Agenda Pendakian Gn. Merbabu (3142 Mdpl)

Setelah kurang lebih 5 tahun, akhirnya saya bisa kembali lagi ke puncak Merbabu melalui jalur Selo, Boyolali, Jateng. Perjalanan kali ini sudah pasti berbeda kesannya dari pendakian sebelumnya. Sungguh banyak kenangan dan keindahan yang di dapatkan selama pendakian ini. Tersasar karena cuaca yang berkabut tebal sebelum bisa tiba di basecamp (karena sudah sedikit lupa, di tambah cuaca yang berkabut tebal dengan jarak pandang cuma 3 meter, sehingga tidak ada patokan untuk lokasi arah basecamp, di tambah lagi memang basecampnya jauh sekali dari jalan raya), bertemu 5 teman kuliah dulu (Xploit), di hantam badai dan hujan deras sempat kami rasakan. Membuat pendakian kali ini sangat berkesan dan mengingatkan waktu pendakian di Gn. Sumbing, tahun 2007 lalu.

Untuk mengetahui bagaimana kisah selama pendakian ini, berikut saya berikan agenda perjalannya:

22 Maret 2012
1. Bersama temen-temen kosan, berangkatlah kami menuju Gn. Merbabu: 16.15
2. Tiba di basecamp jalur Selo: 19.30 => sempat tersasar karena cuaca yang berkabut tebal (jarak pandang 3 meter) sehingga tidak terlihat dimana patokan untuk ke basecamp di jalur Selo.
3. Makan malam dengan menu nasi tempe + telor dadar + teh panas : 19.40
4. Shalat Isya` jama` Magrib: 20.40
5. Istirahat + ngobrol-ngobrol – dalam bahasa Jawa – dengan pendakian lain dari Surakarta (Dono dan Lugi) dan 5 orang dari Mapala UGM (Mapagama): 20.55-22.10 => Kondisi cuaca mulai hujan dengan suhu 20°C
6. Packing ulang: 22.15-22.40 => kondisi cuaca masih hujan, bahkan bertambah deras, yang akhirnya di putuskan untuk mulai mendaki di pagi hari setelah shalat Subuh.
7. Tidur: 20.15- 04.30 => suhu 19°C

23 Maret 2012
1. Bangun tidur: 04.30 => suhu 18°C
2. Shalat subuh: 04.45
3. Persiapan+ streaching: 05.15
4. Mulai mendaki: 05.45
5. Tiba di pos I : 07.50
6. Tiba di pos II : 09.50
7. Bertemu dengan teman-teman kuliah dulu (Xploit: Tirta, Uca, Apit, Evo dan Haris/Acep) menjelang pos III : 10.30 => ternyata mereka masih mengingat dengan jelas peristiwa berkesan di Gn. Lawu tempo dulu (2006) dan masih saja berkata: “Ya ini gara-gara kau Di`, aku jadi cinta sama gunung” atau “Masih jauh gak Di` puncaknya?” atau “Ah aku gak mau lagi naik sama kau Di`, sebab kau tipu terus kami dulu… katanya cuma di balik bukti, tapi ternyata masih ada beberapa bukit lagi baru puncak… dasar Tuti (tukang tipu).. hehehe…”.
8. Tiba di pos III : 11.28
9. Tiba di Sabana I (Pos IV) : 12.45 => cuaca berkabut dan angin sangat kencang berhembus
10. Istirahat + mendirikan dome + masak : 12.48 => cuaca semakin berkabut dan angin semakin kencang berhembus
11. Shalat berjamaah: 13.30
12. Masak mie + Semur ayam, kentang + cemilan buah duku + kopi panas: 14.10
13. Hujan badai: 15.00 => suhu 18°C
14. Makan siang: 15.30
15. Shalat Ashar: 17.25
16. Badai makin menggila: 18.10
17. Shalat Magrib: 18.35 => suhu 16°C
18. Badai dan kabut tetap menggila: 18.55
19. Masak mie: 19.15
20. Makan malam dengan menu semur ayam + kentang: 19.30 => badai masih kencang
21. Shalat Isya`: 19.35
22. Diskusi untuk keberangkatan ke puncak, ngobrol-ngobrol, dll: 19.50 – 21.15
23. Tidur: 21.25

24 Maret 2012
1. Bangun: 05.50 => suhu 16°C
2. Shalat Subuh. 06.05
3. Masak nasi + air untuk buat kopi panas: 06.40
4. Masak semur ayam + tempe : 07.20
5. Sarapan : 07.30
6. Packing ulang: 07.49 – 08.45
7. Streaching + foto: 08.50
8. Mulai mendaki ke puncak: 08.55 (bertemu banyak pendaki lainnya; salah satunya pak Darsono, dosen UPN) => cuaca cerah berawan
9. Tiba di Sabana II : 09.40
10. Tiba di puncak Triangulasi/Kentheng Songo: 11.15 => cuaca cerah dan berawan
11. Bertemu banyak pendaki lainnya + Diksar (pendidikan dasar) Mapakti dari Tegal
12. Istirahat + makan buah pir + ngobrol dengan pendaki Mapala Jelata dari Stikes Ungaran (mereka semua asli dari Lombok): 13.40 (suhu 40°C) => disini kami juga banyak memberikan air minum kepada para pendaki yang kehabisan air; seperti yang dari Bekasi dan Sragen.
14. Foto-foto: 12.55
15. Shalat Zuhur jama` Ashar berjamaah: 13.30
16. Turun: 13.50
17. Tiba di Sabana II: 14.35 => cuaca mulai hujan gerimis
18. Terus melanjutkan perjalanan dan cuaca makin sering hujan, bahkan deras, sehingga kondisi badan basah kuyup
19. Tiba di basecamp: 18.00
20. Istirahat sambil menunggu pesanan nasi goreng + teh panas: 18.02 – 18.20 => banyak para pendaki yang mau melakukan perjalanan ke puncak Merbabu
21. Makan nasi goreng + teh panas: 18.20
22. Pulang ke kosan, Jogja: 18.45
23. Mampir ke warung Burjo dekat kosan untuk minum es milo + burjo campur: 21.16
24. Tiba di kosan, Jogja: 21.40

[Pelaku: Oedi`, Dika, Beni dan Wisnu]

*****

Dokumentasi pendakian:

Gambar 1. Foto: Basecamp jalur Selo

Gambar 2. Foto: Pintu gerbang taman nasional gunung Merbabu

Gambar 3. Foto: Plang peringatan etika pendakian

Gambar 4. Foto: Membuka jalur pendakian dengan membabat semak-semak

Gambar 5. Foto: Tiba di pos II

Gambar 6. Foto: Pos III (batu tulis)

Gambar 7. Foto: Bertemu teman-teman kuliah dulu (Xploit: Evo, Tirta, Haris (Acep), Apit dan Uca)

Gambar 8. Foto: In memoriom Hary Susanto (Pendaki dari Rafapala, Surabaya, yang wafat dalam pendakian pada 23 Februari 1997) => Ingat waktu di Semeru, banyak sekali in memoriom seperti ini.

Gambar 9. Foto: Pos IV (Sabana I)

Gambar 10. Foto: Masak menu semur ayam + kentang

Gambar 11. Foto: Aktivitas di dome pada pagi hari menjelang ke puncak

Gambar 12. Foto: Foto bareng dengan pendaki dari Mapala Jelata (Stikes Ungaran)

Gambar 13. Foto: Jalur menuju Sabana II – Pos V

Gambar 14. Foto: Panorama Sabana dan awan

Gambar 15. Foto: Sabana II dan Pos V

Gambar 16. Foto: Jalur pendakian menjelang puncak

Gambar 17. Foto: Puncak Triangulasi/Kentheng Songo (3142 Mdpl)

Gambar 18. Foto: Diksar (pendidikan dasar) Mapakti dari Tegal

Gambar 19. Foto: Bersantai dan ngobrol dengan Mapala Jelata dari Stikes Ungaran

Gambar 20. Foto: Bersantai sejenak dan menikmati alam di puncak Triangulasi/Kentheng Songo

*****

Catatan: Bagi para pendaki yang akan ke puncak Merbabu (Triangulasi/Kentheng Songo) atau puncak-puncak gunung manapun, maka penuhilah standard safety demi kesalamatan dan kenyamanan selama masa pendakian. Jangan seperti yang kami saksikan selama pendakian kali ini, dimana banyak sekali para pendaki yang cenderung mengabaikan keselamatan (modal nekad). Mereka dengan beraninya menantang kekuatan alam, padahal alam sulit diprediksi dan kita tidak ada apa-apanya bila dia sudah berkehendak memberikan kondisi alam dan cuaca yang ekstrim. Dan sudah banyak terbukti, bahwa yang tewas mengenaskan di gunung adalah para pendaki yang telah mengabaikan standard safety pendakian.

Adapun minimal standard safety tersebut adalah:
1. Sepatu treckking
2. Sandal gunung
3. Celana lapangan
4. Sleeping bag
5. Sarung tangan
6. Jaket
7. Geiter
8. Carrier (tas gunung) + plastik packing (trash bag)
9. Bag cover
10. Matras (sleeping pad)
11. Dome/tenda
12. Headlamp + baterai
13. Jerigen air dan tempat minum
14. Ponco (jas hujan)
15. Logistik (beras, gula, garam, roti, kopi, teh, lauk pauk: mie, sarden, ayam, telur, dll)
16. Alat masak dan makan (nesting, kompor + gas, piring, gelas, sendok, pisau, dll)
17. P3K (obat luka, plester, kain kasa, obat oles kejang otot, oksigen, dll)
18. Alat jahit (benang, jarum, gunting)
19. Alat tulis (buku agenda, pensil/pulpen, kertas, dll)
20. Lampu/lilin
21. Lain-lain (kompas, tramontina/parang, peniti, korek api, gunting kuku, kantung plastik sampah, dll)

*****

Sungguh, begitu berkesan selama pendakian di Gn. Merbabu ini, sehingga suatu saat nanti Insya Allah akan kembali ku ulangi pendakiannya. Karena..

“Salah satu yang paling membuat hatiku menjadi lapang dan tenang, adalah ketika aku bisa merenungkan setiap keindahan ciptaan Allah Yang Maha Agung. Melihat, mendengar, merasakan serta menikmati setiap jengkal alam pegunungan”

Yogyakarta, 25 Maret 2012
Mashudi Antoro (Oedi`)

Iklan

34 thoughts on “Agenda Pendakian Gn. Merbabu (3142 Mdpl)

    1. Iya Ben, langsung aja mas buat n upload di blog agenda perjalanan ini, sebelum mulai merevisi buku yang ketiga “Mustika Ilmu dan Pengobatan Jiwa”… biar gak ada tanggungan lagi dari pendakian kali ini…
      Makasih ya atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

    1. Ngopo Nu? maknyus toh pendakian kemaren? ngerayap-rayap penuh kesan menarik dan indah.. hehe.. 🙂
      Okey… tetap semangat ya… tar kalau ada waktu kita ulangi lagi.. 🙂

  1. oedi”’.. manteb lah yaa.. selamat2, setelah plus minus 5 tahun gag ksono.. 😀 akirnya muncak juga.. 🙂

    kirain yang masak cuman kamu doank *inget pendakian lawu dulu :mrgreen:* kan dulu kami tinggal makan masakanmu.. hehehe pisss

    gambar 4 tuh di’, manteb kali laah. kayak org mo mbantai apa aja.. 😆

    tq report nya yah,, enak nih reunian gag sengaja di merbabu 😀 aku kangen bgt neh..

    1. So pasti dunk, sayang aja Nin-q ga ikutan kali ini… cos bnyak banget plus nya.. hehe… 🙂
      Ya untuk kali ini gak cuma aku aja yg masak… di bantu temen2 yg lain kok.. gak kaya kita dulu pas ke Lawu… aku di tinggal sendirian masaknya… hmm.. jahat kalian.. hehe… ^_^
      Iya Nin, gambar yg ke 4 itu emang kaya orang mau membantai aja… dan itu bukan sekali aja, cos emang kondisi jalurnya yg kudu di babat.. sudah kembali semak sih.. sekalian membantu pendaki lain setelah kami, biar gak susah2 lg membuka jalur… 🙂
      Iya Nin, reunian gak sengaja di Gn. Merbabu kemarin emang sangat menyenangkan… padahal semuanya pada sibuk dan punya kerjaan di beda tempat dan propinsi… kangen deh kaya pas kuliah dulu lagi… 🙂
      Okey sama2 Nin, moga report ini bermanfaat… makasih ya atas kunjungan dan dukungannya…. ^_^

    1. Yup.. betul sekali… perjalanan kali ini sangat berkesan karena banyak banget plusnya (hujan, badai, kabut, dll) hehe.. 🙂
      Tapi mbaknya sepertinya juga udah terbiasa tuh? lah wong pendaki gunung juga kan?
      Okey.. makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

  2. sukaaaa,,,, seneng banget, ikut ngerasain aja ya mas, soale pengen ikutan takut gak nyampe dipuncak, malah oit,,,, hmmm tp boleh tu, kpn2 ajak timah ya,,,
    makasih mas, moga msh ada lain waktu tuk kembali kesana lag, amiiiin 🙂

    1. Oh syukurlah kalau bisa ngerasain senengnya..
      Bener mau ikutan? Iya deh.. insyaAllah lain waktu akan diajak… semoga masih diberi kesempatan… 🙂
      Okey.. makasih juga ya atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat.. 😀

    1. Wey.. pendaki gunung juga toh? pas jaman mahasiswi dulu ya?
      Hmm.. sekali-kali coba naik lagi deh… akan sangat berkesan pastinya… sekalian tadabur n tafakur… 🙂
      Wokey mbak Retna, makasih atas kunjungan dan dukungannya, semangat juga untukmu… 😀

    1. Iya Dik, alhamdulillah pendakian kemaren lancar dan sukses meski banyak plusnya (hujan, badai, kabut)…
      Hmm… sepertinya kalau gak Slamet ya Rinjani boleh tuh… hehe.. 🙂

      1. Weit.. mo buat soundtrack lg ya.. kaya di Lawu aja.. hehe… 🙂
        Tapi emang pas banget tuh dg lagu ada band… seeplah… 😀

    1. Yg bener pengen? ya udah kapan rencananya… ato mo ikutan kami bulan juni nanti ke Gn. Slamet? tar bareng ama Ninki… insyaAllah… 🙂

  3. mas mau nanya niey….
    lebih mudah mana naek merbabu dari selo ato cunthel..??
    butuh info niey . . .

    aq anak surabaya, nanya ama temen2 terdekat juga pada gg ada yg ngerti 😦
    sapa tau mas Oedi bisa ngebantu,
    thankz…

    1. Hmmm… menurut saya, kalau mas Febri blm pernah ke Merbabu sebaiknya naik lewat jalur Selo aja, karena jalur ini lebih rame bila dibandingkan jalur lainnya… selain itu, banyak rambu2 yg tersedia dan medannya lebih ringan bila di bandingkan dg jalur cunthel atau jalur wekas, kecuali masnya emang suka tantangan dan ekspedisi… Semoga penjelasan ini bisa membantu..
      Terimakasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

    1. Selam kenal juga..
      Oh ya?? wah sayang kita gak sempat kenalan di puncak itu… ya emang waktu itu rame banget disana, jadi sulit untuk bisa berkenalan.. saya cuma sempat kenalan dg anak Ungaran, Lombok, Kebumen dan Jakarta aja.. semoga suatu saat nanti kita bisa ketemu lagi di puncak yang sama n berkenalan.. 🙂
      Okey.. makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

    1. Hmm.. waduh saya bukan petugas BMKG mas/mbak, jadi gak tau pastinya.. hehe.. 🙂
      Tapi dari informasi yg terakhir saya terima, kalau sekarang gunung Merbabu sedang dalam status Waspada, dan beberapa waktu lalu ada aktivitas patahan di kawahnya akibat aktivitas tektonik.. gak tau apakah masih dibuka untuk pendakian atau gak.. jadi untuk menghindari hal2 yg gak diinginkan, sebaiknya jangan ke Merbabu kalau belum dapat info yang pasti keadaan disana, okey.. 🙂

  4. Terimakasih Bro untuk sharing-sharingnya, sangat bermanfaat infonya.
    Di gunung Merbabu sendiri ada kah sumber air yang bs dipakai minum / masak ?

    1. Iya bro sama2 lah.. makasih juga sudah mau berkunjung, moga bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. setau saya sih ada, lokasinya di sebelah tenggara Savana II, di punggung bukitnya, pokoknya ada semacam lesung dari batu.. tapi itu gak bisa di andelin, karena tidak selalu ada air, kadang kering kerontang walau bukan kemarau panjang.. Untuk itu pesanku demi kenyamanan dan keselamatan, lebih baik bawa air yang cukup aja sejak dari basecamp.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s