Panggilan Sang Kekasih

Duhai kekasihku.
Apakah engkau telah penuh dengan hikmah syurgawi? Apakah engkau berada di syurga indah itu? Duduk manis menikmati lambaian angin sepoi dan indahnya taman yang di penuhi bunga-bunga semerbak.

Tapi, dimanakah kau tempatkan persembahan hatimu untukku? Kepada jiwa kudus yang mulia atau kebajikan untuk menghormati saja?
Sehingga engkau pun mengajakku untuk berdoa di dalam ruangan khusus, untuk mengisi cawan kehidupan sejati. Sebagaimana hikmah pengetahuan yang terlihat nyata dalam kefanaan.

Wahai kekasihku.
Ingatkah dirimu saat kita berjumpa di taman cinta? Ketika aroma mesra kasih sayang merangkul kita, mengelilingi kita dalam canda tawanya. Peri-peri cantik pun turut mendendangkan melodi asmara. Memanjatkan pujian atas kehendak jiwa.

Ingatkah engkau ketika setiap pertemuan kita selalu di isi dengan perbincangan yang bukan urusan pribadi, bukan pula tentang diri kita. Bahkan malam pun menaungi tempat duduk kita dengan dahan-dahannya yang rindang.

Ya. Aku tetap ingat itu semua. Detilnya bahkan tersimpan di dalam memori otakku. Dan tentu disanalah ia akan terus berada, bersanding dengan kesetiaan jiwaku. Selalu ada, hingga kita berjumpa kembali.

Tapi sayang, engkau telah pergi. Jauh meninggalkan tempat bersanding kita dulu. Padahal indahnya cinta terus menawan hati kita. Sedangkan eloknya taman senantiasa menawarkan pengabdian agar kita selalu datang dan duduk berdampingan mesra.

O.. Apakah kini engkau tetap mengenang wajahku? Di dalam ingatanku, apakah masih ada aku disana? Sebab, gambaran tidak lagi menjadi milikku, sedangkan duka telah menjatuhkan bayanganmu dari wajahku yang dulu bahagia.

Sungguh, isak tangis telah membuat mataku sembab. Karena membayangkan dirimu tidak pernah mengobati rinduku. Cerminan keindahan  wajah dan hatimu membuat kagum naluriku. Menguras habis segala kebosananku untuk bersatu denganmu.

Dimanakah engkau duhai bintangku?
Apakah tetap saja memanggil ladang dan menanami tanahnya? Atau menyirami bunga agar tumbuh segar dan memandang kepadamu. Sebagaimana musafir yang memandang segelas air di tengah tariknya siang?

Apakah engkau memahami kebutuhanku terhadapmu? Padahal meski dengan kesabaran ia selalu memuncak setiap harinya. Sehingga dengarkanlah suara hatiku walau dari seberang samudera.

O.. Adakah tangan yang dapat menyampaikan risalahku padamu? Yang mampu menyatukan kita? Sebab, napas sosok yang sekarat ini tidak berani menjamin seberapa lama akan bertahan. Dan keterpencilan dalam kehidupan dunia telah mendekap erat di dadaku.

Dimanakah engkau kekasihku?
Kirimkanlah senyumanmu lewat hembusan angin atau kunang-kunang malam. Lakukanlah itu, karena akan sampai dan menghidupkan aku.

Yogyakarta, 07 Juli 2012
Mashudi Antoro (Oedi`)

Iklan

8 thoughts on “Panggilan Sang Kekasih

  1. mantabss mas….. dapat ide langsung di tulis 🙂
    “Kirimkanlah senyumanmu lewat hembusan angin atau kunang-kunang malam. Lakukanlah itu, karena akan sampai dan menghidupkan aku.” bagus kata-katanya mas
    makasi linknya, ditunggu tulisan berikutnya mas….

    1. Okey Dik, makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Iya nih, kalau udah dapat ide ya langsung di tuliskan.. kalau tidak, nanti lupa dan hilang ide itu..

    1. Oh ya? wah tetap semangat deh… dan makasih juga karena masih tetap mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat.. 🙂

    1. Hayah.. jangan lebay gitu deh.. hehe.. 🙂
      Okey Ben, makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s