Peka Memaknai Kesedihan

Wahai kekasih. Sebaik-baiknya manusia adalah dia yang peka terhadap segala sesuatu. Sungguh ia akan memperoleh banyak keuntungan dari sikapnya itu, lantaran selalu sedia payung sebelum hujan. Atau memiliki kebiasaan untuk sekali dayung, maka dua tiga pulau terlampaui.

Begitu pun dalam memaknai kesedihan. Jika seseorang telah peka terhadapnya, maka banyak kemudahan bisa di dapatkan. Di setiap harinya ia akan senantiasa bersikap waspada, kalau-kalau sikapnya dalam menghadapi kedukaan terlalu berlebihan. Tidak tenang hatinya bila tahu bahwa dirinya telah malas dalam bersyukur kepada-Nya. Sehingga ia pun terus semangat dalam memperbaiki diri dan keluar dari kesedihan.

Sungguh, dunia ini adalah samudera, keimanan adalah kapalnya, kesedihanmu adalah ombak badai, sementara pantai adalah akherat. Oleh sebab itu, jadilah engkau seorang pelaut yang telah memahami ke empat bagian itu dengan mendalam. Sadarilah bahwa ke empat unsur itu adalah setiap dari kehendak-Nya yang mesti cerdas untuk diketahui faedahnya. Jangan di buang, tapi jangan pula di ambil dengan sepenuh hati. Jadikan setiap dari ke empat hal itu sesuai dengan kodrat dan peranannya masing-masing. Samudera, maka tetap jadikan ia sebagai satu tempat mengarungi kehidupan. Kapal, jadikan sebagai kendaraan utama untuk bisa sampai ke tujuan dengan selamat. Kesedihan, tetaplah dijadikan bumbu gurih dalam kehidupan agar penuh dengan gairah dan motivasi. Sedangkan pantainya, jadikanlah ia sebagai tempat beristirahat dan menikmati hasil pelayaran.

Namun, kecermatan dalam ke empat bagian di atas kerap tidak di miliki oleh banyak orang. Mereka ingin sampai ke tujuan pelayaran, tapi tidak memiliki kapal yang memadai. Atau paling tidak hanya memiliki sampan kecil di tengah luasnya samudera. Sehingga akhirnya cepat tenggelam ketika di hantam ombak yang besar.

Untuk itu, buatlah kapal yang besar dan kokoh, sehingga bisa membawa semua kebutuhanmu ketika tiba di pantai. Dengan kapal yang kokoh itu pula, maka bisa dipastikan tingkat keselamatan selama pelayaran hidup akan lebih terjamin. Engkau pun akan tenang dalam mengarungi luasnya samudera, bahkan ketika datang ombak ganas sekalipun, tetap saja dirimu santai menghadapinya, karena semua yang bisa membuatmu celaka telah di talangi dengan baik.

Nah, apabila keadaanmu demikian, maka hatimu pun akan bertobat dengan terus mengingat-Nya. Engkau akan terbiasa dengan rasa syukur dan mensyukuri setiap karunia-Nya, atau menjadikan kehidupan ini penuh dengan kebajikan. Sehingga engkau pun akan dicintai oleh Sang Kekasih, dan dicintai pula oleh siapa saja yang mencintai-Nya.

O… Tidak akan baik seseorang bila ia tidak baik dalam mengarungi samudera kehidupannya. Ia tidak akan dikatakan hebat, sebelum ia bisa menjadi nahkoda yang sejati dan tetap bisa berlayar meski terus di hantam badai gelombang. Dan seandainya ia masih takut berlayar dikarenakan cemas pada ombak yang tinggi, maka ia pun tidak bisa dikatakan sebagai pelaut. Lantaran tidak menyukai tantangan hidup.

Ya. Banyak sekali di antara kalian yang bergantung pada benda dan makhluk di dunia ini. Kalian menampakkan diri seolah-olah hanya bergantung kepada Allah SWT, padahal hatimu terus berdusta. Di dalam sana banyak tuhan meski bibirmu telah berkata “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Engkau terus larut dalam kekoyolan ini, karena dirimu masih belum bisa menafikkan sesuatu selain-Nya.

Sudah semestinya engkau banyak menyadari, bahwa ketika dirimu mengatakan sesuatu selain-Nya, maka pastikanlah bahwa itu adalah setiap dari makhluk-Nya, milik-Nya dan bukanlah tanpa ada penciptanya. Jadilah sosok yang menjadikan Tuhan Yang Sejati sebagai sandaran hati. Jangan hanya sebatas pengakuan lahir, tetapi melekat kuat di dalam batin. Yang dengannya nanti, maka engkau telah bersungguh-sunguh dalam meyakini tentang keberadaan-Nya.

Inilah orang yang bisa dikatakan peka terhadap sesuatu. Karena banyak manusia yang punya pendengaran bagus tapi tuli. Banyak yang punya penglihatan tajam, tapi buta. Sedangkan yang buta dan tuli itu sebenarnya bukanlah fisik, melainkan hatinya sendiri. Bahkan yang paling menyedihkan lagi adalah, bahwa dia tidak menyadari akan hal ini, bahkan sengaja mengabaikannya. Yang membuatnya kian terhina di hadapan-Nya meski tampak mulia di hadapan manusia hina.

Dia enggan untuk kembali kepada yang diinginkan oleh pribadinya. Dengan egonya yang besar, ia terus berlaku sebagai seorang penipu dan zalim terhadap dirinya sendiri. Sikap yang tanpa batas, tidak punya malu dan larut dalam kebodohan akal terus ia kerjakan. Bahkan semua yang ia lakukan senantiasa diluar batas kewajaran. Sehingga dalam keganjilan dan penyimpangan itu, ia tidak akan bisa datang kepada-Nya. Padahal hanya dengan mendatangi-Nya saja, maka hidup ini akan tenang.

Ya. Jika engkau benar-benar mengenal-Nya, tentulah kau pun terus merendahkan diri di hadapan-Nya. Engkau senantiasa bersikap tawadhu` yang menjadi dasar kezuhudanmu. Setiap pembicaraan atau tingkah laku adalah atas arahan-Nya dan tulus kepada-Nya. Sehingga dalam putaran roda waktu, yang ada hanyalah kerinduan dalam mencintai-Nya.

Rasa sedih dan isak tangis tak kau miliki lagi, kecuali hanya bagi-Nya. Sikap lemah yang kau rasakan di hadapan Tuhan adalah tulus dikarenakan pengetahuanmu atas hakekat Diri-Nya. Atas betapa kuasanya Dia dalam mengatur dan mengendalikan segala sesuatu di dalam waktu. Sehingga yang terjadi adalah rasa syukur dan terus mencintai-Nya dalam segala hal tampa pamrih.

Lalu, apabila engkau bersikap kukuh dalam tauhid kepada-Nya serta tidak mencintai selain-Nya, maka akan datang keteguhan dan keluasan dari kehendak-Nya. Dia akan mendekati dirimu dengan kedekatan yang lebih dekat dari urat leher, sehingga engkau tidak pernah kesulitan. Dia pun tidak berpaling darimu, yang memungkinkan engkau melihat wajah-Nya dengan rasa cinta. Cinta dari seorang yang mencintai Kekasihnya.

Disinilah bedanya orang yang memiliki cinta dengan mereka yang tidak memilikinya. Ketika ia melihat cacatnya dunia ini, mereka segera lari darinya. Begitu pun ketika ia merasa bahwa makhluk itu banyak cacatnya, maka ia pun pergi menjauhi. Ini bukan karena ia membenci ciptaan-Nya, melainkan ia takut terjerumus ikut serta. Beda dengan mereka yang tidak mempunyai cinta di hatinya, lantaran ia akan terus bersama yang cacat-cacat itu, maka ia pun cacat dalam aturan Tuhan.

Makanya, pekalah engkau pada sesuatu yang tidak biasa di perhatikan oleh orang kebanyakan. Jadilah sosok yang berbeda dari sebagian besar manusia. Sebab, seorang yang telah ber-makrifat kepada Allah akan selalu mempersempit pandangannya kepada makhluk. Ia akan senantiasa berada dalam kondisi ini, hingga mendapatkan apa yang ia cintai. Sampai ia mengetahui bahwa amal dan ibadahnya hanya untuk Diri Kekasihnya, tanpa mengharapkan apapun selain-Nya.

Selain itu, tetaplah bersungguh-sungguh dalam usaha mengenali-Nya. Sebab jika engkau telah ber-makrifat kepada-Nya, maka dirimu akan mudah mengenal yang lainnya. Engkau akan lebih mencintai-Nya, karena segala sesuatu yang kau lihat adalah Dia.

Sehingga, buanglah jauh-jauh perasaan membutuhkan makhluk dan jangan sekali pun bersekutu dengan mereka. Cukuplah Allah sebagai Yang Menguasaimu, karena Dia adalah Tuhan. Tidak perlu menghabiskan waktu dan energimu, lantaran terus mengejar dan ingin bersama makhluk, tapi mendekatlah hanya kepada-Nya, demi kebahagiaan dan ketenanganmu.

Ya. Jika engkau ingin ber-khalwat dengan-Nya, maka ber-khalwat dululah dengan dirimu sendiri. Sering-seringlah engkau ber-uzlah dalam setiap kali kesempatan, dengan begitu kau pun akan bisa menyendiri dari keberadaan dirimu. Sehingga suatu saat nanti, maka dirimu akan mudah menyendiri dari selain dirimu, karena telah bersama-Nya.

Inilah keagungan orang suci yang tidak dapat dilihat dari bentuk luar. Ketinggian pekertinya tak diketahui oleh kalangan awam dalam umat ini. Lantaran ia selalu tersembunyi di dalam setiap menyendiri dan berada dalam keramaian manusia. Bahkan kemuliaan yang telah ia miliki tidak lagi memiliki sifat, karena telah menyatu dengan sifat-Nya. Sehingga yang ada hanyalah Dia.

Namun, bagi mereka yang hina akan selalu menampakkan kesucian dari penampilan luarnya. Polesan kosmetik amal dan ibadah adalah yang utama, sedangkan kepemilikan duniawi adalah pakaiannya. Ia sering mengajak orang banyak untuk zuhud dalam hidup, tetapi ia sendiri tidak mau melakukannya. Ia kerap mengingatkan orang lain untuk tidak berbuat riya` dan menyekutukan Allah SWT, sedangkan ia sendiri kerap melakukannya di depan publik. Bagaimana ini? Siapa yang hina dan siapa yang bodoh? Tentulah si pelacur nista itu.

O… Siang malam engkau terus mencari ketenangan di dunia ini, tapi sayang sedikit pun engkau tidak memperolehnya. Jangankan mendapatkannya, mendekati saja belum mampu. Engkau bukannya tanpa pencarian, hanya saja niat dan cara yang kau pilih keliru. Engkau beramal kepada Allah, tapi sayang mengharapkan imbalan. Engkau beribadah kepada-Nya, cuma sayang tanpa keikhlasan. Sehingga, yang di dapatkan bukan pahala dan kebaikan, melainkan dosa yang begitu banyak.

Lalu, bagaimana mungkin agama Islammu dapat menyelamatkan saat di peradilan Mahsyar, sedangkan engkau sendiri belum Islam secara benar? Engkau mengatakan dengan bibirmu bahwa Islam adalah ajaran yang sejati, namun hatimu sejatinya menentang dengan keras. Engkau berkata hanya Islam yang dapat memberikan solusi bagi permasalahan kehidupan, sedangkan keseharianmu tetap saja mengikuti aturan yang di buat oleh kaum jahiliyah (demokrasi, sosialisme, kapitalisme, liberalisme, satanisme, dll).

Sungguh, engkau telah keliru. Engkau berdiri tegak, rukuk, sujud di tengah-tengah jamaah masjid, sedangkan hatimu tetap bersama yang tidak shalat di luar sana. Engkau terus menunggu kedatangan dan hadiah mereka, padahal engkau tahu bahwa yang mereka berikan tidak jauh dari yang haram di mata Allah. Engkau pun senang menempatkan dirimu pada tempat yang Allah tidak menempatkanmu disana (tempat maksiat, dll), yang tidak datang kepadanya selain bencana. Sehingga celakalah hidup dan kehidupanmu di dua dunia.

Yogyakarta, 20 April 2012
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Cuplikan dari buku “Kesedihan yang Indah”, karya Mashudi Antoro]

Iklan

6 thoughts on “Peka Memaknai Kesedihan

  1. Allhamdulillah..terimakasih banyak mas dah mau nge tag tulisan ini mas..plong rasa nya..mudah2an trus trus kyak gini apa yg kurasakan sekarang…heheee makasih banyak mas.. 😀

  2. subhanallah… tulisan yang penuh makna dan ajakan bagi diri pribadi untuk selalu beruzlah dan mempersiapkan kapal untuk mengarungi kehidupan. semoga bisa menjadi pribadi yang peka dengan keadaan dan kesedihan, mempersiapkan 4 unsur untuk menjalani hidup ini.

    1. Nah, Dika sudah mempersiapkan ke 4 unsur itu blm? ingat, gak cukup hanya berharap aja loh, tapi harus dg jalan ikhtiar yg istiqomah.. cos jika telat, malah bisa jadi orang munafik nanti… 🙂
      Okey.. makasih ya atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat.. 🙂

  3. subhanallah…. tulisan yg bgs… bnyk2 bermuhasabah… ingat, jgn hny munajat sj.. jgn hny brhrp sj, tp prnhkah kita brtny, sdhkah kita memberikan yg terbaik unt Dia?

  4. Subhanallah.. segala pujian hanya milik Allah SWT…
    Syukurlah mbak Retna merasa demikian, semoga tetap memberikan manfaat… 🙂
    Hmm.. itulah yang kerap dilupakan oleh banyak manusia, mereka terus meminta tanpa pernah memberi, terus menuntut tanpa pernah melakukan kebaikan bagi-Nya… sehingga bersiaplah dalam mendapatkan balasan kemurkaan-Nya… 🙂
    Okey.. makasih karena masih sering berkunjung di blog ini, tetap semangat.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s