Kemulian Hati Seorang Istri Terbaik

Posted on Updated on

Nama Ibnu Hajar Al-Atsqolani adalah nama yang sudah tidak asing lagi, seorang ulama besar di abad ke sembilan, pakar hadits dan fikih. Kitab Fathul Bari adalah kitab yang menunjukkan tingkat keilmuwannya yang luar biasa. Imam Suyithi menyebutnya sebagai, “Syaikhul Islam”, pemimpin para penghafal di jamannya, ulama hebat di Mesir dan bahkan di seluruh dunia.

Tetapi jarang yang tahu dan bahkan buku sejarah pun jarang mengungkap, siapakah istri yang setia mendampingi ulama besar itu. Yang telah dengan begitu sabar mendampinginya mengarang kitab Fathul Bari dalam kurun waktu seperempat abad. Wanita ini bukan termasuk orang yang dikenal. Tidak tercatat sebagai orang-orang tenar. Tetapi dia hidup di dalam lingkungan ulama terkenal di jamannya.

Ya, dia adalah Uns binti Abdul Karim. Putri bangsawan Mesir. Putri keluarga terpandang di Mesir. Ayahnya adalah seorang yang sangat terpandang di seluruh Mesir. Ibunya yang bernama Sarah binti Nasruddin juga orang yang sangat terpandang. Sebagian keluarganya juga merupakan ulama terpandang. Lengkaplah sudah bahwa Uns hidup di kalangan para pejabat yang dikawal dan penuh dengan kesenangan.

Mesir menjadi tempat kelahirannya. Tahun 780 H tepatnya. Kehidupannya sejak kecil layaknya kehidupan para putri bangsawan. Pendidikan yang diraihnya cukup tinggi. Dengan etika kebangsawanan yang tinggi. Hingga Uns di usianya yang baru menginjak dewasa sudah menjadi rujukan bagi para wanita bangsawan lain untuk bertanya. Hal ini dikarenakan dia mempunyai ketajaman pandangan dan kepandaian otak.

Takdirlah yang menjodohkannya dengan Ibnu Hajar. Melalui perantara guru Ibnu Hajar, Ibnu Qotton. Pada bulan Syaban tahun 798 H, Mesir menjadi saksi kebahagiaan Ibnu Hajar dan Uns yang melangsungkan pernikahan mereka. Ibnu Hajar ketika itu berusia 25 tahun sedangkan Uns berusia 18 tahun.

Uns telah memasuki dunia baru. Di hadapannya kini adalah suami yang sekaligus ulama terkenal di jamannya. Ahli hadits yang tiada bandingnya. Dan Ibnu Hajar mendapati istri sholihah yang sangat mencitai ilmu. Allah telah menjodohkan pasangan yang sangat serasi ini.

Dengan penuh kesabaran, Uns belajar hadits di rumah kepada suaminya yang mengajarnya juga dengan segala kesabaran dan kasih sayang. Seiring dengan perjalanan waktu, Uns mulai menjadi wanita yang memiliki ilmu hadits. Hingga suatu saat, Uns menjadi salah satu dari ahli hadits wanita yang sangat jarang didapati ketika itu. Uns mulai memasuki dunia keilmuwan dan namanya dikenal oleh para pecinta ilmu.

Uns pun mulai disibukkan dengan mengajarkan ilmu hadits yang dipelajarinya dari sang suami. Seperti juga suaminya, Uns mempunyai murid-murid yang banyak. Ada yang membaca shohih Bukhari dari awal hingga akhir.

Uns tetap seperti wanita lain. Yang senang memasak dan membuat kue istimewa. Setelah murid-muridnya menamatkan shohih Bukhari, Uns membuat kue dan makanan serta buah-buahan. Uns mengundang penduduk daerah tersebut. undangan terbuka untuk umum. Semua murid dan penduduk kampung dari yang besar hingga yang kecil semua berduyun-duyun menghadiri tasyakuran besar itu. Apalagi hari itu, adalah hari menjelang bulan Ramadhan. Pesta itu ikut dihadiri oleh suami tercinta Ibnu Hajar.

Bahkan Imam Sakhowi yang juga murid Ibnu Hajar, pernah meminta agar belajar hadits dari Uns. Dengan begitu sabar Ibnu Hajar duduk di samping istrinya yang sedang menyimak bacaan Sakhowi. Kebersamaan yang sangat indah.

Kebahagiaan keluarga berkah ini dilengkapi dengan hadirnya anak-anak buah cinta mereka. Uns memang luar biasa. Bukan saja sebagai pecinta ilmu, tetapi juga wanita yang memiliki kecintaan dan kasih sayang yang besar kepada suaminya dan memberikan keturunan untuk Ibnu Hajar.

Setelah empat tahun mereka menanti, Allah berkenan memberikan keturunan pertama, perempuan. Yang diberi nama Zein Khotun. Sebuah keluarga yang tertata rapi, karena istri yang terdidik di keluarga bangsawan yang penuh dengan kedisiplinan. Jarak dari satu anak ke anak yang lain hampir rata. Sekitar tiga tahun. Allah memberikan putri kedua yang diberi nama Farhah. Berikutnya yang ketiga juga putri yang diberi nama Gholiyah. Jarak tiga tahun berikut lahir putri keempat yang diberi nama Robiah. Dan akhirnya yang kelima pun putri dengan nama Fatimah.

Pasangan dengan lima putri yang cantik dan lucu-lucu. Suasana keluarga semakin terasa indah. Uns yang telah mengabdikan hidupnya untuk suaminya membuat Ibnu Hajar selalu merindukannya. Ketika Ibnu Hajar harus pergi meninggalkannya menuju Mekah dalam rangka melanjutkan menuntut ilmu, jarak Mesir Mekah mengukir kerinduan yang mendalam di hati Ibnu Hajar. Kerinduan terhadap kelima putrinya dan ibu dari putri-putrinya. Ibnu Hajar sempat menguntai bait-bait syair untuk mengungkapkan kerinduannya yang sangat dalam. Begitu romantis.

Perpisahan itu, semakin menambah kebersamaan mereka semakin indah. Saat-saat Allah mempertemukan mereka kembali. Pada suatu hari Uns meminta untuk ditemani pergi haji. Ibnu Hajar pun pergi dengan istri tercintanya itu untuk membangun kebersamaan itu di atas ibadah.

Setelah haji yang pertama ini, Uns kembali merindukan Mekah setelah kira-kira lima belas tahun berikutnya. Uns meminta ijin kepada suaminya untuk bisa pergi haji. Ibnu Hajar mengijinkannya. Kali ini Uns ditemani oleh cucunya Yusuf Syahin yang masih kecil.

Bersama kebahagiaan ini, Allah mempunyai kehendak lain. Kebahagiaan Uns bersama suami tercinta dan putri-putrinya serta cucunya, harus menghadapi taqdir Allah. Satu persatu putrinya meninggal di pangkuannya. Putrinya yang ketiga dan keempat meninggal terlebih dahulu setelah tertimpa penyakit yang mewabah waktu itu. selang beberapa tahun berikutnya, putrinya pertama menyusul kedua adiknya. Untuk kemudian giliran Allah memanggil putrinya yang kedua dan terakhir.

Dengan segala kebesaran hati, Uns menerima taqdir Allah, melepas kepergian belahan jiwanya. Tidak ada keluh kesah, yang ada adalah pasrah Kepada Allah.

Uns bak mutiara kilauannya semakin bersinar dari hari ke hari. Uns juga mempunyai sifat dermawan. Dia selalu menyisihkan uangnya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan para manula yang miskin.

Kebersamaan yang indah dengan suaminya bukan tiada akhir. Setelah lima puluh empat tahun mereka berbahagia bersama. Saling membantu, memahami, memaafkan dan berbagi. Pada bulan jumadil awal tahun 852 H Ibnu Hajar mendapat musibah sakit. Sakit itu berkelanjutan sampai tujuh bulan lamanya. Dengan penuh pengabdian yang tulus dan kesabaran yang luar biasa, Uns merawat suaminya. Hingga pada malam Sabtu tanggal 28 Dzul Hijjah tahun 852 H Uns harus melepaskan orang yang paling dicintainya dalam hidupnya. Harus melepas kenangan indah bersama suaminya. Untuk dilanjutkan kelak di akhirat sana.

Uns adalah tipe wanita yang sangat setia. Tidak terpikir olehnya untuk menikah lagi. Padahal Uns masih hidup 15 tahun lagi setelah ditinggal suaminya. Dalam rentang 15 tahun itu Uns menghabiskannya untuk iimu, ibadah dan pengabdian ke masyarakat. Allah berkenan memberinya usia panjang. Pada usianya yang ke-87 tepatnya bulan Robiul Awal tahun 867 H, Uns harus menghadap kepada Penciptanya, menyusul suami tercinta. Semoga Allah SWT merahmati Uns binti Abdul Karim.

Yogyakarta, 01 Oktober 2012
Mashudi Antoro (Oedi`)

{Disadur dari http://kisahislami.com%5D

14 thoughts on “Kemulian Hati Seorang Istri Terbaik

    Nuriya Sri Nuryati said:
    Oktober 1, 2012 pukul 5:12 am

    Subhanaalloh….. suatu kisah yang sungguh indah dan penuh hikmah……
    Tapi mungkin hanya 1001 di temui di zaman sekarang….hanya orang” yang berilmu dan menyerahkan hidupnya di jalan Alloh swt saja yg bisa melalui hidup sprt Uns……terima kasih mas oedi untuk linknya……di tunggu untuk karya” selanjutnya,,,cayoo ^_^

      oedi responded:
      Oktober 10, 2012 pukul 12:38 pm

      Hmm… walau hanya 1 di antara seribu, itu berarti masih ada, bahkan saya yakin tidak sampai seperti itu, masih banyak wanita shalihah di luar sana, cuma di zaman sekarang ini mereka tenggelam dan tidak terihat.. tapi insya Allah tidak lama lagi kehidupan manusia akan jauh lebih baik dari sekarang, dan akan banyak wanita yang shalihah menjamur di muka bumi ini…
      Okey… makasih juga mbak Nuriya atas kunjungannya, semoga tetap bermanfaat.. 🙂

    Andika21 said:
    Oktober 2, 2012 pukul 6:35 am

    Subhanallah…. begitu romantis dan setianya pasang yg diberkahi allah ini, salah satu contoh yg bisa kita ambil hikmahnya. rasa kesetiaan dan ketabahan dalam menghadapi ujian dari allah dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. amin….
    terima kasih mas linknya semangat 🙂

      oedi responded:
      Oktober 10, 2012 pukul 12:41 pm

      Yup, inilah keromantisan yang sesungguhnya, yang seharusnya dimiliki oleh setiap pasangan, tetapi kini sudah jarang…
      Okey Dik, makasih ya atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat.. 🙂

    annisa fitri said:
    Oktober 7, 2012 pukul 4:46 am

    Subhanallah banyak hikmah dari kisah ini … pengabdia nya terhadap suami dan berserahdirinya terhadap Allah sangat Luarbiasa…:)
    boleh saya Share mas..?

      oedi responded:
      Oktober 10, 2012 pukul 12:49 pm

      Yup, inilah salah satu kisah perjalanan kehidupan yang patut di jadikan teladan sikap, karena insya Allah akan membawa kebaikan dan berkah..
      Oh silahkan saja mbak, saya malah senang jika mbak Annisa berkenan menyebarkannya… terimakasih untuk itu… 🙂
      Okey.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

    ningnong said:
    Oktober 12, 2012 pukul 7:46 am

    Subhanallah ya di’.. Semoga bermanfaat share-nya..
    Semoga juga kita semua bisa meneladani kisah ini sekaligus bisa mengamalkan dalam kehidupan sekarang maupun kelak ketika sudah berumah tangga.. aamiin 🙂

    Makasih sharinya.. *tetep semangat nulis!! 😀

      oedi responded:
      Oktober 12, 2012 pukul 1:41 pm

      Iya Nin, kisah ini patut di jadikan teladan, khususnya bagi kaum muslimah, karena inilah kodrat sejati yang sebenarnya harus dimiliki oleh setiap muslimah, jauh dari maksiat dan kebodohan..
      Amiin.. semoga aja demikian, bahwa tulisan ini bisa memberikan manfaat siapa saja yang mau membaca dan meneladaninya..
      Wokey… makasih ya Nin atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat.. 🙂

    zeni said:
    Oktober 18, 2012 pukul 4:41 am

    subhanallah….indah banget kisahnya. bagiku, kisah ini sangat patut diterapkan dalam hidupku. akupun berharap bisa sepertinya.

      oedi responded:
      Desember 26, 2013 pukul 5:43 am

      Iya, memang kisah beliau ini sangat menawan dan bisa dijadikan tolak ukur umat dalam menjalani kehidupannya sehari-hari… karena tentunya akan membawa banyak manfaat dan tentunya kebahagiaan hidup dunia dan akherat..
      Amiin.. saya doakan mbaknya bisa seperti beliau, menjadi muslimah yang sejati.. 🙂
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfat.. 🙂

    Any Al-Qarni said:
    Oktober 20, 2012 pukul 1:33 pm

    subhanallah… kisahnya sungguh menginspirasi.. hebatt seorang muslimah yang baik serta tauladan dan wajib dijadikan referensi oleh kaum wanita zaman sekarang :))

      oedi responded:
      Desember 26, 2013 pukul 5:52 am

      Ya. Sebenarnya selain ummul mukminin, ada banyak lagi dari kalangan muslimah yang bisa dijadikan teladan dalam kehidupan ini sehingga kita tidak perlu lagi mencari teladan dari orang lain, apalagi para politisi dan artis…
      Tetapi saya pun tidak tau, entah karena sengaja atau tidak, maka begitu banyak kisah hebat dari kalangan muslimah yang shalehah tidak terangkat ke ranah publik sekarang, mereka seolah-olah tenggelam oleh kebesaran kaum laki-laki.. padahal tidak ada seorang laki-laki hebat jika tidak ada wanita hebat di sampingnya..
      Semoga saja tulisan ini bisa menjadi awal bangkitnya pemahaman dan kesadaran bahwa peran wanita muslimah di dunia sangat penting, bahkan terkadang dibeberapa keadaan lebih penting dari pada kaum prianya… sehingga semakin banyak yang mempelajari dan meneladani sosok muslimah yang shalehah.. 🙂
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

    Zenda Widy said:
    November 25, 2012 pukul 4:44 am

    semoga ketulusan hati kita yang membaca kisah ini………sehingga tidak hanya menjadi selayang pandang Amin.

      oedi responded:
      Desember 26, 2013 pukul 5:58 am

      Amiin.. semoga saja demikian, karena tiada gunanya membaca bila tidak mau mengambil hikmahnya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari.. karena hanya dengan mengambil hikmah dan menerapkan apa yg sudah dibacalah kita baru bisa dikatakan telah mematuhi perintah Tuhan yang sebenarya, dalam hal ini adalah perintah “Iqra`”, yaitu membaca atau mengkaji atau memahami sesuatu hal dengan benar…
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, saya doakan semua yang membaca tulisan ini mendapat hidayah Allah SWT dan benar-benar bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga terbitlah kebahagiaan dan kemuliaan.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s