Saatnya untuk Bertobat

Posted on Updated on

Saudaraku sekalian, waktu kian bergerak dari satu sisi ke sisi lainnya. Masa pun terus berpacu dengan putaran roda dunia, sedangkan kita terlarut pula bersama tekanan kehidupan saat kini. Namun, sudahkah kita mencermatinya dengan keshalihan tentang kesempatan hidup ini? Sudahkah kita menginstropeksi setiap kelakuan disepanjang hari-hari yang berlalu? Karena dengannya pula kau akan beroleh manfaat.

Untuk itu, mari dari sekaranglah kita bersama-sama untuk bertobat. Memperbaiki diri dengan tidak melakukan kesalahan yang serupa juga lainnya. Karena lihatlah fenomena yang jelas disekitar kita sekarang (tsunami Aceh, gempa Jogja, Padang dan Bali, gunung meletus, kecelakaan transportasi, dll). Bukankah itu adalah sebuah peringatan tegas dari Tuhan agar kita bertobat atas segala kesalahan yang ada selama ini? Sebab, jika kita terus saja mengabaikan hal ini, maka tunggulah, bahwa akan datang yang jauh lebih besar dari semua bencana itu dan tentunya akan menghancurkan negeri ini.

Gambar 1. Foto: Tsunami Aceh 2004

Gambar 2. Foto: Gempa Jogja 2006

Gambar 3. Foto: Gempa Padang 2010

Gambar 4. Foto: Gempa Bali 2011

Gambar 5. Foto: Merapi Meletus 2010

Gambar 6. Foto: Kebakaran kapal laut 2011

Nah, dalam hal ini wujud nyata dari bertobat adalah di mulai dengan bertadabbur, yaitu dengan teliti mengamati setiap bentuk peristiwa dan uniknya ciptaan Allah SWT. Kemudian bertafakur, yaitu dengan memikirkan tentang ciptaan dan kekuasaan Allah SWT lalu mengambil pelajaran darinya. Sehingga ketika seseorang telah benar dalam bertafakur dan bertadabbur, maka ia akan dimudahkan untuk menempuh jalan pertobatan.

Demikianlah wujud awal pertobatan yang mesti dimiliki oleh seorang pribadi. Dimana di dalam setiap hari-harinya ia akan kerap bertafakur dan bertadabbur dengan penuh kesadaran. Sehingga menjadi tidak mustahil bahwa perilaku semacam ini akan mendatangkan manfaat yang berlebih. Bahkan bertafakur disini bisa menjadi inti dari berpikir dan jalan untuk membuka hijab akherat, sebab di dalamnya akan banyak hikmah Ilahi.

Kemudian, setelah bertafakur dan bertadabbur, maka seseorang barulah akan nyata bisa bertobat. Tobat disini adalah wajib hukumnya bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana firman Allah SWT: “Bertobatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha (tobat yang semurni-murninya)” (QS. At-Tahrim [66] : 8 )

Dari penjelasan diatas, maka menjadi jelas bahwa setiap pribadi mesti bertobat dengan tanpa terkecuali, terlebih ketika ia telah melakukan perbuatan dosa, baik besar maupun kecil. Tapi perlu dicamkan bahwa kita pun mesti melakukan pertobatan yang sebenar-benarnya (taubatan nashuha). Sebab jika tidak, tentunya akan menjadi sia-sia pertobatan itu, bahkan dapat mendatangkan dosa dan murka Allah SWT.

Taubatan Nashuha adalah keadaan ketika seorang hamba bertobat secara lahir dan batin, menyesali semua kesalahan yang diperbuat dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Perumpamaan orang yang bertobat secara lahir saja adalah ibarat kotoran yang dibalut dengan kain sutra. Sehingga orang-orang yang memandangnya akan takjub karena keindahan luarnya saja (kain sutra). Sedangkan ketika kain sutra tersebut dibuka atau saat mereka mengetahui bahwa yang ada didalam balutan kain sutra itu adalah kotoran, maka mereka pun segera berpaling dengan nada mencibir dan jijik. Demikianlah bila manusia memandang orang yang taat dengan cara lahirnya saja. Terlebih ketika seseorang hanya bertobat secara lahirnya saja, maka nanti di akherat semua rahasia buruknya akan disingkap, para malaikat berpaling darinya dan Rasulullah SAW pun tidak bisa memberikan syafaatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW; “Allah tidak memandang rupamu, melainkan hatimu”

Dari Ibnu `Abbas RA diriwayatkan; “Betapa banyak orang yang bertobat datang pada hari kiamat. Mereka mengira telah bertobat, padahal mereka tidak bertobat”. Maksudnya, karena mereka tidak memenuhi syarat dalam pertobatan, seperti penyesalan, niat untuk tidak mengulanginya, berusaha seumur hidup untuk tidak melakukan kesalahan yang serupa dan lainnya, menolak semua perbuatan dosa dan maksiat, menghindari pelaku dosa dan memaafkan mereka bila terkena dampaknya, selalu bersyukur dan memperbanyak permohonan ampun kepada-Nya.

Duhai saudaraku, mari dari sekarang kita bertobat dengan sebenar-benarnya tobat. Karena yakinlah bahwa itu akan menyelamatkanmu dari murka-Nya di akherat. Jangan pernah sekalipun kau melupakan dosa yang telah diperbuat, karena itu adalah seburuk-buruknya musibah. Padahal sebagai hamba yang telah dibekali akal dan pikiran, maka mengoreksi diri adalah terbaik dari tindakan. Dan memang demikianlah yang telah Allah SWT tuntunkan dalam firman-Nya dan dicontohkan pula oleh kekasih-Nya (Rasulullah SAW) selama kehidupannya.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Tertulis di sekitar `Arsy pada empat ribu tahun sebelum penciptaan makhluk; Sungguh Aku Maha Pengampun kepada orang-orang yang bertobat, beriman, beramal shalih, dan kemudian mendapat petunjuk”

Di dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman: “Wahai anak Adam, janganlah kalian termasuk orang-orang yang menunda tobat, memanjangkan angan-angan, dan kembali ke akherat tanpa amalan. Janganlah kalian menjadi orang yang mengucapkan perkataan orang-orang ahli ibadah, tetapi melakukan perbuatan orang-orang munafik. Janganlah kalian menjadi orang yang merasa cukup jika diberi karunia; tidak bersabar jika tidak diberi; mencintai orang-orang shalih tetapi tidak menjadi bagian dari mereka; membenci orang-orang munafik tetapi menjadi bagian dari mereka; menyuruh kebaikan tetapi tidak mengerjakannya; serta mencegah kejahatan tetapi tidak menghindarinya”

Dalam kesempatan lainnya Ali bin Abi Thalib RA berkata; “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Pada akhir zaman akan datang suatu kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka mengutip ucapan manusia terbaik (Nabi Muhammad SAW), tetapi tidak melewati tenggorokan mereka (tidak diamalkan). Mereka tercabut dari agama sebagaimana anak panah tercabut dari busurnya”

Untuk itu ketahuilah, bahwa tobat dari dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil secara langsung adalah fardhu `ayn. Jika terus menerus dosa-dosa kecil dikerjakan, ia akan menjadi dosa besar. Allah SWT berfirman; “Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka” (QS. Ali-`Imran [3] : 135)

Dzun-Nun al-Mishri RA berkata; Bahwa Allah memiliki hamba-hamba yang menanam pohon-pohon dosa dan menyiramnya dengan air tobat. Lalu pohon-pohon dosa itu berbuah penyesalan dan kesedihan. Mereka pun menjadi gila tetapi bukan orang gila. Mereka berpura-pura dungu tanpa kesadaran dan tidak bisu. Mereka adalah para ahli retorika (balaghah) dan orang-orang fasih yang mengenal Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka meminum secawan air jernih. Mereka mewarisi kesabaran atas panjangnya ujian. Lalu hati mereka sangat sedih di alam Malakut. Pikiran mereka melayang di antara bintang-bintang Soraya yang menutupi alam Jabarut. Mereka bernaung di bawah penyesalan. Mereka membaca lembaran-lembaran kesalahan, lalu mewariskan rasa takut kepada diri mereka, sehingga mereka sampai ke puncak kezuhudan dengan tangga kewaraan. Mereka menempa diri dengan rasa pahitnya meninggalkan keduniaan dan menganggap lunak kasarnya tempat tidur, sehingga mereka mencapai puncak gunung keselamatan dan meraih mutiara kesejahteraan. Ruh mereka merumput di padang rumput hijau, sehingga mereka mendiami taman kenikmatan. Mereka terjun ke samudera kehidupan, mengalir di parit-parit ketakutan, dan melewati jembatan-jembatan hawa hafsu, sehingga tiba di kefanaan ilmu. Mereka mengambil minum dari telaga hikmah, menumpang bahtera kecerdasan dan terhembus angin di samudera keselamatan, sehingga sampai di taman ketenangan, mutiara keagungan dan kemuliaan.

O.. Hendaklah orang berakal mengekang hawa nafsunya. Sebab, seorang bijak berkata; “Barangsiapa dikuasai oleh nafsunya, ia menjadi tawanan di dalam mencintai nafsu syahwat dan terpenjara di dalam penjara hawa nafsu. Kalbunya tercegah dari memperoleh hikmah. Barangsiapa menyirami anggota tubuhnya dengan syahwat, ia telah menanam pohon penyesalan di dalam kalbunya”

Untuk itulah Allah SWT menciptakan makhluk dalam tiga kelompok, yaitu; (1) Malaikat, yang dibekali akal namun tidak dibekali syahwat; (2) Binatang, yang dibekali syahwat namun tidak dibekali akal; (3) Manusia, yang di bekali akal dan syahwat. Barangsiapa yang syahwatnya menguasai akalnya, maka binatang lebih baik ketimbang dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang akalnya menguasai syahwatnya, ia lebih baik daripada malaikat.

Jadi saudaraku, sungguh indah pertobatan itu dan tidak ada alasan bagi kita untuk tidak segera melakukannya. Tidak pula tersedia banyak waktu untuknya, karena tidak seorang pun dari kita yang pernah tau kapan nyawa di kandung badan ini akan dicabut. Sehingga, mari mulai dari sekaranglah kita mulai menginstropeksi setiap kesalahan selama ini, lalu segera meminta ampun kepada-Nya dengan jalan bertobat. Niscaya kesempatan untuk berlaku lebih baik dalam kehidupan akan di dapatkan. Sedangkan ampunan dan berkah Ilahi akan dirasakan sejak di dunia.

Semoga kita menjadi hamba yang senantiasa bertafakur, bertadabbur dan bertobat kehadirat-Nya. Sehingga menjadi tenang dan selamatlah diri kita dunia dan akherat.

Yogyakarta, 15 Oktober 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

6 thoughts on “Saatnya untuk Bertobat

    Fathimah said:
    Oktober 15, 2011 pukul 6:28 am

    Subhanallah, Allahuakbar,,,
    “makasih link’na mz’oedi,,,
    > sungguh sangat memotivasi tuk segera bertaubat dgn taubat yg sebenar-benarnya & slalu sadar dgn teguran2 kecil drNYA disekeliling kita, Astagfirullahal adziim,,,

      oedi responded:
      Oktober 15, 2011 pukul 6:47 am

      Makasih juga karena masih bersedia berkunjung du blog ini, semoga tetap mendatangkan manfaat… 🙂
      Syukurlah bila tulisan ini bisa memotivasi untuk terus berusaha memperbaiki diri, karena jika kita cermat maka begitu banyaknya kesalahan dan dosa yang telah diperbuat selama ini… dan mengenai beraneka macam bentuk bencana yang ada dan datangnya yang bertubi-tubi adalah jelas sebagai peringatan bagi kita semua untuk segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar… cukupkanlah segera segala penghambaan terhadap kesenangan duniawi karena itu akan mendatangkan bencana. Kita sangat dianjurkan untuk memikirkan kehidupan tetapi tidak untuk terlarut dan menjadikannya sebagai “Tuhan” dalam kehidupan ini… karena perintah-Nya adalah menyeimbangkan kehidupan dunia dan akherat.
      Semoga kita termasuk hamba Allah SWT yang patuh pada perintah-Nya dan menjadi mereka yang beruntung… 🙂

    benny gusty maulana said:
    Oktober 16, 2011 pukul 2:28 pm

    ya Allah semoga saja aku tidak menjadi seperti org yg telah di ri wayat kan oleh Ali bin Abi Thalib RA .( Mereka mengutip ucapan manusia terbaik , tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka tercabut dari agama sebagaimana anak panah tercabut dari busurnya”). waaaaahhhhh jd sedih nih waktu baca link dari mas. astagfirullah, jd takut nih gak ketrima tobat ku kpd Allah. wih makasih mas atas link nya sungguh menjadi cerminan hidup bagiku untuk merubah dri menjadi yg lebih baik.:D

      oedi responded:
      Oktober 20, 2011 pukul 7:54 am

      Amiin.. semoga saja Ben, dan mari mulai dari sekarang kita kembali memperbaiki diri sebelum kesempatan di cabut dari hari-hari kita… sebelum murka Allah nyata mengenai diri kita nanti…
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap memberikan manfaat… 🙂

    Agie Pj said:
    Oktober 20, 2011 pukul 2:16 pm

    “Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? .” (QS. At-Taubah: 104)”…

    thnks mas Oedi …
    ini sangat memotivasi sekali untuk bertobat yang semurni-murninya nashuha. 🙂

      oedi responded:
      Oktober 22, 2011 pukul 2:52 am

      Iya sama2 deh… semoga bisa mendatangkan manfaat yang berlebih.. 🙂
      Mari kita senantiasa semangat untuk bertobat dengan diikuti usaha memperbaiki diri sedini mungkin, sebelum kesempatan itu pergi dari kehidupan kita, sedangkan kita sendiri telah mati dalam kondisi penyesalan yang dalam… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s