Penemuan Piramida di Jawa Barat

Banyak hal yang perlu digali dari Nusantara, karena akan semakin membuktikan kebesarannya. Inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar utama dari beberapa orang yang terobsesi untuk membuktikan bahwa Nusantara dulunya adalah pusat dari peradaban dunia. Berikut penelusurannya:

Sambil membawa berbagai peralatan dan beberapa gulungan besar kabel, satu rombongan peneliti membelah hutan gunung. Derap langkah kaki mereka seolah berkejaran dengan ritme suara jengkerik, dan tonggeret di kanan-kiri.

Tim yang terdiri dari sekelompok pemuda dan para peneliti itu, akhirnya sampai di puncak setinggi 988 meter dari permukaan laut. Kabel direntang. Tim mulai memasang alat geolistrik yang mereka bawa. Sebanyak 56 sensor yang dipasangi altimeter (alat pengukur ketinggian) diuntai dari puncak bukit ke bawah lereng, masing-masing berjarak lima meter, dicatu oleh dua aki listrik.

Alat-alat itu berfungsi mendeteksi tingkat resistivitas batuan, dan bisa digunakan menganalisa struktur kepadatan batuan hingga ratusan meter ke bawah. “Tujuan kami saat itu mengetahui apakah ada bangunan tersembunyi di dalam gunung,” kata Agung Bimo Sutedjo, kepada VIVAnews, di Jakarta, Selasa, 15 Februari 2011.

Agung adalah Pendiri Yayasan Turangga Seta, organisasi yang punya hajat penelitian di gunung itu. Bak tokoh fiksi Indiana Jones, awak Turangga Seta memang punya kegemaran memburu jejak sejarah. Bukan atas hasrat memiliki, tapi mengungkap kegemilangan sejarah nenek moyang di masa lalu.

Komunitas itu berdiri sekitar 2004, digawangi oleh sekelompok profesional di berbagai bidang. Ada pengajar, kontraktor bangunan, pegawai negeri sipil, karyawan perusahaan swasta, juga mahasiswa. Beberapa di antara mereka punya kepekaan lebih terhadap kehadiran gaib, atau istilah keren mereka: parallel existence.

Kali ini, kedatangan mereka ke Gunung Lalakon dalam rangka membuktikan teori mereka, bahwa ada sejumlah piramid di Indonesia. Salah satu informasi awal didapatkan dari tafsiran mereka terhadap relief Candi Penataran.

Turangga Seta percaya bahwa kebudayaan Nusantara lebih tua daripada Kebudayaan Sumeria, Mesir, atau Maya. Mereka haqul yakin Indonesia memiliki situs candi atau piramida yang lebih banyak dan lebih megah dari peradaban Mesir dan Maya.

“Ada ratusan piramida di Indonesia, dan tingginya tak kalah dari piramida Giza di Mesir yang cuma 140-an meter,” kata Agung. Meski masih harus diuji secara ilmiah, pandangan Agung senada dengan teori Profesor Arysio Santos, yang menyebutkan Indonesia adalah peradaban Atlantis yang hilang.

Agung mungkin sedang sesumbar. Tapi, bisa juga tidak. Usai pengujian geolistrik di Gunung Lalakon, para peneliti yang datang bersama Agung cs. terbengong-bengong. Mereka bukan sembarang peneliti. Mereka adalah peneliti papan atas. Beberapa adalah pakar geolog ternama, yang kredibilitasnya tak diragukan. Tapi karena datang atas nama pribadi, kehadiran mereka di sana tak mau diungkap.

Setidaknya, kekaguman mereka sempat diabadikan dalam sebuah rekaman video milik tim Turangga Seta yang disaksikan VIVAnews. “Selama ini saya tidak pernah menemukan struktur subsurface seperti ini. Ini unnatural (tidak alamiah – red),” kata pakar geologi yang wajahnya sering terlihat di berbagai stasiun TV itu.

Lazimnya, sebuah lapisan tanah atau lapisan batuan akan menyebar merata secara menyamping atau horisontal. Tapi hasil uji geolistrik menyatakan terdapat semacam struktur bangunan yang memiliki bentuk seperti piramida, dan di atasnya terdapat lapisan batuan tufa dan breksi dengan pola selang-seling secara bergantian.

Pola batuan tufa dan breksi ini berulang secara melintang bukan mendatar, dengan kemiringan sama. “Seolah-olah piramida ini diuruk dan dibronjong secara sengaja, agar tak longsor,” kata Hery, yang berprofesi sebagai konsultan kontraktor bangunan.

Dalam lanjutan rekaman video berikutnya, pakar geologi tadi menunjuk sebuah bentukan berwarna biru. Dalam hasil uji geolistrik, warna biru menandakan sebuah tempat yang punya resistivitas paling rendah.  “Ini mungkin semacam rongga yang bisa berisi air atau tanah lempung,” pakar geologi itu menerangkan. Bentukan tadi menyerupai semacam pintu.

Yang jelas, pakar geologi itu melanjutkan, kemungkinan besar temuan itu adalah struktur buatan manusia, karena proses alamiah sepertinya tak mungkin menghasilkan pola batuan semacam itu. “Ini jelas man-made,” kata dia.

Menurut Agung, timnya sudah melakukan pengujian geolistrik dan uji seismik di 18 titik di beberapa tempat di Indonesia. Di Bandung dan di Garut, mereka mendapat hasil kurang lebih sama. Semua serupa: indikasi adanya sebuah struktur bangunan yang mirip piramida di bawah bukit.

Bedanya, di bukit-piramida di Garut tak dijumpai adanya rongga seperti pintu, seperti halnya di Bandung. “Mungkin karena kami hanya mengujinya di salah satu bagian lereng bukit saja,” kata Hery Trikoyo.  Sayang, Turangga Seta masih menutup rapat hasil uji mereka di tempat lainnya.

Secara geomorfologis, bentuk Gunung Lalakon di Bandung maupun Gunung Sadahurip di Garut memang memiliki bentuk yang mirip dengan piramida. Mereka memiliki empat sisi yang nyaris simetris.

Gunung Lalakon dan gunung Sadahurip

“Bentuknya kok begitu simetris ya? Lancipnya sangat simetris,” ujar arkeolog senior Profesor Edi Sedyawati, saat dijumpai VIVAnews di kediamannya di Jakarta, Rabu, 23 Februari 2011.

Namun, kata Edi, klaim dan hasil uji geolistrik masih belum cukup untuk mendapatkan kesimpulan akhir. Langkah selanjutnya adalah penggalian percobaan pengambilan sampel dengan memuat sebuah test bed untuk mengetahui apa benar ada indikasi lapisan-lapisan budaya dan ada bekas-bekas perbuatan manusia atau tidak.

“Tapi ini harus betul-betul penggalian arkeologi yang meminta izin kantor suaka purbakala dan melibatkan arkeolog, karena harus ada pertanggung jawaban dan laporan, dari mili ke mili (milimeter, red),” kata Edi Sedyawati.

Turangga Seta pun tengah mengusahakan izin pengambilan sampel tanah di Gunung Lalakon kepada Pemda Jawa Barat. “Kami hanya perlu menggali tanah di lokasi, selebar sekitar 3-4 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter,” kata Agung.

Turangga Seta mengklaim masih ada ratusan piramida lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu pentolan Turangga Seta lainnya, Timmy Hartadi, dalam laman Facebook mereka mengatakan bahwa piramida-piramida itu tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Gunung Lalakon dikelilingi beberapa bukit lain seperti bukit Paseban, Pancir, Paninjoan, Pasir Malang. Di bukit Paseban ada tiga buah batu, yang dua di antaranya terdapat telapak kaki manusia dewasa, dan telapak kaki anak-anak.

Menurut Edi, bila benar batu telapak itu peninggalan sejarah, kemungkinan ini berasal dari zaman megalitikum. Batu telapak juga sudah dijumpai di tempat lain, seperti prasasti Ciaruteun, peninggalan Raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara. “Cap telapak kaki biasanya diabadikan sebagai monumen mengenang pemimpin suatu daerah,” kata Edi.

Cap kaki juga erat kaitannya dengan konsep Triwikrama atau tiga langkah yang berkembang di masa itu. Saat itu, mereka percaya bila seseorang hendak naik ke dunia dewa-dewa, mereka harus menjejak dengan keras agar dapat melompat tinggi sekali.

Sementara itu, di Gunung Lalakon  juga terdapat beberapa situs batuan, seperti Batu Lawang, Batu Pabiasan, Batu Warung, Batu Pupuk, Batu Renges, Batu gajah, dan sebuah batu panjang yang terletak di atas puncak.

Abah Acu, tokoh masyarakat Kampung Badaraksa gunung LalakonMenurut Abah Acu, tokoh masyarakat Kampung Badaraksa, secara filosofis, Gunung Lalakon adalah perlambang sebuah lakon dari kehidupan manusia. Batu-batu tadi merepresentasikan berbagai lakon atau profesi yang dipilih oleh manusia.

Namun, keberadaan batu-batu tadi kerap disalahgunakan. Banyak orang datang ke tempat batu di Gunung Lalakon mencari pesugihan. Bahkan, menurut Jujun, tokoh agama Islam di tempat itu, dulu banyak orang datang ke Batu Gajah mencari ilham judi buntut. “Banyak pula yang berhasil menang,” kata Jujun.

Jujun menerangkan, di Gunung Lalakon secara rutin juga digelar acara ritual tolak bala, yakni dengan membuat nasi tumpeng kemudian dibagikan dan dimakan oleh penduduk. “Acara ini diadakan setiap tahun, biasanya setiap tanggal 1 Syuro.”

Berbeda dengan tradisi di Gunung Lalakon, masyarakat di sekitar Gunung Sadahurip relatif lebih ‘modern’. Menurut Nanang, warga Kampung Cicapar Pasir, kampung terdekat Gunung Sadahurip, di sana tak ada tradisi tolak bala. Masyarakat.

Tapi Andang kemudian mengaku, selain ke Gunung Lalakon di Bandung, juga ia mendampingi tim Turangga Seta menguji bukit serupa di daerah Sukahurip, Pengatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Menurut Agung, timnya sudah melakukan pengujian geolistrik dan uji seismik di 18 titik di beberapa tempat di Indonesia. Di Bandung dan di Garut, mereka mendapat hasil kurang lebih sama. Semua serupa: indikasi adanya sebuah struktur bangunan yang mirip piramida di bawah bukit.

Bedanya, di bukit-piramida di Garut tak dijumpai adanya rongga seperti pintu, seperti halnya di Bandung. “Mungkin karena kami hanya mengujinya di salah satu bagian lereng bukit saja,” kata Hery Trikoyo.  Sayang, Turangga Seta masih menutup rapat hasil uji mereka di tempat lainnya.

Cerita soal penemuan bukit berstruktur piramida ini rupanya telah sampai pula ke Istana Presiden. Seorang pejabat di lingkaran presiden, kepada VIVAnews mengaku telah dilaporkan ihwal riset itu. Untuk keterangan soal ini, dia minta tak disebutkan namanya, menimbang riset yang belum rampung.

“Ya, saya sudah lihat analisis geolistrik dan georadar-nya. Saya menyaksikannya dalam bentuk tiga dimensi. Menakjubkan, dan masih misterius. Tim riset itu dipimpin oleh para geolog terpercaya,” ujar si pejabat itu lagi, Rabu pekan lalu.

Tapi, pejabat itu tak mau menjelaskan detil penemuan. Sang geolog, ujarnya, belum mau diungkapkan ke publik. “Masih didalami oleh tim riset mereka, tetapi dari hasil yang ada, memang mencengangkan,” ujarnya.

Dia melukiskan, dari hasil geolisitrik tampak struktur berbentuk piramida di dalam bukit itu. Ada undak-undakan, mirip tangga menuju puncak piramida. Di bagian dasar, ada semacam pintu, dan tampak juga sesuatu yang mirip lorong di dalamnya.

Dia menambahkan, para ahli itu percaya ada semacam struktur geologis tak biasa di dalam gunung menyerupai piramida itu. Para ahli geologi itu, kata si pejabat istana, mempertaruhkan kredibilitas keilmuan mereka. “Kita tunggu saja. Kalau riset dan pembuktian ilmiah sudah lengkap, pasti akan dibuka ke masyarakat”.

Mungkin inilah masa penantian yang cukup menegangkan. Adakah bukit piramida ini memang suatu pengungkapan gemilang tentang adanya suatu peradaban besar di Nusantara yang belum pernah terungkap?

Yogyakarta, 10 Maret 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

Sumber: VIVAnews.com

Iklan

50 thoughts on “Penemuan Piramida di Jawa Barat

    1. Yup, betul sekali Dik, lait aja nanti karena semakin lama akan makin terbuktilah bahwa Nusantara pernah menjadi pusat peradaban dunia… Kita harus bangga dengan terus berusaha menjadi pribadi yang unggul di segala bidang dari sekarang…
      Makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.

      1. Saya kira sepertinya di pulau jawa ini lebih tua dari negri lain peradaban, sebab seperti manusia purba zaman megalitic paleolithic ditemukan seperti di sangiran dengan peralatan batunya…Piramid di Garut lebih tua dari yg di mesir ada kebenarannya karena di mesir telah kenal tulisan, kemungkinan setelah mengenal tulisan baru ribuan tahun kemudian saudagar mesir berkunjung ke pulau jawa dg kapal dan melihat surga hijau tropis dengan piramid kuno di Djawa, kemudian mereka kembali ke negri mereka (mesir) kemudian menirunya dg dihias tulisan heliograph di negri mereka yaitu mesir (setelah kembali ke tanah air mereka). Atau taman eden yg dimaksud adalah surga hijau tropis ini dan mereka cerita ke anak cucu mereka (saudagar itu), karena negri mereka padang pasir yang panas sekali dan membandingkan dg pulau Djawa yg hijau dan sejuk sebagai syurga. Syurga

    1. Amiiin… semoga demikian adanya, cos kita selalu menunggu kabar terbaru berikutnya…
      Makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.

  1. wah-wah,semakin banyak bukti yg terkuak semakin besar peluang untuk menjadi kenyataan bahwasanya Indonesia is Atlantis…

    1. Yup… benar sekali yang Anda katakan, dan saya pribadi sangat yakin bahwa Indonesia itu benar adalah Atlantis di masa lalu. Kita tunggu saja waktulah yang nanti akan membuktikannya….
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.

    1. Iya nin, kaya yg ada di Bosnia tuh.. aku yakin kok kalau itu emg piramida cos bangsa kita kan dulu pernah menjadi pusat peradaban dunia.
      Aku juga merasa bahwa di kaki gunungan semeru (di sekitar danau ranu kumbolo) ada bangunan piramidanya juga. Itu jelas terlihat kalau dari puncak Semeru loh… bahkan aku punya kok fotonya… hehe…
      Makasih ya udah mo mampir…

    1. Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.
      Ya. Kita tunggu saja waktu yang akan membuktikan bahwa manusia – khususnya nenek moyang kita – adalah mereka yang memiliki peradaban yang juga sangat maju. Cuma semua bukti-bukti itu telah terkubur seiring meletusnya gunung-gunung berapi raksasa di Nusantara, sehingga bukti sejarah yg bisa dijadikan acuan dalam mengukur tingkat kemajuan peradaban mereka pun hilang di balik tanah pertiwi.

  2. jangan memanfaatkan peninggalan nenek moyang kita untuk mngeruk uang…bkn itu yang diinginkan nenek moyang kita, tp lestarikan dan jaga.. jangan ampe org luar taulah,, ntar mlah djajah,direbut trs adanya diBOMMM.. HAHAHAHA

    1. Seep… saya setuju dengan Anda, sebelum selesai di eskavasi dan di teliti, maka jangan di serahkan kepada bangsa asing, demi menjaga keasliannya…
      Makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… 🙂

  3. saya orang magelang asli, yg skg tinggal di jakarta.
    pengen share aja bahwa ada legenda ditempat asal saya, gunung Tidar Magelang adalah patok tengah pulau jawa agar tdk tenggelam.
    tp ada jg legenda kalo gunung yang berada ditengah2 kota itu adalah ‘sesuatu’ yang msh terpendam, dan entah knp tdk ada yg menelitinya.
    atau sudah tp tdk di publikasikan.
    kira2 ada info ngak mas, soal gunung mungil ini?

    1. Hmm… sedikit yang saya ketahui mengenai gunung Tidar ini, itu pun dari cerita para leluhur saya. Di kisahkah bahwa dahulu kala, tanah jawa ini pernah di huni oleh leluhur pertama bangsa Nusantara. Namun karena ulah mereka sendiri (kerusakan akhlak, dll) maka daratan Nusantara ini pun terkena azab Tuhan dan akibatnya pulau Jawa pun kosong tak berpenghuni selama ribuan tahun.
      Singkat cerita, daratan ini tidak bisa di huni oleh manusia, khususnya di daerah pedalaman. Semua orang yang mencoba tinggal di luar tepian pantai akan mati dengan berbagai macam kondisi. Ini di sebabkan di tanah Jawa dulu – setelah ditelan azab Tuhan – ada kalangan makhluk “halus” yang menguasainya, dan mereka tidak mau di ganggu oleh makhluk lain. Bahkan sebagian laluhur kita percaya bahwa alasan mengapa tidak bisanya di huni oleh orang, itu karena berkaitan dengan arti kata “Jawa” dari pulau ini sendiri. Jawa bisa diartikan benar atau suci, maka barangsiapa yang jiwanya tidak suci maka ia tidak akan bisa bertahan dan menghuni daratan ini.
      Hingga pada satu waktu ada seorang yang bernama Syeh Subakir yang berasal dari tanah “Arab”, menanamkan “sesuatu” di kawasan gunung Tidar ini sebagai tumbal (prasyarat) agar tanah Jawa dapat di huni oleh kalangan manusia. Dan benar adanya, maka sejak saat itulah manusia bisa kembali menghuni daratan ini hingga sekarang.
      Menurut saya, tidak lama lagi semua yang tersembunyi mengenai kejayaan Nusantara ini – khususnya tanah Jawa – akan terungkap. Ini karena sudah saatnya puncak kejayaan manusia akan bangkit kembali dari Timur (Nusantara), karena inilah saatnya yang keempat sebelum yang terakhir di Barat nanti. Masalah kenapa belum terekspose selama ini, itu memang dikarenakan belum waktunya. Tapi yakinlah bahwa sudah tidak akan lama lagi kok, karena ciri-ciri dan tanda-tandanya sudah muncul dan terlihat jelas dengan menggunakan kaca mata batin atau dengan melihat fenomena yg terjadi sekarang ini.
      Akhirnya, cuma ini saja yang dapat saya share kepada Anda, mohon maaf atas keterbatasan ini, semoga bermanfaat… 🙂
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya… chayoo.. 😀

  4. Saya sangat menantikan berita tentang perkembangan penelitian ini. Apapun hasilnya. Semoga semangat para peneliti tidak surut dengan adanya hambatan-hambatan yang timbul di depan.
    Kiranya Tuhan menyertai mereka dan memberkati usaha mereka menemukan kebenaran sejarah.

    1. Saya pun sama, sangat menunggu perkembangan selanjutnya… tp apa daya, sepertinya bisa lama nih, karena tidak adanya dukungan resmi dr pemerintah.. semua di lakukan secara mandiri…
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

  5. Maju terus mas Oudi, dengan makin banyak ditemukannya situs-situs sejarah masa lampau akan membuktikan bahwa memang nusantara adalah pusat peradaban dunia. Dan semoga ini juga simbol yang menggambarkan akan kembalinya zaman kejayaan bangsa ini. Ini belum ribuan harta karun yang terpendam, yang konon hanya bisa dilihat oleh manusia-manusia yang sudah tidak terpikat lagi oleh gebyar duniawi. Cepat atau lambat semua akan terkuak, dan dunia akan terbengong-bengong kaya’ sapi ompong.
    jayalah nusantaraku.

    1. Okey… makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… 🙂
      Yup, saya setuju dengan Anda bahwa tidak akan lama lagi bukti akan kejayaan masa lalu dari bangsa ini akan terkuak… dengannya maka akan menjadikan cikal bakal kebangkitan bangsa ini untk mengulangi kisah para leluhur tempo dulu yang pernah memimpin dan menjadi pusat peradaban dunia… itulah Nusantara.
      Sekedar tambahan, silahkan baca tulisan ini:
      * https://oediku.wordpress.com/2011/11/10/nusantara-pusat-peradaban-dunia/
      * https://oediku.wordpress.com/2011/11/15/bukti-nusantara-pusat-peradaban-dunia/

    1. Amiin.. semoga saja demikian, karena saya pun menantikannya…
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… 🙂

  6. semoga apa yg didapat akan menguak kejayaan nusantara dimasa silam, mari kita tunjukkan bahwa nusantara bukan hanya sekedar dongeng pada anak cucu kita, bravo Tim Turangga Seta

    1. Ayo.. mari di mulai dari diri sendiri untuk kagum, bangga dan cinta akan bangsa sendiri… karena itulah salah satu cikal bakal kebangkitan bangsa ini…
      Makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… 🙂

    1. Yup… saya sependapat dg Anda, bahwa sebenarnya para arkeolog kita gak kalah dg bangsa lain, bahkan bisa saja lebih hebat dari mereka (karena di tambahin dg kemampuan spiritual, hehe..) cuma kurang mendapatkan dukungan dr pemerintah sehingga gak kelihatan pinternya…
      Okey… terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanafaat.. 🙂

    1. Yang lebih tepat utk malu adalah para pemimpin dan pemerintah kita, karena merekalah yg menyebabkan bangsa/rakyat ini gak semaju dulu… dengan semua ulah dan kebijakannya, mereka inilah penyebab rusaknya kehidupan, morat-maritnya akhlak dan kultur budaya yg telah ada sejak zaman dulu, serta lemahnya ekonomi karena menganut sistem kapitalis, sehingga kejayaan tidak pernah seperti dulu kala.
      Semoga negeri ini segera diganti dg yg baru, yg sesuai dg kehendak Tuhan…
      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… 🙂

  7. Dari tgl bulan dan tahunnya jelas Turangga Seta yg menemukan Piramid2 yg jumlahnya ribuan diIndonesia ini melalui cara mereka dan bisa dibuktikan dg uji geolagi ,geolistrik dll ,yg aneh Team Mitigasi Bencana Katrasfrosfik Purbo melalui Vivanews mengklaim yg menemukan gunung yg diduga berisi Piramida diSadahurip Bandung,inilah yg mengherankan tapi biarlah masyarakat yg menilai Team pemerintah itu yg penting harus digali…

    1. Ya, biasalah di Indonesia ini, kalau sudah ada yg sukses dan terkenal maka akan banyak pula yg “mengekor” untuk cari nama dan popularitas. Tapi ingat, bahwa kebenaran pasti menang dari kebatilan. Yg berbohong pasti suatu saat nanti akan malu karena terungkap kebohongannya (contohnya teori Evolusi).
      Terimakasih atas kunjungan, dukungan dan informasinya, semoga bermanfaat.. 🙂

    1. Okey… makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Untuk itulah, mari dari sekarang kita terus bangga menjadi orang Indonesia, yg sejatinya bukanlah bangsa yang bodoh, tapi sengaja “di bodohkan”. Bukan bangsa yang lemah tapi sengaja “di perbudak”, bahkan oleh bangsa sendiri. Karena dengan demikianlah kita pun akan kembali bangkit dan berjaya seantero dunia lagi… 🙂

    2. Okey.. makasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Untuk itu, mari kita bangga menjadi orang Indonesia, karena sebenarnya kita bukanlah bangsa yang bodoh, melainkan sengaja “di bodohkan”. bukan bangsa yang lemah tapi sengaja “di perbudak”, bahkan oleh bangsa sendiri. Karena dengan kesadaran itulah kita akan bisa kembali bangkit dan memimpin dunia… 🙂

    1. Amiiiin…. semoga saja demikian, karena itu adalah tanda bahwa telah datang masa kejayaan manusia yang keempat..
      Okey.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat… 🙂

  8. Saya kira sepertinya di pulau jawa ini lebih tua dari negri lain peradaban, sebab seperti manusia purba zaman megalitic paleolithic ditemukan seperti di sangiran dengan peralatan batunya…Piramid di Garut lebih tua dari yg di mesir ada kebenarannya karena di mesir telah kenal tulisan, kemungkinan setelah mengenal tulisan baru ribuan tahun kemudian saudagar mesir berkunjung ke pulau jawa dg kapal dan melihat surga hijau tropis dengan piramid kuno di Djawa, kemudian mereka kembali ke negri mereka (mesir) kemudian menirunya dg dihias tulisan heliograph di negri mereka yaitu mesir (setelah kembali ke tanah air mereka). Atau taman eden yg dimaksud adalah surga hijau tropis ini dan mereka cerita ke anak cucu mereka (saudagar itu), karena negri mereka padang pasir yang panas sekali dan membandingkan dg pulau Djawa yg hijau dan sejuk sebagai syurga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s