Fase Terakhir Bangsa Indonesia: Kehancuran

Saudaraku sekalian, kali ini kita akan membahas tentang umur sebuah bangsa atau negara. Fokus yang akan di telusuri adalah mengenai lamanya peradaban sebuah bangsa/negara itu berlangsung dan penyebabnya. Dan pada pembahasan kita saat ini adalah Indonesia, tempat dimana kita tinggal dan masuk dalam ketatanegaraannya.

Ketahuilah, bahwa sebuah pemerintahan akan terus mengalami transisi dalam berbagai fase dan keadaan yang berbeda. Dalam kurun waktu tertentu, maka akan ada perbedaan mencolok yang terjadi di dalam sebuah negara. Dan tidak sedikit pula perubahan yang akan menandakan berakhirnya masa pemerintahan yang ada, menuju kehancuran secara tiba-tiba atau pun sistematis.

Tanda-tanda akan hancurnya sebuah pemerintahan yang berdaulat adalah para penyelenggaran negara tersebut telah memiliki gaya hidup tertentu yang jauh dari nilai agama dan kesederhanaan, alias gemar berlaku bodoh, tamak, maksiat, boros dan menjauh dari nilai kebenaran. Memang setiap fase yang terjadi di dalam perjalanan kehidupan sebuah negara akan berbeda, tergantung kondisi yang mempengaruhinya secara naluriah. Namun semakin ke ujung – karena biasanya berkisar lima fase saja – maka akan semakin memperlihatkan tanda-tanda datangnya kehancuran.

Fase yang terjadi bagi perjalanan sebuah bangsa/negara terutama Indonesia akan berkisar tidak lebih dari lima fase saja (bila Allah SWT mengizinkan). Ini di mulai sejak masa kemerdekaan hingga akan berakhir pada masa kehancurannya nanti. Dan untuk lebih memperjelasnya agar Anda sekalian bisa merenungkannya, berikut ini diberikan penjelasan tentang kelima fase tersebut. Di antaranya:

1. Fase Pertama (generasi terbaik dan pendirian sebuah bangsa/negara)
Pada masa ini, maka fase yang terjadi adalah pemantapan kekuasaan melalui penggulingan dan penguasaan terhadap sebuah wilayah dengan cara merebut kekuasaan dari tangan penguasa sebelumnya. Hal ini telah terjadi pada bangsa Indonesia yang telah berhasil merebut kekuasaan dari tangan penjajah kolonial Belanda (VOC) dan Jepang. Sehingga fase ini telah menjadi fase pertama bagi negara Indonesia, karena jelas sekali telah di lewati terutama sejak proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.

Di dalam fase ini terdapat keteladanan bagi sebuah bangsa, baik dalam mencapai kejayaan, kepahlawanan, pengorbanan, fanatisme kebangsaan, dan keinginan yang hendak dicapai seluruh komponen bangsa. Disini terdapat pula kebersamaan dan persatuan yang kuat dari setiap lini masyarakat yang ada. Sehingga secara bersama-sama, cita-cita yang ada bisa terwujudkan, yaitu merebut kekuasaan dan mendirikan sebuah negara atau lepas dari jerat penjajahan.

2. Fase Kedua (melanggengkan kekuasaan)
Fase ini adalah kelanjutan cita-cita dari fase pertama. Awalnya mereka masih meneruskan cita-cita dari generasi fase pertama (para pendiri bangsa), namun seiring waktu terjadi pergeseran makna dalam kepemimpinan. Sebelumnya kepemimpinan berarti melindungi dan mensejahterakan rakyat berubah menjadi sikap yang otoriter dan penuh kesewenang-wenangan. Maka pada fase ini terjadilah pengekangan terhadap kebebasan, membukam pemikiran dan pendapat, membatasi peran rakyat dalam urusan pemerintahan dan tersebarnya fitnah.

Dalam fase ini, maka rezim yang berkuasa terkadang lebih mempercayai orang-orang atau kekuatan yang berada di luar negaranya, asalkan mereka tetap loyal kepadanya. Rezim yang berkuasa pun akan terus berusaha menghalangi dan menutup akses jalan kebangkitan orang-orang yang akan melakukan perlawanan. Sosok individu atau kelompok yang memiliki potensi menggoyahkan pemerintahan rezim akan dijauhkan dari pemerintahan, bahkan di tuduh makar dan di penjarakan tanpa pengadilan yang jujur alias sepihak. Sehingga konsentrasi pun cukup terfokus pada bagaimana melanggengkan kekuasaan yang sudah dimiliki. Bahkan meski harus mengorbankan kepentingan rakyat dan bangsa hingga nyawa sekalipun tidak menjadi masalah bagi rezim ini. Yang penting mereka tetap bisa berkuasa dan menikmati hasil dari kekuasaan itu.

Indonesia, tepatnya dimasa Orde Lama dan Orde Baru, pernah mengalami fase semacam ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fase kedua dalam sejarah peradaban bangsa pada umumnya telah di alami oleh bangsa ini.

3. Fase ketiga (masa transisi)
Pada fase ini, maka banyak terjadi pergolakan di dalam sebuah bangsa/negara. Ini terjadi karena telah sekian lama terjadi ketidakadilan dan tindakan yang otoriter oleh para penguasanya. Untuk itu, rakyat yang telah jenuh – melalui tokoh-tokoh yang berpengaruh – mulai bangkit dengan kemarahan dan melakukan perlawanan dimana-mana sebagai wujud dari kebebasan yang ingin diraih. Sehingga pada akhirnya, tumbanglah rezim yang sedang berkuasa dengan tangan besi itu.

Namun, pada masa-masa transisi ini, maka biasanya mereka yang telah berontak dan berhasil menggulingkan kekuasaan sebuah rezim tidak memperhatikan apa saja yang harus dan akan dilakukan setelah berhasil menggulingkan rezim yang berkuasa. Mereka kurang terencana dalam urusan setelah berhasilnya perjuangan mereka. Bahkan kebanyakan dari mereka hanya berpikir tentang bagaimana bisa menghancurkan tirani yang ada tanpa memikirkan bagaimana memperbaiki kondisi setelahnya, yaitu menjadikan kehidupan di masyarakat lebih adil dan sejahtera. Sehingga lambat laun apa yang telah susah payah mereka perjuangkan dengan keringat, harta dan darah menjadi sia-sia, sedangkan hasil akan menjauh dari harapan.

Pada saat ini pula, maka akan banyak pengaruh yang masuk ke dalam bangsa dan hadir pula kekuatan yang hanya ingin mengambil keuntungan. Dengan cara terbuka atau pun tersembunyi, mereka yang berkepentingan itu akan melancarkan niat mereka. Dan biasanya akan merubah paradaban dan sosial masyarakat sebuah bangsa/negara secara perlahan. Yang tentunya tidak lantas menjadikan itu baik, justru semakin merusak kondisi yang ada. Bahkan sebuah bangsa akan mulai kehilangan jati diri dan fanatismenya sendiri, sehingga semakin mudah di “bodohi” oleh kekuatan asing di luar bangsanya.

Fase ini telah terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia, tepatnya sejak pergolakan reformasi 1998, dengan tergulingnya rezim Orde Baru dan munculnya Orde Reformasi hingga sekarang ini.

4. Fase keempat (stabilitas dan ketenangan)
Fase ini terjadi setelah fase transisi selesai. Meski manfaat dari kekuasaan telah berhasil di peroleh, yang di karenakan pengaruh dari kepentingan tertentu dari kekuatan asing, namun fase ini adalah periode yang akan menentukan kemana arah sebuah bangsa/negara. Di fase ini pula akan terjadi perubahan mendasar sistem ketatanegaraan dan kebiasaan. Meski pada umumnya tidak secara terang-terangan, namun bila dilihat dengan seksama akan terlihat jelas, terlebih jika dibandingkan dengan tujuan awal berdirinya negara. Sehingga hilanglah jiwa kepahlawanan.

Pada fase ini, kian banyak berdirinya pabrik-pabrik berskala internasional, di bangun pula gedung-gedung pencakar langit, perkotaan yang luas dengan segala fasilitas hiburannya, serta di dirikannya bangunan monumental dimana-mana, sehingga memperjelas bahwa pada fase ini orang-orang – terutama para elitnya – semakin cinta dunia.

Pada fase ini pula akan terjadi banyak perubahan sudut pandang dan pemikiran para elit atau penguasa. Dan dikarenakan mereka telah mapan dalam kehidupannya, di tambah dengan pengaruh asing, maka hidup yang hedonis dan apatis akan mulai menjangkiti. Sehingga segala yang dikerjakan sedikit demi sedikit akan berorientasi hanya pada pemuasaan hawa nafsu. Yang menyebabkan banyak komponen bangsa tidak mengenal siapa diri mereka sebenarnya sebagai satu kesatuan bangsa. Fanatisme pun kian memudar dan berganti dengan kekaguman kepada bangsa lain. Sehingga fase ini adalah fase yang cukup mengkhawatirkan bagi kelangsungan kehidupan sebuah bangsa/negara, karena telah tiba pada masa yang menentukan kelanjutannya. Kalau tidak segera di perbaiki, maka bangsa/negara akan hancur dan hanya akan meninggalkan sejarah.

Fase ini pun telah dan masih terus di alami oleh NKRI, tepatnya setelah reformasi 1998. Dan bila terus masuk pada fase ini, maka tunggulah bahwa kehancuran akan terjadi dalam waktu yang ditentukan oleh-Nya.

5. Fase kelima (kehancuran)
Pada fase ini, maka yang terjadi adalah kepuasan, sedangkan fanatisme kebangsaan telah menghilang. Dalam fase ini pun rezim yang berkuasa sudah merasa puas dengan pencapaian mereka. Mereka terus mengikuti pendahulu mereka di fase keempat tanpa berusaha kembali pada tujuan awal berdirinya negara. Pemborosan dan gemar berfoya-foya cenderung menjadi kebiasaan mereka. Mereka terus membenamkan diri dengan pemuasaan hawa nafsu, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan. Korupsi, menghambur-hamburkan uang negara, hiburan dan maksiat kian merajalela dimana-mana tanpa tindakan yang tegas dari aparat. Bahkan para “ulama” pun turut menikmati perilaku tercela ini, dan terus bersembunyi di balik baju kemunafikkannya. Sehingga fitnah pun kian banyak di dalam kehidupan bangsa/negara.

Fase ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar orang tidak mengetahui lagi apa yang harus dikerjakan dan apa saja yang mestinya di tinggalkan. Kebijakan yang dikeluarkan tidak lagi berdasarkan pada pemikiran yang cerdas dan nilai-nilai luhur agama. Bahkan pembuat kebijakan sendiri adalah mereka yang sudah jauh dari aqidah agama. Dan tidak sedikit yang telah menjadi kaki tangan syaitan dalam menyesatkan umat manusia, melalui organisasi-organisai rahasianya. Sehingga apapun undang-undang dan aturan yang ada hanya menyenangkan mereka yang cinta dunia dan senang memenuhi hawa nafsunya, sedangkan bagi yang berpegang teguh pada aturan Tuhan menjadi tertindas. Baik secara langsung atau pun tidak, karena rezim yang ada tidak lagi menjadikan kebaikan beragama sebagai kebiasaan hidup.

Sehingga, seiring berjalannya waktu, maka dukungan terhadap rezim akan hilang. Sebagian yang mendukung dan lainnya menolak. Ini jelas memperlemah kekuatan yang dimiliki oleh bangsa yang berdaulat, sedangkan rezim yang ada akan berada di ujung jurang kehancuran. Nafsu para elit dan rusaknya akhlak di dalam masyarakat makin memperparah kerusakan kondisi bangsa/negara dan meruntuhkan kekuatan yang dibangun oleh para pendahulunya. Dan saat yang tidak mendukung – meskipun lebih sedikit dari yang mendukung – mulai bersatu dalam satu pemikiran dan pemimpin, maka akan terjadilah revolusi besar-besaran. Dan tentunya keadaan yang terjadi bagi sebuah rezim, bangsa dan negara akan hancur berantakan, bahkan bisa musnah dan berganti dengan yang baru.

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (QS. Al-Israa’ [17] ayat 16)

Inilah fase terakhir sebuah bangsa/negara, dimana akan dan telah terjadi kehancuran dimana-mana. Kemudian bangsa/negara yang ada sebelumnya akan berganti dengan yang baru, dengan sistem dan ketatanegaraan yang baru serta cita-cita yang baru. Dan fase ini adalah fase dimana sekarang sedang terjadi di Indonesia. Memang belum tampak nyata kehancurannya, tapi secara perlahan-lahan sedang terjadi. Dan nanti bila tiba waktunya – atas izin Allah SWT – maka kehancuran pun akan benar-benar terjadi. Baik dengan cara sistematis atau pun melalui cara-cara yang tidak bisa diperkirakan (laknatullah). Sehingga atas izin-Nya, maka hilanglah sebuah bangsa yang bernama Indonesia, lalu berganti dengan bangsa yang baru, dengan sistem dan peradaban yang baru pula.

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain” (QS. Al-An’aam [6] ayat 6)

*****

Demikianlah pemaparan singkat mengenai fase sebuah bangsa, khususnya yang telah, sedang dan akan dialami oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua yang ada tidak langsung berkaitan dengan nubuat/ramalan yang telah ada sebelumnya, tetapi lebih kepada mencermati gejala sosial dan perputaran roda kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Diperkuat pula dengan apa yang pernah dipaparkan oleh seorang ilmuwan sekaligus ulama Islam di abad ke-14 Masehi, yaitu Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah kitab Al-`Ibar karyanya.

Semoga apa yang telah dipaparkan di atas menjadi bahan renungan kita bersama, tentang apa yang telah, sedang dan akan terjadi bagi keutuhan bangsa ini. Dan hemat saya, baiklah bagi kita untuk terus memperbaiki diri dan mempersiapkan dengan sebaik mungkin apa saja yang diperlukan untuk hari depan. Dan bila seandainya terjadi kehancuran sebagaimana fase kelima di atas, maka insyaAllah kita akan siap menghadapinya. Namun jika itu semua tidak terjadi, maka tentulah kita sudah menjadi seorang pribadi yang lebih baik dari sekarang. Yang pastinya akan mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi kita sendiri di dua dunia.

Hanya Allah SWT lah yang berkuasa atas segala peristiwa dan kejadian. Baik yang telah, sedang dan akan terjadi kemudian. Tugas kita hanyalah patuh dan selalu berserah diri kepada-Nya.

Yogyakarta, 25 Juni 2012
Mashudi Antoro (Oedi`)

Iklan

27 thoughts on “Fase Terakhir Bangsa Indonesia: Kehancuran

  1. subhanalloh….. mas oedi sungguh penjelasan yg luar biasa lengkap tentang face perjalanan hidup suatu bangsa,khususnya bangsa kita sendiri yaitu NKRI,memang sudah keliatan banget kalau bangsa kita ini telah memasuki face ke 5….karena nampak se x penyimpangan2 di sana sini yang sudah jauh dari 7an awal didirikannya NKRI,….coba kita tengok lagi uraian2 diatas,bukankah demikian??….,itu bukan hanya sekedar uraian atau penjelasan namun memang sudah benar2 nyata terjadi dlm kehidupan masyarakat kita…..dari pemimpinnya ataupun..rakyatnya,seolah2 semuanya hanya berlomba2 mengejar kebahagiaan dunia.tanpa memikirkan lagi adanya kehidupan yang sebenarnya yaitu akhirat,,,,sehingga dg menghalalkan berbagai cara asalkan kepuasan dunia bisa tercapai akan dilakukan…memang masih ada sebagian orang yg mau berfikir tentang ini,tapi itupun tdk banyak,.mungkin hanya orang2 tertentu saja yg sudah memiliki tingkatan lumayan dlm keimanannya dan ketaqwa`annya menyadari akan hal ini, semoga kita bukan yg termasuk di dlmnya insyaalloh,,,,,se x lagi mas oedi hanya ucapan terima kasih yg sedalam2nya karena telah mau berbagi semuanya dgq…kiranya ini akan q jadikan acuan supaya nanti kalau benar2 face 5 itu terjadi pada bangsa kita ini aq pribadi sudah benar2 siap tuk menghadapinya…….amin insyaalloh…jgn pernah bosan untuk berkarya dan berbagi dalam kebaikan !!! Alloh selalu bersamamu…..cayooo piace ^_^

    1. Iya sama2.. terimakasih juga atas kunjungan, dukungan dan doanya, begitu pun kebaikan ku harapkan untukmu… 🙂
      Amminnn… syukurlah bila tulisan ini bisa sedikit memberikan gambaran dan peringatan, bahwa bangsa ini memang tengah berada di ujung jurang kehancuran, tinggal sedikit lagi penyebabnya maka akan jatuh dan masuk ke dalam kehancuran yang dahsyat… ia akan mengubur semua cita-cita dan tujuan negara ini didirikan dan hanya mengulangi sejarah dari kerajaan Singosari, dimana hanya sebagai perantara antara kerajaan Kediri dan Majapahit… sedangkan Indonensia sendiri hanya sebagai perantara antara kerajaan Mataram Islam menuju satu kejayaan yang besar dan mengulangi kehebatan leluhur Nusantara tempo dulu..
      Sungguh, bangsa ini telah lupa dengan jati dirinya sendiri, lupa pada kodratnya ia diciptakan dan lupa kepada Tuhan semesta alam, sehingga kian hari maka semakin larutlah mereka dengan kesenangan duniawi yang menipu ini, hingga lupa bahwa ada kehidupan yang abadi setelah mati, sedangkan dia akan mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya sekarang…
      Semoga hukum dan ketentuan Allah SWT segera berlaku bagi bangsa ini, sehingga orang yang benar dan baik hidupnya akan hidup dalam kesejahteraan… 🙂

  2. subhanallah….. sungguh ide dan tulisan yang bagus untuk di perhatikan, jarang ada orang yang akan memberikan tulisan seperti ini khususnya pembagian tentang fase negara kita. benar adanya kalo saat ini kita sudah ada pada fase ke 5, perlahan-lahan tampak kehancuran pada negara kita, bencana dan konflik masyarakat sering terjadi, kecelakaan dan lainnya juga.
    sudah saatnya kita melek untuk kondisi bangsa ini, dibutuhkan orang yang peduli dan seorang pemimpin yang tidak hanya mementingkan kepentingan duniawi pribadi saja, melainkan kepentingan umat / masyarakat baik dari kehidupan duniawi maupun ukhrawi.

    makasi mas linknya… ditunggu link berikutnya semangat 🙂

    1. Subhanallah.. syukurlah kalau begitu Dik, semoga tulisan ini tetap mendatangkan manfaat dan selalu menjadi peringatan dini untuk tidak pernah lalai dalam memperbaiki dan mempersiapkan diri dalam menghadapi hari depan, baik selama masih di dunia ataupun nanti di akherat yang abadi.
      Hmmm.. mungkin banyak yang tahu tentang apa yang tengah terjadi di dalam negara dan bangsa ini, tetapi memang hanya sedikit yang mau peduli dengan itu, mereka justru mengambil sikap tidak peduli sama sekali, yang penting ia masih bisa menikmati kenikmatan duniawi yang sesaat ini dan terus mengikuti keinginan hawa nafsnya yang jelas terus menyesatkan.. sehingga kian hari maka semakin mundurlah peradaban bangsa, dan akhirnya akan berujung pada kehancuran yang amat mengerikan dan mematikan…
      Ya, jadilah pribadi yang terus memperhatikan kondisi sosial lingkungan dan berusaha untuk menjadikannya sebagai satu kebenaran sesuai perintah-Nya. Jangan menyepelekan ini, karena kita nanti tidak hanya membutuhkan seorang pemimpin yang terbaik, tetapi apakah kita sendiri bisa menjadi yang terbaik juga. Bukalah mata hati kita, apakah setiap harinya telah menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Jika belum maka segeralah bertobat dan memperbaikinya, lalu menggantikan masa yang hilang itu dengan kebaikan dan sikap yang patuh hanya kepada aturan-Nya. Namun jika sudah, maka teruslah dengan sikap itu, meski cobaan dan lingkungan yang tidak mendukung, bahkan berusahalah untuk meningkatkannya lagi, niscaya Allah SWT akan memudahkan jalannya..
      Okey Dik, makasih juga karena masih sering berkunjung di blog ini, silahkan di tunggu aja tulisan berikutnya.. 🙂

  3. Subhanallah..terimakasih mas tuliasan nya… tanah pertiwi ini harus di bersihkan dari kehidupan yang gelap gulita seperti yang terjadi sekarang ini dan dari orang2 yang telah disebutkan oleh mas oedi di atas … semoga Allah memberikan yang terbaik untuk bangsa ini..amiiiin…
    luarbiasa tulisannya mas terimakasih mas…:)

    1. Iya Ben sama2.. terimakasih karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Yup, untuk bisa rahmatan lil `alamin, maka sebuah bangsa harus dibersihkan dari perilaku maksiat dan cinta dunia, atau setidaknya di minimalisir.. dan tidak terkecuali bangsa ini yang harus lepas dari berbagai kemaksiatan dan kecintaan terhadap dunia yang berlebihan, seperti sekarang ini terjadi.. sebab bila tidak, maka tunggulah bahwa laknat Allah akan segera menghampiri..
      Semoga Allah SWT segera memberikan balasan yang setimpal bagi kehidupan bangsa ini, agar yang baik dan benar bisa hidup dengan wajar dan normal penuh kesejahteraan.. 🙂

    1. Iya Nin, kedua fase itu “setali tiga uang” alias kompakan.. dan kini, sudah terjadi di Indonesia..
      Sereem? makanya ayo persiapkan diri baik2 sebelum terlambat.. karena kita gak pernah tau apakah kita nanti bisa selamat atau tidak kalau proses kehancuran NKRI benar-benar terjadi.. kalau mati, bagaimana pula nanti selanjutnya kehidupan kita di akherat? siap gak menghadap-Nya? kalau selamat, bekal apa yg udah dipersiapkan utk menjalutkan kehidupan di dunia yg baru?
      Okey.. makasih ya masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat.. 🙂

  4. di suatu kehancuran ada juga kebangkitan bung…..

    “perum pama”an_(dalam hal ini kita memerlukan perahu untuk berlayar menuju bahtera kebangkitan itu,,,0bukan berserah diri.
    “kita perlu wadah dalam hal ini (golongan).baca al_qur”an surah an nahl(surah lebah).

    setelah aku mengetahui hal yang tersurat dan tersirat _bangsa indonesia ini akan menjadi bangsa di atas bangsa bangsa lain.setelah adanya kehancuran itu bung…!

    inti:_apa yang di bawakan nabi_nabi pada jaman dahulu ialah tatanan hukum universal yg di berkati tuhan yang maha esa (ALLAH).dan sekarang tatan hukum yg suci itu telah hancur tertinggal hanya ritualnya saja.

    bangkit…kitalah ras bani ARYA itu,sekarang INDONESIA Yang terpilih tuhan(allah) untuk membenahi aturan (hukum Allah itu)’

    karna semua itu kita perlu perjuangan,jangan berserah diri tapi berjuang bung.inilah yang di namakan negri yang di berkahi tuhan semesta alam.
    perjuangan menuju sirotol mustaqim itu ….

  5. Dulu pki sekarang teroris..jaman sekarang sama saja,isu teroris dijadikan alat kendali penguasa sama hal nya isu pki di jaman orba,hanya saja penguasa sekarang lebih sadis layaknya serigala berbulu domba,teknik manajemen konflik/adu domba diterapkan kembali oleh penguasa sekarang di Indonesia setelah lama hilang dari penjajahan belanda,pada akhirnya kaum mayoritas menjadi terdesak oleh kaum minoritas,terpecah belah oleh kekuasaan

    1. Ya, kelihatannya emang seperti itu.. serigala berbulu domba
      Okey.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

  6. Saya malah aneh kalo ngamatin yang terjadi di Indonesia jaman sekarang ini, misalnya saja bagi kelompok yang makar terhadap negara untuk wilayah Indonesia bagian barat (aceh sumatra hingga jawa) julukannya teroris, sementara untuk kelompok yang makar terhadap negara pada wilayah Indonesia bagian timur (contohnya ambon dan papua) julukannya pemberontak, kenapa ya koq bisa beda julukannya padahal sama-sama kelompok yang makar terhadap negara? Apa emang disengaja ya?

  7. Saya Sangat menunggu masa kehancuraan ini…

    Dimana Nama indonesia Hanya menjadi kenangan.
    “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
    Indonesia terdiri dari berbagai bangsa dan negara…

      1. Ya, saya setuju itu, karena yang terpenting adalah karakter pribadi bukan nama, seperti kata pepatah “Apalah arti sebuah nama”, sehingga yang penting itu adalah mengubah kebiasaan buruk yang ada di dalam diri sendiri, karena bila sikap pribadi telah baik, maka kebangkitan dan kejayaan akan mudah di capai…
        Okey.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

  8. Jika dicermati, yang bahaya dari pembiaran isu tentang teroris adalah semua umat Islam dapat dianggap teroris sehingga dalam umat Islam terjadi saling tuding / adu domba / fitnah ,menuding yang satu ke yang lainnya teroris. Saat ini, yang mau shallat saja bisa dituding teroris, bahkan seorang yang menolak ajakan teman/kenalannya ke diskotik gara-gara hal itu bisa dituding teroris, ada juga dengan entengnya orang kumpul kebo dan punya anak diluar nikah pun nuding ke oranglain yg shallat sebagai calon teroris

    1. Ya, yang sekarang telah terjadi adalah bagian dari fase yang keempat dan kelimat di atas, semoga saja akan ada perubahan ke arah yang jauh lebih baik…
      Okey.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

  9. MULAINYA PENJAJAHAN KEMBALI SAMPAI SEKARANG

    Setelah jatuhnya Bung Karno, segera saja kekuatan modal asing yang dipakai untuk melakukan eksploitasi atau korporatokrasi melakukan aksinya. Yang menggambarkan dengan tajam justru para sarjana ekonomi dan sejarawan Amerika dan Eropa.

    Marilah kita kutip berbagai gambaran sebagai berikut.

    Seorang wartawan terkemuka berkewarganegaraan Australia yang bermukim di Inggris, John Pilger membuat film dokumenter tentang Indonesia dan juga telah dibukukan dengan judul : “The New Rulers of the World”. Dua orang lainnya adalah Prof. Jeffrey Winters, guru besar di North Western University, Chicago dan Dr. Bradley Simpson yang meraih gelar Ph.D. dengan Prof. Jeffrey Winters sebagai promotornya dan Indonesia sebagai obyek penelitiannya. Yang satu berkaitan dengan yang lainnya, karena beberapa bagian penting dari buku John Pilger mengutip temuan-temuannya Jeffrey Winters dan Brad Simpson.

    Sebelum mengutip hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia, saya kutip pendapatnya John Pilger tentang Kartel Internasional dalam penghisapannya terhadap negara-negara miskin. Saya kutip :

    “Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh bagian terbesar dari kami yang hidup di belahan utara dunia, cara perampokan yang canggih telah memaksa lebih dari sembilan puluh negara masuk ke dalam program penyesuaian struktural sejak tahun delapan puluhan, yang membuat kesenjangan antara kaya dan miskin semakin menjadi lebar. Ini terkenal dengan istilah “nation building” dan “good governance” oleh “empat serangkai” yang mendominasi World Trade Organization (Amerika Serikat, Eropa, Canada dan Jepang), dan triumvirat Washington (Bank Dunia, IMF dan Departemen Keuangan AS) yang mengendalikan setiap aspek detail dari kebijakan pemerintah di negara-negara berkembang. Kekuasaan mereka diperoleh dari utang yang belum terbayar, yang memaksa negara-negara termiskin membayar $ 100 juta per hari kepada para kreditur barat. Akibatnya adalah sebuah dunia, di mana elit yang kurang dari satu milyar orang menguasai 80% dari kekayaan seluruh umat manusia.”

    Saya ulangi sekali lagi paragraf yang sangat relevan dan krusial, yaitu yang berbunyi:

    “Their power derives largely from an unrepayable debt that forces the poorest countries….” atau “Kekuatan negara-negara penghisap didasarkan atas utang besar yang tidak mampu dibayar oleh negara-negara target penghisapan.”

    John Pilger mengutip temuan, pernyataan dan wawancara dengan Jeffrey Winters maupun Brad Simpson. Jeffrey Winters dalam bukunya yang berjudul “Power in Motion” dan Brad Simpson dalam disertasinya mempelajari dokumen-dokumen tentang hubungan Indonesia dan dunia Barat yang baru saja menjadi tidak rahasia, karena masa kerahasiaannya menjadi kadaluwarsa.

    Saya kutip halaman 37 yang mengatakan : “Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonom-ekonom Indonesia yang top”.

    “Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan ‘the Berkeley Mafia’, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan : …… buruh murah yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam ….. pasar yang besar.”

    Di halaman 39 ditulis : “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ‘Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. ‘Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : “ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini”, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.

    Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.

    Jadi kalau kita percaya John Pilger, Bradley Simpson dan Jeffry Winters, sejak tahun 1967 Indonesia sudah mulai dihabisi (plundered) dengan tuntunan oleh para elit bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu berkuasa.

  10. Fase fase itu akan terlewati, tapi dimana fase keemasan/puncak kita? Indonesia adalah negara berumur pendek. Tampaknya itu yang nampak. Rata – rata negara ditilik dari sejarah berumur 150 hingga 500 tahun, 700 tahun seperti Kekaisaran Roma, Majapahit, Sriwijaya, Amerika Serikat, Inggris,Eropa, Persia, Kerajaan – Kerajaan tiongkok jaman dulu dll. Fase – fase diatas tersebut biasanya berjangka 50 – 100 tahun per fase. Tapi banyak negara yang berumur pendek dan hilang ditelan bumi. Macedonia, Demak, Pajang, Singosari, Uni Soviet, dll. Bisa dibilang negara, bisa dibilang dinasti. Indonesia, seperti nya juga akan mengalami hal yang sama. Bertepatan dengan menjelang akhir dunia yang telah banyak diramalkan! Termasuk dalam jangka jayabaya! Karena dalam awalnya pun pondasi kita tidak kuat. sudah pondasi kita tidak kuat, banyak rayap, mental pun kurang kuat, ya tinggal menunggu saja waktu penggenapan kehancuran itu! Terima kasih

    1. Iya, saya sependapat, semua fase itu akan terlewati, karena memang sekarang kita tengah menjalaninnya, khususnya fase 5, tinggal nunggu masa chaos nya aja… dan nanti NKRI akan berganti nama dan sistem ketatanegaraan baru.. 🙂

  11. Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum klo mereka sendiri tidak merubahnya, bangsa ini memang akan ada perubahan dari kematian menuju kebangkitan tapi ingat semua bukan terjadi dengan begitu saja shg kita hanya menanti dan menanti bukan hanya berkoar2 tp tak pernah berbuat kita harus berbuat untuk menyambut datangnya perubahan itu….dengan apa ..??? hari ini Tuhan telah mengirim hamba-Nya untuk menyabut kebangkitan Nusantara ….selamat berjuang..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s