Runtuhnya Ikatan Persaudaraan

Kekasihku. Seorang yang berakal pastinya akan mengkhawatirkan dosa-dosanya meski ia telah menangisi kesalahannya dan bertobat demi pengampunan-Nya. Begitupun seorang yang sempurnya ilmunya akan menganggap bahwa dirinya tidak pernah beramal. Dalam kehidupannya, maka ia hanya akan melihat bahwa semua adalah anugerah Allah SWT sehingga ia pun dapat mengerjakan berbagai macam amal dan ibadah terbaik. Ia juga hanya akan meyakini bahwa kuasa Allah-lah yang membuatnya bisa tidak mempedulikan setiap amal yang telah dilakukan. Karena baginya segala sesuatunya hanya untuk dan karena Allah SWT.

Namun kini, aku banyak melihat mayoritas manusia telah begitu yakin akan keberterimaan tobatnya. Ia sangat percaya diri bahwa semua amal perbuatannya telah di terima. Padahal ia sejatinya adalah sesuatu yang ghaib dan hanya Allah SWT saja yang mengetahuinya (di terima atau tidaknya). Bahkan meskipun sudah diampuni atau amal ibadahnya telah diterima, maka tiada alasan bagi seseorang untuk berpuas diri. Karena sebaiknya ia tetap merasa malu dan takut kepada-Nya, lantaran ia hanyalah seorang makhluk yang sangat lemah dan tempatnya salah.

“Benarkah kau meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Kuasa? Sebab kulihat kau tak mengindahkan perintah dan larangan-Nya; contohnya menutup aurat. Lalu apakah itu layak dikatakan beriman? Sedangkan kehidupanmu tak sesuai dengan hukum dan aturan-Nya”

Ya Rabb. Aku berlindung kepada-Mu dari pemahaman yang keliru, terlebih dari pemahaman yang berasal dari orang-orang yang hanya memperlihatkan diri sebagai seorang yang berilmu. Sebab, andaikan bukan karena langkanya pemahaman yang sejati, tentu orang yang sombong tidak akan menyombongkan diri atas lainnya. Dan bila bukan karena jarangnya pemahaman yang benar, maka setiap orang yang sempurna akan menganggap sepele setiap perbuatannya, semua bukan apa-apa lantaran ia pun merasa teledor dalam mensyukuri setiap nikmat-Nya.

Sehingga, kini aku dapat menyimpulkan tentang kehidupan ini. Dimana aku masih belum menemukan sahabat yang bisa kubanggakan. Aku hanya melihat beberapa sikap kasar dan malas dari mereka. Perlakuan tidak baik pun kerap dilakukan dengan tanpa rasa menyesal. Mereka pun terbiasa menghampiri diriku saat membutuhkan bantuan saja, padahal aku sendiri akan tetap menolong dengan atau tanpa permintaannya.

O.. nafsu di dalam diri ini sering memaksa untuk memutuskan hubungan dengan mereka itu. Ingin sekali rasanya mencela dan menyalahkan mereka. Tapi kemudian aku berpikir lagi dan akhirnya menyadari kesalahanku. Yang ku tangkap adalah bahwa manusia itu memang terdiri dari kenalan, teman lahir dan saudara. Sehingga aku pun tetap menjalin hubungan dengan mereka – meski cuma secara lahir saja -. Kemudian dengan berat hati, aku telah memindahkan mereka dari daftar buku saudara ke buku teman lahir. Dan bila ternyata mereka masih tidak layak untuk masuk ke dalam daftar buku teman lahir atau bahkan keadaannya semakin parah, maka terpaksa mereka ku pindahkan ke dalam daftar para kenalan saja. Aku pun akan berusaha mempergaulinya hanya sekedar kenalan saja, tanpa mesti bersusah payah lagi menganggapnya sebagai saudara seiman, bahkan memberikan nasehat yang berarti. Aku tidak akan mencela dan membenci mereka, karena yang kunginkan bahwa ia tetap bisa berubah ke arah yang jauh lebih baik, bahkan lebih baik lagi dari diriku yang hina ini. Dan Tuhanku pun telah memerintahkan untuk tetap; “Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,…” (QS. Ali-`Imran [3] : 103)

Sungguh, kebanyakan orang pada saat sekarang hanyalah kenalan. Jarang sekali dari mereka yang layak di jadikan temah lahir, dan tentunya yang bisa menjadi saudara sejati hampir-hampir tidak ada. Sebab, aku masih belum menemukan sosok yang benar-benar mendalam cintanya. Belum pernah diriku merasakan ketulusan cinta dari seseorang – di luar cinta keluargaku -, karena selama ini hanyalah cinta yang pamrih. Sehingga aku tak mau terkecoh lagi dengan seorang yang menampakkan diri sebagai orang yang mencintaiku, padahal hanyalah demi mendapatkan sesuatu dariku.

Duhai kekasihku. Saat ini aku menyaksikan kenalanku menemani dengan lahirnya namun memusuhiku dengan batinnya. Aku pun melihat orang-orang terus menertawakanku saat melihat diri ini sengsara dan miskin dalam harta. Dan di kala saatnya aku berbahagia, ia pun iri dan membenciku. Padahal aku ini bukanlah sosok yang sempurna karena banyak sekali kekurangan diriku. Aku juga bukan sosok yang tanpa cela, karena terlalu banyak kesalahan yang dilakukan dalam kehidupan ini. Tapi mungkin dari kekurangan dan ketidaksempurnaan itulah, kau akan menemukan sesuatu yang lebih berharga dari kesempurnaan.

Ya. Saat ini sedikit sekali pribadi yang meneladani generasi salafushaleh. Padahal mereka itu adalah orang-orang yang memiliki niat yang tulus. Cintanya karena dorongan agama dan keikhlasan, bukan karena dorongan kebiasaan. Ini terbukti dengan relanya mereka hijrah meninggalkan kampung halaman tercinta di Makkah menuju Yastrib (Madinah sekarang) tanpa ragu-ragu, tidak melihat orang dari penampilan dan kepemilikan, atau sekian banyaknya pengorbanan mereka dalam beberapa peperangan karena terdorong rasa cintanya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Tapi kini, sungguh banyak pribadi yang mengkritik hikmah Allah. Mereka kerap memberontak kehendak-Nya, padahal ia di atas jangkauan akalnya. Semua terjadi sebab mereka terus menjadikan akal sebagai alat ukur, sehingga lupa bahwa hikmah Allah jauh di luar batasan akal dan pikirannya. Sehingga bergaul dengan orang yang cuma membicarakan dunia adalah sumber terbesar sakitnya hati dan rusaknya akal. Ia pun menjadi penyebab jauhnya diri dari kebenaran. Sehingga hilanglah kemuliaan.

“O.. aku pun belum menemukan sahabat yang benar-benar sahabat. Kekasih yang benar-benar bisa dijadikan kekasih. Karena semua masih menutup diri pada kebenaran Tuhan”

Untuk itu wahai peminang bidadari Syurga. Tanamkan tekad meskipun secuil di hatimu. Capailah Cahaya Petunjuk dengan membuka pikiran dan mata batinmu. Kemudian lihat bahwa pertolongan Allah adalah pasti dalam kehidupan. Karena orang yang tidak mau menerima nasehat, akan terpeleset dan binasa di jalan cinta. Dia juga bisa membunuh jiwanya sebelum ajal datang menjemput. Karena mayoritas kehidupannya hanya di penuhi dengan perbuatan tercela.

Semoga kita tetap menjadi sosok yang tidak meruntuhkan ikatan persaudaraan. Karena ketulusan berawal dari kasih sayang. Sedangkan kasih sayang berakar pada cinta. Sehingga bila seseorang telah memiliki cinta di dalam hatinya, maka kemuliaan dan kebahagiaanlah akibatnya.

Yogyakarta, 21 Nopember 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Cuplikan dari buku “Kajian Hati, Isyarat Tuhan”, karya: Mashudi Antoro]

Iklan

6 thoughts on “Runtuhnya Ikatan Persaudaraan

  1. wah tulisan yang bagus dan memiliki makna yang dalam (bacanya : sambil tertunduk dan merenung) hehehe….
    “Untuk itu wahai peminang bidadari Syurga. Tanamkan tekad meskipun secuil di hatimu. Capailah Cahaya Petunjuk dengan membuka pikiran dan mata batinmu. Kemudian lihat bahwa pertolongan Allah adalah pasti dalam kehidupan. Karena orang yang tidak mau menerima nasehat, akan terpeleset dan binasa di jalan cinta. Dia juga bisa membunuh jiwanya sebelum ajal datang menjemput. Karena mayoritas kehidupannya hanya di penuhi dengan perbuatan tercela.

    Semoga kita tetap menjadi sosok yang tidak meruntuhkan ikatan persaudaraan. Karena ketulusan berawal dari kasih sayang. Sedangkan kasih sayang berakar pada cinta. Sehingga bila seseorang telah memiliki cinta di dalam hatinya, maka kemuliaan dan kebahagiaanlah akibatnya”
    kata-kata yg indah dan penuh makna
    terimakasih mas linknya…

  2. terimaksih mas link nya, memang bener sudah banyak yang taklagi perduli sesama makhluk-Nya bahkan terkadang dengan saudarakandung pun sudah hilang rasa keperduliannya makasih mas se x lagi atas linknya…:D

    1. Yup, itu memang benar sekali Ben, Zaman sekarang sungguh sangat sulit mencari sosok yang layak dikatakan manusia yang sebenarnya, karena mereka tidak jauh bedanya dengan binatang yang melakukan sesuatu bukan karena dorongan akalnya… sehingga sadis, tega, dan keji menjadi kebiasaan…
      Untuk itu, mari kita tanamkan dan kuatkan kembali Ukhuwah Islamiyah sebagaimana yang susah payah Rasulullah SAW canangkan dulu. Karena dengan begitu kehidupan peradaban ini akan kembali normal dan diridhai-Nya.
      Okey, makasih cos masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s