Kerusakan Zaman dan Kekeruhan Pergaulan

Wahai kekasihku. Jika seseorang memiliki ilmu yang mendalam, maka ia akan menyadari bahwa dari kalangan manusia banyak yang bersikap kufur dan berada di jalan yang tidak benar. Mereka pun memiliki peran yang besar terhadap kerusakan zaman, karena setiap tindakannya mengandung bencana meski tidak berdampak secara langsung saat sekarang.

Sungguh, penyebab bersedihnya hati dan susahnya pikiran adalah keberpalingan dari Allah SWT. Itu terjadi karena diri cenderung pada hasrat duniawi semata. Sehingga saat kegagalan terjadi dalam usaha, yang tertinggal hanyalah putus asa dan protes. Lalu, benarkah kau meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Kuasa? Sebab kulihat kau tak mengindahkan perintah dan larangan-Nya; contohnya menutup aurat dan menjauhi maksiat. Lalu apakah itu layak dikatakan beriman? Sedangkan kehidupanmu tak sesuai dengan hukum dan aturan-Nya.

Pada zaman sekarang ini, aku melihat banyak orang yang menjual dirinya dengan nilai yang sangat murah, bahkan gratisan. Ini tampak dengan seringnya ia merusak kehormatan dirinya seraya mempertontonkan aurat dan kerap melakukan perbuatan dosa tanpa rasa menyesal. Tujuannya tiada lain untuk menyombongkan diri – meski terkadang tanpa disadari – dan takut bila dianggap ketinggalan zaman bila tidak ikut melakukan kesalahan itu. Mereka dengan sangat entengnya menganggap bahwa itu adalah “lumrah”, meski hatinya merasa resah. Bahkan mereka terus “menggila” dalam kebiasaan buruk itu, layaknya binatang liar. Padahal itu jelas menjatuhkan harga dirinya di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ya. Semua yang mereka lakukan cenderung tidak baik. Bahkan karena terus menuruti keinginan hawa nafsu, mereka pun hanya memiliki tanda kezuhudan tanpa memiliki kezuhudan yang hakiki di dalam hatinya. Penampilan mereka terkadang memberitahukan bahwa mereka adalah orang-orang zuhud, namun perbuatan-perbuatan mereka yang tersembunyi akan menampakkan kekafiran. Dan salah satu bentuk tindakan buruk mereka adalah terus mengajak manusia untuk bersikap sederhana dan menjaga kualitas iman. Sedangkan mereka sendiri tetap “gandrung” dengan harta dan popularitas.

Tiap hari mereka malas menela`ah ilmu, mayoritas mereka cuma sekedar menjalankan ritualitas ibadah wajib – tanpa memahami hakekatnya – dan tidak sudi mengerjakan ibadah sunnah. Mereka cuma sibuk dengan membicarakan uang, jabatan dan kesenangan duniawi. Banyak pula manusia yang terus terpengaruh dan terpesona terhadap kehidupan dunia ini, lebih-lebih lagi kalau mendapatkan nikmat berupa kesenangan dan kemewahan. Mereka pun lalai dalam mempersiapkan segala sesuatu yang menjadi bekal untuk hari yang akan datang dan melupakan urusan akherat. Sehingga akan sesuai dengan sabda Rasulullah SAW berikut ini:

”Akan datang suatu masa pada umatku yang pada masa itu mereka mencintai lima macam dan melupakan lima perkara, yaitu: Mereka mencintai dunia dengan melupakan akhirat. Mereka mencintai rumah megah dengan melupakan kubur. Mereka mencintai harta dengan melupakan hisab (pertanggungjawabannya). Mereka mencintai keluarga dengan melupakan bidadari. Mereka mencintai dirinya sendiri dengan melupakan Allah.
Mereka ini seperti jauh dariku dan aku pun jauh dari mereka” (HR. ?)

Sehingga aku pun dapat membagi manusia ke dalam dua golongan, yaitu awam dan ulama. Orang awam terdiri dari banyak kelompok. Sebagian dari mereka adalah orang yang suka bersenang-senang dan tidak mempedulikan kondisi sosial. Mereka terus memperturutkan hawa nafsu yang keliru, tanpa peduli bahwa itu adalah kesalahan yang fatal. Akhlak mereka terus “terjun bebas”, sehingga muncullah penyakit dalam masyarakat, seperti: HIV, AIDS, kanker Serviks, aborsi, dll. Sebagian lagi dari mereka adalah kaum wanita yang cantik namun melacurkan diri dengan mengumbar aurat. Mereka pun terkadang mencuri harta suaminya dengan menghabiskannya dalam foya-foya dan semua kesenangan duniawi. Mereka tentunya tidak lagi mendirikan shalat dan terkadang ada yang tidak pernah lagi mendengarkan apapun tentang agama. Sebab, jika ada orang yang memberikan nasehat agama maka dia merasa bosan. Sedangkan ketika ayat-ayat Ilahi diperdengarkan ke telinga mereka, mereka pun seperti sedang mendengar cerita dongeng pengantar tidur. Sehingga mereka inilah yang kelak akan memenuhi Neraka.

Lalu sebagian lagi dari mereka adalah para pria hidung belang yang tidak memperdulikan siapa korbannya. Masih muda atau tua, bahkan masih sendiri atau istri orang lain ia tidak akan peduli. Yang penting ia bisa memenuhi hasrat keinginan liarnya, sedangkan masalah dosa tidak menjadi masalah, karena yang penting adalah kesenangan syahwat. Sehingga, hukuman yang didapatkan nanti di Neraka adalah teramat perih.

Kemudian sebagian yang lain dari mereka adalah penguasa yang di didik dalam kebodohan sistem, bersikap serakah, tidak peduli dengan rakyat dan kerap berbohong. Saat diberikan keunggulan fasilitas dan kesenangan, mereka bukannya giat bekerja memanggul amanah rakyat, melainkan terbuai dalam kekufuran. Prestasi mereka terus menurun dan akhlak mereka pun ikut morat-marit. Sehingga kelompok ini sungguh jauh dari seluruh jenis kebaikan dan kebenaran.

Sedangkan untuk kalangan ulama, aku melihat para pemula dari mereka punya niat yang busuk. Tujuan “dakwah” mereka adalah mencari perhatian dan keterkenalan semata. Urusan uang adalah utama, karena baginya berdakwah adalah profesi. Sehingga, tujuannya dulu saat mencari ilmu hanyalah demi menyombongkan diri, bukan untuk mengamalkannya. Mereka pun mempunyai kebiasaan yang buruk, karena menyakini bahwa ilmunya nanti dapat menyelamatkannya. Padahal dengan semakin banyaknya pengetahuan namun tidak diamalkan, maka akan memperparah siksaan dan azab Allah SWT kepadanya.

Kemudian disisi lain terdapat ulama yang berada di tingkatan menengah dan tertinggi namun masih saja tidak bisa mengendalikan diri dari kesenangan duniawi yang menipu. Mereka bahkan bergaul dengan para penguasa yang bejat dan tidak mau mengingkari kemungkarannya. Sehingga sangat sedikit ulama dari kalangan ini yang punya niat yang ikhlas dan tulus dalam perbuatan, dengan tujuan yang baik lagi benar.

O.. Andaikan kini Umar bin Khaththab RA masih ada, tentunya ia akan memerlukan ribuan cambuk setiap hari. Bahkan mungkin ia pun akan membutuhkan pedang yang tajam untuk memerangi para pembangkang ini. Karena meski ada orang shalih yang terus memberikan peringatan, namun tak mampu melakukan apa pun terhadap mereka yang keras hatinya. Ini terjadi karena para ulama tidak bisa memperingatkan diri mereka sendiri terlebih dulu. Sehingga perkataan manis dari mulut mereka sama sekali tidak didengarkan dan berlalu bagai angin sepoi-sepoi yang menghibur di tengah orang awam.

Untuk itu kekasihku. Karena dirimu adalah seorang yang telah dianugerahi kesempatan untuk menelaah perikehidupan Rasulullah SAW dan salafushaleh serta kemampuan untuk meneladani mereka, maka tidakkah segera berusaha menjauhi perilaku yang keliru? Bergaullah dengan mereka yang tidak “gandrung” dengan kehidupan duniawi ini. Karena terus bergaul dengan mereka yang tidak mempedulikan kerusakan zaman, akan dapat menyakitimu. Sedangkan saat kau berpura-pura melakukan hal yang baik dan tidak melakukan tindakan yang benar, maka tak akan selamat dari hukuman-Nya.

Semoga kita senantiasa menjadikan pribadi ini sebagai hamba yang memiliki kesadaran iman dan tidak mudah tergoda dengan kenikmatan semua duniawi. Terus saja menjadikan akherat yang penuh kenikmatan hakiki adalah tujuan, sedangkan dunia ini hanyalah sekedar terminal persinggahan atau kendaraan yang dapat mengantarkan diri pada Syurga dengan selamat.

Yogyakarta, 19 Nopember 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Cuplikan dari buku “Kajian Hati, Isyarat Tuhan”, karya: Mashudi Antoro]

Iklan

9 thoughts on “Kerusakan Zaman dan Kekeruhan Pergaulan

  1. wah terimakasih mas linknya..waduuuuhhhhh kayak nya sudah gak ketulungan akhlak di bangsa ini terutama generasi mudanya hehehehe…makasih mas…………….. 😀

    1. Iya Ben sama2 lah… semoga tetap mendatangkan manfaat.. 🙂
      Ya, kau bisa nilai sendirilah bagaimana kondisi sebenarnya dari bangsa ini, terutama generasi mudanya… apakah mereka benar-benar menyakini bahwa ada Tuhan Yang Maha Kuasa atau sebenarnya tidak jauh berbeda dengan orang ateis…

  2. sep…
    generasi muda, masa untuk mencari jati diri… kalo salah ambil langkah, sulit untuk kembali… solusinya cari lingkungan pergaulan yang baik.. 😀

    aq malah jadi salut sama umat Islam di luar Indonesia, walau ditentang oleh pemerintah tapi tetap teguh dalam menjalankan syari’at Islam…

    1. Yup.. saya setuju dengan Anda, dan memang demikianlah adanya sekarang, sehingga mari kita memperbaikinya, terutama diri kita sendiri… karena dengan begitu maka Islam akan kembali berjaya dan kehidupan peradaban dunia ini akan kembali lebih baik dan benar..
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… 🙂

    1. Yup, benar sekali. Dan bila dilihar dengan kaca mata batin, maka akan terlihat lebih parah lagi…
      Okey.. makasih juga Yuda untuk kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat… 🙂

    1. Ayo.. kita sadar akan jati diri kita dan segera bangkit menuju kehidupan yang lebih tertata, cemerlang dan penuh keridhaan-Nya..
      Makasih Dik atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s