Kemajuan Peradaban Nusantara Tempo Dulu

Posted on Updated on

arca-emas-01Saudaraku sekalian. Kali ini kita akan membahas tentang kejayaan dan kemajuan peradaban yang pernah di ukir oleh nenek moyang kita dulu, khususnya pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara. Dan untuk kali ini, kita akan mencoba mengupas sedikit tentang bukti kejayaan peradaban Nusantara di sekitar abad ke 6-18 Masehi.

Mengapa ini saya angkat? Itu lantaran saat ini kebanggaan terhadap budaya dan tradisi bangsa sendiri sudah kian memudar. Banyak dari kita – khususnya generasi muda – yang justru semakin “menggilai” budaya asing, sehingga semakin memudarkan jati diri bangsa sendiri. Padahal sesungguhnya peradaban dan kebudayaan yang telah ada di Nusantara tidak kalah dengan mereka, bahkan sebenarnya jauh melebihinya. Nanti akan kita coba buktikan.

Untuk mempersingkat waktu, izinkanlah saya memberikan secuil bukti tentang kejayaan peradaban bangsa kita di masa lalu. Di antaranya yaitu:

1. Artefak emas, bukti tingginya peradaban di Nusantara
Sebenarnya sangat banyak artefak kerajaan yang dimiliki oleh bangsa Nusantara, tetapi karena bencana alam, peperangan bahkan di jarah oleh bangsa asing – terlebih selama masa kolonial, maka tidak banyak yang masih tersisa hingga saat ini. Sementara yang masih tersisa itu, justru mayoritasnya berada di luar negeri.

Untuk mengingatkan kita semua tentang hebatnya bangsa kita dulu, berikut ini saya berikan beberapa bukti artefak emas peninggalan kerajaan-kerajaan di Nusantara sekitar abad 6-15 Masehi. Yaitu:

Arca Garuda Mukha lengkaparca-emas-13arca-emas-15arca-emas-17arca-emas-12arca-emas-08arca-emas-19arca-emas-07arca-emas-09arca-emas-10arca-emas-11mahkota-kutai abad 19mahkota-badung-bali abad 19mahkota-kahuripan adab 10mahkota-ratu-singarajamahkota-001-kesultanan-banten-versi-indonesiamahkota-nusantara-01mahkota-nusantara-05liontin-kahuripanliontin kebesarab jawa tengah abad 8perhiasan-30perhiasan-33kalung-baliperhiasan-28perhiasan-20gelang-gowa-versi-indonesiagelang emas abad 19 1perhiasan-emas-lombok-1gesper-emasperhiasan-24perhiasan-23cincin-majapahit-01cincin-01cincin-02cincin-03tusuk-kondeanting-bermotif-ayampusaka-20hulu-sumatera-010

Sungguh, secuil bukti di atas jelas menunjukkan betapa nenek moyang kita dulu sudah pernah memiliki peradaban yang tinggi. Yang pada dasarnya tidak kalah dengan bangsa lain di dunia. Tetapi sayang, sebagian besarnya – termasuk artefak di atas – tidak berada di dalam negeri kita, melainkan berada di museum-museum yang ada di Eropa dan Amerika. Sangat di sayangkan.

Selain bukti artefak di atas, ada lagi bukti artifak lainnya yang membuktikan tingginya peradaban Nusantara tempo dulu. Baik dari tingginya seni penempaan logam dan rumitnya pembuatan, artifak ini mengandung nilai historis perjuangan yang dalam. Karena artifak di bawah ini merupakan sebuah simbol kejayaan maritim kerajaan Majapahit. Berikut ini adalah fotonya:

pataka-lengkap

Pusaka Tombak Pataka ini memiliki arti yang sangat mendalam bagi bangsa kita. Tetapi sayang, sebagian besarnya justru berada di luar negeri, hanya dua yang berada di Museum Jakarta dan satunya lagi masih di pegang oleh pewaris dari kerajaan Majapahit, selebihnya ada di museum luar negeri. Empat di Amerika dan tiganya lagi di Eropa.

Satu catatan penting, untuk saat ini Amerika tidak akan mau mengembalikannya ke Indonesia karena mereka memiliki tujuan tertentu dengan bangsa ini – mungkin takut kalau Indonesia bangkit mengalahkan mereka. Tetapi nanti, bila seandainya China sudah menjadi ancaman yang serius bagi Amerika, barulah mereka akan mengembalikan pusaka Tombak Pataka Majapahit ini ke Indonesia. Sebab, mereka pun meyakini bahwa hanya bangsa Nusantara lah yang akan mampu melawan kekuatan dari bangsa China jika mereka berusaha memimpin dunia. Ingat peristiwa berdirinya Majapahit! Dimana saat itu Raden Wijaya dan bala pasukannya mampu mengusir pasukan Kubilai Khan yang saat itu hendak menaklukkan tanah Jawa Dwipa.

2. Seni dan budaya
Nusantara kaya akan seni dan budaya, salah satunya adalah musik dan tarian. Setiap wilayah yang ada di Nusantara, baik desa maupun propinsi, memiliki keragaman seni musik dan tarian daerah. Yang setiap daerahnya memiliki ciri khasnya masing-masing, sehingga semakin memperkaya khazanah bangsa ini.

Ya. Bangsa ini sangat kaya dengan seni dan budayanya, bahkan bisa dikatakan yang paling kaya di dunia. Banyak pula apa yang ada di Nusantara tidak akan terdapat di manapun. Jangankan ada, untuk bisa memainkannya saja mereka tidak bisa. Tetapi di Nusantara, banyak sekali seni dan budaya dari bangsa lain justru berkembang pesat di negeri ini. Bahkan tidak jauh berbeda dengan di negara asalnya.

Itulah kelebihan dari bangsa ini, jika sudah di ajari maka akan mudah memahami, bahkan bisa melebihi gurunya sendiri. Yang semuanya itu berangkat dari karakteristik dan sifat cerdas yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita sejak dulu.

Mari kita simak beberapa contoh berikut ini:
a) Tari Bedhoyo Ketawang
Mulanya, seni tari Bedhoyo merupakan tarian pembuka dalam menyambut tamu-tamu penting pada zaman kerajaan Majapahit, lalu di teruskan pada masa kesultanan Mataram Islam. Pada masa kesultaan ini, tarian Bedhoyo lebih menceritakan tentang kisah asmaranya antara Sultan dengan Nyi Roro Kidul. Dimana hal mistis ini diyakini oleh sebagian besar masyarakat di Jawa Tengah yang melakukannya secara ritual. Namun seiring dengan perkembangan zaman, tari Bedhoyo kini disuguhkan hanya untuk suka cita serta kepuasan batin.

Tarian indah ini lalu diberi nama Bedhoyo Ketawang. Sebuah tari Bedhoyo yang menunjukkan kelemah lembutan putri Jawa yang diapresiasikan dalam sebuah seni gerak. Banyak makna filosofi yang terkandung dari tarian ini, bahkan dianggap sebagai salah satu tarian yang sakral. Salah satunya terselip pada sebait lirik tembang berikut; “Yen mati ngendi surupe, kyai? : kalau mati kemana tujuannya, kyai?” Dan tentunya tidaklah mudah untuk bisa menarikan tarian ini dengan baik, karena harus mempelajarinya dengan serius dan tekun. Sehingga ini pun menunjukkan bahwa betapa bangsa kita memang memiliki kebudayaan yang sangat tinggi di dunia.

Bagi para penari ada peraturan yang lebih ketat lagi, sebab menurut adat kepercayaan, mereka ini akan langsung berhubungan dengan Kangjeng Ratu Kidul. Karena itu mereka juga selalu harus dalam keadaan suci, baik pada masa-masa latihan maupun pada waktu pergelarannya. Sebagai telah diyakini bahwa Kangjeng Ratu Kidul hanya dapat dirasakan kehadirannya oleh mereka yang langsung disentuh atau dipegang, bila cara menarinya masih kurang betul. Oleh karena itu, pada setiap latihan yang diadakan pada hari-hari Anggarakasih (Selasa Kliwon), setiap penari dan semua pemain gamelan beserta suarawatinya harus selalu dalam keadaan suci. Persiapan-persiapan untuk suatu pergelaran Bedhoyo Ketawang harus dilakukan sebaik-baiknya, dengan sangat teliti. Bila ada yang merasa menghadapi halangan bulanan, lebih baik tidak mendaftarkan diri dahulu.

Di samping sejumlah penari yang diperlukan selalu diadakan juga penari-penari cadangan. Bila para penari ada beberapa pantangan yang harus diperhatikan, karena itu dipandang lebih bijaksana untuk memilih penari-penari yang sudah cukup dewasa jiwanya, sehingga kekhusukan dan ketekunan menarinya akan lebih dapat terjamin. Keseluruhannya ini akan menambah keagungan suasananya.

Menurut kitab Wedbapradangga, yang dianggap sebagai pencipta tarian Bedhoyo Ketawang adalah Sultan Agung (1613-1645 Masehi) raja ke-1 dan terbesar dari kerajaan Mataram Islam bersama Kanjeng Ratu Kencanasari, penguasa laut selatan yang juga disebut Kanjeng Ratu Kidul. Sebelum tari ini diciptakan, terlebih dahulu Sultan Agung memerintahkan para pakar gamelan untuk menciptakan sebuah gendhing yang bernama Ketawang. Konon penciptaan gendhing pun menjadi sempurna setelah Sunan Kalijaga ikut menyusunnya. Tarian Bedhoyo Ketawang tidak hanya dipertunjukan pada saat penobatan raja yang baru tetapi juga pertunjukan setahun sekali yang bertepatan dengan hari penobatan raja atau “Tingalan Dalem Jumenengan“.

Tari Bedhoyo Ketawang ini tetap dipertunjukkan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana ke-XII (sekarang), hanya saja sudah terjadi pergeseran nilai filosofinya. Pertunjukan tari Bedhoyo Ketawang sekarang telah mengalami tranformasi pada berbagai aspek, baik aspek mistik maupun aspek politiknya. Bentuk tatanan pertunjukannya masih mengacu pada tradisi ritual masa lampau, namun nilainya telah bergeser menjadi sebuah warisan budaya yang dianggap patut untuk dilestarikan. Busana Tari Bedhoyo Ketawang menggunakan Dodot Ageng dengan motif Banguntulak alas-alasan yang menjadikan penarinya terasa anggun.

bedhaya-ketawang-fb1

Tari Bedhoyo Ketawang dapat diklasifikasikan pada tarian yang mengandung unsur dan makna serta sifat yang erat hubungannya dengan adat upacara (seremoni), sakral, religius, dan tarian percintaan atau tari perkawinan. Bedhoyo Ketawang jelas bukan suatu tarian yang untuk tontonan semata-mata, karena hanya ditarikan untuk sesuatu yang khusus dan dalam suasana yang resmi sekali. Seluruh suasana menjadi sangat khudus, sebab tarian ini hanya dipergelarkan berhubungan dengan peringatan ulang tahun tahta kerajaan saja. Jadi tarian ini hanya sekali setahun dipergelarkannya dan selama tarian berlangsung tiada hidangan keluar, juga tidak dibenarkan orang merokok. Makanan, minuman atau pun rokok dianggap hanya akan mengurangi kekhidmatan jalannya upacara adat yang sakral ini.

b) Alat musik gamelan
Siapa yang tidak tahu dengan alat musik yang satu ini, unik dan menjadi ciri khas orang Jawa. Dunia pun telah mengakuinya sebagai warisan umat manusia dari Nusantara. Sehingga semakin mengokohkan keyakinan bahwa bangsa Nusantara memang memiliki peradaban yang tinggi sejak dulu kala.

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya/alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa yaitu “gamel” yang berarti memukul/menabuh, diikuti akhiran “an” yang menjadikannya kata benda.

gamelan

Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli Indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Sementara itu, orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.

3. Pemerintahan dan negara
Tentang ketatanegaraan, maka jauh sebelum Amerika Serikat menerapkan sistem negara liberalnya, maka Majapahit sudah menerapkan sistem itu. Lihatlah, bagaimana negara Wilwatikta (nama negara kerajaan Majapahit) memiliki banyak negara bawahan. Dari Swarnadvipa/Swarna Dwipa/Swarna Bhumi (Sumatera) hingga Papa-ua/Labadios/Tungki/Janggi (Papua), ada belasan negara bawahan yang sudah terlingkup dalam sebuah negara kesatuan bernama Wilwatikta – Majapahit. [Untuk lebih jelasnya tentang Majapahit, silahkan baca tulisan ini: https://oediku.wordpress.com/2010/03/28/majapahit-bukti-kejayaan-nusantara/#more-1766]

Jadi, tidak perlu diragukan lagi bahwa nenek moyang kita dulu sudah memiliki satu ketatanegaraan yang moderen bahkan demokratis, meskipun mereka berbentuk kerajaan dan dipimpin oleh raja atau ratu. Mereka pun sangat berbudaya, yang bahkan menjadi acuan bagi banyak negara di dunia. Sehingga muncullah negara besar yang “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo: Tersedianya sandang, pangan, dan papan dengan berlimpah, ketenteraman yang tertata dalam damai” dan bisa membuat rakyatnya sejahtera.

4. Penutup
Sungguh, memperhatikan secuil kejayaan peradaban Nusantara di atas, jelas membuktikan bahwa bangsa ini memang bukanlah bangsa yang kecil, bodoh dan tidak berperadaban. Dari dulu, bangsa Nusantara bukanlah bangsa yang selama ini ada dalam imajinasi orang-orang pesimis yang beranggapan hanya sebagai manusia yang bertelanjang badan dan hidup primitif. Lihatlah, betapa ukiran arca emas di atas begitu indah, detil dan rumit pengerjaannya. Sehingga ini adalah salah satu pembuktian bahwa nenek moyang kita dulu sudah cerdas dan memiliki peradaban yang tinggi.

Namun sangat disayangkan bila kita sekarang ini, khususnya generasi muda sudah tidak mau peduli dengan sejarah masa lalu bangsa kita. Tentang betapa hebatnya nenek moyang kita dulu, yang bahkan pernah menjadi pusat peradaban dunia. Karena dengan begitu, tentunya sikap buruk ini akan membawa dampak yang buruk pula bagi kemajuan bangsa kita sekarang. Kita akan tidak percaya diri, dengan terus saja mengekor kepada bangsa lain. Terus-terusan menjadi budak dari bangsa lain, padahal sebenarnya kita bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Dan tentunya kita bisa bangkit kembali, karena apa yang dibutuhkan oleh sebuah negara yang besar dan maju (SDA dan SDM) telah kita miliki sepenuhnya. Bahkan melebihi bangsa-bangsa maju di dunia saat ini.

Tetapi, lantaran terpedaya dengan tawaran manis dari bangsa lain – terlebih para pemimpin yang sudah kenyang dengan uang sogokan –  maka jadilah bangsa ini sebagai negara kelas boneka. Hampir semua kebijakan dalam dan luar negeri kita saat ini telah dipengaruhi oleh keinginan para inverstor asing. Sehingga jangan heran, rakyat di dalam negara ini tidak sejahtera dan sulit menikmati kekayaan negerinya sendiri.

Untuk itu wahai saudaraku sekalian, marilah kita kembali ke jati diri kita sendiri. Mengingat siapa sebenarnya diri kita ini, yang tentunya berasal dari bangsa yang hebat dan pernah mengukir prestasi gemilang di masa lalu. Jangan mudah terkecoh pada bujuk rayu bangsa asing yang tujuannya hanya untuk meraih keuntungan dari kita. Jangan mau terus-terusan mengekor kepada mereka, khususnya budaya, yang tentunya hanya akan semakin menyangsarakan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Teruslah percaya diri, bahwa kita ini sebenarnya bangsa yang besar dan hebat. Dan ketika kita mau menyadari akan hal penting ini, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Nusantara akan kembali memimpin dunia.

Semoga kita semua semakin sadar akan siapa diri kita yang sebenarnya dan mau segera bergerak membangkitkan kejayaan Nusantara sekali lagi! Karena dengan begitu insya Allah semua cita-cita luhur bangsa ini akan terwujud dengan nyata.

Yogyakarta, 10 September 2013
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* http://wilwatiktamuseum.wordpress.com
* http://clubbing.kapanlagi.com/threads/112012-Tari-Bedhoyo-Ketawang
* http://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan

6 thoughts on “Kemajuan Peradaban Nusantara Tempo Dulu

    Dhan said:
    Maret 19, 2014 pukul 5:11 am

    Nusantara Jaya !

      oedi responded:
      Maret 19, 2014 pukul 6:31 am

      Semoga secepatnya…
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    esa said:
    Januari 29, 2015 pukul 9:42 am

    Artikl bagus, mungkin nagari majapahit brbntuk krajaan brsatu united kingdom of majapahit dipimpin oleh 1 krajaan brsama2 krajaan2 lainnya diadopsi oleh inggris pd mulanya, n dikombinasikn dgn ‘dmokrasi parlementer’ sampai skrng. Sjarah majapahit bnyak dikburkn oleh pakr2 pnjajah. Hnya sbagian pninggalan saja yg dipamerkn di musium,diprpustakaan pnjajah,slebihnya ada di ‘ruang2 rahasia’ dijaga ketat. Wajar pula ada kraguan apakh pninggalan yg ada di indonsia tu asli?/tdk aspal? mskipun tdk smuanya. Ada foto2 pninggalan asli sprti baju kbsaran,mahkota raja ratu,stempl,bndera,tameng,baju perang,dll dr krajaan pajajaran,sriwijaya,goa,demak,dll?

    esa said:
    Januari 29, 2015 pukul 10:03 am

    Alat musik tradisional gamelan yg artistik n hbat mungkn dah ada pd sblum masehi krn hsil budaya n pradaban tu sbnrnya tdk ada bnr2 kata ‘trputus’ tapi brklanjutan brgnrasi,tarian juga, knapa ya tarian dikait2kn dgn unsur mistis?. Apa ya sbnarnya bntuk n nama pmrintahn sblum masehi di nusantara atau di benua ‘nusantara’? Pa smua kurun masanya brbntuk krajaan?. Klo brbntuk ‘demokrasi krajaan,kkaisaran’ itu yunani romawi asal muasal democratio n smua ‘prangkat atribut turunannya’ cikal bakal ‘dmokrasi modern’. Apa ya nama negeri brpmrintahan di nusantara sblm masehi yg sejaman dgn yunani romawi prsia?. Apa mereka sudah mnjalin hubungan dagang,dll?.

    esa said:
    Januari 29, 2015 pukul 2:52 pm

    Di tiap kurun jaman pmluk agama tntu tdk smuanya bragama hnya 1 agama,kcuali pd jaman adam saja. Yg jadi per?an sprti apa bntuk (atap,pondasi,tiang,dll) bangunan ‘pribadatan’ agama monotheis di nusantara sblum masehi n masehi sblum agama yg dibawa nabi muhammad mnybar masuk nusantara kira2 abad 6-7 masehi krn ‘utusan2’ Yg Maha Tunggal, brjumlah banyak(tdk 25 org) sblum nbi muhammad sbagai pnutup. Sprtinya ada ‘mata rantai yg hilang’ krn agama trtua tntu monotheisme murni. Adakh yg tau?.

    Sejarah Hebat Bangsaku; Nusantara « Perjalanan Cinta said:
    April 18, 2015 pukul 6:26 am

    […] Negeri Arya Nuswantara atau Bukti kejayaan Nusantara: Sistem yang sesuai dengan kultur bangsa atau Kemajuan peradaban Nusantara tempo dulu atau Membangkitkan Nusantara dengan kearifan lokal atau Siklus geologi dunia waktunya pergantian […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s