Surat Cinta untuk Kekasihku

Assalamu`alaikum wr wb.
Kepadamu ku kirimkan salam terindah seindah rangkaian bunga surga. Salam sejahtera, salam kebahagiaan dan salam kerinduan yang jauh menembus batas jarak serta hangat sehangat mentari waktu dhuha. Salam cinta dan kasih sayang yang tiada pernah pudar dan berubah dalam bergantinya musim dan waktu.

Apa kabar kekasihku? Kuharap tak jauh dari rasa bahagia dan kesehatan. Bagaimana dengan keseharianmu? Apa kau telah selalu terbuai dalam kerinduan cinta-Nya? Atau kerap terbangun di pertigaan malam dalam dzikir dan shalatmu? Semoga Allah menjadikan kita selalu berjalan di jalan-Nya yang benar.

Kekasihku…
Bagaimana ceritamu? Bagaimana pula dengan tadarus Al-Qur`an mu selama ini? Sudahkah ia terlaksana minimal di antara magrib dan isya mu? Lalu, apa yang telah kau pahami dari bacaanmu itu? Ceritakanlah kepadaku sayang, karena aku sangat ingin mendengarnya darimu.

Kekasihku…
Bagaimana dengan perkembangan hari-harimu belakangan ini. Apakah tiap harinya makin bertambah baik? Harapanku memang seperti itu, karena ku tau bahwa kau adalah yang terbaik dalam kerendahan hati. Dan dalam kesempatan luang dari hariku terhaturkan untukmu doa bagi keselamatan dan kebahagiaan.

Kekasihku…
Teruslah menghormati dirimu dengan menghormati kedua orangtua. Cintai mereka dengan sikapmu yang halus dalam berkata dan santun dalam bertindak. Teruslah mendoakan bagi keselamatan keduanya. Sudilah bergandengan tangan dengan mereka bila ada kesempatan. Atau tetap ciumlah tangan mereka meski dirimu telah dewasa dan mandiri.

Wahai kekasihku…
Jujur ku katakan bahwa hati ini gundah dalam menantikanmu. Tapi kusadari bahwa saat ini adalah bukan waktunya kita bisa bertemu. Bukan aku tak mau dan bukan pula aku tak merinduinya, namun perjalanan dan persiapan diri kita masih panjang. Banyak kewajiban yang mesti kita lakukan kini dan banyak pula tanggungjawab yang harus dipenuhi untuk nanti.

Kekasihku…
Sungguh tak perlu kau tanyakan apakah aku merinduimu, sebab rasa itu selalu menghimpit di relung jiwaku. Berat hatiku dalam menantimu, dan kuingin tak ada lagi aral yang melintang di depan langkah kita. Gelisah pula perasaanku memikirkan tentang apakah kau sama merinduiku sepenuh hati?

Kekasihku sayang…
Bilakah kita akan bertemu? Sebab, aku disini sungguh sangat merinduimu. Begitu banyak hal yang ingin kubagi denganmu dan begitu banyak pula kebahagiaan yang kuharapkan untuk kita berdua. Hati ini tak sabar menantikan pertemuan nanti, karena dengannya akan menyegarkan dahaga kehidupanku.

Tetapi kekasihku…
Sabarlah dalam waktu penantian ini. Tegarkan hatimu dengan selalu merendah sujud dalam keharibaan-Nya. Tetaplah selalu menata hati dalam cinta-Nya, yang akan menjadi pondasi cinta kita nanti. Hiasi waktu-waktu dalam harimu dengan kebaikan yang benar dan sesuai dengan aturan-Nya. Dan bila saat ini kau sedang terluka atau bersedih hati, segeralah berwudhu dan mendekatlah hanya kepada-Nya. Niscaya ketenangan yang nyata akan kembali kau miliki.

Duhai kekasihku sayang…
Tenangkan hatimu bersama ketenangan yang ku perjuangkan. Yakinlah bahwa waktu-waktu ini takkan lama menjelang. Jika kau tetap berjalan di lurus jalan-Nya, alurnya akan terasa dekat dan tujuannya akan selalu benar. Temuilah aku dengan berbagai kebajikan yang tentunya akan membawa rahmat bagi kita.

Kekasihku…
Bersiaplah untuk menerima diriku apa adanya. Dengan segala kekuranganku, tetapkan hatimu bahwa aku bukanlah seorang yang tanpa cela dan sempurna. Sehingga jagalah dirimu selalu dalam aturan agama. Jauhilah kehidupanmu dari hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Sebab,  kehidupan ini tiada lain hanyalah senda gurau belaka dan terkadang tak nyata.

Kekasihku sayang..
Aku yakin kau adalah seorang yang sabar. Seorang yang kelak melengkapi kehidupanku. Aku pun sungguh yakin kau adalah yang terbaik. Karena itulah aku disini terus menantikanmu hingga mengabaikan kehadiran sosok yang lain.

Kekasihku…
Aku terus berharap kau sudi mendampingiku. Menemaniku meniti jalan yang sulit di depan sana dan selalu mengingatkan bila langkahku mulai salah arah. Memberikan motivasi ketika semangatku mengendur dan tetap sayang padaku dengan sikap kemanjaanmu.

Kekasihku…
Jika siang telah berlalu, terang pun berganti dalam bayang gelap. Tenangkan dirimu, pejamkan matamu dan haturkan doa dalam ketulusan. Dekatkanlah dirimu selalu kepada Allah, karena aku terus menyertaimu dengan doa yang indah untuk kita.

Duhai kekasihku…
Seandainya aku kini berada di sampingmu, maka jangan heran aku akan selalu menjaga dan mencintaimu. Kasihku akan senantiasa melingkupi segenap hari-harimu. Dan sayangku akan menghiburmu dalam masa-masa yang indah maupun sulit.

Kekasihku…
Ingatlah bahwa aku selalu merindukanmu. Aku selalu ada di hatimu. Untuk itu, jangan pernah kau merasa sendirian dan sepi. Sebab, meski zahir kita belum pernah bertemu di alam dunia ini, namun jiwaku dan jiwamu senantiasa bertemu di alam malakut. Sebagai tanda bahwa langit pun telah merestui hubungan kita.

Kekasihku…
Tak terasa penatku menjalar di sekujur tubuh ini. Tapi kerinduan yang lebih dulu menghinggapinya telah menepisnya. Inilah pertanda akan besarnya kerinduanku padamu. Sehingga apakah kau juga tetap merindukanku?

Duhai kekasihku…
Rasa rindu, cinta, dan kecupan kasih sayang serta do`aku kepada Tuhan selalu tercurahkan untukmu sebagai pengantar akhir dari suratku ini. Semoga kerinduan ini terjawab dan Allah merestui kita dalam masa-Nya yang gemilang.

Salam hormat dan cinta dari seorang yang selalu mengagumi dan menunggumu.

Yogyakarta, 17 Juli 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

*Baca juga surat berikutnya; “Surat cinta untuk kekasihku II, Surat cinta untuk kekasihku III, Surat cinta untuk kekasihku IV dan Surat cinta untuk kekasihku V

Iklan

16 thoughts on “Surat Cinta untuk Kekasihku

    1. Wow .. Subhanallah … I did not expect to like that response, just want to thank you for reading this article … may be useful … 🙂

    1. Hmm… kok gak ikutan puitis? hehe… 🙂
      Okey deh… makasih ya Nin cos udah mau berkunjung, semoga bermanfaat… 😀

    1. Subhanallah… gak ngira bakal seperti itu tanggapannya…. AllahuAkbar…
      Wah gak dunk.. itu bagus kok karena “menangislah ketika engkau mesti menangis”, entah karena merasa yg menerima atau merasa menuliskan surat ini, karena itu adalah wujud nyata dari cinta yg sebenarnya… 🙂
      Yang benar baru kali ini? Alhamdulilah….
      Makasih ya Eka karena sudah mau membaca tulisan sederhana ini, semoga memberikan manfaat.. 🙂

  1. Sukaaaaaaaaaaaaaa banget dech pokoknya, meskipun telat bangat bacanya,,,
    hmmm ^_^
    Thank’s ya die, linknya,,, 🙂
    good luck terus dech,,, !!!

    1. Amiiin… syukurlah kalau suka, ikutan senang deh… 🙂
      Hmm… iya neh, tumben telat banget bacanya? biasanya kan cepet.. sibuk banget ya sekarang??
      Okey… makasih ya atas kunjungan, dukungan dan doanya (begitu juga untukmu)… semoga bermanfaat…

    1. Subhanallah… syukurlah kalau beranggapan semacam itu… terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s