Manusia dan Hewan

Pada suatu musim tanam, aku berjalan-jalan mengelilingi bukit dekat pondok seorang lelaki muda. Hawa yang sejuk dengan hembusan angin sepoi-sepoi mempermainkan perasaanku. Aku begitu menikmati suasana kala itu, seakan-akan hati ini tercerabut dari tempatnya lantaran bahagia.

Sesampainya di dekat pondok itu, aku teringat perkataan orang-orang tentang dirinya. Sebagian mengatakan bahwa ia adalah seorang penyair yang sedang menyepi dan ingin lebih banyak meresapi makna kehidupan. Yang lainnya berkata bahwa ia adalah seorang sufi yang tengah ber-khalwat, demi menemukan cinta sejati-Nya. Yang lain lagi berkata bahwa dia adalah seorang pertapa yang sudah menjadi sanyasin, dan hendak moksa di akhir kehidupannya. Dan sebagian lagi dengan ucapan ringan telah berkata bahwa ia adalah orang sinting yang tidak jelas.

Mengingat kata-kata mereka itu, aku masih tetap pada keyakinanku yang tidak setuju dengan mereka. Pendapat-pendapat itu aku rasa hanyalah dasar ketidaktahuan mereka saja. Sehingga dengan bodohnya pula seenaknya berkata tanpa mengetahui yang sebenarnya. Dan untuk itulah, kali ini ku coba mendekati pondok itu. Mencoba menghampiri sang pemuda lalu berbincang-bincang dengannya.

Langkah kakiku kian mendekati kediamannya. Ada rasa enggan untuk lebih dekat, namun di lain sisi justru ingin segera tiba di pondok itu. Yang pada akhirnya terus saja aku berjalan, karena yang menang adalah rasa penasaranku selama ini.

Setibanya di pondok itu, segera ku ketuk pintunya. Salam pun kusampaikan. Tetapi sahutan justru kudengar dari samping kanan rumahnya.  Ternyata sang pemuda tengah duduk santai diatas dipan bambunya yang tepat menghadap ke arah sungai. Ya dibawah rimbun pohon meranas, ia duduk dengan tenang sembari menikmati suasana yang teduh itu.

Ku dekati ia dengan berjalan menghampiri. Ia pun menoleh ke arahku dan tersenyum. Lalu mempersilahkan aku duduk di sampingnya. Setelah itu ia berkata: “Ada banyak tempat yang mewah untuk kau datangi, tetapi mengapa gubuk jelek ini yang engkau tuju?”

Aku pun menjawab: “Karena tidak ada yang bisa memaksaku untuk mengikuti keinginan relatif manusia”

Ia kembali berkata: “Disini tak ada yang bisa membuat bahagia jiwa-jiwa yang lepas”

Ku balas dengan berkata: “Itu mereka, sedangkan aku adalah jiwa yang bebas”

Sejenak ia terdiam namun tetap menatapku. Sepertinya ia mengetahui apa yang ada di dalam pikiranku, lalu dicarinya penjelasan dengan bertanya: “Apakah engkau datang karena melarikan diri atau menginginkan terbebas dari pertanyaan?”

Mendapati itu aku pun menjawab sesuai dengan apa yang ku rasakan: “Aku tidak datang kepadamu dalam rangka melarikan diri atau ingin terbebas dari pertanyaan, tetapi kedatanganku kali ini adalah untuk menyambungkan kehormatan yang menjadi hak kita sebagai manusia”

Mendapati jawabanku itu, ia lantas mengerti makna kedatanganku. Kami pun lantas saling menahan diri dengan turut menikmati indahnya suasana alam dan sepoinya angin sore hari. Namun tiba-tiba terdengar suara ribut dari langit di seberang sungai. Suara itu menyanyat perih. Kuat sekali hingga membuat siapa saja akan terbangun dari tidurnya. Setelah diselidiki, ternyata berasal dari seekor burung alap-alap yang terjatuh dari angkasa.

Burung alap-alap itu ternyata diserang seekor rajawali yang jauh lebih besar dari dirinya. Setelah dicakar, burung alap-alap ini pun dilemparkan ke wajah bumi oleh si rajawali dan posisinya menghantam batu kali. Keras sekali hantamannya, hingga kini dalam keadaan sekarat. Kami pun berusaha mendekati dengan menyeberangi sungai. Setelah dekat, ternyata si burung alap-alap kehabisan daya dan akhirnya mati.

Melihat kejadian itu, si pemuda penyendiri pun berkata: “Alangkah baiknya jika manusia memiliki sifat seperti burung. Sehingga Sang Rajawali bisa mematahkan sayapnya dan menghancurkan kepalanya. Tapi manusia adalah tetap manusia, yang sebagian besarnya adalah pengecut. Ia tidak berani bertaruh nyawa demi kemuliaan dirinya, atau meski harus berhadapan dengan kekuasaan dunia untuk sekedar patuh hanya pada Sang Kekasih. Bahkan ia kerap lari dari kenyataan atau bersembunyi di antara kemunafikkan pakaiannya”

Menuruti pandangan itu, aku pun menimpali: “Ya, burung memiliki kehormatan yang tidak dimiliki oleh manusia. Ia selalu perkasa dan berani, sedangkan manusia sering takut dan hidup dalam bayang-bayang. Ia selalu tidak merasa tenang (lantaran serakah), sehingga hukum dan adat yang dirancang hanyalah untuk dirinya. Sedangkan burung hidup selalu dalam keserasian hukum mutlak dan universal yang menggerakkan alam semesta”

Mendapati perkataanku barusan, matanya bersinar dan wajahnya menunjukkan kegembiraan. Ia seperti anak kecil yang senang melihat tetek ibunya. Lalu dengan nada yang lebih bersemangat, ia pun berkata: “Bagus, bagus. Sekarang! jika engkau mempercayai apa yang telah kau katakan, maka tinggalkanlah manusia dengan adat mereka itu. Jauhilah mereka dari kebiasaan hinanya dan kebobrokan hukum yang telah mereka buat. Sebab, semuanya tak pantas bila dikatakan hukum yang sejati, lantaran sering bertentangan dengan hukum bumi dan langit”

Sejenak aku terdiam, berpikir mendalami, kemudian membalasnya: “Aku percaya penuh dengan apa yang ku katakan. Bahkan aku tidak hanya percaya, karena percaya itu satu hal, namun perbuatan adalah hal lain”

Ia pun menimpali: “Hmm.. Banyak yang berbicara meluas bak samudera, tetapi mereka hidup seperti sebuah kubangan kerbau. Banyak yang menengadahkan tangannya untuk berdoa sebanyak butiran pasir di pantai, tetapi hatinya tenggelam seperti pasir di dalam sumur”

Setelah tenang, aku membalas: “Ya itu mereka, bukan diriku. Karena hakekat cinta yang sesungguhnya adalah patuh dan murni saat menjalankan perintah Tuhan. Bahkan lebih baik tidak sama sekali, jika ia dijalankan dengan setengah hati. Lantaran yang setengah itu tidak bisa dikatakan kaffah

“Lalu apa yang sebaiknya di lakukan?” pertanyaannya meluncur kepadaku.

“Biarkan dirimu hanya larut dalam percintaan yang agung. Cinta sejati yang hanya tertuju kepada Yang Absolut dan Universal. Jangan bertindak hanya berdasarkan keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari-Nya, tetapi berikanlah yang terbaik untuk-Nya. Dan engkau tidak akan mendapatkan kesempurnaan, jika tidak menjalani urusanmu sebagai manusia (hablumminannas) dan tidak pula urusanmu sebagai hamba-Nya (hablumminallah) dengan sempurna”

“Benarkah sebaiknya demikian?” kejarnya.

“Ya, kebenaran itu sejatinya mudah dijalankan, lantaran ia selalu dicontohkan oleh sosok pembawa wahyu Tuhan (Nabi dan Rasul). Dimana mereka pastinya menjalani hablumminallah dengan hatinya dan hablumminannas dengan tubuhnya. Sedangkan siapa kita ini? Apakah merasa lebih hebat dan mulia dari para Nabi dan Rasul? Sehingga mengasingkan diri dari aturan Sang Penguasa”

Mendapati penjelasanku barusan, terlihat redup sinar di wajahnya. Ia terlihat murung dan sesaat menitikkan airmata. Setelah di selidiki, ternyata ia tengah menyadari siapa dirinya selama ini. Tentang kebenaran dan kesalahan yang dilakukannya dalam hidup. Dalam menjalan tugas sebagai manusia di muka bumi”

Aku pun tersenyum, lalu ikut meneteskan airmata. Merasakan bahwa anugerah-Nya tidak pernah menjauh dari hamba-Nya yang bersedia. Dari siapa saja yang terus menjadikan dirinya sebagai manusia yang sebenarnya. Atau hanya tulus mengabdi dan menjadi hamba-Nya saja, bukan budak dari hasrat keinginan. Sehingga tidak perlu lagi dibandingkan dengan seekor hewan.

Yogyakarta, 08 Juli 2012
Mashudi Antoro (Oedi`)

Iklan

7 thoughts on “Manusia dan Hewan

  1. subhanallah…. kejadian yang luar biasa yg dikemas sedemikian rupa tapi tetap mengandung unsur dakwah, penjabaran dua kalimat syahadat yang selalu kita ucapkan di sepanjang waktu tersirat dalam tulisan ini
    “Biarkan dirimu hanya larut dalam percintaan yang agung. Cinta sejati yang hanya tertuju kepada Yang Absolut dan Universal. Jangan bertindak hanya berdasarkan keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari-Nya, tetapi berikanlah yang terbaik untuk-Nya. Dan engkau tidak akan mendapatkan kesempurnaan, jika tidak menjalani urusanmu sebagai manusia (hablumminannas) dan tidak pula urusanmu sebagai hamba-Nya (hablumminallah) dengan sempurna”
    sungguh nasihat yang indah sekali mas….

    makasi linknya 🙂

    1. Alhamdulillah… semoga tulisan ini tetap memberikan manfaat untuk kita semua.. tengtang arti penting dan hakekat dari Dua Kalimat Syahadat yang sesungguhnya… yg kini banyak diabaikan oleh pribadi umat..
      Okey Dik, makasih juga atas kunjungan dan dukungannya, tetap SEMANGAT!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s