RSS

Mendaki Gunung untuk Menghargai Hidup

31 Mar

mahameru 11-17 juli 07 (11)Mendaki gunung. Satu kegiatan yang oleh sebagian orang hanya dipandang sebagai kegiatan yang sia-sia. Tatapan mereka sinis dan tak jarang pula disertai dengan cibiran. Mereka pun berkata merendahkan, saat melihat sekolompok orang dengan carier sarat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman.

Mengapa bisa begitu? Itu lantaran tidak banyak yang bisa memahami apa yang dirasakan oleh seorang pendaki. Karena perasaan yang luarbiasa itu hanya bisa benar-benar dirasakan oleh mereka yang telah mendaki gunung. Sehingga karena ketidaktahuan itulah banyak orang yang berseloroh; “Ngapain cape-cape naik gunung, menghabiskan waktu dan uang saja. Sudah disana dingin, ee.. setelah sampai di puncak turun lagi. Sungguh sia-sia….”

Tetapi kawan, tengoklah ketika mereka memberanikan diri untuk bersatu dengan alam agar bisa mendapatkan pendidikan darinya. Mereka melangkah, merayap, duduk dan berbaring hanya untuk merasa lebih dekat dengan ibu pertiwi. Mereka sangat mandiri dengan kepercayaan diri yang tinggi. Angan-angan mereka tinggi dan harapan mereka berkobar di dalam aliran darahnya. Semangat mereka pun terus membara dan “pantang kembali sebelum tiba di puncak idaman”.

lawu 09-10 des 06 (2)Merapi 08-09 Mei 2010 (4)mahameru 11-17 juli 07 (3)

Wahai kawan. Para pendaki ini bukanlah orang-orang yang tak berguna. Mereka adalah jiwa-jiwa yang tulus dan penuh rasa menghargai. Cinta pun tak lepas dari hati mereka. Ada semboyan abadi bagi para pendaki, yaitu (1) Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar; (2) Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak; (3) Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu. Tiga hal inilah yang selalu tertanam di benak dan sanubari sang pendaki sejati. Sehingga mereka menjadi pribadi yang santun dan pengertian. Jika tidak, patutlah kita mengatakan bahwa ia hanyalah pecundang.

Begitulah segalanya terjadi. Prinsip seorang pendaki adalah, bahwa ketika kita peduli dengan alam, berarti kita telah peduli dengan kehidupan. Dalam sikap yang peduli dengan kehidupan itu, maka kita pun bisa lebih peduli dengan saudara, tetangga, bahkan musuh kita sendiri. Dan satu hal lagi yang tak mungkin dilupakan oleh seorang pendaki sejati adalah dimana ia akan benar-benar meyakini tentang kebesaran Tuhan, sehingga akan terus beriman kepada-Nya.

merbabu 22-24 maret 2012 4

Mendaki gunung itu bukanlah menaklukkan alam, tetapi justru menaklukkan diri sendiri. Dengan menghancurkan ego pribadi, seorang pendaki sejati bisa berdamai dan bersahabat dengan dirinya sendiri. Mendaki gunung itu adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama. Dan tidaklah mudah untuk bisa menjadi salah satu dari mereka. Karena di butuhkan orang-orang yang memiliki perasaan yang sama tentang alam semesta, yaitu cinta.

lawu 27-29 jan 07 (2)Lawu 22 -24 Des 07 (3)Lawu 2  (Xploit goes to lawu 17-19 nop 06) 1mahameru 11-17 juli 07 (6)merbabu 13-14 jan 07 (3)M3391M-1012sindoro 5-7 mei 07 (4)sindoro 07-09 maret 08 (3)merbabu 22-24 maret 2012 23lawu 6-7 April 07 (2)_MG_6830

Wahai kawan. Tidaklah mudah menjadi pendaki, terlebih dengan banyaknya anggapan miring dengan kegiatan ini. Apalagi yang menyangkut kematian, yang tampaknya lebih dekat dengan para pendaki. Lihatlah! Berulang kali tersiar kabar tentang pendaki yang tewas di gunung. “Mati muda yang sia-sia…” Begitulah komentar orang-orang saat melihat anak muda harus digotong dalam kantung jenazah oleh tim SAR. Padahal soal kematian siapa yang tahu? Mau di gunung atau di kamar tidur, semua bisa saja mati. Di gunung itu hanya salah satu dari sekian banyak alternativ suratan takdir manusia. Kalau ajal sudah waktunya, siapapun akan mati. Tak peduli tempat dan kondisinya.

mahameru 11-17 juli 07 (10)

Kawanku. Jika selalu ketakutan dengan kematian, maka tidak mungkin sejarah mencatat bagaimana gagahnya Ibnu Batutah atau juga Marcopolo dan Columbus dalam menjelajahi dunia. Bagaimana pula kehidupan ini bisa berjalan lebih baik bila para penemu pesawat terbang takut dengan ketinggian? Di gunung, di puncaknya, dimana kaki ini bisa berpijak, terdapat tempat yang penuh kedamaian. Seseorang pun akan merasa dekat sekali dengan Tuhan, sehingga menundukkan kepala untuk bersujud dengan hatinya sekaligus. Disana pula pembuktian diri, tentang sebatas mana kita bertekad. Tentang bagaimana kita bisa melepaskan keegoisan diri dan sifat manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya dengan kemampuan diri sendiri. Bahkan kita pun akan tahu alasannya mengapa kita hidup dan tujuan kita hidup di dunia ini.

Ranu Kumbolo 2007

Rasa cemas, takut, letih dan bosan memang ada selama di perjalanan. Tetapi jika kita memandang ke atas, melihat puncaknya, seolah-olah terlihat jelas semua harapan dan kebahagiaan yang menanti. Gunung itu memang tinggi, jalurnya terkadang ekstrim dan jurangnya pun sangat dalam, tetapi selain itu ia sangat ramah dan membiarkan dirinya diinjak-injak oleh kaki manusia. Ada banyak luka lecet di tangan, ada kram otot, ada kelelahan yang sangat di kaki, ada napas yang terasa sesak dan jantung yang rasanya mau pecah, ada rasa haus yang mencekik, dan ada pula tanjakan tinggi yang seolah-olah tak pernah ada habisnya. Namun semua itu akan segera terbayar lunas ketika telah tiba di puncaknya. Semua pengorbanan itu tak sepadan dan tak ada artinya lagi, ketika kedua kaki bisa berdiri di puncak tertingginya.

mahameru 11-17 juli 07 (12)Merbabu 2007merbabu 22-24 maret 2012 28
Merapi 08-09 Mei 2010 (2)mahameru 11-17 juli 07 (5)

Puncak gunung adalah puncak dari segala puncak. Ia bahkan bertambah nikmat tatkala kabut menyelimuti atau hembusan semilir angin menerpa diri dan sang surya pun terbit atau tenggelam di ufuknya. Sebuah maha karya yang sangat indah dari Sang Pencipta. Yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, lantaran hanya bisa terpana dan menangis terharu. O… betapa kecilnya diri ini, sedangkan Engkau wahai Tuhanku, teramat Agung dan Berkuasa.

lawu 09-10 des 06 (1)merbabu 22-24 maret 2012 20
Wahai kawan. Hanya bagi mereka yang bergelut dengan alamlah yang mengerti bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam tekanan mental dan fisik. Bagaimana pula alam bisa merubah karakter seseorang. Karena alam bisa menjadi ibunda yang pengasih, tetapi bisa pula berbalik menjadi sangar dan menakutkan. Dan bila ada yang berpendapat minor tentang kegiatan alam ini, maka biarkan saja. Sebab siapa saja yang beranggapan begitu, yang memandang kegiatan ini sia-sia dan hanya mengantarkan nyawa, adalah tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Mereka itu hanya belum paham, bahwa ada satu cara yang mereka tidak bisa merasakannya, seperti yang dirasakan oleh seorang pendaki. Yaitu sebuah kemenangan disaat kaki sudah tiba di puncak tertinggi.

merbabu 13-14 jan 07 (2)

Sungguh, semua kenangan indah di puncak gunung tertoreh abadi di dalam jiwa para pendaki. Sebuah pengalaman yang diraih setelah perjuangan panjang mengalahkan diri sendiri. Setelah diri berani mengambil keputusan di antara beberapa pilihan; terus mendaki atau berhenti sampai disini. Karena yakinlah, bahwa tidak hanya di gunung saja kita harus membuat keputusan di tengah tekanan. Dan betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan. Sebab kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Sehingga di gununglah kita belajar. Di gununglah kita bisa lebih baik dalam memilih yang terbaik.

sumbing 1-2 juni 07 (3)
Kawan ku. Satu pesan yang dapat diambil yaitu, janganlah lupa bahwa kita ini hanyalah makhluk yang fana dan lemah. Jangan pernah sombong, karena hanya mendaki satu gunung-Nya saja kita sudah hampir tak berdaya. Bagaimana bila harus menciptakan yang sama dengan ciptaan-Nya itu? Sehingga sadarlah, bahwa tunduk pada setiap perintah-Nya adalah jalan satu-satunya untuk bisa dikatakan bersyukur dan meraih kebahagiaan yang sejati.

Merapi 08-09 Mei 2010 (5)

Pun ingatlah, bahwa manusia itu suatu saat nanti akan kembali ke asalnya. Tidak ada yang abadi, sebab ia hanya diberikan waktu yang singkat saja. Hanya gunung yang tetap kokoh di tempatnya sebagai pasaknya bumi. Sementara manusia tidak. Ia haruslah senantiasa menghargai hidup dengan salah satu caranya yaitu mendaki gunung. Satu kali mendaki gunung, berarti satu kali ia sudah menghargai hidup. Dua kali, berarti sudah dua kali pula ia telah menghargai hidup. Begitu pun seterusnya, hingga ia pun tidak bisa kembali lantaran telah kembali kepada-Nya.

Salam hormatku selalu untuk para kawan pendaki…

Yogyakarta, 15 Maret 2013
Mashudi Antoro (Oedi`)

 
40 Komentar

Posted by pada Maret 31, 2013 in Info Terbaru, Kabar_ku, Tulisan_ku

 

40 responses to “Mendaki Gunung untuk Menghargai Hidup

  1. meynic_nyanyoks@yahoo.co.id

    Maret 31, 2013 at 5:49 am

    Citoeeeeet hahahaha…
    Sent from my BlackBerry Wireless Handheld
    Powered by Gee! from StarHub

     
    • oedi

      Maret 31, 2013 at 7:47 am

      Okey tar di coba deh… tapi udah mas tag di FB mu kok.. cek aja.. :)

       
  2. Nuriya Sri Nuryati

    Maret 31, 2013 at 5:55 am

    Subhanaallah…bener sekali mas,jika kita bersahabat dg alam dan menikmati keindahannya,di situlah kita menemukan kedamaian dan merasa sangat kecil di hadapan-NYA,dan di situ kita baru tahu memaknai artinya bersyukir itu apa…..makasih tulisannya yg penuh ilmu dan selalu bermanfaat aamiin,salam santun pagiku dan berweekend….cayaoo :)

     
    • oedi

      Maret 31, 2013 at 7:50 am

      Tul sekali.. dan tentunya akan ada timbal balik yg setimpal dengan persahabatan kita dengan alam, karena itu sudah menjadi hukum-Nya.
      Okey.. makasih juga utk mbaknya karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat.. tetap Chayoo… :)

       
  3. mitra unik sikumbang

    Maret 31, 2013 at 8:18 pm

    “Mendaki gunung itu bukanlah menaklukkan alam, tetapi justru menaklukkan diri sendiri. “.. ajib & saya suka :)

    menurut saya kegiatan muncak dpt menaklukkan rasa takut, individualisme, keminderan, ke putus asaan, serta egoisme jiwa.
    walaupun sebenar nya saya lebih “demen” bagpackeran dan dari pada pendakian :)
    namun insyaallah saya paham betul bagaimana saat perlawanan ego yang selaras dengan ambisi serta tantangan pada saat itu.
    berbagai pelajaran berharga, yg tidak mungkin didapat di depan Viewer (baca. bangku kuliah) :D

    ditunggu Tulisan berikut nya masOedi.. Semangat…

     
    • oedi

      April 6, 2013 at 11:39 am

      Ya.. Memang kita harus lebih banyak menyatu dengan alam untuk bisa lebih mengenal diri kita sendiri.. yg tujuannya tiada lain adalah untuk kebaikan diri kita sendiri…
      Okey Nik, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat.. di tunggu aja tulisan berikutnya.. :)

       
  4. ningnong

    April 1, 2013 at 4:46 am

    +1000… huaaaa.. ayo, naek lagi.. :D

     
    • oedi

      April 6, 2013 at 11:40 am

      Ayooo… kapan?
      Ke Rinjani yuk??

       
      • mitra unik sikumbang

        April 6, 2013 at 11:53 am

        ayuk…………. hhaa
        ngidam Rinjani.. Oa kabarnya rinjani udah dibuka.

         
  5. Ejja El Mariachi

    April 6, 2013 at 7:17 pm

    nice…bro

     
    • oedi

      April 10, 2013 at 8:22 am

      Okey bro, thank`s untuk kunjungan dan dukungannya, moga bermanfaat… :)

       
  6. ningnong

    Mei 16, 2013 at 11:13 am

    kapan ini mau ke rinjaniii.. aaauuuuch… :D

     
    • oedi

      Mei 23, 2013 at 7:20 am

      Manut… aku belum ada planing neh… padahal pengen banget lihat kabut dan ngerasain dinginnya pegunungan lg… udah mulai jenuh dg kehidupan kota… :)

       
      • Ade Ryvel Adipati Anom

        Juni 2, 2013 at 2:45 pm

        Like :)

         
  7. Faizal Aziz

    Juni 11, 2013 at 3:27 pm

    izin share ya bang oedi

     
    • oedi

      Agustus 9, 2013 at 3:03 pm

      Okey silahkan saja, tapi tolong disertakan sumbernya ya… :)

       
  8. Ardy Inawan Putra

    Juli 17, 2013 at 12:35 pm

    Keren kang…!! Insya Allah semoga orang2 seperti akang ini, yg bisa membuka mata orang-orang yg mencibir cara kita menikmati ciptaan Tuhan yg paling indah….! Salut sama tulisannya kang….!!!

     
    • oedi

      Agustus 9, 2013 at 2:57 pm

      Amiin.. semoga saja makin banyak orang yang mencintai alam, salah satunya dengan mau mendaki gunung… biar lebih dekat dengan Tuhan Sang Maha Pencipta dan ingat bahwa akan ada kematian suatu saat nanti…
      Okey, makasih untuk kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… :)
      TETAP SEMANGAT!!

       
  9. Haryudha Santoso

    Juli 25, 2013 at 8:11 pm

    waduh kan dalem banget makna yg akang buat :D . detail saya bacanya ,ga ada yg kelewat , hidup harus seimbang dengan alam xD saya dari smp kelas 3 udah demen namanya naek gunung , sampe skrg msh lanjut , izin share bang

     
    • oedi

      Agustus 9, 2013 at 3:02 pm

      Oh silahkan saja, tapi tolong disertakan sumbernya ya… :)
      Ya itulah sebagian kata yang bisa saya ungkapkan dari hasil mendaki gunung… Yang lainnya sudah saya tuangkan – dalam bentuk lain – di dalam buku-buku yang alhamdulillah sudah saya tuliskan…
      Okey, Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat…
      TETAP SEMANGAT MENDAKINYA, moga saja suatu saat nanti kita bisa ketemu di gunung… :)

       
  10. ivan

    Oktober 20, 2013 at 6:07 pm

    superb…!!!!

     
    • oedi

      Oktober 21, 2013 at 10:32 am

      Wokey.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, moga bermanfaat.. :)

       
  11. Alwan

    November 8, 2013 at 4:30 am

    Manteb bener dah mas pemikirannya,salut!!
    satu kalimat untuk para pendaki, “Pendaki sejati itu adalah pendaki yang benar-benar menghargai alam CiptaanNya”, mari kita tanamkan dalam sanubari hati kita dan implementasikan!
    Untuk Mas Oedi kalo ada pendakian lagi, bolehkah kita berjabat tangan dalam kebersamaan ini? ini email saya mas : alwan_zamroni@yahoo.com

     
    • oedi

      November 8, 2013 at 6:11 am

      Alhamdulillah… terimakasih mas Alwan atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)
      Saya setuju dengan masnya, bahwa memanglah bangsa ini terutama generasi mudanya perlu banyak menyatu dengan alam, salah satunya dengan mendaki gunung, dan yang lebih penting lagi adalah setiap orang itu harus mau menghargai dan peduli dengan keseimbangan alam, karena dengan begitu kehidupan kita pun akan seimbang dan tentunya akan membawa kebahagiaan yang sesungguhnya…
      Mari semuanya, mari saudaraku… menyatulah dengan alam dan pedulilah dengannya, karena hanya dengan begitulah bangsa ini akan bangkit dan kembali memimpin dunia…
      Okey mas Alwan, insyaAllah nanti di kabari dan memang di bulan ini saya dan kawan2 lainnya ada rencana untuk mendaki gunung, rencananya sih di antara tiga gunung, yaitu Merbabu, Sindoro atau Sumbing… kami pengen mengulang kenangan saat kuliah dulu di ketiga gunung tersebut… hehe.. :)
      Tapi jika nanti tidak di kabari, tolong maafkan saya, karena biasanya kami ini sering dadakan saja.. jadi tidak bisa memberikan kabar pasti kapan naik gunungnnya… :)

       
  12. muhammad ilham

    November 22, 2013 at 4:09 am

    Super sekali bang pemikirannya…

     
    • oedi

      November 22, 2013 at 7:30 am

      Ah gak juga… ini hanya sekedar ungkapan perasaan aja untuk mewakili temen2 pendaki.. kebetulan dapat inspirasinya ya waktu lagi nyantei di gunung… hehe.. :)
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat. :)

       
  13. chamim

    Desember 3, 2013 at 6:43 pm

    mantep gan kata^nya .
    Dan itu membuat ku lebih percya diri. . . :)

     
    • oedi

      Desember 4, 2013 at 5:21 pm

      Alhamdulillah kalau gitu.. makasih juga gan karena udah mau mampir di tulisan ini, moga bermanfaat.. :)
      Yap, kita harus tetap percaya diri meski fisik tidak memadai.. hehee.. :D

       
  14. Setyawan Teguh

    Januari 21, 2014 at 3:32 pm

    Wowww..,luar biasa. Anda memang petualang dan pecinta alam sejati. Salut buat anda bang, salam lestari !!!

     
    • oedi

      Januari 22, 2014 at 5:18 am

      Subhanallah.. yang luarbiasa itu Tuhan mas, karena sudah memberikan saya kesempatan untuk bisa menikmati keindahan ciptaan-Nya.. Saya ini cuma makhluk yang lemah dan sekedar berusaha untuk mensyukuri karunia-Nya dengan cara mendaki gunung.. selebihnya ya berusaha untuk berbagi pengalaman yang sudah di dapatkan dalam bentuk tulisan semacam ini, dengan harapan akan lebih banyak lagi yang mau terus bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat dan karunia-Nya… karena dengan begitu kita pun sudah menghargai hidup kita sendiri..
      Okey.. salam kembali mas Teguh, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

       
  15. alfian

    Januari 22, 2014 at 4:43 am

    pgn naik..tp musim ujan…

     
    • oedi

      Januari 22, 2014 at 5:26 am

      Iya sih sekarang emang lagi musim hujan, jadi memang kurang nyaman kalau mendaki… tapi kalau masnya seneng tantangan dan pengen coba sesuatu yang baru, gak ada salahnya naik di musim hujan seperti sekarang ini (tapi dengan catatan harus lengkap peralatannya, seperti ponco dan tenda + plastik terpal untuk melapisi tenda biar gak bocor kalau hujannya deras), karena saya pernah bahkan udah beberapa kali mendaki di musim hujan, ambil saja contoh di gunung Sumbing dan Sindoro, disana saya dan kawan2 mendapatkan satu pengalaman dan sensasi yang luarbiasa dan tak pernah terlupakan, bahkan kalau diingat2 banyak banget kenangan indah dan lucunya… pokoknya seru deh.. :)
      Okey, terimakasih mas Alfian atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. tetap SEMANGAT :)

       
  16. bapur

    Februari 23, 2014 at 11:58 am

    mantabs kang.
    saya jga sudah jenuh kang dgn orang2 yang sok sibuk di kota.

    kalau di gunung/alam fikiran kita fresh kang.

    salam lestari kan

     
    • oedi

      Februari 25, 2014 at 7:30 am

      Salam..
      Alhamdulillah.. syukurlah jika demikian.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)
      Ya. Saya sependapat.. karena emang di gunung itu kita bisa lebih fresh dan dapat ide cemerlang… kita juga bisa berpikir lebih jernih, terutama tentang kehidupan peradaban dunia sekarang… makanya sering2lah mendaki gunung.. hehe.. :)

       
  17. Ardhitya Wiedha Irawan

    Maret 19, 2014 at 9:34 am

    Hai odie… lama tak bersua. Semoga kabar baik disana. Setelah baca2 blogmu, sekarang aku menemukan fotoku disini. hahaha jadi rindu naik lagi sama kamu, kapan yah bisa naik lagi hehehe.
    Kabar baik kan disana? sehat selalu broo.. :)

     
    • oedi

      Maret 19, 2014 at 11:07 am

      Wey Coki, apa kabar wak? aku alhamdulillah baek2 aja kok, sehat wal afiat..
      Iya nih lama banget kita tak bersua, seingatku terakhir kali pas dirimu resepsi pernikahan dulu.. iya dunk di blog ini memang ada foto dirimu, tepatnya yg di puncak Sindoro.. iya ya kapan ya kita bisa bareng daki lagi, kangen dengan masa lalu, berhujan ria dan nyanyi bareng sampai beberapa album (padi, dewa, dll) sambil nunggu hujan reda…
      Tetap sehat bro, moga sukses selalu.. :)

       
  18. Dahlan

    April 10, 2014 at 11:48 pm

    Bagus banget itu mas .. . Ijin upload di fb ku ya ms :) ;-(

     
    • oedi

      April 13, 2014 at 12:51 pm

      Alhamdulillah kalau suka dengan tulisan ini, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)
      Oh silahkan saja.. semoga banyak yg membacanya… :)

       
  19. Dahlan

    April 12, 2014 at 3:25 pm

    Mas, aq boleh tau fb ny mas gk

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 125 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: