Dampak Menyepelekan Kondisi Alam

Lihatlah disekitar kita kini, alam sedang bergejolak dalam langkah protesnya. Perhatikan bahwa semua bencana dan musibah yang tengah di pertunjukkan olehnya adalah satu bentuk teguran-Nya. Tapi, mengapa masih saja sebagian dari kita beranggapan bahwa ini hanyalah gejala alam biasa atau sebuah siklus dan proses alam yang normal? Padahal sadarlah bahwa “gejala alami” yang kau anggap biasa itu adalah satu dari kehendak-Nya. Sedangkan kehendak itu bisa ada oleh sebab sebagian besar dari kalian (hamba-Nya) telah berpaling dari tuntunan dan perintah-Nya.

Ingatlah dengan peringatan keras Allah SWT ini:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (QS. Al-Israa` [17] ayat 16)

Untuk itu saudaraku, sebagai makhluk yang tetap menjadikan lingkungan dunia sebagai tempat tinggal, maka sudah menjadi keharusan kita untuk senantiasa menjaga, merawat dan terus memperbaharuinya. Sebab, bagaimana bisa kita tinggal dalam nuansa yang aman, damai dan bebas dari musibah bila lingkungan tempat tinggal disepelekan. Tentunya kita akan merasakan akibat buruk yang timbul dari sikap tidak peduli itu.

Baik dan buruknya seseorang dalam hal berkarakter dan menjalani kehidupannya sehari-hari akan sangat dipengaruhi oleh sikapnya terhadap lingkungan sekitar. Ketika ia sudi beramahtamah dengan lingkungan di sekitarnya, maka ia akan mendapatkan hikmah kebaikan. Contohnya ketika ia selalu menjaga kebersihan, tentunya hikmah kesehatan dan ketenangan akan ia dapatkan dengan segera. Sebaliknya, bila perhatian terhadap lingkungan sekitar tidak pernah dijadikan sebagai pusat perhatiannya, tunggulah bencana dan musibah dalam waktu yang pasti.

Rasulullah SAW pernah bersabda seraya mengingatkan dengan tegas tentang hal ini, sebagaimana hadits berikut:
”Bahwasannya Allah itu baik, menyukai kebaikan. Bahwasanya Allah itu bersih, menyukai kebersihan. Bahwasannya Allah itu sangat murah pemberian-Nya, dan menyukai kemurahan. Oleh karena itu bersihkanlah halaman rumahmu dan pekarangan-pekaranganmu. Janganlah kamu menyerupai orang-orang Yahudi” (HR. At-Tirmidzi)

Namun, sungguh sangat disayangkan betapa banyak diantara kita yang seakan-akan tidak mempedulikan tentang hal ini. Kita bahkan semakin memperparah penyakit yang sedang dirasakan oleh ibu pertiwi ini dengan terus merusak hutan, laut, sungai, danau, tanah, dan udara dengan polusi yang menggila setiap tahunnya. Akibatnya, inti bumi kian memanas yang kemudian membawa pada pola-pola cuaca yang tak dapat diperkirakan lagi dan meningkatkan aktifitas gunung-gunung berapi serta seismik.

Sebagai contoh bukti kerusakan yang telah dilakukan oleh umat manusia kepada Bumi adalah; dalam setiap satu harinya terdapat tidak kurang dari 5 juta pohon yang ditebangi. Padahal pohon adalah sumber utama penghasil oksigen yang paling berguna bagi kehidupan makhluk hidup. Setiap satu pohon dalam satu harinya mampu menyerap sekitar 2 ton carbondioksida (CO2) dan mampu melepaskan 1 ton oksigen ke udara. Jadi bila kita membunuh satu pohon saja, maka ada sekitar 2 ton CO2 yang terlepas ke udara. Dan jika dikalikan dengan 5 juta pohon yang telah di tebangi, maka akan menjadi 10 juta ton CO2  yang akan terlepas bebas ke udara, sehingga dapat berakibat fatal bagi kelangsungan kehidupan di muka Bumi ini.

Itu baru dari jenis pohon, padahal penghasil oksigen bagi kehidupan di Bumi ini tidak bergantung dari itu saja. Bumi juga sangat mengandalkan kehidupan biota laut seperti terunggu karang, ganggang laut, dan rumput laut. Tetapi sekali lagi sungguh disayangkan, bila kita mengetahui kondisi yang sedang dialami oleh kehidupan bawah laut ini, maka di setiap tahunnya telah terjadi peningkatan kerusakan hingga mencapai angka 15%. Ini tentunya semakin mempengaruhi kesehatan kehidupan Bumi dan siapa saja yang hidup diatasnya.

Belum lagi akibat dari penggunaan energi secara boros dan budaya konsumtif yang sangat berlebihan. Kita terus saja menguras sumber daya alam yang terkadang tidak begitu diperlukan. Menggunakan energi yang ada seperti listrik dan BBM dengan sangat boros dan tidak mengindahkan setiap polusi yang terus saja meningkat. Membelanjakan uang untuk barang-barang yang tidak begitu dibutuhkan bagi aktifitas kehidupan (budaya konsumtif). Sehingga semakin menguras sumber daya alam yang ada, dan terus saja membludakan jumlah sampah-sampah yang berbahaya akibat dari penggunaan produk yang tidak ramah lingkungan.

Berikut ini diberikan beberapa contoh kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh ulah manusia sendiri;

Gambar 1. Penebangan Hutan/kerusakan hutan

Gambar 2. Limbah Plastik

Gambar 3. Limbah Pabrik

Gambar 4. Polusi udara dari asap pabrik

Gambar 5. Polusi udara dari kendaraan bermotor

Gambar 6. Lokasi kerusakan lingkungan akibat penambangan PT.  Freeport di Timika, Papua

Sehingga, dampak dari pengerusakan pada lingkungan ini kian lama dirasakan semakin bertambah parah. Contohnya; sekarang semakin berkurangnya cadangan air tawar, meningkatnya pencemaran udara, air dan tanah, munculnya beberapa penyakit baru yang sulit untuk disembuhkan, angka penderita cacat dan kematian yang terus saja meningkat, hingga kepunahan beberapa jenis species dan mamalia terus terjadi.

Allah SWT mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum [30] ayat 41)

Untuk itulah wahai saudaraku, marilah bersama-sama kita senantiasa memperhatikan kondisi lingkungan, minimal disekitar tempat tinggal kita. Amati, renungkan dan berikan jalan atau solusi terbaik agar lingkungan kita selalu dalam kondisi yang baik dan sehat. Jangan sekali-kali berniat untuk menyepelekan apalagi merusaknya, dan jangan segan-segan dalam menyingsingkan lengan baju atau terjun langsung dalam usaha pelestarian lingkungan hidup. Karena apa yang kita lakukan itu demi kemaslahatan kita bersama. Dalam waktu dekat dan juga dimasa-masa berikutnya.

Yogyakarta, 11 Juli 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Cuplikan dari buku: “Ojo Ngepuk Jayaning Mrutu (Jangan menyepelekan sesuatu)”, karya: Mashudi Antoro]

Iklan

4 thoughts on “Dampak Menyepelekan Kondisi Alam

  1. aku mulai dengan re used plastic.. dan aku suggest ke temen2 semua untuk reused plastic. berusaha minimal untuk tidak menambah sampah plastik ke dunia ini. piye kang Oed..

    1. Wah bagus bangeet itu Fa, tak dukung 1000% deh… 😀
      Emang sesuatu yg besar itu harus di mulai dari yang kecil, termasuk dari diri kita sendiri… dan mulai dari sekaranglah kita harus mulai memperhatikan, memikirkan dan menjaga kelestarian lingkungan hidup kita, kalau masih mau lama hidup di dunia ini, atau sebagai wujud nyata cinta sama anak cucu nanti… kasian kan kalau mereka nanti harus menerima imbas yg buruk dari sikap kita sekarang?
      Okey.. makash Fa untuk kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… 🙂

    1. Yah gitulah manusia, sangat sedikit dari mereka yang tidak mau bersyukur… semoga kita tidak termasuk yang demikian..
      Makasih ya Res untuk kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s