjuangan sangat kita nantikan, semoga kita bisa berjuang dan mendengar kumandang itu bersama amin…. Makasi linknya mas

      oedi responded:
      Oktober 22, 2013 pukul 3:48 pm

      Iya Dik, kumandang takbir yang bergelora itu sangat di rindukan hati.. khususnya bagi pribadi yang mencintai Tuhannya.. semoga saja kita diberi kesempatan untuk berjuang bersama, di dalam medan juang yang sesungguhnya nanti..
      Makasih Dik karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat..🙂

    Sri Nuryati said:
    Oktober 22, 2013 pukul 3:57 pm

    Mari bersama berjuang guna mewujudkan kembali kejayaan Islam di mae……di tunggu link berikutnya…..selamat berjuang dan jangan prnh menyerah !!! terima kasih🙂🙂

      oedi responded:
      Oktober 23, 2013 pukul 9:15 am

      Mari mulai dari sekarang kita berjuang mewujudkan tegaknya keadilan sejati, dengan hukum Allah SWT saja sebagai dasarnya, bukan hukum buatan manusia… karena hanya dengan itu pula Islam baru akan bangkit dalam arti yang sebenarnya…
      Okey mbak, terimakasih juga karena masih berkenan berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat…. silahkan di tunggu link berikutnya..🙂

    Amin Sodick said:
    Oktober 30, 2013 pukul 11:55 pm

    Subhanallah wal khamdulillah wa laa ilaaha illallah allahu akbar.

    Subhanallah maha suci Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.

    Walkhamdulillah segala puji hanya milik Allah yang telah memberi nikmat iman.

    Walaa ilaaha illallah aku bersaksi tiada sekutu bagi-NYA

    Allahu akbar maha besar Engkau ya Allah atar apa yang mereka sekutukan.

    Memang jaman sekarang sudah jauh berbeda dari peradaban yang dulu. Sekarang maksiat dimana2. Baik kecil maupun besar, laki2 perempuan.
    Benarlah kita sebagai org yg beriman harus menasehati. Karna jika tidak dinasehati dan kemaksiatan itu terus berkembang maka hati2lah.
    Adzab Allah tidak menimpa kepada org yang gemar bermaksiat saja. Akan tetapi orang yang beriman pun akan terkena jika tidak amar ma’ruf nahi mungkar.

    Matur nuwun mas odi tulisan nya. Ini sangat bermanfaat bagi saya.

      oedi responded:
      Oktober 31, 2013 pukul 9:41 am

      Terimakasih mas Amin Sodick karena udah mau berkunjung di tulisan ini, semoga tetap bermanfaat..🙂
      Iya mas, keadaan dunia kini sudah parah, di tambah lagi dengan realita dari umat Islam nya sendiri yg gak kalah rusaknya, lihatlah di negeri kita ini, moral bangsa sudah hilang dan tinggal menunggu azab dari Allah SWT datang menghancurkannya… untuk itulah kita harus terus saling mengingatkan dan tentunya memperbaiki diri serta mempersiapkan diri agar bila memang telah datangnya kebangkitan Islam yang kedua kita sudah siap dan bisa terlibat di dalamnya…
      Hmm.. kalau boleh saya ingin memberikan sedikit koreksi penulisan yg masnya tuliskan… setau saya, penulisan yg benar adalah “Alhamdulillah” bukan “Alkhamdulillah”, karena disana hanya ada huruf “Ha`” bukan “Kha”. Huruf “Ha`” itu tidak sama dengan “Kha” sehingga jika salah menulisnya maka artinya pun akan berbeda.. jadi kalau “Alhamdulillah” berarti segala puji bagi Allah SWT, sementara kata “Alkhamdulillah” saya pun tidak tahu apa artinya… karena kalimat itu bukan yg sesuai dg petunjuk Al-Qur`an. Pesan saya, sebaiknya hati-hati mas, agar kita pun tidak salah dan tersesat pengertian, meskipun seolah-olah sepele dan hanya sekedar tulisan… karena umat ini sudah jauh dari yg sebenarnya dulu, yg dibawa oleh Rasulullah SAW. Maka dari itu, setidaknya kita tidak menambah keadaanya semakin parah…
      Maaf kalau yg saya sampaikan ini berlebihan… semoga kita tetap berada di dalam hidayah dan bimbingan-Nya. Tetap SEMANGAT!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s