Ketika Seorang Mukmin Bermaksiat

Posted on Updated on

Seorang yang beriman seyogyanya terus berada di jalan Tuhannya. Dalam situasi apapun, tentunya ia akan gelisah bila tidak bisa dekat dengan Kekasihnya itu. Begitupun saat ia telah mendapati dirinya telah memiliki kecenderungan terhadap duniawi, maka ia pun meminta-Nya untuk segera memalingkannya dari musibah itu. Namun ketika ia melihat dirinya memiliki kecenderungan terhadap akherat, maka ia pun akan meminta-Nya untuk tetap memberikan hidayah agar terus beramal sholeh.

Orang yang berada di dalam kondisi seperti diatas adalah pribadi yang hidup dalam kehidupan yang menyenangkan meski terlihat menderita. Ia juga sosok yang telah benar-benar menjalani kehidupannya sebagai manusia. Sebab, ia terbiasa untuk mengkhawatirkan bahaya yang dikandung oleh kesenangan duniawi. Ia pun merasa wajib dalam memperbaiki setiap kesalahan yang di lakukan tanpa penundaan. Sehingga baginya adalah ketenangan bila ia bisa terus menata hati dalam kebenaran dan membawa jiwa pada nilai kebaikan.

Namun, aku kerap menyaksikan banyak orang yang terpeleset karena sesuatu atau terjerembab karena genangan kenikmatan duniawi yang sesaat. Ia tidak menyadari bahwa dunia ini hanyalah secawan jiwa-jiwa bebas. Ia adalah penerusan kesenangan yang akan berakhir kesedihan. Sehingga disaat ia telah tua renta dan kematian tak lama menjelang, maka yang tertinggal hanyalah penyesalan. Sedangkan kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki keadaan sudah hilang dari waktu yang bergulir.

Golongan yang terpelesat ini tidak luput dari mereka yang mengakui dirinya adalah Muslim. Sedangkan aku telah mengambil pelajaran bahwa mengapa mereka tak memahami apa-apa yang telah membuat mereka terpeleset ke dalam jurang dosa. Padahal jika saja mereka mau mewaspadai bujuk rayu syaitan dan paksaan dari hawa nafsunya, mereka tentu tidak akan ragu tentang hakekat kebenaran.

“Iblis berkata; Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba yang Engkau beri petunjuk di antara mereka” (QS. Al-Hijr : 39-40)

Ya. Kelezatan maksiat hanya bisa dirasakan oleh seorang yang tenggelam didalamnya. Kelalaiannya itu merupakan sumber dari bencana yang setia menunggu di lain waktu. Adapun seorang yang beriman tidak akan bisa merasakannya. Sebab, ketika ia mendekat pada perilaku atau tempat maksiat saja, maka ia akan tertekan. Hatinya akan gundah gulana sembari merasa ketakutan. Merasa malu pada diri sendiri dan tentunya kepada Tuhan yang pandangan-Nya tidak pernah luput dari segala peristiwa. Bahkan meski syahwat telah mengangkanginya, ia tidak akan berpaling dari kebenaran. Dengan segenap ilmu yang dimiliki, hatinya tidak akan nyaman. Ia akan segera menyesal dengan penyesalan yang dalam dan bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya.

O.. alangkah menyedihkan jika kehidupan ini dianggap hanya berlaku di dunia ini saja. Padahal kehidupan yang abadi adalah negeri akherat. Dengan apa yang kau beli dan jual – jika tidak sesuai dengan aturan Tuhan – hakekatnya adalah menumpuk penyesalan. Dan saat ia tidak lagi mampu di pikul oleh binatang pengangkut, semua kesenangan itu akan tertinggal juga. Sedangkan kau akan melanjutkan perjalanan hanya dengan berbekal kain kafan. Dan yang lebih memilukan adalah nanti kau akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban, sedangkan kau sendiri tidak mampu menjawabnya. Engkau bahkan lupa mempersiapkan tiga perkara; (1) anak yang sholeh; (2) ilmu yang bermanfaat; (3) amal jariyah. Sehingga yang ada hanyalah balasan siksa yang teramat perih.

Untuk itu sadarlah hai saudaraku, hai orang-orang Islam yang hatinya telah dikuasai oleh keterpedayaan hawa nafsu. Insaflah hai dirimu yang jiwanya terpenjara kesenangan duniawi. Engkau tidak harus meninggalkan kesenangan dunia ini – karena kita mesti bisa menikmatinya -, namun tetap menjadikannya sebagai kendaraan menuju kesenangan yang abadi di akherat. Penuhi kehidupan dunia ini dengan yang baik-baik saja dan terus berjalan di arah yang benar. Jadikan pula dunia ini hanya sebagai terminal persinggahan saja, karena engkau mesti terus melanjutkan perjalanan hingga ke tujuan, yaitu syurganya Allah SWT. Karena disanalah kesenangan, kenikmatan dan keindahan yang sejati.

Semoga kita menjadi hamba Allah SWT yang beruntung, baik ketika masih menjalani kehidupan di dunia ini ataupun nanti di akherat. Karena dengan begitulah kita baru bisa dikatakan sebagai manusia yang sempurna. Sedangkan kebahagiaan adalah sesuatu yang pasti mengikat.

Yogayakarta, 30 Oktober 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Cuplikan dari buku “Kajian Hati, Isyarat Tuhan”, karya: Mashudi Antoro]

8 thoughts on “Ketika Seorang Mukmin Bermaksiat

    Andika said:
    Oktober 30, 2011 pukul 6:00 am

    tulisan yang menarik singkat dan jelas maknanya… seyogyanya kita harus memiliki sikap seperti itu
    “Engkau tidak harus meninggalkan kesenangan dunia ini – karena kita mesti bisa menikmatinya -, namun tetap menjadikannya sebagai kendaraan menuju kesenangan yang abadi di akherat. Penuhi kehidupan dunia ini dengan yang baik-baik saja dan terus berjalan di arah yang benar. Jadikan pula dunia ini hanya sebagai terminal persinggahan saja, karena engkau mesti terus melanjutkan perjalanan hingga ke tujuan, yaitu syurganya Allah SWT. Karena disanalah kesenangan, kenikmatan dan keindahan yang sejati.” kutipan nasehat dalam tulisan ini 🙂

    makasi ya mas linknya…

      oedi responded:
      Oktober 30, 2011 pukul 6:03 am

      Syukurlah kalu seneng dengan tulisan ini, ikutan seneng juga deh… 😀
      Okey… makasih juga Dik, karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap memberikan manfaat… 🙂

    Agie Putera said:
    Oktober 30, 2011 pukul 6:59 pm

    amiiiinnnnnn…….
    wah bermanfaat ini ada ilmunya yang dapat diambil seperti dalam text diatas

    “Mempersiapkan tiga perkara; (1) anak yang sholeh; (2) ilmu yang bermanfaat; (3) amal jariyah”

    Thnks mas Oedi 🙂

      oedi responded:
      November 3, 2011 pukul 6:58 am

      Amiin ya Rabb,
      Syukurlah bila demikian Gi, semoga tulisan ini mendatangkan manfaat untuk kita semua… 🙂
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya.. 😀

    beny said:
    Oktober 31, 2011 pukul 7:40 am

    terimakasih mas atas link nya ^_^

      oedi responded:
      November 3, 2011 pukul 6:59 am

      Okey… makasih juga Ben atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat… 🙂

    ricka said:
    November 13, 2011 pukul 10:25 am

    makasiiiii ya om buat link nyaaa,,bagussss

      oedi responded:
      November 15, 2011 pukul 4:18 am

      Okey sama2 deh, terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s