Mendaki Gunung untuk Menghargai Hidup

Posted on Updated on

mahameru 11-17 juli 07 (11)Mendaki gunung. Satu kegiatan yang oleh sebagian orang hanya dipandang sebagai kegiatan yang sia-sia. Tatapan mereka sinis dan tak jarang pula disertai dengan cibiran. Mereka pun berkata merendahkan, saat melihat sekolompok orang dengan carier sarat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman.

Mengapa bisa begitu? Itu lantaran tidak banyak yang bisa memahami apa yang dirasakan oleh seorang pendaki. Karena perasaan yang luarbiasa itu hanya bisa benar-benar dirasakan oleh mereka yang telah mendaki gunung. Sehingga karena ketidaktahuan itulah banyak orang yang berseloroh; “Ngapain cape-cape naik gunung, menghabiskan waktu dan uang saja. Sudah disana dingin, ee.. setelah sampai di puncak turun lagi. Sungguh sia-sia….”

Tetapi kawan, tengoklah ketika mereka memberanikan diri untuk bersatu dengan alam agar bisa mendapatkan pendidikan darinya. Mereka melangkah, merayap, duduk dan berbaring hanya untuk merasa lebih dekat dengan ibu pertiwi. Mereka sangat mandiri dengan kepercayaan diri yang tinggi. Angan-angan mereka tinggi dan harapan mereka berkobar di dalam aliran darahnya. Semangat mereka pun terus membara dan “pantang kembali sebelum tiba di puncak idaman”.

lawu 09-10 des 06 (2)Merapi 08-09 Mei 2010 (4)mahameru 11-17 juli 07 (3)

Wahai kawan. Para pendaki ini bukanlah orang-orang yang tak berguna. Mereka adalah jiwa-jiwa yang tulus dan penuh rasa menghargai. Cinta pun tak lepas dari hati mereka. Ada semboyan abadi bagi para pendaki, yaitu (1) Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar; (2) Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak; (3) Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu. Tiga hal inilah yang selalu tertanam di benak dan sanubari sang pendaki sejati. Sehingga mereka menjadi pribadi yang santun dan pengertian. Jika tidak, patutlah kita mengatakan bahwa ia hanyalah pecundang.

Begitulah segalanya terjadi. Prinsip seorang pendaki adalah, bahwa ketika kita peduli dengan alam, berarti kita telah peduli dengan kehidupan. Dalam sikap yang peduli dengan kehidupan itu, maka kita pun bisa lebih peduli dengan saudara, tetangga, bahkan musuh kita sendiri. Dan satu hal lagi yang tak mungkin dilupakan oleh seorang pendaki sejati adalah dimana ia akan benar-benar meyakini tentang kebesaran Tuhan, sehingga akan terus beriman kepada-Nya.

merbabu 22-24 maret 2012 4

Mendaki gunung itu bukanlah menaklukkan alam, tetapi justru menaklukkan diri sendiri. Dengan menghancurkan ego pribadi, seorang pendaki sejati bisa berdamai dan bersahabat dengan dirinya sendiri. Mendaki gunung itu adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama. Dan tidaklah mudah untuk bisa menjadi salah satu dari mereka. Karena di butuhkan orang-orang yang memiliki perasaan yang sama tentang alam semesta, yaitu cinta.

lawu 27-29 jan 07 (2)Lawu 22 -24 Des 07 (3)Lawu 2  (Xploit goes to lawu 17-19 nop 06) 1mahameru 11-17 juli 07 (6)merbabu 13-14 jan 07 (3)M3391M-1012sindoro 5-7 mei 07 (4)sindoro 07-09 maret 08 (3)merbabu 22-24 maret 2012 23lawu 6-7 April 07 (2)_MG_6830

Wahai kawan. Tidaklah mudah menjadi pendaki, terlebih dengan banyaknya anggapan miring dengan kegiatan ini. Apalagi yang menyangkut kematian, yang tampaknya lebih dekat dengan para pendaki. Lihatlah! Berulang kali tersiar kabar tentang pendaki yang tewas di gunung. “Mati muda yang sia-sia…” Begitulah komentar orang-orang saat melihat anak muda harus digotong dalam kantung jenazah oleh tim SAR. Padahal soal kematian siapa yang tahu? Mau di gunung atau di kamar tidur, semua bisa saja mati. Di gunung itu hanya salah satu dari sekian banyak alternativ suratan takdir manusia. Kalau ajal sudah waktunya, siapapun akan mati. Tak peduli tempat dan kondisinya.

mahameru 11-17 juli 07 (10)

Kawanku. Jika selalu ketakutan dengan kematian, maka tidak mungkin sejarah mencatat bagaimana gagahnya Ibnu Batutah atau juga Marcopolo dan Columbus dalam menjelajahi dunia. Bagaimana pula kehidupan ini bisa berjalan lebih baik bila para penemu pesawat terbang takut dengan ketinggian? Di gunung, di puncaknya, dimana kaki ini bisa berpijak, terdapat tempat yang penuh kedamaian. Seseorang pun akan merasa dekat sekali dengan Tuhan, sehingga menundukkan kepala untuk bersujud dengan hatinya sekaligus. Disana pula pembuktian diri, tentang sebatas mana kita bertekad. Tentang bagaimana kita bisa melepaskan keegoisan diri dan sifat manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya dengan kemampuan diri sendiri. Bahkan kita pun akan tahu alasannya mengapa kita hidup dan tujuan kita hidup di dunia ini.

Ranu Kumbolo 2007

Rasa cemas, takut, letih dan bosan memang ada selama di perjalanan. Tetapi jika kita memandang ke atas, melihat puncaknya, seolah-olah terlihat jelas semua harapan dan kebahagiaan yang menanti. Gunung itu memang tinggi, jalurnya terkadang ekstrim dan jurangnya pun sangat dalam, tetapi selain itu ia sangat ramah dan membiarkan dirinya diinjak-injak oleh kaki manusia. Ada banyak luka lecet di tangan, ada kram otot, ada kelelahan yang sangat di kaki, ada napas yang terasa sesak dan jantung yang rasanya mau pecah, ada rasa haus yang mencekik, dan ada pula tanjakan tinggi yang seolah-olah tak pernah ada habisnya. Namun semua itu akan segera terbayar lunas ketika telah tiba di puncaknya. Semua pengorbanan itu tak sepadan dan tak ada artinya lagi, ketika kedua kaki bisa berdiri di puncak tertingginya.

mahameru 11-17 juli 07 (12)Merbabu 2007merbabu 22-24 maret 2012 28
Merapi 08-09 Mei 2010 (2)mahameru 11-17 juli 07 (5)

Puncak gunung adalah puncak dari segala puncak. Ia bahkan bertambah nikmat tatkala kabut menyelimuti atau hembusan semilir angin menerpa diri dan sang surya pun terbit atau tenggelam di ufuknya. Sebuah maha karya yang sangat indah dari Sang Pencipta. Yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, lantaran hanya bisa terpana dan menangis terharu. O… betapa kecilnya diri ini, sedangkan Engkau wahai Tuhanku, teramat Agung dan Berkuasa.

lawu 09-10 des 06 (1)merbabu 22-24 maret 2012 20
Wahai kawan. Hanya bagi mereka yang bergelut dengan alamlah yang mengerti bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam tekanan mental dan fisik. Bagaimana pula alam bisa merubah karakter seseorang. Karena alam bisa menjadi ibunda yang pengasih, tetapi bisa pula berbalik menjadi sangar dan menakutkan. Dan bila ada yang berpendapat minor tentang kegiatan alam ini, maka biarkan saja. Sebab siapa saja yang beranggapan begitu, yang memandang kegiatan ini sia-sia dan hanya mengantarkan nyawa, adalah tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Mereka itu hanya belum paham, bahwa ada satu cara yang mereka tidak bisa merasakannya, seperti yang dirasakan oleh seorang pendaki. Yaitu sebuah kemenangan disaat kaki sudah tiba di puncak tertinggi.

merbabu 13-14 jan 07 (2)

Sungguh, semua kenangan indah di puncak gunung tertoreh abadi di dalam jiwa para pendaki. Sebuah pengalaman yang diraih setelah perjuangan panjang mengalahkan diri sendiri. Setelah diri berani mengambil keputusan di antara beberapa pilihan; terus mendaki atau berhenti sampai disini. Karena yakinlah, bahwa tidak hanya di gunung saja kita harus membuat keputusan di tengah tekanan. Dan betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan. Sebab kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Sehingga di gununglah kita belajar. Di gununglah kita bisa lebih baik dalam memilih yang terbaik.

sumbing 1-2 juni 07 (3)
Kawan ku. Satu pesan yang dapat diambil yaitu, janganlah lupa bahwa kita ini hanyalah makhluk yang fana dan lemah. Jangan pernah sombong, karena hanya mendaki satu gunung-Nya saja kita sudah hampir tak berdaya. Bagaimana bila harus menciptakan yang sama dengan ciptaan-Nya itu? Sehingga sadarlah, bahwa tunduk pada setiap perintah-Nya adalah jalan satu-satunya untuk bisa dikatakan bersyukur dan meraih kebahagiaan yang sejati.

Merapi 08-09 Mei 2010 (5)

Pun ingatlah, bahwa manusia itu suatu saat nanti akan kembali ke asalnya. Tidak ada yang abadi, sebab ia hanya diberikan waktu yang singkat saja. Hanya gunung yang tetap kokoh di tempatnya sebagai pasaknya bumi. Sementara manusia tidak. Ia haruslah senantiasa menghargai hidup dengan salah satu caranya yaitu mendaki gunung. Satu kali mendaki gunung, berarti satu kali ia sudah menghargai hidup. Dua kali, berarti sudah dua kali pula ia telah menghargai hidup. Begitu pun seterusnya, hingga ia pun tidak bisa kembali lantaran telah kembali kepada-Nya.

Salam hormatku selalu untuk para kawan pendaki…

Yogyakarta, 15 Maret 2013
Mashudi Antoro (Oedi`)

70 thoughts on “Mendaki Gunung untuk Menghargai Hidup

    meynic_nyanyoks@yahoo.co.id said:
    Maret 31, 2013 pukul 5:49 am

    Citoeeeeet hahahaha…
    Sent from my BlackBerry Wireless Handheld
    Powered by Gee! from StarHub

      oedi responded:
      Maret 31, 2013 pukul 7:47 am

      Okey tar di coba deh… tapi udah mas tag di FB mu kok.. cek aja.. :)

    Nuriya Sri Nuryati said:
    Maret 31, 2013 pukul 5:55 am

    Subhanaallah…bener sekali mas,jika kita bersahabat dg alam dan menikmati keindahannya,di situlah kita menemukan kedamaian dan merasa sangat kecil di hadapan-NYA,dan di situ kita baru tahu memaknai artinya bersyukir itu apa…..makasih tulisannya yg penuh ilmu dan selalu bermanfaat aamiin,salam santun pagiku dan berweekend….cayaoo :)

      oedi responded:
      Maret 31, 2013 pukul 7:50 am

      Tul sekali.. dan tentunya akan ada timbal balik yg setimpal dengan persahabatan kita dengan alam, karena itu sudah menjadi hukum-Nya.
      Okey.. makasih juga utk mbaknya karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat.. tetap Chayoo… :)

    mitra unik sikumbang said:
    Maret 31, 2013 pukul 8:18 pm

    “Mendaki gunung itu bukanlah menaklukkan alam, tetapi justru menaklukkan diri sendiri. “.. ajib & saya suka :)

    menurut saya kegiatan muncak dpt menaklukkan rasa takut, individualisme, keminderan, ke putus asaan, serta egoisme jiwa.
    walaupun sebenar nya saya lebih “demen” bagpackeran dan dari pada pendakian :)
    namun insyaallah saya paham betul bagaimana saat perlawanan ego yang selaras dengan ambisi serta tantangan pada saat itu.
    berbagai pelajaran berharga, yg tidak mungkin didapat di depan Viewer (baca. bangku kuliah) :D

    ditunggu Tulisan berikut nya masOedi.. Semangat…

      oedi responded:
      April 6, 2013 pukul 11:39 am

      Ya.. Memang kita harus lebih banyak menyatu dengan alam untuk bisa lebih mengenal diri kita sendiri.. yg tujuannya tiada lain adalah untuk kebaikan diri kita sendiri…
      Okey Nik, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat.. di tunggu aja tulisan berikutnya.. :)

    ningnong said:
    April 1, 2013 pukul 4:46 am

    +1000… huaaaa.. ayo, naek lagi.. :D

      oedi responded:
      April 6, 2013 pukul 11:40 am

      Ayooo… kapan?
      Ke Rinjani yuk??

        mitra unik sikumbang said:
        April 6, 2013 pukul 11:53 am

        ayuk…………. hhaa
        ngidam Rinjani.. Oa kabarnya rinjani udah dibuka.

    Ejja El Mariachi said:
    April 6, 2013 pukul 7:17 pm

    nice…bro

      oedi responded:
      April 10, 2013 pukul 8:22 am

      Okey bro, thank`s untuk kunjungan dan dukungannya, moga bermanfaat… :)

    ningnong said:
    Mei 16, 2013 pukul 11:13 am

    kapan ini mau ke rinjaniii.. aaauuuuch… :D

      oedi responded:
      Mei 23, 2013 pukul 7:20 am

      Manut… aku belum ada planing neh… padahal pengen banget lihat kabut dan ngerasain dinginnya pegunungan lg… udah mulai jenuh dg kehidupan kota… :)

        Ade Ryvel Adipati Anom said:
        Juni 2, 2013 pukul 2:45 pm

        Like :)

    Faizal Aziz said:
    Juni 11, 2013 pukul 3:27 pm

    izin share ya bang oedi

      oedi responded:
      Agustus 9, 2013 pukul 3:03 pm

      Okey silahkan saja, tapi tolong disertakan sumbernya ya… :)

    Ardy Inawan Putra said:
    Juli 17, 2013 pukul 12:35 pm

    Keren kang…!! Insya Allah semoga orang2 seperti akang ini, yg bisa membuka mata orang-orang yg mencibir cara kita menikmati ciptaan Tuhan yg paling indah….! Salut sama tulisannya kang….!!!

      oedi responded:
      Agustus 9, 2013 pukul 2:57 pm

      Amiin.. semoga saja makin banyak orang yang mencintai alam, salah satunya dengan mau mendaki gunung… biar lebih dekat dengan Tuhan Sang Maha Pencipta dan ingat bahwa akan ada kematian suatu saat nanti…
      Okey, makasih untuk kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… :)
      TETAP SEMANGAT!!

    Haryudha Santoso said:
    Juli 25, 2013 pukul 8:11 pm

    waduh kan dalem banget makna yg akang buat :D . detail saya bacanya ,ga ada yg kelewat , hidup harus seimbang dengan alam xD saya dari smp kelas 3 udah demen namanya naek gunung , sampe skrg msh lanjut , izin share bang

      oedi responded:
      Agustus 9, 2013 pukul 3:02 pm

      Oh silahkan saja, tapi tolong disertakan sumbernya ya… :)
      Ya itulah sebagian kata yang bisa saya ungkapkan dari hasil mendaki gunung… Yang lainnya sudah saya tuangkan – dalam bentuk lain – di dalam buku-buku yang alhamdulillah sudah saya tuliskan…
      Okey, Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat…
      TETAP SEMANGAT MENDAKINYA, moga saja suatu saat nanti kita bisa ketemu di gunung… :)

    ivan said:
    Oktober 20, 2013 pukul 6:07 pm

    superb…!!!!

      oedi responded:
      Oktober 21, 2013 pukul 10:32 am

      Wokey.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, moga bermanfaat.. :)

    Alwan said:
    November 8, 2013 pukul 4:30 am

    Manteb bener dah mas pemikirannya,salut!!
    satu kalimat untuk para pendaki, “Pendaki sejati itu adalah pendaki yang benar-benar menghargai alam CiptaanNya”, mari kita tanamkan dalam sanubari hati kita dan implementasikan!
    Untuk Mas Oedi kalo ada pendakian lagi, bolehkah kita berjabat tangan dalam kebersamaan ini? ini email saya mas : alwan_zamroni@yahoo.com

      oedi responded:
      November 8, 2013 pukul 6:11 am

      Alhamdulillah… terimakasih mas Alwan atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)
      Saya setuju dengan masnya, bahwa memanglah bangsa ini terutama generasi mudanya perlu banyak menyatu dengan alam, salah satunya dengan mendaki gunung, dan yang lebih penting lagi adalah setiap orang itu harus mau menghargai dan peduli dengan keseimbangan alam, karena dengan begitu kehidupan kita pun akan seimbang dan tentunya akan membawa kebahagiaan yang sesungguhnya…
      Mari semuanya, mari saudaraku… menyatulah dengan alam dan pedulilah dengannya, karena hanya dengan begitulah bangsa ini akan bangkit dan kembali memimpin dunia…
      Okey mas Alwan, insyaAllah nanti di kabari dan memang di bulan ini saya dan kawan2 lainnya ada rencana untuk mendaki gunung, rencananya sih di antara tiga gunung, yaitu Merbabu, Sindoro atau Sumbing… kami pengen mengulang kenangan saat kuliah dulu di ketiga gunung tersebut… hehe.. :)
      Tapi jika nanti tidak di kabari, tolong maafkan saya, karena biasanya kami ini sering dadakan saja.. jadi tidak bisa memberikan kabar pasti kapan naik gunungnnya… :)

    muhammad ilham said:
    November 22, 2013 pukul 4:09 am

    Super sekali bang pemikirannya…

      oedi responded:
      November 22, 2013 pukul 7:30 am

      Ah gak juga… ini hanya sekedar ungkapan perasaan aja untuk mewakili temen2 pendaki.. kebetulan dapat inspirasinya ya waktu lagi nyantei di gunung… hehe.. :)
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat. :)

    chamim said:
    Desember 3, 2013 pukul 6:43 pm

    mantep gan kata^nya .
    Dan itu membuat ku lebih percya diri. . . :)

      oedi responded:
      Desember 4, 2013 pukul 5:21 pm

      Alhamdulillah kalau gitu.. makasih juga gan karena udah mau mampir di tulisan ini, moga bermanfaat.. :)
      Yap, kita harus tetap percaya diri meski fisik tidak memadai.. hehee.. :D

    Setyawan Teguh said:
    Januari 21, 2014 pukul 3:32 pm

    Wowww..,luar biasa. Anda memang petualang dan pecinta alam sejati. Salut buat anda bang, salam lestari !!!

      oedi responded:
      Januari 22, 2014 pukul 5:18 am

      Subhanallah.. yang luarbiasa itu Tuhan mas, karena sudah memberikan saya kesempatan untuk bisa menikmati keindahan ciptaan-Nya.. Saya ini cuma makhluk yang lemah dan sekedar berusaha untuk mensyukuri karunia-Nya dengan cara mendaki gunung.. selebihnya ya berusaha untuk berbagi pengalaman yang sudah di dapatkan dalam bentuk tulisan semacam ini, dengan harapan akan lebih banyak lagi yang mau terus bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat dan karunia-Nya… karena dengan begitu kita pun sudah menghargai hidup kita sendiri..
      Okey.. salam kembali mas Teguh, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

    alfian said:
    Januari 22, 2014 pukul 4:43 am

    pgn naik..tp musim ujan…

      oedi responded:
      Januari 22, 2014 pukul 5:26 am

      Iya sih sekarang emang lagi musim hujan, jadi memang kurang nyaman kalau mendaki… tapi kalau masnya seneng tantangan dan pengen coba sesuatu yang baru, gak ada salahnya naik di musim hujan seperti sekarang ini (tapi dengan catatan harus lengkap peralatannya, seperti ponco dan tenda + plastik terpal untuk melapisi tenda biar gak bocor kalau hujannya deras), karena saya pernah bahkan udah beberapa kali mendaki di musim hujan, ambil saja contoh di gunung Sumbing dan Sindoro, disana saya dan kawan2 mendapatkan satu pengalaman dan sensasi yang luarbiasa dan tak pernah terlupakan, bahkan kalau diingat2 banyak banget kenangan indah dan lucunya… pokoknya seru deh.. :)
      Okey, terimakasih mas Alfian atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. tetap SEMANGAT :)

    bapur said:
    Februari 23, 2014 pukul 11:58 am

    mantabs kang.
    saya jga sudah jenuh kang dgn orang2 yang sok sibuk di kota.

    kalau di gunung/alam fikiran kita fresh kang.

    salam lestari kan

      oedi responded:
      Februari 25, 2014 pukul 7:30 am

      Salam..
      Alhamdulillah.. syukurlah jika demikian.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)
      Ya. Saya sependapat.. karena emang di gunung itu kita bisa lebih fresh dan dapat ide cemerlang… kita juga bisa berpikir lebih jernih, terutama tentang kehidupan peradaban dunia sekarang… makanya sering2lah mendaki gunung.. hehe.. :)

    Ardhitya Wiedha Irawan said:
    Maret 19, 2014 pukul 9:34 am

    Hai odie… lama tak bersua. Semoga kabar baik disana. Setelah baca2 blogmu, sekarang aku menemukan fotoku disini. hahaha jadi rindu naik lagi sama kamu, kapan yah bisa naik lagi hehehe.
    Kabar baik kan disana? sehat selalu broo.. :)

      oedi responded:
      Maret 19, 2014 pukul 11:07 am

      Wey Coki, apa kabar wak? aku alhamdulillah baek2 aja kok, sehat wal afiat..
      Iya nih lama banget kita tak bersua, seingatku terakhir kali pas dirimu resepsi pernikahan dulu.. iya dunk di blog ini memang ada foto dirimu, tepatnya yg di puncak Sindoro.. iya ya kapan ya kita bisa bareng daki lagi, kangen dengan masa lalu, berhujan ria dan nyanyi bareng sampai beberapa album (padi, dewa, dll) sambil nunggu hujan reda…
      Tetap sehat bro, moga sukses selalu.. :)

    Dahlan said:
    April 10, 2014 pukul 11:48 pm

    Bagus banget itu mas .. . Ijin upload di fb ku ya ms :) ;-(

      oedi responded:
      April 13, 2014 pukul 12:51 pm

      Alhamdulillah kalau suka dengan tulisan ini, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)
      Oh silahkan saja.. semoga banyak yg membacanya… :)

    Dahlan said:
    April 12, 2014 pukul 3:25 pm

    Mas, aq boleh tau fb ny mas gk

    tri Neptune said:
    April 25, 2014 pukul 7:38 am

    keren bro , salam kenal

    aldhy said:
    Mei 27, 2014 pukul 1:37 pm

    Sya aldi dari makassar sya sangat kagum ama abang

      aldhy said:
      Mei 27, 2014 pukul 1:38 pm

      bisa gakk kita mendaki bersama di mahameru??

        oedi responded:
        Mei 28, 2014 pukul 8:45 am

        Wah masnya ini juga seorang pendaki yah… bisa2 aja sih, tapi mungkin kalau harus ke Mahameru kayanya nanti dulu, saya sudah pernah kesana, jadi kalau bisa sih ke tempat lain dulu yg belum saya kunjungi… :)

      oedi responded:
      Mei 28, 2014 pukul 8:44 am

      Wah jangan berlebihan gitu mas Aldy, saya ini bukan siapa-siapa kok… tapi terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

    gugugm said:
    Mei 31, 2014 pukul 12:03 am

    kapan-kapan ngetrex bareng mas

      oedi responded:
      Juni 10, 2014 pukul 5:56 am

      Siaap… mo kemana neh? moga aja bisa.. cos udah lama juga gak ngerayap sih.. hehe.. :)

    Hamba Allah said:
    Juni 16, 2014 pukul 2:57 am

    Trim infonya, subhanallah bagus, smg anda & teman-teman cepat bs mendaki jabal Nur di Mekah & melihat Gua Hira’ pasti menangis

      oedi responded:
      Juni 16, 2014 pukul 6:16 am

      Iya sama2… syukurlah kalau senang dengan tulisan ini, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)
      Aamiin ya Robb, doakan aja dalam waktu dekat bisa kesana.. :)

    Hamdan Wahyudi said:
    Agustus 7, 2014 pukul 8:02 am

    Yang mencintai udara bersih
    Yang mencintai air jernih
    Yang mencintai rimbunnya pepohonan
    Yang mencintai kicau burung – burung
    Yang mencintai kedamaian
    Mereka pergi ke gunung – gunung
    Mereka Menatap keatas
    Kesanan teman – teman kami pergi
    Ke – pangkuan bintang – bintang
    Desember gerimis
    Desember menabur tangis

      oedi responded:
      Agustus 9, 2014 pukul 5:20 am

      Cinta.. cinta.. sungguh indahbisa mencintai dan dicintai semesta…
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

    nico harold said:
    Agustus 22, 2014 pukul 10:08 am

    Ke gunung kerinci sekali2 mas, track nya boleh di coba…. Ahahahah

      oedi responded:
      Agustus 27, 2014 pukul 9:06 am

      Hmm… Alhamdulillah saya sudah pernah kesana di tahun 2000. Emang keren dan menantang banget jalurnya… mana kalau beruntung, maka dari puncak bisa lihat garis pantai di Padang… itu pemandangan yg luarbiasa banget…:)

    cunya said:
    September 24, 2014 pukul 1:58 pm

    Terharu… ingin jadi penyayang edelweis :) :'(

      oedi responded:
      September 28, 2014 pukul 10:15 am

      Terimnakasih atas kunjungan dan dukungannya… semoga bermanfaat.. :)
      Ayoo silahkan jadi penyayang edelweis.. di Indonesia banyak loh varietas dan warnanya… sangat indah.. :)

    Nova Aristianto said:
    Oktober 22, 2014 pukul 6:39 am

    wah keren mas tulisannya, saya jadi bisa banyak belajar. Saya baru sekali naik gunung. :)

      oedi responded:
      Oktober 28, 2014 pukul 7:02 am

      Okey. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)
      Wah harus lebih banyak lagi mendakinya, di jamin makin ketagihan deh… Semangat :)

    kethu naufal said:
    Oktober 30, 2014 pukul 9:14 am

    Mendaki gunung itu menurut saya agar lebih dekat dengan sang pencipta lebih mencintai alam semesta setiap langkah hembusan nafas slalu di iringi dengan doa :)

    Dino Hardiano said:
    November 14, 2014 pukul 7:17 am

    indahnya negara kita

    jam tangan untuk naik gunung

    Muhammad Khumaidi said:
    Desember 12, 2014 pukul 4:26 am

    Salam Lestari Buat Kawan Kawan Pendaki Sejati, Tuhan Selalu Bersama Kita

      oedi responded:
      Desember 14, 2014 pukul 5:38 am

      Amiin.. Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… Tetap lestari kawan.. :)

    jontresno said:
    Desember 16, 2014 pukul 3:15 am

    keren om. tambahan dikit…
    bahwa anak pendaki bukan orang yang tidak punya moral ataw hidupnye berantakan dan pemabok (narkoba).
    lestari selalu om (y)

      oedi responded:
      Desember 25, 2014 pukul 7:02 am

      Okey.. makasih mas atas kunjungan dan dukungannya.. semoga bermanfaat dan tetap semangat :)

    Rd Rizki Agustini said:
    Desember 29, 2014 pukul 12:08 am

    subhanallah,
    merinding saya bacanya bang…
    semoga semakin banyak hati mereka yang terketuk untuk bisa menghargai alam, karena itulah aset Allah yang harus kita jaga…
    salam lestari :)

      oedi responded:
      Desember 30, 2014 pukul 6:34 am

      Subhanallah… makasih ya mas Rizki atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat :)
      Amiiin.. semoga saja begitu mas, makin banyak orang yang menyadari dan bersikap bijaksana, karena alam ada ibu bagi kita semua, menjaga dan merawatnya adalah kebaikan untuk diri kita sendiri..
      Salam lestari juga :)

    hakim said:
    Januari 5, 2015 pukul 1:48 pm

    Mohon share Bang Oedi.

    lilik khumaidah said:
    Februari 19, 2015 pukul 11:36 am

    3 semboyan yang pernah dipesankan oleh saya dari para tim SAR kepada saya, jadi keinget pas berlatih menjadi relawan. thanks Bang Oedi, mendaki adalah hal yang tak pernah aku lupakan.

      oedi responded:
      Februari 22, 2015 pukul 7:47 am

      Sama2lah mbak Lilik, terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)
      Hehe.. yang namanya mendaki apalagi bisa sampai di puncaknya adalah hal yang sangat indah dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.. itulah yang membuat kita ketagihan.. Ayo mendaki lagi… :)

    lilik khumaidah said:
    Februari 19, 2015 pukul 11:38 am

    ijin share ya bang.. semoga tetap selalu mencintai alam ini.. thanks :)

      oedi responded:
      Februari 22, 2015 pukul 7:48 am

      Oh silahkan saja mbak, semoga bermanfaat.. :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s