Kerajaan Sunda: Hartharanus, benarkah ini Atlantis?

Saudaraku sekalian. Dalam tulisan ini, sekali lagi saya mengajak Anda untuk kembali mengulik tentang sejarah bangsa kita. Tentang betapa nenek moyang kita dulu adalah sosok yang luar biasa dan pernah menjadi contoh bagi peradaban dunia. Sehingga harapannya adalah bahwa kita pun termotivasi untuk turut mengikuti prestasi mereka. Keluar dari kebodohan dan ketertinggalan peradaban seperti sekarang ini. Atau berusaha semaksimal mungkin untuk tetap percaya diri dan segera memperbaiki keadaan – seperti rusaknya akhlak dan rendahnya pengetahuan – agar kita pun dapat meraih kebahagiaan dan keselamatan hidup.

Nah, untuk mempersingkat waktu, mari kita ikuti penelusuran berikut ini:

1. Kerajaan Hartharanus dan Prabu Heru Cakra
Menurut tutur yang berkembang di masyarakat, dahulu kala di Pulau Jawa pernah ada kerajaan yang sudah menganut paham monotheos. Kerajaan besar yang diapit oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta dikenal dengan sebutan Hatharanus itu diperintah oleh seorang raja agung yang adil dan bijaksana dengan gelar Prabu Heru Cakra. Sementara bahasa yang digunakan saat itu adalah Ingsun Sabda yang akhirnya di sebut dengan akronim Sun-Da.

Dibawah kearifan dan ketegasan prabu Heru Cakra, jadilah pulau Jawa sebagai mercusuar Nusantara. Oleh karena itu, layaknya suatu bahasa yang memiliki karakter sebagai sarana untuk berkomunikasi, baik lisan maupun tulis, maka hingga sekarang aksara dan bahasa SunDa masih tetap lestari di tengah tengah masyarakat Nusantara khususnya di pulau Jawa bagian barat.

Tabel: Aksara SunDa (Kaganga)

Prabu Heru Cakra juga dikenal sebagai seorang tokoh yang menyebarkan ilmu hubungan urat syaraf yang berhubungan dengan tiap ruas urat syaraf manusia. Dari mulai tulang ekor hingga tulang tengkorak. Ilmu ini lebih dikenal dengan sebutan Gelang Naga (gelang tenaga). Konon, dinasti Shambala dari Tibet juga mempelajari ilmu ini melalui pertukaran budaya pada masa kejayaan Sriwijaya, dan kemudian ilmu ini dikenal dengan nama Kala Cakra.

Waktu terus berlalu tanpa terasa dan di tandai dengan masuknya agama Hindu dan Buddha. Ilmu Heru Cakra pun mulai berkembang ke luar pulau Jawa, demikian pula saat agama Islam masuk dan berkembang pesat di seantero Nusantara. Silang pendapat tentang kehidupan tokoh yang satu ini, juga seolah tak berkesudahan. Di tataran SunDa meyakini, bahwa Heru Cakra hidup dan mukim di Bantar Kawung Cianjur Jawa Barat. Sementara yang lain meyakini beliau telah hidup pada zaman purba.

Terlepas dari silang pendapat yang berkembang di masyarakat, pada zamanya, tak ada yang bisa menampik, betapa di tanah Jawa pernah ada suatu peradaban yang tinggi dan besar yang dapat dibuktikan dengan adanya bahasa persatuanya, yaitu SunDa. Yang sampai tulisan ini di buat masih sangat lestari di tengah tengah masyarakat, khususnya di Jawa bagian Barat.

2. Legenda Silat dan Pangeran Pengampun
Bagi para guru sepuh ilmu silat, nama Pangeran Pengampun bukanlah nama yang asing. Tetapi pada saat sekarang mungkin hanya beberapa perguruan ssaja yang masih mengenalkan sosok legendaris Pangeran Pengampun.

Konon ilmu silat sudah dikenal jauh sebelum agama Hindu dan Buddha masuk ke Nusantara. Dimana dibuktikan bahwa di Nusantara ini (sebut saja Pulau Jawa), sudah memiliki peradaban yang sangat tinggi. Banyak fosil manusia tertua di dunia ditemukan di daratan pulau Jawa, seperti dimulai dari Pithecantrphus eretus sampai ke Mojokerto soloensis.

Pulau Jawa, adalah daerah kapital dari kerajaan Hartharanus. Pangeran Pengampun adalah satu di antara kerabat prabu Heru Cakra yang namanya tetap hidup. Sampai saat sekarang, dimana ilmu yang digelar oleh Pangeran Pengampun adalah ilmu pengharkatan energi yang berbasis pada hubungan urat syarat yang berhubungan dengan setiap ruas tulang manusia. Khususnya ruas tulang belakang dari mulai tulang ekor sampai dengan tulang tengkorak. Ilmu tersebut dikenal dengan istilah Gelang Naga (Gelang tenaga). Konon dinasti Shambala dari Tibet mempelajari ilmu ini melalui pertukaran budaya pada masa kejayaan Sriwijaya. Yang kemudian dikenal dengan ilmu Kala Cakra..

Jelasnya bahwa keilmuan Gelang Naga (gelang tenaga) yang membangkitkan (harkatan/herkaton) energi melalui ring-ring dari disetiap ruas tulang manusia. Dimana setiap di setiap ring ruas tulang terhubung dengan urat syaraf yang berhubungan dengan organ oragn vital manusia. Yang dalam pengertiannya jika energi ini mengalami hambatan, maka ada bagian spesifik tubuh yang tidak teraliri oleh energi yang dirasakan sebagai rasa sakit di organ tersebut yang terasa tidak nyaman.

Masuknya agama Hindu dan Buddha ke Jawa, menyebabkan keilmuan yang berasal dari Pangeran Pengampun semakin maju bahkan beredar keluar pulau Jawa. Namun lafads “Pengampun” sangat sulit diucapkan bagi orang diluar Jawa. Sehingga pemujaan terhadapa Pangeran Pengampun hanyalah terdengar seperti gumanan/lafads yang berbunyi ”Houm houm houm“. Demikian pula setelah Nusantara dimasuki agama Islam pemujaan terhadap Pangeran Pengampun disebut sebagai “Waliullah wakil Kesatu”. Dari sekian banyak ilmu hikmah yang diajarkan oleh para Wali banyak menyebutkan Pangeran Pengampun Waliullah wakil kesatu”

Sehingga secara jelas bahwa “legenda Pangeran Pengampun” tetap hidup dimulai dari zaman Pra Hindu-Budhha sampai saat sekarang. Sosok Pangeran Pengampun adalah tokoh yang tidak masuk dalam catatan sejarah dan namanya hidup dimasyarakat, maka beliau menjadi tokoh legenda. Akan tetapi bagi mereka yang mempelajari ilmu-ilmu hikmah akan menemui sebutan “Pangeran Pengampun waliullah wakil kesatu” didalam mantra-mantra tertentu.

Di tatar Sunda (Parahiangan), dipercaya bahwa Pangeran Pengampun pernah hidup di Bantar Kawung Cianjur Jawa barat. Sedangkan di Jawa Tengah Pangeran Pengampun dipercaya pernah hidup di masa kerajaan Hartharanus. Dan dihormati namanya oleh para Wali dengan sebutan “Waliullah wakil Kesatu” yang artinya Wakil yang berkaromah yang berkedudukan di atas para wali.

3. Kesimpulan sementara
Dengan menilik penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan sementara. Pertama, di pulau Jawa dahulu ada sebuah kerajaan yang besar dengan nama Hartharanus. Kedua, negara Hartharanus jika dibaca dari belakang bisa menjadi Nusantara. Ketiga, dalam spelling orang Barat – khususnya Yunani: Plato -, kata Hartharnus menjadi Atlantis. Yang dipercaya oleh mereka sebagai benua yang hilang dan benua yang memiliki peradaban sangat tinggi. Keempat, bahwa di pulau Jawa ada bahasa kesatuan yang disebut bahasa Sun-Da (bahasa Ingsun Sabda). Kelima, keilmuan tentang energi berkaitan dengan energi yang memancar/merambat dari setiap ruas tulang manusia khususnya ruas ruas tulang punggung. Mengalir melalui urat syarat menuju organ organ tubuh yang vital. Ilmu ini pun menyebar kemana-mana bahkan hingga tibet. Keenam, banyak versi tentang prabu Heru Cakra dan legenda Pangeran Pengampun yang beredar di masyarakat. 

Kajian ini masih bersifat sementara dan perlu ditelusuri lebih dalam untuk bisa menemukan sejarah yang sebenarnya. Tapi paling tidak bisa memberikan gambaran dan dukungan, bahwa memanglah Nusantara ini dulu pernah memasuki zaman dan peradaban yang sangat maju, serta menjadi pemimpin dunia. Wallahu`alam.

Yogyakarta, 15 Desembar 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Disadur dari beberapa artikel di internet]

Iklan

36 thoughts on “Kerajaan Sunda: Hartharanus, benarkah ini Atlantis?

    1. Hmm… untuk hal itu saya belum bisa menjelaskan lebih detil, karena keterbasan kemampuan saya mengenai sejarah, antropologi dan arkeologi masyarakat Bugis. Tapi, sedikit yg saya ketahui mengenai budaya tulis menulis dari suku ini, yaitu tentang karya sastra I La Galigo yang di tulis dalam bahasa Bugis kuno dan dengan aksara Lontara. Karya sastra ini sangat panjang dg jumlah kurang lebih 6000 halaman, yang terdiri dari 300 baris puisi. Ini merupakan epos luar biasa tentang penciptaan dan peradaban Bugis, yang kini telah menjadi salah satu karya sastra terbesar di dunia.
      Memang peradaban Bugis kuno termasuk yang maju, tapi tahun pembuatan karya sastra ini (I La Galogo) hanya berkisar di abad 13-14 Masehi, jadi terlalu muda untuk dikatakan sebagai kemungkinan peradaban Atlantis, jika dibandingkan peradaban/kerajaan Hartharanus di atas. Sedangkan peradaban lain sebelumnya yg diketahui baru sebatas peradaban Megalitikum alias manusia batu.
      Demikian sementara yang bisa saya tanggapi, maaf atas kekurangannya, semoga bermanfaat.. 🙂

    1. Yup. Kita memang harus bangga sekali dengan tanah air ini, karena dia adalah yang tercinta dan terbaik di seantero bumi ini.. 🙂
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 😀

  1. perlahan2 dengan penelusuran lbh dalam pasti akan terungkap sejarah nusantara…. begitu hebatnya nenek moyang kita jadi kita patut bangga jadi bangsa nusantara… makasi mas linknya bermanfaat bgt tetap semangat….:)

    1. Yup, benar sekali tuh Yuda, bahwa dengan terus menelusuri sejarah bangsa kita, maka akan semakin menunjukkan keagungan dan kajayaan kita di masa lalu. Sehingga akan semakin menambah kepercayaan diri dan semangat dalam mewujudkan bangsa ini menjadi pemimpin dunia yg lebih baik…
      Makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap memberikan manfaat.. 🙂

    1. Okey… silahkan tunggu aja ya.. semoga ada yang baru lagi tentang sejarah bangsa ini… biar kita makin kenal dan bangga menjadi pewaris mereka…
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

    1. Alhamdulillah bila begitu.. seneng rasanya… 🙂
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Salam kenal kembali.. 🙂

    1. Iya sama2 deh.. terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya.. 🙂
      Semoga tulisan ini bisa memberi sedikit gambaran tentang kejayaan bangsa kita di masa lalu, dimana sekarang menghilang entah kemana… Ayo dari sekarang kita gali dan cari informasi tentang bangsa kita sendiri, agar kita tidak pula menjadi asing di negeri sendiri, sehingga akan kehilangan jati diri… 🙂

  2. Oh gitu ya..pantes aja dulu wong londo bule menjajah nusantara dateng nya pertama kali ke pulau jawa..emang sih katanya wong londo sebelum masuk ke wilayah jajahan mereka selalu mempelajari sejarah wilayahnya dulu..oke thank’s a lot bro atas info nya

    1. Ya bukan saja londo, inggris, spayol dan portugis pun sama.. mereka memang lebih dulu mempelajari karakter dan budaya masyarakat yg akan dijadikan jajahan.. biar lebih mudah ditaklukan.. makanya hasilnya kita pernah di jajah selama 350 tahun..
      Okey.. terimakasih mas Bonar, karena masih sering berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat…

  3. paparan artikelnya bisa membanggakan kita selaku rakyat nusantara RI !

    Mungki kita sangat sulit membuka tabir sejarah kuno nusantara. dikarnakan banyak sekali peninggalan / petunjuk sejarah kuno peninggalan dari kerajaan kerajaan terdahulu yang dibawa kabur oleh para penjajah eropa terutama belanda dan inggris.karna kita ketahui di musim purbakala belanda banyak sekali menyimpan situs situs kuno peninggalan kerajaan nusantara
    yang bisa membuka tabir bagaimana keadaan NUSANTARA ini.!!!!!!
    bagai mana cara kita menguak sejarah yg hilang sedangkan petunjuknya dimiliki pihak asing
    adakah cara? baik pemerintah atau pelaku sejarah untuk memulangkan petunjuk yg hilang tersebut ?

    mohon informasinya baik mitos / sejarah tentang hilangnya kerajaan pajajaran?

    1. Wah syukurlah bila demikian, senang bisa menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi negeri ini… 🙂
      Ya, sangat sulit untuk membuka tabir misteri sejarah di Nusantara ini, semua tidak lepas dari banyaknya bukti sejarah kejayaan masa lalu yang hilang, baik oleh proses alamiah atau memang sengaja di hilangkan… dan lebih buruknya lagi telah di gondol oleh belanda, inggris dan portugis sejak masa penjajahan mereka dulu…
      Hingga kini saya gak habis pikir, mengapa bangsa ini (dalam hal ini pemerintah) seolah-oleh tidak peduli dengan sejarah bangsa Nusantara ini, buktinya tidak pernah mengusakan harta warisan bangsa ini (arca, serat, senjata, dll) yang ada di negeri belanda, inggris dan portugis tidak di pinta kembali, padahal itu adalah hak bangsa ini sampai kapanpun.. benar-benar di sayangkan.. 😦
      Untuk informasi kerajaan Pajajaran, saya belum bisa memberikannya, karena saya sendiri belum mendalaminya… nanti kalau sudah, insyaAllah akan di share di blog ini…
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… 🙂

  4. Sampurasun ki dulur..
    Sebagai orang Cianjur saya sangat bangga dengan keberadaan tokoh yang bernama Heru Cokro. Beliau adalah tokoh besar yang belum terungkap keberadaannya dan orang Cianjur maupun orang Sunda secara umum belum banyak yang mengetahui eksistensi sebenarnya. Sebagian data mengatakan bahwa tokoh tersebut ada di kawasan Bantar Kawung. Apabila ditelisik lebih jauh, tempat tersebut berada di Desa Cinerang, Kecamatan Naringgul-Cianjur Selatan Dari segi lokasi, tempat tersebut tidak berada jauh dari garis pantai Samudera Indonesia. Apabila melihat posisi geografis, maka sangat besar kemungkinan bahwa letak Heranustra adalah berada di tepi lautan dengan menggunakan Pelabuhan Cidaun. Dalam hal ini saya sangat setuju apabila Tokoh Heru Cakra adalah tokoh yang hidup ribuan tahun sebelum masehi, apalagi jika hal tersebut dikaitkan dengan adanya Situs Gunung Padang yang berusia -/+ 23.000 tahun sebelum masehi. Hal lain adalah tentang keagamaan yang menganut Monotheisme, hal tersebut bisa dipercaya, karena ajaran yang dianut oleh kerajaan-kerajaan Sunda menganut ajaran Sunda Wiwitan, hal mana ajaran utamanya adalah membawa faham ajaran Nabi Adam, Nabi Idris dan Nabi Sysh yang dipengaruhi dengan ajaran nenek moyang kasundaan. Hal tersebut bisa diperkuat dengan ditemukannya situs-situs tempat peribadatan Megalithikum G. Padang (sebagai sentral peribadatan Sunda Wiwitan), Situs Genter Bumi- Panguyangan, Situs Batu Cengkuk-Sukawayana, Situs Batu Jomblang/Batu Kujang-Cidahu dan Situs Cibedug-Labuan. Hal tersebut di atas menjelaskan bahwa pada zaman ribuan tahun sebelum masehi telah terdapat peradaban besar di tatar Sunda. Hal lain adalah sangat disayangkan telah terjadi pendangkalan dan penghilangan sejarah berkaitan dengan kebesaran Sunda. Sebagai suatu contoh adalah digantinya nama Laut Soenda menjadi Laut Jawa (hal tersebut bisa dilihat pada peta yang bertahun abad 18. Untuk bangsa ini, mari kita pelajari kembali sejarah bangsa kita yang sedemikian agung dan luhur demi tercapainya masa depan Indonesia yang lebih baik, agung, luhung dan bermartabat..Bapak pendiri bangsa pernah mengatakan JAS MERAH-Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya..Selamat merayakan kemerdekaan, Dirgahayu bangsaku, MERDEKA INDONESIA..sumangga, hatur nuhun-wassalam.

    1. Rampes ki sanak..
      Wah sedikit banyak saya mendapatkan tambahan informasi nih, jadi perbendaharaan pengetahuan sejarah bangsa…
      Hmm… sedikit bisa saya tambahkan disini, bahwa dulu di tanah Sunda juga pernah ada kaum hebat yang bernama Marta yang hidup selama kurang lebih 750 tahun di zaman dimana Indonesia masih dikenal dengan nama Dwipantara, atau di saat pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Asia dan samudera Hindia masih bersatu. Ya, setidaknya jutaan tahun silam kaum ini pernah hidup dan membangun peradaban yang besar dan megah. Kaum ini hidup dengan keseimbangan pencapaian, yaitu dari sisi keilmuwan batin (olah batin) dan keilmuwan teknologinya… tapi di karenakan satu dan lain hal, kaum ini harus terpaksa pindah ke sebuah daratan yang sekarang ini berada di tengah samudera Hindia (dulu masih daratan yang luas) dan memulai sebuah peradaban yang baru disana… Disini mereka lalu mengganti nama kaum mereka dan terus membangun peradaban baru yang bahkan melebihi kehebatan saat mereka masih berada di tanah Sunda dulu… dan pada akhirnya, kaum ini berhasil mencapai puncak kejayaannya, dengan bukti telah berhasil menciptakan teknologi yg super canggih.. contohnya saja, mereka telah menciptakan pesawat terbang luar angkasa – dengan diameter 200 meter, karena tinggi mereka saat itu 5-6 meter – bertenaga energi kristal biru dan berkecepatan cahaya untuk menjelahi planet2 di dalam tata surya.. untuk persenjataan, mereka pun sudah tidak asing dengan yang saat ini kita kenal dengan rudal dan bom, bahkan ada salah satu bom terdahsyat – yang mereka namai dengan Bil – yang jika diledakkan maka dampaknya melebihi ledakan 10 bom atom… sementara persenjataan lainnya adalah pistol dan senapan laser yang biasa digunakan oleh para prajurit…
      Ki sanak tau siapa kaum yang hebat ini? inilah dia yang oleh dunia sekarang di kenal dengan bangsa Atlantis. Tapi maaf, disini saya belum bisa memberikan nama sebenarnya dari kaum ini, karena sebenarnya nama bangsa ini bukanlah Atlantis. Dan “JIKA SUDAH WAKTUNYA, SEMUA INI AKAN TERUNGKAP DENGAN JELAS, DAN BANGSA KITA AKAN KEMBALI MEMIMPIN DUNIA”.
      Tetaplah bangga jadi orang Nusantara, karena kita adalah keturunan orang-orang hebat dan luarbiasa….
      Okey, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

  5. Dimana Keraton SRI BIMA PUNTA NARAYANA MADURA SURADIPATI?
    “BOA-BOA” itu bukan KERATON BERJAJAR LIMA, tapi bisa jadi sebuah keraton yang bernama: Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati.
    Ada kemungkinan kata kuncinya adalah SRI BIMA.
    Sri = Sari = Inti = PUSAT
    Bima = Titik BUMI
    Sri Bima = PUSAT TITIK BUMI
    Mungkin arti dari Sri Bima adalah PUSAT TITIK BUMI = SUNDAPURA = SURALAYA = PARAHYANGAN.

    Bisa jadi ini keraton ‘Khalifatulard’ sebagai PUSAT DUNIA atau IBUKOTA DUNIA. Jika demikian tentu berbeda dengan Keraton Galuh atau Keraton Pakuan yang cakupannya hanya seluas Nusantara.

    Dimana Telaga MAHA RENA (Rena Maha Wijaya)?
    Maha Rena = AREAL YANG SANGAT LUAS.
    Telaga yang paling besar di Jawa Barat telaga apa?
    Jangan-jangan adalah TELAGA BANDUNG atau DANAU BANDUNG.

    Apa itu Lawang Saketeng?
    Lawang Saketeng kemungkinan SANGHYANG TIKORO yang berpungsi untuk memempat saluran air agar Danau Bandung berisi air atau sebaliknya.

    Apa itu GUGUNUNGAN yang dibuat oleh Prabu Siliwangi?
    Gugunungan adalah GUNUNG BOHONG-BOHONGAN, yaitu bukan gunung alam tapi gunung yang sengaja dibuat agar tanah menjadi tinggi & tidak terendam oleh Danau Bandung.
    Gunung Bohong-bohongan bisa dicurigai adalah GUNUNG BOHONG yang terletak antara CIMAHI~BATUJAJAR.

    Prabu Siliwangi mengeraskan jalan dengan batu atau batu yang ditata berjajar sebagai pengeras jalan, dimana lokasinya?
    Sepertinya lokasi yang logis yaitu di BATUJAJAR.

    Dimana Nusalarang?
    Apakah Nusalarang adalah PADALARANG?

    Dimana Hutan Samida?
    Samida = SAMIDANG
    Samidang merupakan kata “sawanda” dengan SUMEDANG.

    Perhatikan di Pusat Parahyangan dikenal istilah:
    1)KEBON RAJA atau KEBUN KERAJAAN. Kebun Kerajaan apa ya?
    2)TAMAN SARI atau TAMAN KERAJAAN. Taman Kerajaan apa ya?
    3)TEMPURAN SUNGAI & Pulau Sari di Sungai Cikapundung.

    Maaf saya hanya iseng sambil MERABA-RABA SAJA dan belum pasti kebenarannya, namun PATUT DICURIGAI sebagai target penelitian.

    Selamat berandai-andai
    Terima kasih.

    1. Okey terimakasih atas “andai-andai” nya… ini tetap bisa jadi bahan pemikiran dan kajian yang lebih mendalam.. karena sangat banyak pertanyaan dan misteri yang masih terselubung di jagat Nusantara ini… yang jika kita mau mengulik atau bahkan bisa membuka selubung misteri tersebut, maka akan semakin tampak dengan jelas kehebatan dan besarnya peradaban yang pernah dicapai oleh para leluhur kita dulu… Memanglah, Nusantara ini dulunya pusat peradaban dunia… 🙂

  6. Pnja2h tdk mrasa klah prang, 1 1nya jalan utk mngambil kmbali braneka mcm bntuk pninggalan2 sjarah senusantara hnyalah mlalui pprangan krn pnja2h mrampas juga mlalui pprangan tapi dgn brmcm2 strategi jaht. Mungkin hrtanus pd masa nusantara masih brupa bnua. Mau diajari elmu syaraf agar bisa mmbantu org2 susah yg skt parah.

  7. Sebab2 Brakhirnya krajaan krn bncana,atau pprangan n atau lainnya tntu pasti ada naskah2 kuno asli dari minimal kdua blah pihak krajaan atau lbh yg ditulis blm lama pristiwa trjadi/pd abad itu, bukn lama atau stlah abad itu, apalagi ada ‘campur tangan jahil’ pnjajah.

  8. Sebab2 Brakhirnya krajaan krn bncana,atau pprangan n atau lainnya tntu pasti ada naskah2 kuno asli dari minimal kdua blah pihak krajaan atau lbh yg ditulis blm lama stlah pristiwa trjadi pd abad itu, bukn lama atau stlah abad itu, apalagi ada ‘campur tangan jahil’ pnjajah.

  9. Banyak yg udah trindikasi cara2 pnjajah+pakrnya mngkburkn,dsb sjarah,3 diantara nya mngganti,mnukar nama2 tmpat,gunung,sungai,dll dgn nama2 bhs pnjajah pun juga dgn nama2 bhs suku,mmbunuh saksi2 n ktrunan2nya yg asli (keluarga krabat krajaan n rakyatnya) yg tahu atau diksih tau pa yg trjadi sbnrnya, mlakukn ekspdisi2 pnlitian utk mngalih kburkn sjarah, 3 cara itu utk mmutuskn ‘mata rantai’ ktrkaitan sjarah di brbagai tmpat.

  10. Krajaan2 tdk ada yg hilang bgtu saja tanpa bkas yg jlas kcual krajaan ‘wangsa siluman’, msti ada bkas bangunan2 istananya n atau rruntuhn ‘bongkhn2 potongan2nya’ yg umumny bisa dikenali krn tiap krajaan punya khas ragam hias ukir pahat n bntuknya+aksaranya. Krn brmcm2 strategi jaht pnjajah+pakr2nya utk ‘mmbutakn’,dsb kbnaran sjarah makanya ssama anak bangsa bukn hnya bda pndapat tpi ujung2nya prtntangan saling mnghina antar agama,suku,dll( itu sangat disukai pnjajah2,itu pncapaian slh 1 target dr brmcm2 cara politik kotor ‘devide et impera’ pnjajah2. Mereka slalu ‘mndambakn kembali’ ke nusantara, ‘indonesia’. Bagus artikelnya.

    1. Betul mas Esa, senjata terkuat itulah (memutar balikan fakta)/propaganda media yang sekarang menghancurkan bangsa kita. Karena para penjajah itu sadar bahwa mereka tidak bisa menaklukan kita hanya lewat perang terbuka

      1. Hmm para penjajah itu sampai hari ini masih tetap menaklukkan negeri ini. Bangsa ini masih tetap dijajah oleh opini, paham dan sistem mereka yang berkiblat pada imperialisme, kapitalisme dan satanisme… Kecuali yang sudah mengenal, menjalankan dan menguasai Ilmu Sejati, semua orang justru masih dibelanggu di hampir semua lini kehidupannya… 🙂

  11. Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh…

    Alhamdulillah, setelah saya baca komentar² sebelumnya saya bersyukur masih ada orang² yang berfikir kritis. Dengan demikian, saya dapat mengambil kesimpulan sementara bahwa bangsa hebat ini masih memiliki naluri untuk mencari jati dirinya. Karena jika kepekaan kita akan sejarah dan kaitanya dengan petunjuk² fisik dan non-fisik yang ada di berbagai daerah nusantara, maka mungkin kebangkitan kita sebagai sebuah bangsa yang menjalankan hukum Tuhan dalam setiap sendi kehidupanya akan segera terwujud… Barakallahu

    Terima kasih kang Oedi…

    Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh…

    1. Wa`alaikumsalam..
      Iya mas Rian, sama-sama deh, terimakasih juga karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. sebenarnya masih ada – semoga saja banyak – di luar sana orang-orang yang melek mata dan dan batinnya.. Tapi sayang belum dipersatukan oleh seorang pemimpin yang direstui langit dan bumi, pemuda yang pribadinya telah menerima Wahyu Keprabon.. Tuhan belum mengizinkan, meskipun sang pemuda itu sudah ada di sekitar kita tapi tanpa kita kenali..
      Jika ingin bangkit dan berjaya seperti dulu kala, maka bangsa ini harus kembali ke jati dirinya sendiri.. salah satunya adalah menggunakan ilmu ilmiah (sains, teknologi) dan batiniah (kanuragan, kadigdayan, kasapuhan, kasampurnan, kasunyatan) sekaligus.. Dengan kedua kekuatan yang disatukan itu, maka bangsa ini akan utuh dan direstui kembali oleh Langit. Bangsa ini akan kembali kuat, disegani dan memimpin dunia.. 🙂

  12. wah mas,sy br tau klo sang heru cakra yg mengajarkan titik saraf….berarti ahli kesehatan ya?oya mas,adakah analisis relief borobudur yg lengkap gambarnya juga?hiks,sulit ya mas….sy kok berpikiran memang sengaja dibuat dr batu gunung agar tdk mudah digerus alam.candi =sandi kah mas?sy lupa bc di blog njenengan atau mas sabda ttg relief tsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s