Uzlah (mengasingkan diri) Demi Kebaikan

Saudaraku, pada kesempatan kali ini sengaja saya mengajak kita semua untuk menggali lebih dalam tentang uzlah (mengasingkan diri). Karena barangsiapa yang dapat melihat nyatanya akherat dengan mata hatinya, maka dengan sendirinya akan menginginkan akherat. Ia merindukan balasan keindahan yang kelak Allah SWT berikan dan segera menganggap hina kenikmatan dan semua kelezatan duniawi yang sebenarnya terus menipu.

Begitu pun seorang yang berakal akan mengabaikan keindahan dunia kecuali sesuai dengan kebutuhannya. Bahkan seorang yang memahami akherat cenderung memalingkan dirinya kecuali demi kebenaran. Sehingga ia tidak menyibukkan diri untuk dunianya, melainkan sekedar untuk menguatkan dirinya agar bisa meniti jalan menuju akherat yang penuh ridha-Nya.

Dalam urusan uzlah ini, para ulama terbagi tiga saat memandang keutamaannya. Sebagian dari mereka ada yang mengutamakan uzlah dari pada bercampur dengan masyarakat. Sebagian lagi lebih mengutamakan bercampur dengan masyarakat. Sedangkan yang lainnya lagi memilih jalan pertengahan, atau dengan kata lain menentukan kapan ia harus bercampur dengan masyarakat dan kapan pula ia mesti ber-uzlah.

Mereka yang memilih untuk ber-uzlah telah mendasarkan perbuatannya dengan dalil berikut:
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, bersih dan tersembunyi” (HR. Muslim)

Mereka yang memilih bercampur dengan masyarakat mendasarkan perbuatannya itu dengan dalil berikut:
“Orang yang bercampur dengan masyarakat dan bersabar menanggung gangguan mereka lebih baik daripada orang yang tidak bercampur dengan masyarakat dan tidak bersabar menanggung gangguan mereka” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sedangkan mereka yang memilih jalan pertengahan tentu mendasarkan perbuatannya pada kedua dalil di atas untuk kemudian diambil sebagai kesimpulan yang terbaik. Yaitu memilih kedua hal diatas lalu di pertimbangkan dengan penuh kesadaran diri. Mereka tidak berat kepada satu diantara kedua pandangan diatas, karena baginya keduanya tidak salah dan mendatangkan manfaat.

Nah, bagi penulis sendiri maka akan cenderung kepada pendapat yang terakhir, yaitu memilih jalan tengah. Alasannya, kedua hal diatas (ber-uzlah atau tidak) memiliki dasar agama yang kuat. Bahkan memang dulu keduanya pernah dilakukan oleh baginda Nabi Muhammad SAW.

Jika seseorang ber-uzlah maka ia akan mendapatkan manfaat seperti; dapat mencurahkan waktu untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, merenung, mengoreksi diri, bermunajat kepada-Nya, serta memikirkan tentang kekuasaan-Nya. Dan semua itu hanya bisa maksimal dilakukan saat ia mau ber-uzlah atau memisahkan diri dari keramaian manusia.

Selain itu, ber-uzlah juga dapat menyelamatkan diri seseorang dari perbuatan maksiat yang biasa ia lakukan saat bercampur dengan orang lain, seperti; riya`, gibah, zina dan kecurangan. Bisa juga melepaskan seseorang dari kejahatan manusia. Bahkan ber-uzlah dapat pula menjaga diri dari pertikaian dan kerusuhan, atau melindungi agama dari fitnah dan mara bahaya lainnya. Ia pun dapat membantu seseorang untuk melepaskan diri dari kejahatan manusia, bahkan mengajaknya untuk terus menghilangkan ketamakan dan menjauhkannya dari kebodohan.

Ya. Hati adalah cermin diri. Selama ia bersih dari debu dan karat, maka Cahaya Ilahi dapat memantul di atasnya. Dan saat Cahaya Ilahi telah memantul dari hati yang suci, tentu jalan kebenaran dapat diketahui. Sedangkan kebahagiaan adalah sesuatu yang pasti mengikat kehidupan.

Namun, bercampur dengan masyarakat juga sesuatu yang baik dilakukan. Ini merupakan perbuatan yang dulu terus dilakukan oleh Rasulullah SAW, bahkan hingga beliau wafat. Sebagaimana hadits berikut ini:

“Beliau (Rasulullah) mengunjungi orang sakit hingga di ujung Madinah” (HR. At-Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Majah)

“Beliau (Rasulullah) duduk bersama orang-orang fakir dan makan bersama orang-orang miskin” (HR. Al-Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

“Beliau (Rasulullah) memuliakan orang-orang yang memiliki akhlak yang baik. Beliau mengambil hati orang-orang terhormat dengan berbuat kebajikan. Beliau menjalin silaturahim dengan kerabat beliau tanpa membeda-bedakan mereka” (HR. Hakim)

“Tempat duduk beliau (Rasulullah) tidak dapat dibedakan dari tempat-tempat duduk para sahabat beliau, karena beliau duduk di tempat duduk terakhir yang masih kosong. Beliau paling sering duduk menghadap kiblat. Beliau selalu memuliakan orang yang masuk. Sampai-sampai kadang beliau membentangkan kain beliau sebagai alas duduk bagi orang yang tidak ada hubungan kekerabatan atau hubungan penyusuan antara ia dan beliau” (HR. At-Tirmidzi dan Hakim)

Sehingga, dengan mencermati hadits di atas, maka sikap dalam bercampur dengan masyarakat adalah tetap sebagai perbuatan yang baik, asalkan selama melakukan kontak dengan masyarakat itu seseorang dapat menjaga adab dan sopan santun. Karena setiap pribadi manusia telah di kodratkan sebagai diri yang berlaku sosial, atau dalam artian memang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Ia akan cenderung membutuhkan orang lain demi memenuhi kebutuhannya. Lalu mengapa pula kita menghindarinya tanpa alasan yang kuat dan benar? Padahal dengan bergaul dengan orang banyak, maka seseorang akan mengetahui perkembangan dunia dan bisa menyalurkan kebaikan – seperti membantu yang kesusahan atau memberikan nasehat -, bahkan melakukan amar makruf nahi munkar. Tapi bila bercampur dengan masyarakat di rasa hanya dapat mendatangkan keburukan, maka lebih baik dihindari dengan penuh kebijaksanaan.

Ya. Rahmat Ilahi dicurahkan karena kemurahan dan kedermawanan-Nya. Ia akan abadi di terima, oleh hati yang siap menyambutnya dengan penuh semangat dan keikhlasan. Sehingga orang yang telah sadar, baik melalui dirinya sendiri atau pun melalui bantuan orang lain, akan mendapatkan kenikmatan yang tiada terkira. Ia juga akan memandang segala sesuatunya dari manfaat dan kerugiannya. Sehingga ia pun terus berjalan dalam langkah yang benar lagi diridha-Nya

“(Keselamatan adalah ketika) rumahmu mencukupimu, kamu menahan lidahmu, dan kamu menangisi dosamu” (HR. At-Tirmidzi)

Saudaraku. Dengan mencermati semua penjelasan di atas, maka bercampur dengan masyarakat adalah baik untuk dilakukan, sepanjang ia tidak melalaikan seseorang dari urusan yang menjadi ketentuan-Nya. Namun demikian, ber-uzlah pun amatlah baik untuk dilakukan. Terutama pada saat kini, dimana serangan dari hiburan duniawi terus merangsek masuk ke dalam setiap lini kehidupan. Siapa saja dapat dengan mudah mengakses informasi dan gemerlapnya kesenangan ragawi. Sehingga – jika tidak hati-hati – yang tertinggal hanyalah kemaksiatan dan perbuatan dosa yang kian menggunung.

Untuk itu, sudah saatnya kita sering ber-uzlah dengan penuh kesadaran demi kebaikan diri. Cukupkanlah setiap kebutuhanmu agar dapat menjalani kehidupan ini secara normal. Jangan berlebih-lebihan dalam menuruti setiap keinginan dari hawa nafsu, karena ia cenderung mengajakmu untuk melanggar semua aturan dan ketetapan-Nya. Abaikan saja dia bila telah merayumu untuk keluar dari jalan syariat, sebagaimana peringatan Rasulullah SAW berikut ini;

“Orang yang paling mulia kedudukannya di sisi Allah dari kalian adalah orang yang paling lama menahan lapar dan merenung. Dan orang yang paling di benci oleh Allah adalah orang yang banyak tidur, banyak makan dan banyak minum” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

“Berpakaianlah, minumlah dan makanlah setengah perut. Sesungguhnya hal itu adalah salah satu sifat kenabian” (HR. Dailami)

Semoga kita senantiasa menjadi orang yang dapat melihat dan memutuskan setiap perkara dengan cara yang benar. Dengan penuh kesadaran dan kesabaran yang dilengkapi dengan ilmu yang benar, maka setiap perbuatan kita diharapkan akan mendapat bimbingan-Nya.

Yogyakarta, 02 Desember 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Cuplikan dari buku “Kajian Hati, Isyarat Tuhan”, karya: Mashudi Antoro]

Iklan

25 thoughts on “Uzlah (mengasingkan diri) Demi Kebaikan

    1. Yup… emang demikian adanya Dik, terlebih saat kini, dg kondisi kehidupan yg morat-marit ini maka kita emg kudu sering2 ber-Uzlah jika ingin selamat dan benar hidupnya.
      Ya narsis sedikit gak apalah.. yg penting sesuai dg tema tulisan…
      Okey.. makasih ya atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… ๐Ÿ™‚

    1. Wa`alaikumsalam…
      Iya salam kenal juga, kan kita sudah sempat ngobrol di facebook…. senang rasanya bisa kenalan dengan seorang petualang, terlebih di laut, sesuatu yang berada di luar kebiasaanku (naik gunung) ๐Ÿ™‚
      Okey… semoga tulisan saya itu bisa bermanfaat… terimakasih atas kunjungan dan dukungannya.. ๐Ÿ™‚

  1. hehe.. justru sy tau facebook mas Oedi saat sy browsing ttg uzlah, kbetulan waktu itu sy baca juga profil blognya ‘n ada id facebooknya ditulis disitu. ‘n ya it’s really nice to know u, an inspiring person. mudahan sy bisa “mencuri ilmu” dari mas Oedi. ๐Ÿ™‚ thanx again mas Oedi ๐Ÿ™‚

    1. Okey.. sama2 deh.. semoga bermanfaat..
      Oh gitu.. wah gak nyangka ya bisa kenalan lewat bantuan tulisan di blog… hehe… is very good.. ๐Ÿ™‚
      Wah seneng deh kalau mau “mencuri ilmu” dari ku.. tar saya juga ikutan “mencuri” deh.. hehe.. ๐Ÿ™‚

  2. iya mas, apalagi pas liat profil penulis blognya ternyata petualang ‘n anak alam juga ‘n tulisan2nya juga penuh sentuhan hati ‘n inspirasi. mantab.. asyeekk.. mari kita saling “mencuri” hehe.. matur nuwun mas Oedi ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s