Cinta bukan Jodoh

jodoh 2Duhai kekasihku. Hari ini aku memikirkanmu kembali. Mengingat kenangan-kenangan indah yang pernah kita lalui. Dalam kesendirian, halusnya perasaan cinta masih membekas di hatiku. Kata-kata manismu masih membahana, bergema di dalam jiwa ini. Tiada yang tersingkirkan dari ingatanku, meskipun secuil.

Lalu, apakah ini pertanda bahwa kita masih memiliki cinta yang sama? Cinta yang tetap terjalin meski jarak memisahkan. Meski tidak ada lagi kebersamaan, bahkan hanya sekedar bertegur sapa.

Wahai kekasihku. Hariku-hariku kini penuh dengan persiapan akan perjuangan besar di waktu nanti. Setiap harinya diisi dengan beragam kegiatan dan tugas yang harus ditunaikan. Semua itu demi kehidupan yang jauh lebih baik dan penuh berkah. Semoga cepat terlaksana, agar aku cepat kembali ke tempat dimana sebenarnya aku akan berada.

Tapi, seberapapun aku ditenggelamkan dengan rutinitas itu, bayanganmu tetap hadir dibenakku. Ku coba menyingkirkannya, namun tak lama kemudian ia hadir kembali. Terus-terusan seperti itu, hingga aku pun menjadi heran dengan maksud semua ini. Mengapa bayanganmu sungguh tak bisa kulupakan, meskipun aku ingin?

Duhai kekasihku. Engkau mengetahui bahwa kita berulangkali jatuh dalam pusaran cinta yang rumit. Sebab kerasnya prinsip dan besarnya keegoan diri, engkau dan aku tak pernah sejalan dalam hidup. Aku ke barat, engkau ke timur. Tak pernah bertemu di satu titik yang sama. Hingga kita pun tenggelam dalam tingkah diri masing-masing.

Tapi, entah mengapa disisi yang lainnya, cinta yang ada di dalam hati kita kian tumbuh bersemi. Bahkan terus mekar dan mewangi. Apakah ini namanya cinta sejati? atau hanya sebatas cinta yang tak bisa berjodoh?

Untuk itu kekasihku. Dalam kesempatan ini dan bila kau membaca tulisan ini, aku kembali mengajakmu dalam kendaraan cinta. Apabila kau sudi mengikuti jalan tangisku, maka paganglah erat jari-jari ini. Jangan kau mengenggam yang lain dan tak perlulah kau ragu akan makna dari persandingan kita. Namun bila kau masih enggan, maka aku tak bisa memaksa, karena paksaan selamanya tak bisa mendatangkan kebaikan.

O.. Sungguh berkuasa Tuhan mempermainkan kita. Ia telah menumbuhkan benih cintanya hingga berbuah, namun Ia pula yang terus-terusan menerjang pohon cinta kita dengan badai dan prahara. Engkau dengan prinsip dan jalan hidupmu, aku pun demikian. Tiada yang bisa menyatukan, karena aku dan dirimu laksana air dan api. Saling berlawanan.

Ya, sekali lagi cinta yang ada di dalam batin kita memang tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Ini terasa nyata saat kita berdua meninggalkan tegur sapa dan diskusi. Ada yang kurang dalam hidup ini, dan ada yang tidak pas dalam hari-hari kita. Sebab, aku dan dirimu dulu telah saling melengkapi.

Namun, itu tetaplah menjadi kenangan masa lalu saja. Engkau dan aku telah menentukan jalannya sendiri. Kau dengan duniamu, sementara aku dengan segala kehidupanku. Dan meskipun ada rindu untuk mengulang kenangan indah bersamamu, namun kini ada yang terus menjadi pelipur laraku. Itulah cinta, cinta yang dulu pernah mempertemukan kita.

O… Memang tiada jalan lain untuk kita selain berpisah. Dan walaupun berat, mungkin cinta kita bukan berjodoh.

Yogyakarta, 10 Februari 2013
Mashudi Antoro (Oedi`)

Iklan

4 thoughts on “Cinta bukan Jodoh

    1. Oh ya? wah kebetulah sekali mbak.. dan semoga saja tulisan ini justru memberikan semangat dan gairah hidup untuk kedepannya…
      Okey.. makasih atas doanya dan karena masih mau berkunjung di blog ini… tetap chayoo.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s