Surat Cinta untuk Kekasihku III

Posted on Updated on

Assalamu`alaikum wr wb.
Dalam kesempatan yang bergulir, diriku yang berada di genggaman tangan-Nya, senantiasa mengirimkan salam rindu padamu. Salam kemesraan cinta yang menembus batas ruang dan waktu. Salam sejahtera yang menjelma seindah waktu dhuha dan selembut sapaan embun dikala pagi harinya.

Kekasihku.
Seperti biasa, kutanyakan kembali kabarmu disana. Ini tak bosannya kulayangkan, sebab dalam setiap waktunya kungin selalu mengetahui kondisimu. Kuingin pula terus menemani dan menjagamu. Sehingga dihati ini selalu tercurahkan doa kehadirat Tuhan, agar kau selalu mendapatkan limpahan karunia dan senantiasa mendapatkan kekuatan iman dan Islam.

Kekasihku.
Bagaimana dengan kisah kehidupanmu sehari-hari? Tentu masih tetap dalam arah yang benar bukan? Sebab, aku sungguh yakin bahwa kau adalah yang terbaik dalam urusan ini. Dan ketika waktu berganti dari terangnya siang ke dalam gelapnya malam, kau pun terbiasa dalam mengerjakan tadarus Al-Qur`an dan Qiyamul lail.

Kekasihku sayang.
Jujur ku katakan bahwa dalam menuliskan surat ini, maka diriku seolah-olah langsung berhadapan denganmu. Kuingin kau pun merasakannya, karena kerinduan ini menyebabkan mataku seperti tengah menatap lekat wajah indahmu. Ku lihat pula bahwa senyum manismu membalas tatapanku. Sungguh saat-saat yang terus kunantikan selama ini.

Kekasihku.
Kuingin bertemu denganmu, menatap dan membelai wajah indahmu. Kuingin pula bisa berbincang dan saling berbagi suka dan duka denganmu. Dan meski waktu belum memberikan jawabannya, maka cinta dan kesabaranku akan utuh hanya untukmu.

Duhai kekasihku.
Bagiku kau bukanlah permata yang indah, tetapi cahaya yang berkilauan. Yang membuat permata pun dapat tampil menarik hati. Sehingga tak bisa aku untuk tidak memikirkanmu. Pesonamu terus mengisi ruang batinku. Keindahanmu tetap menghiasi jantung hatiku. Dan saat waktu belum mempertemukan kita, maka tak kuasa diri ini menahan rindu.

O.. kekasihku.
Indahnya jatuh cinta. Dan ketika aku telah mencintaimu, maka kau tak perlu cemas. Meski tak ada seorangpun yang menganggapmu menarik, aku akan terus merasa bahwa kaulah yang terindah. Dan bila semua orang berkata tentang kekuranganmu, yakinlah bahwa di hatiku hanya dirimu yang sempurna.

Tapi kekasihku.
Bilakah saatnya kita dapat bertemu dengan tanpa ada batas? Apakah memang seharusnya kita belum bertemu? Karena akan lebih baik tetap mempersiapkan diri sebelum bersatu. Dan saat penantian ini terus mendesak rapat dada ini, maka sesungguhnya hatiku tidak pernah cemas. Sebab, yang kunantikan adalah dirimu yang terindah.

Ya, kekasihku.
Tiada jalan lain bagi kita selain terus memperbaiki diri sebaik mungkin. Inilah saat-saat yang tepat bagi kita untuk senantiasa mengetahui kekurangan diri dan mengubahnya menjadi kelebihan. Atas nama Allah, mari perjuangkan terus kebenaran itu demi hidup yang lebih baik. Karena saat kita bertemu nanti, maka buah dari perjuangan itu akan kita nikmati dalam nuansa yang bahagia dan penuh keridhaan-Nya.

Duhai kekasihku.
Melalui surat ini, kuingin sedikit berdiskusi denganmu. Tentang apakah kau terus memperhatikan fenomena aneh yang sedang terjadi belakangan ini? Perhatikan, bahwa musibah dalam skala yang luarbiasa sering terjadi tanpa ampun di negeri ini. Bentuknya pun beraneka ragam, mulai dari proses alam maupun buatan tangan manusia sendiri. Lalu apakah kita masih mengira ini adalah hal yang wajar dan kebetulan? Padahal bencana itu datangnya bertubi-tubi dan tak mengenal siapa korbannya.

Wahai kekasihku.
Lihatlah, semua itu terjadi karena karakter mulia terus memudar dan sering dikompromikan. Sifat-sifat duniawi pun terus menjadi pengendali. Mereka berprilaku tidak sepantasnya dan mata mereka menjadi rabun, sebab telah kehilangan hartanya yang paling berharga. Padahal tidak ada yang lebih menakutkan dari pada dunia. Kesenangan yang ia berikan bisa mendatangkan keburukan. Lantas bagaimana dengan keburukannya?

Jadi kekasihku.
Dari semua peristiwa itu, keyakinanku bahwa tak lama lagi negeri ini akan hancur, karena disebabkan oleh kesalahan segelintir manusia. Banyak yang tahu sebabnya, akan tetapi sebagian besar dari mereka terus mengabaikannya. Maka timbullah kelongsoran besar dalam akhlak dan akibatnya kehidupan ini tidak dapat tertolong, karena di telan bencana besar.

Kekasihku.
Sengaja kali ini kukabarkan tentang peliknya masa depan. Maaf bila ini tidak membuatmu nyaman. Namun, karena rusaknya akhlak manusia, maka kehancuran akan jelas melanda negeri kita. Tidak ada yang dapat mencegah hal ini jika Tuhan berkehendak. Sebab, dalam firman-Nya telah dijelaskan; “Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan Kami (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (QS. Al-Israa` [17] : 16)

Ya, kekasihku.
Di dunia ini, ketika Cahaya Keindahan (kebenaran Ilahi) hanya bisa dilihat oleh segelintir orang, itulah pertanda bahwa hanya sedikit saja yang mau berjuang untuk menggapainya. Dan meski urusan akherat amatlah dekat, namun yang mempersiapkannya hanya sedikit. Banyak yang terkecoh dengan semunya keindahan duniawi. Sedangkan tak ada yang dapat menyelamatkan, kecuali tobat dan keimanan.

Untuk itu kekasihku.
Janganlah kita menjadi hamba yang kufur. Jangan pula sebagai pribadi yang terus larut dalam senda gurau duniawi. Sebab, sesungguhnya dunia ini hanyalah jalan yang sekedar dilalui. Untuk itu ambillah bekal sebanyak mungkin dari tempat yang kau lewati ini. Karena akherat adalah tempat kediaman yang abadi.

Duhai kekasihku.
Dalam kerinduan ini, ku ingatkan diriku dan juga dirimu bahwa dunia ini adalah medan perang bagi para pejuang. Dan ketika kita terus membekali diri dengan kemampuan kanuragan dan olah batin, maka kesempatan untuk memenangkan pertempuran akan semakin terbuka. Meski pertarungan berlaku setiap saat, kita akan tetap bertahan hingga akhir kehidupan.

Baiklah kekasihku sayang…
Tiada lagi yang dapat kusampaikan dalam kesempatan kali ini. Dan meski tak puas rasanya bila terus begini kita berhubungan, namun lega hatiku karena kau masih tetap mencintaiku. Menantikanku dengan tidak beristikharah, tapi bermunajat agar kita dapat dipersatukan dalam cinta-Nya.

Salam hormat dan cinta dari seorang yang selalu mengagumi dan menunggumu.

Yogyakarta, 03 Oktober 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

*Baca juga surat lainnya: “Surat cinta untuk kekasihku I, Surat cinta untuk kekasihku II, Surat cinta untuk kekasihku IV dan Surat cinta untuk kekasihku V

8 thoughts on “Surat Cinta untuk Kekasihku III

    ningnong said:
    Oktober 3, 2011 pukul 8:32 am

    asiiik pertamax.. waah pesan yang bagus n menyentuh.. bener si di’ aku juga mikir kalo bencana yg dtg bertubi2 ini bukan semacam kebetulan..

    makasih ya sharing nya, dan sperti gaya oedi’.. teteup.. puitis euy :mrgreen:

    tetep semangat nulis, di’ 🙂

      oedi responded:
      Oktober 3, 2011 pukul 9:55 am

      Horee… Nin-q yang pertamax… 😀
      Makasih ya untuk dukungannya, Semangat juga untukmu… 🙂
      Dan makasih juga cos masih mau berkunjung dan kasih komentar di tulisan ini, semoga bermanfaat… 🙂
      Syukurlah kalau gitu anggapannya, berarti Nin-q masih punya hati nurani (cos sekarang sudah sangat jarang yg punya) dan memang gak ada yang kebetulan. Jadi lihat saja bahwa tidak lama lagi negeri ini akan benar2 hancur dan hilang dari peta dunia. Indonesia bisa jadi hanya akan tinggal kenangan seperti nasib dari kerajaan-kerajaan masa lalu di Nusantara. Semua itu kembali karena ulah manusia sendiri. Mereka melanggar aturan Tuhan yang udah paten, sehingga Tuhan pun tinggal menegakkan hukum-Nya tanpa pandang bulu, yaitu menurunkan azab yang perih karena kedurhakaan hamba-Nya.

    Surat Cinta untuk Kekasihku « Perjalanan Oedi_ku said:
    Oktober 4, 2011 pukul 1:46 am

    […] Baca juga setelahnya; “Surat cinta untuk kekasihku II dan Surat cinta untuk kekasihku III“ Like this:SukaBe the first to like this post. […]

    Surat Cinta untuk Kekasihku II « Perjalanan Oedi_ku said:
    Oktober 4, 2011 pukul 1:49 am

    […] Baca juga; “Surat cinta untuk kekasihku dan Surat cinta untuk kekasihku III“ Like this:SukaBe the first to like this post. […]

    Andika said:
    Oktober 4, 2011 pukul 8:33 am

    oh kekasihku…. mak janggg…..
    Di dunia ini, ketika Cahaya Keindahan (kebenaran Ilahi) hanya bisa dilihat oleh segelintir orang, itulah pertanda bahwa hanya sedikit saja yang mau berjuang untuk menggapainya. Dan meski urusan akherat amatlah dekat, namun yang mempersiapkannya hanya sedikit. Banyak yang terkecoh dengan semunya keindahan duniawi. Sedangkan tak ada yang dapat menyelamatkan, kecuali tobat dan keimanan.
    mantap ne mas…. kata” yg sederhana dan penuh makna, bisa dijadikan sebuah perenungan bagi kita khususnya dika, makasi mas linknya ditunggu link” berikutnya
    semangat mas 🙂

      oedi responded:
      Oktober 8, 2011 pukul 3:45 am

      Makasih juga Dik karena masih mau berkunjungan dan mendukung tulisan di blog ini, semoga terus bermanfaat… 🙂
      Ya, makna sebuah kata2 itu tidak tergantung bagaimana kerumitan atau ketinggian bahasanya, tetapi dari setiap hikmah yg bisa diambil darinya… untuk itu, rangkailah kata2 dengan indah agar hatimu dan siapa saja yang mengetahuinya mendapatkan manfaat bagi kehidupan… 🙂

    Surat cinta untuk kekasihku IV « Perjalanan Cinta said:
    Juni 18, 2012 pukul 3:25 am

    […] Baca juga; “Surat cinta untuk kekasihku, Surat cinta untuk kekasihku II, Surat cinta untuk kekasihku III“ Like this:SukaBe the first to like this. […]

    Surat Cinta untuk Kekasihku V « Perjalanan Cinta said:
    Juli 11, 2012 pukul 6:08 pm

    […] Baca juga; “Surat cinta untuk kekasihku, Surat cinta untuk kekasihku II, Surat cinta untuk kekasihku III dan Surat cinta untuk kekasihku IV“ Like this:SukaBe the first to like this. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s