RSS

Naskah Kuno Tanjung Tanah – Kerinci (Jambi)

18 Mar

Sekali lagi saya menemukan bukti kecerdasan orang-orang Nusantara dan kekayaan dari budaya mereka. Semua ini karena telah ditemukannya sebuah naskah kuno yang berasal dari zaman pasca Palawa dengan masih berbahasa Sansekerta. Ini jelas membuat saya pribadi semakin bangga sebagai putra Nusantara terlebih yang dibesarkan di dekat daerah Kerinci – Jambi, kota Bangko tepatnya.

Kitab ini ditemukan di Tanjung Tanah di Mendapo Seleman (terletak sekitar 15 kilometer dari Sungai Penuh, Kerinci, Jambi) dan masih disimpan sampai sekarang oleh pemiliknya. Naskah Tanjung Tanah bukan hanya naskah Melayu yang tertua, melainkan juga satu-satunya naskah Melayu yang tertulis dalam aksara pasca-Palawa yang juga disebut sebagai aksara Malayu, dan naskah pada kitab ini masih menggunakan bahasa Sansekerta.

Tidak hanya itu, yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa nama Kerinci sendiri telah dikenal di Mohenjo-Daroo (India – Pakistan) sekitar 3.500 SM, karena wilayah – kalau boleh dikatakan sebagai kerajaan – ini adalah salah satu penghasil kemeyan, gharu, dan emas yang terbaik di dunia.

Bahan Naskah Tanjung Tanah
Naskah Tanjung Tanah ini telah diteliti oleh Tokyo Restoration & Conservation Center pada Oktober 2004, dan hasilnya menunjukan bahwa bahannya adalah daluang (Broussonetia papyrifera (L.) L’Hér. ex Vent). Daluang, juga disebut dluwang atau daluwang, merupakan salah satu bahan yang telah digunakan sejak dahulu sebagai kain (tapa) atau sebagai bahan tulis. Pemeriksaan mikroskop juga menunjukkan bahwa naskah ini tidak diolesi dengan kanji, dan pada seratnya masih terdapat pektin serta hemiselulose. Biasanya serat kayu yang utuh selalu dibalut oleh serat larut pektin dan hemiselulose.

Pada proses pemurnian kulit kayu daluang untuk digunakan menjadi bahan tulis, kadar kedua hidrat arang biasanya menyusut sehingga tinggal serat murni. Adanya kadar pektin serta hemiselulose dalam sampel naskah Tanjung Tanah menjadi indikator bahwa proses pembuatan naskah termasuk sederhana. Di samping itu permukaan daluang Tanjung Tanah juga termasuk kasar dibandingkan dengan naskah daluang lainnya yang diperiksa sebagai bahan pembandingnya.

Analisis Radiokarbon
Sampel kecil yang dengan izin pemilik naskah Tanjung Tanah diambil dari salah satu halaman yang kosong (yang tidak mengandung tulisan), dikirim ke Rafter Radiocarbon Laboratorydi Wellington, New Zealand, untuk dianalisis dengan menggunakan spektrometer pemercepat masa, accelerator mass spectrometry (AMS). AMS dapat disebut terobosan baru dalam metode pengukuran radiokarbon karena memungkinan analisis radiokarbon pada sampel yang sangat kecil volumenya.

Dengan menggunakan spektrometer, akurasi penentuan umur menjadi semakin tinggi karena metode tersebut mampu melacak unsur C-14 dari bahan uji coba yang amat kecil. Analisis sampel naskah Tanjung Tanah yang diadakan di Laboratorium Rafter menghasilkan umur radiokarbon 553 ± 40 tahun before present (BP) yang sama dengan tahun 1397 M ± 40 tahun (1357 – 1437 M) karena tahun 1950 dianggap sebagai present — (sesuai dengan ketentuan konvensi yang berlaku). Akan tetapi umur yang konvensional tersebut tidak persis sama dengan umur yang sebenarnya karena waktu paruh karbon-14 adalah 5.730 tahun. Dimana waktu paruh adalah waktu yang diperlukan untuk meluruhkan setengah dari inti atom. Artinya apabila proses peluruhan dimulai pada satu kilogram material radioaktif, material tersebut akan luruh menjadi setengah kilogram dari unsur tersebut.

Selanjutnya setengah kilogram material tersebut akan menjadi setengahnya lagi setelah waktu paruhnya dan seterusnya. Setelah memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi karbon-14 dan selanjutnya penyesuaian dilakukan dengan menggunakan kalibrasi INTCAL98. Setelah diadakan kalibrasi, maka terdapat dua kemungkinan tentang umur naskah Tanjung Tanah: Dengan probabilitas 95,4% naskah Tanjung Tanah jatuh pada kurun waktu 1304 dan 1370 M (44,3%), atau antara tahun 1380 dan 1436 M (51,7%). Persentase yang di kurung adalah distribusi probabilitas yang untuk kedua kurun waktu hampir sama sehingga kita harus menerima kenyataan bahwa penanggalan tidak dapat diadakan dengan sangat tepat. Namun demikian jelas bahwa pohon yang digunakan untuk menghasilkan kertas daluang di tebang antara tahun 1304 dan 1436 Masehi.

Naskah Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah
Transliterasi naskah Tanjung Tanah telah disajikan dalam dua versi, yaitu transliterasi kritis dan transliterasi diplomatis. Transliterasi kritis merupakan salinan teliti secara huruf demi huruf, tanda demi tanda, sedapatnya mencerminkan setiap ciri atau kekhususan teks asli. Sedangkan transliterasi diplomatis yang merupakan salinan luwes yang bertujuan memperkirakan bagaimana bacaan teks tersebut sebagaimana yang dimaksudkan.

Arti beberapa kata
Beberapa kata-kata yang terdapat di dalam UU Tanjung Tanah, jika ditelusuri masih digunakan oleh masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut, diantaranya:

* Anjing Mawu: Kata mawu sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat Minangkabau untuk binatang yang telah terlatih dengan baik. Anjing mawu artinya anjing terlatih. Burung mawu artinya burung peliharaan yang akan segera berbunyi jika kita bersiul.

Berikut naskah asli dan sedikit terjemahannya, maaf bila masih kurang sempurna:

Halaman 2:


……………………………………..
…çri…ka…satita……….
masa wesaka //
.. ong //..// jYasta masa titi
kresnapaksa //.. // diwasa …
pduka sri maharaja karta………
çri gandawangça mradanamaga…
… saka……. kartabe……….

Halaman 3:


anugraha at..sang…kamtta
nrang pda mandalika di bumi kurinci …
si lunjur kurinci maka ma…
ha sanapati prapatih samaga
t prabalang-balangngan disa pra…
di s..idangnga desa hallat… hallat di desa pradesa ba-
nwa sahaya, jangan………….

Halaman 4:


pda dipatinya yang surang-surang…….
barang tida… da pda dipati, dwa ta
hil sapaha dandanya // sadang
panghulunya bahawumman tYada
ya manurunni, tYada ya manurunni
pahawumman, mangada …kah ka-
lahi, didanda satahil sapa-

Halaman 5:


ha // jaka balawannan kadwa sama
kadanda kadwa // punarapi jaka ma-
ngannakan judi jahi, yang adu mra…
danda satahil sapaha, yang ba-
judi kadanda satahil sapaha su-
rang-surang, gaggah rabut dirampassi ma-
lawan mangunus karris ……. tu-
mbak bunuh / mati bala …… ngaka

Halaman 6:


da dusun nurang dunungngan … rati
maling manyamun dYangkatkan nurang
managih marusak rumah o-
rang maling rusuh cangkal b..tupa
banwakan, sanggabumikan bunuh
anaknya trenyata panjing kedalam
saparu lawan dipati yang dunungngannya
didanda dwa tahil sapaha // pu-

Halaman 7:


narapi jaka orang mamagat pao-
cap wurang dipiraknya olih orang
orang yang mamagat, didanda satahi-
l paha //..// punarapi barang mangu-
bah sukattan gantang cupak ka-
tiyan, kundre bungkal pihayu
didanda satahi sa(pa)ha barang
manunggu orang tida tang amat

Halaman 8:


pda panghulunya orang yang ditunggu
mangadakan rannyah baribin di-
danda satahil sapaha yang
manyuruh pwan sama danda kaowa, ba-
rang mamagang orang tandang bartah…mahu-
lukan judi jadi sabung maling, ba-
rang mamagang didanda satahil sa-

Halaman 9:


paha //..// barang orang nayik ka
rumah orang tida ya barsarru barku-
wat barsuluh, bunuh sanggabu-
mikan salah ta olih mamu-
nuh sanggabumikan oleh dipa-
ti barampat suku, sabu su-
k….xxxnuh sabusuk tida

Halaman 10:


mamunuh //..//maling kambing ma-
ling babi danda sapuluh mas, ma-
ling anjing lima mas, anjing ba-
saja, maling anjing mawu sapuluh
mas, anjing dipati pwan sakYa-
n // anjing raja satahil
sapaha // maing hayam sa-

Halaman 11:


haya orang bagi as pulang duwa //
hayam bannwa sikur pulang tiga //
hayam kutra bagi sikur pulang lima //
hayam dipati ayam anak
cucu dipati bagi sikur pulang tujuh //
hayam raja bagi sa pulang dwa
kali tujuh // hayam banwa lima

Halaman 12:


kupang, hayam pulang manikal //
hayam putra tangngah tiga mas //
hayam hanak cucu dipati ha-
yam dipati lima mas // haya-
m raja sapuluh mas // barang ma-
ngiwat orang, da dandanya satahi-
l sapaha, orang pulang sarupanya //

Halaman 13:


jaka orang tandang bajalan basaja,
bawa minam makan lalukan // ba-
rang sYapa orang mambawa atnya pa-
njalak pasunguhhi hantar tati du-
sun, pakamitkan olih orang pu-
nya dusun // maling tuwak di datas
di bawah didanda lima mas //

Halaman 14:


maling bubu, bubu ditimbunni pa-
di sipanuhnya, jaka tidak tarisi
lima mas dandanya // barang mangubah
panycawida, didanda lima tahil
sapaha // barang bahilang orang mata
karja yang purwa, sakati lima danda-
nya // .. // barbu // barang sYapa ba-

Halaman 15:


rbunyi dusa sangkita, danda dwa ta-
hil sapaha // maling tapbu dipi-
kul dijujung digalas, lima ku-
pang dandanya // jaka dimakan dipaha-
nynya tanamannya tanamkan, saba-
tang di kiri sabatang di kanan dikapi-
t, diganggam sabatang di kiri

Halaman 16:


sabatang di kanan .. dibawa pu-
lang tida dusanya makan tabu itu
maling birah kaladi hubi tuba
dipahamba dwa puluh dwa lapan hari,
tida handak dipahamba, lima mas
dandanya // maling bunga sirih pinang orang
atawa sasanginya, dwa puluh dwa lapan ha-

Halaman 17:


ri d(i)pahamba, tida handak dipaha-
mba lima mas dandanya // maling padi sata-
hil sapaha dandanya // maling hubi
bajujungngan lima kupang, yang tida bajujung-
ngan lima mas dandanya // maling tallu-
r hayam itik prapati ditumbu-
k tujuh tumbuk lima tumbuk orang ma-

Halaman 18:


nangah-i, dwa tumbuk tuhannya mukanya
dihusap dangan tahi hayam tida ta-
risi sakYan tangah tiga mas dandanya //
maling isi jarrat, anjing sikur ya piso
rawut sahalai dandanya // maling
pulut isi pulut langnga satapai-
yan dandanya, tida tarisi tangah tiga

Halaman 19:


mas dandanya // maling kayin, ba-
bat bajeo distar pari rupanya,
sapuluh mas dandanya // maling basi
babajan lima mas dandanya // maling
kuraisani lima mas // maling la-
baja tupang, sapuluh mas dandanya, ti-
da tarisi dibunuh // orang maru-

Halaman 20:


gul si dandanya // orang maragang dwa ta-
hil sapaha, tida tarisi sakYa-
n dibunuh // maling hampangan
tuwak saparah odang sadulang biyu-
ku sikur, babi hutan sikur
tida tarisi sakYan sapuluh mas
dandanya // maling takalak panyali-

Halaman 21:


n hijuk lima kupang // panyalin
mano rutan lima mas // panya-
lin hakar sapuluh mas // maling a-
ntilingngnan lima mas // maling puka-
t jala, tangkul, pasap, tal.a-
y, gitrang, lima mas dandanya, mamba-
kar dangau, babinama dangu paka-

Halaman 22:


rangan orang, babinasa talla le-
nay panaleyyan nurang, ha-
tap dinding lantai rangau, lima mas danda-
nya // punarapi jaka bahutang mas
pirak riti rancung kangca tambaga si-
lamanya batiga puhun // singgan
sapaha hayik mas manikal //
jaka bahutang barras padi, jawa, ja-

Halaman 23:


gung hanjalai, dwa tahun katiga ja-
mba barruk, labih dwa tahun katiga
hingganya manikal // punarapi
jaka orang mambawa parahurang, ti-
da disalangnya, hilang pacah binasa,
dwa mas dandanya // jaka ya disallang…
hilang ta ya pacah binasa saraga

Halaman 24:


nya bayir bali, jaka tida silihhi
sarupanya // tida ya ……………
liwat dari janjang, tuwak sata…..
n hayam sikur kapulangannya //
biduk pangayuh galah, kajang la-
ntai pulangan, itu pwan sakYa-
raknanya // punarapi jaka orang

Halaman 25:


tuduh manuduh, tida saksinya, ti-
da cina tandanya, adu sabung, barang
tida handak sabung jalahkan //
penarapi jaka orang mabuk pan-
ning salah langkah salah kata salah ka(?)-
kakappan, mambayir sapat sica-
ra purwa // punarapi jaka orang ba-

Halaman 26:


dusa sangkita hiram tallihnya,
ballum ta(ng?) suda pda da(pa)ti, dapattan
ta olih jajanang, kanna danda tamu(?)-
wan dwa kali sapaha, sapaha
ka dalam, sapaha pda jajanang
lawan dipati // dipagat olih ma-
ntri muda di luwar hinggan tangngah tiga

Halaman 27:


mas tida jajanang dipati barulih
// jaka baralahhan lima mas samas pa-
rulihan dipati // hinggan sapuluh ma-
s ka datas batahillan, dwa ma-
s parolihan dipati // punarapi pda
bannwa // pda sahaya sapuluh tang-
ngah tiga mas sipattanynya sapu-

Halaman 28:


luh mas pda di(pa)ti tangngah tiga
mas pda orang punya anak // ban-
a jaka ya bapungutkan hanak
nya, dipati dipanggil dahulu
bakarja pda dipati, jaka dipati ku-
diyan olih bakajakan hana-
k didusakan, sakYan ta bunyi-

Halaman 29:


nyatnya titah maharaja dra
mmasaraya // yatnya yatna sidang ma-
hatmya sa-isi bumi kurinci
si lunju kurinci // sasta li-
kitang kuja ali dipati di-
waseban di bumi palimbang di ha…
dappan paduka ari maharaja dra-

Halaman 30:


mmasraya //&//..// barang salah
silitnya, suwasta olih sidang ma-
hatmya samapta //&//
pranamya diwang cri samaleswarang
aum // pranamya cri sadiwam, trelu-
kyadipati stutim, nanadattru (?)

Halaman 31:


dretang waki tnitri satrasamuksaya
m//..// // pranammya
nama, tunduk manyambah, sirsa na(ma) ka-
pala, diwa nama diwata, tre nama su-
rga damYa pratala, dipati nama la-
bih dreri pada sakalliyan
nama nama banyak, dretang na-

Halaman 32:


ma yang dikatakan, satra na-
ma yang satra, samuksayam nama
sarba sakalliyan // & //. //
ini saluka dipati ///

Halaman 33:


………………………….
………………………….
………………………….
dangan mabuka ki(wa?)ka layang……….
mah……………. maka kita baca duwa …
m tujuh …………. juh kali si(?)
yang tujuh kali malam baca da-
ngan sacilas diri danga-

Halaman 34:


n sukacita cuci diri dan
sukacitahan hastari
kita, sahaya kita sakaliyan
sa… marabaya kita …ranak
kita barang siyapa nayapa……..
danya du…wa hini,…………..
guri hanu gara ‘allah hu-
wa huwa nallah &//

Halaman 35:


belum diketahui isinya….

***

Sungguh, betapa Nusantara adalah tempat yang sangat subur untuk sebuah wilayah dan tempat peradaban bangsa. Dan dengan makin banyak ditemukannya bukti-bukti peninggalan sejarah dan arkeologi dari suku-suku yang ada di tanahnya, maka saya pribadi semakin percaya bahwa kita sebagai putra-putri Nusantara memiliki peluang besar untuk kembali menjadi sebuah bangsa yang besar. Bahkan paling besar di dunia, karena kita sejatinya mewarisi kemampuan itu dari para leluhur kita.

Semoga dengan tulisan ini (maaf kalau masih kurang memuaskan) akan makin membangkitkan semangat kita sebagai orang Indonesia untuk terus berpacu dan termotivasi dalam memajukan kehidupan bangsa. Tujuannya tiada lain untuk menjamin kehidupan yang jauh lebih baik dan bermartabat.

Yogyakarta, 18 Maret 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

Sumber:
* http://www.hawaii.edu/indolang/lokakarya/ms/index.html
* Kozok, Uli, (2006), Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, ISBN: 979-461-603-6.

About these ads
 
28 Komentar

Posted by pada Maret 18, 2011 in Info Terbaru, Tulisan_ku

 

28 responses to “Naskah Kuno Tanjung Tanah – Kerinci (Jambi)

  1. Harry hardiansyah

    Maret 18, 2011 at 2:55 pm

    artikel menarik, memang sejatinya kita punya dasar sebagai sebuah bangsa yang besar. sejarah sudah membuktikan bagaimana kekuasaan nusantara bisa meliputi asia tenggara.
    Leluhur kita sudah menemukan jalur untuk itu, tinggal kita menggali, mengembangkan dan menerapkan pada zaman modern. jangan takjub dan kagum dengan bagaimana orang lain mampu berbuat sesuatu. karena pada dasarnya kita pun mampu dan sejajar dengan mereka.tinggal membuka mata dan berfikir “Kita adalah bangsa yang disegani pada zaman dulu,semua itu memerlukan proses dan kerja keras” leluhur kita bisa dan kita pun mewarisi sifat “bisa” dari mereka. jadi what do u waiting for..do your best buat NUSANTARA.

     
    • oedi

      Maret 18, 2011 at 3:16 pm

      Makasih Ry untuk kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.
      Bangsa Nusantara dulu bukan hanya meliputi Asia Tenggara saja, melainkan hingga ke Srilangka (saat Sri Wijaya). Bahkan ada perkiraan bahwa dulunya bangsa Nusantara pernah menaklukan bangsa Indian (berdasarkan relief yg ada di candi Penataran-Kediri yg dikaitkan dengan relief-relief yg ada di Teotihuacan-Mexico dan beberapa tempat lainnya di benua Amerika).
      Ya.. sejak saat ini kita mesti bangga sebagai satu bangsa yang mewarisi tanah air yang dulunya pernah menjadi pusat dari peradaban dunia. Untuk itu, mari kita kembali sebagai bangsa yang memiliki jati diri sendiri dan tidak perlu minder dengan bangsa lain di dunia, karena kita sejatinya adalah hebat dan cerdas melebihi mereka…
      Ayo kawan…. mari kita kembali ke jati diri kita yang sesungguhnya… sebuah bangsa yang besar, cerdas dan sejahtera dunia akherat… :)

       
  2. mbak iffah

    Maret 18, 2011 at 3:06 pm

    subhanallah….

     
    • oedi

      Maret 18, 2011 at 3:21 pm

      Makasih mbak atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.
      Ya begitulah keadaan bangsa kita yang sebenarnya sangat cerdas dan hebat…. tp sayang kurang di perhatikan oleh para pemimpin kita sekarang…. :(
      Kita lihat saja nanti, bakal ada penemuan besar yang lebih membuktikan siapa sebenarnya bangsa kita ini….

       
  3. dika21

    Maret 18, 2011 at 11:48 pm

    bangsa yang hebat dan cerdas adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah…. ungkapan yang harus dikembalikan lagi ke tengah-tengah masyarakat agar rasa kepercayaan bahwa bangsa kita ini hebat tumbuh kembali. saat ini bangsa kita malu pada dirinya sendiri… kurang menggali sejarah yang pernah ada… dengan tulisan ini semoga bisa mengingtakan kita akan kejayaan bangsa ini yang pernah di alami,
    tulisan yang bagus mas … semangat !!

     
  4. oedi

    Maret 19, 2011 at 2:11 am

    Okey Dik, terimakasih atas kunjungan dan dukunganya, semoga bermanfaat.
    Ya. Benar sekali, sekarang bangsa kita telah kehilangan jati dirinya. Hanya sebagian kecil saja yang tidak. Lantas bagaimana bisa cepat mengalami kemajuan bila masih terus bergantung pada bangsa lain. Bukankah kita ini dulu adalah bangsa yang pernah menjadi pusat peradaban dunia?
    Perlu semangat, niat dan usaha yg pasti demi mengembalikan jati diri bangsa, salah satunya dengan menggali dan mengumpulkan serpihan dari sejarah bangsa kita ini. Kemudian di arsipkan dan di sebarluaskan ke segala penjuru negeri agar masyarakatnya semakin bangga dan percaya diri.
    Semoga negeri ini cepat kembali pada fitrahnya seperti sedia kala…

     
  5. sastrika

    Mei 22, 2011 at 8:44 pm

    nice article. btw, ini bahasa kawi mas, bukan bahasa sanskrit.

    salam..

     
    • oedi

      Mei 23, 2011 at 2:07 am

      Salam kembali…
      Wah Anda memahami bahasa Sanskrit dan Kawi ya?? Salut deh… :)
      Hmm… benarkah ini bahasa Kawi? karena dari sumber yg saya sadur, naskah diatas ini masih berbahasa Sanskrit tapi aksara yg digunakan memang aksara pasca Pallawa. Dan setelah saya coba tela`ah (sesuai keterbatasan kemampuan saya) dengan menggunakan “Kamus Sansekerta Indonesia” yang saya miliki, saya menyakini bahwa bahasa yg di gunakan memang masih berbahasa Sanskrit. Memang ada kemiripan dengan bahasa Kawi, karena bahasa Kawi sendiri sangat banyak menyerap kata dari bahasa Sanskrit. Bahkan bahasa Sanskrit itu sendiri adalah induknya bahasa-bahasa di Asia dan Eropa hingga sekarang.
      Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya. Semoga bermanfaat. :)

       
  6. maryani

    November 1, 2011 at 2:16 am

    maaf,,,saya minta tolong terjemahkan dalam bahasa indonesia. soalnya saya akan mengangkat naskah ini menjadi bahan studi saya di kampus. saya sangat memerlukan terjemahan tersebut,jujur saja saya sudah berusaha menerjemahkan ke bahasa indonesia, namun saya mengalami kesulitan untuk mencari terjemahannya dari berbagai sumber,
    bantuan saudara sangat saya harapkan ini menyangkut studi saya. terimakasih

     
    • oedi

      November 3, 2011 at 7:01 am

      Maaf sebelumnya, dalam hal ini saya kurang bisa membantu… silahkan Anda mencari orang lain yang lebih layak dari saya, terimakasih… :)

       
  7. Kdr Qadir

    November 23, 2011 at 7:42 am

    sejarah sangat penting kerana ia m’beri banyak p’gajaran sepada kita semua

     
    • oedi

      November 24, 2011 at 4:50 am

      Yup… saya sependapat dengan Anda, dan memang demikianlah adanya… karena seorang/bangsa yang melupakan sejarah, maka sama saja dia telah lupa dengan jati dirinya sendiri, sehingga akan sulit untuk maju dan hidup dalam tatanan yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran sejati…
      Terimakasih atas kunujugan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

       
  8. Kdr Qadir

    November 24, 2011 at 1:02 pm

    saya sangat berasa bangga kerana saya dilahirkan di desa simpang 4 tanjung tanah.saterusya saya berasa bangga apabila di desa saya telah ditemui naskah kono tanjung tanah.

     
    • oedi

      Desember 2, 2011 at 7:08 am

      Okey… syukurlah bila demikian… semoga byk generasi kita yg semacam Anda.. karena dg kebangaan akan tanah leluhurlah maka bangsa ini akan berjaya…
      terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… :)

       
  9. segindo

    Maret 19, 2012 at 2:04 pm

    saya orang kerinci belum bangga dengan naskah tersebut, ini hanya bagian kecil misteri yang tergali, masih banyak yang bekum terkuak sampai sekarang, bahkan pada saat tim yang dibentuk oleh presiden ke kerinci merasa kagum dan terkesima begitu banyak situs yang ada dikerinci yang tidak terawat, bahkan peneliti dari UI pun pernah berkata di media massa bahwa suku kerinci merupakan suku tertua di dunia namun sayang hal tersebut tidak direspon oleh pemerintah daerah untuk menggali dan meneliti semua situs yang ada,begitu juga dengan masyarakat Kerinci yang sudah tidak peduli dengan keberadaan situs yang ada, saat ini saya merasa salut dengan masyarakat yang ada di pulau jawa yang tak pernah berhenti menggali sejarah yang ada di pulau jawa

     
    • oedi

      Maret 21, 2012 at 1:11 pm

      Hmmm.. seharusnya sebagai orang asli Kerinci, Anda sangat bangga dunk meski dengan sekecil/sedikit pun peninggalan sejarah (naskah) yang ada disana… sehingga akan merasa jauh lebih bangga bila mengetahui/mendapatkan peninggalan sejarah Kerinci yang lebih banyak… ingat, banyak orang yang menyepelekan yang kecil/sedikit, padahal itu sangat berarti, sehingga pada akhirnya ia pun akan melupakan yang besar… “Uang satu triliyun tidak akan bisa menjadi satu triliyun bila kurang satu rupiah”
      Okey.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

       
  10. riko1897

    Mei 2, 2012 at 3:26 pm

    salam dari kerinci……artikelnya bagus…

     
    • oedi

      Mei 3, 2012 at 4:12 am

      Salam kembali..
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. :)

       
  11. Hikaru Hamasaki

    Mei 24, 2012 at 11:16 am

    saya setuju apa yang dikatakan oleh mas Sastrika, ini lebih cenderung ke bahasa KAWI (jawa kuno) namun ada percampuran dalam bahsa melayu.
    kalau memakai bahasa sangsekerta kebanyakan naskah tersebut akan lebih susah diartikan, kasarannya seperti kata Ong, Om, Bhawantu, Shanti, Siddhi, kasapuluh kalau di sangsekertakan menjadi Kasadasa dll, tpi dlm naskah tersebut jika orang-orang dari pihak pustakawan keraton atau pustakawan di bali pasti bisa 90% mengartikannya dengan baik, jadi kuat dugaan kalau ini menggunakan bahasa KAWI dan kemungkinan terkait dengan Ekpansi Majapahit di Sumatera.
    matur nuwun dumugi saget nambahi ilmu,

     
    • oedi

      Mei 24, 2012 at 12:34 pm

      Terimakasih atas kunjungan dan informasinya, semoga bermanfaat.. :)

       
  12. kume

    Juli 1, 2012 at 6:39 am

    aneh bner ne org.. . naskahnya bhasa sansakerta (sanskrit)..lokasi nya di kerinci.. kok bisa ya diterjamahannya lansung aja kedalam bhasa minang (70%)… mestinya anda terjemahankan lebih dulu ke bhs kerinci bukannya ke bhs minang seolah2 anda membuat alur cerita ada org minang bawa tulisan sanskrit lalu dijatuh(disimpan/dipinjamkan kekrinci ) dan (bhs tanjung tanah/sleman gt sampai hari ini msh dipakai. dikerinci memiliki lebih dari 3000 bhs) dan bhs kerinci ga ada hubngan sama sekali dgn bhs mining bro… soalnya sy belum pernah ketemu ada org minan yg bisa bhs kerinci meskipun sudah tinggal di desa kerinci 25 thn lebih (cuma bs ngerti doang bawa ga bisa ga pernah tepat)… heran dech… oya satu lagi… ntar kpn2 siapa aja mau ketemu dgn org asli yg nyimpan naskah tsb .. may contact me.. DR pme

     
    • oedi

      Juli 6, 2012 at 1:34 pm

      No coment.

       
  13. Abu Hanifiah

    Juli 28, 2012 at 10:15 am

    ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR WALLIHIL HAMDU…. seolah meraikan lebaran pak apabila saya meilhat buku ini….. saya menangis pak rindu ama buku ini dan pendukung intinya yang ntah mana-mana kubur mereka…. yang pasti mereka leluhur saya leluhur kita semua…. cumanya saya di Malaysia…..

    makasih pak saya histeria pak sama atrikel ini…. hanya mampu menangis aja…. allah maha terpuji yang telah melahirkan saya dari bangsa sarjana…. (aduh pak menangis lagi saya pak) sarjana tapi kenapa misikin

     
  14. septia

    September 23, 2012 at 1:24 am

    assalamu’alaikum
    alhamdulillah, terima kasih sudah membantu sy dalam tugas2 kuliah……postingan2 yg bermanfaat sekali…..jazakallahu khoir mas oedi….

     
    • oedi

      September 23, 2012 at 10:21 am

      Wa`alaikumsalam..
      Subhanallah.. syukurlah bila tulisan ini bermanfaat, karena untuk itulah ia di muat di blog ini… :)
      Okey.. mbak Septia, terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya, tetap SEMANGAT!!

       
  15. ekhsanudin

    Mei 8, 2013 at 3:31 am

    Artikel yang luar biasa, terimakasih ya sudah di share..:)
    ini adalah naskah yang tertua berbahasa melayu, kalau dalam bentuk arkeolog (batu) yang tertua itu ada di pulau trenganu malaysia.

     
    • oedi

      Mei 23, 2013 at 7:34 am

      Alhamdulillah..
      Syukurlah kalau gitu.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya.. semoga bermanfaat.. :)

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 124 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: