Kezuhudan Hidup

Posted on Updated on

Sungguh, seorang yang mulia itu adalah dia yang terus saja melaksanakan kewajiban Hamblumminallah dan Hablumminannas dengan cara yang seimbang. Apa yang dilakukannya tidak menjadikan dia merasa tinggi hati terhadap mereka yang memang se-iman atau memandang dirinya sebagai orang yang ahli agama dihadapan mereka yang tidak se-agama dengannya. Fanatisme dan kesombongan dalam beragama atau yang sejenisnya telah ia tinggalkan jauh-jauh. Karena baginya, setiap apa yang dilakukan hanya karena Allah SWT. Semuanya atas dasar patuh dan hanya mengharap ridha-Nya.

Wahai saudaraku sekalian, saya memohon kepadamu untuk selalu memikirkan siapa diri kita. Siapa sebenarnya kita ini. Apakah telah benar menjalani hidup dengan perintah-Nya. Atau malah sebaliknya, terus saja kufur dan lalai dalam kesempatan hidup yang diberikan-Nya. Semua itu saya sampaikan hanya untuk mengingat segala pertolongan yang telah diberikan oleh Allah SWT selama ini.

Allah SWT berfirman tentang hal ini:
“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakkal” (QS. Ali-`Imran [3] ayat 160)

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan” (QS. An-Nahl [16] ayat 53)

Untuk itu, cerahkanlah kaca mata batin kita. Hapus noda yang melekat diatasnya, lalu pancarkan cahaya keindahannya hingga dapat menembus batas ruang dan waktu. Terangkan kegelapan dalam diri kita dengan api keimanan yang tulus hanya kepada Allah SWT. Kemudian perbanyak rasa malu pada-Nya hingga ia bisa menyelamatkanmu dalam kebaikan. Sebagaimana sabda yang pernah Rasulullah Muhammad SAW sampaikan dahulu:

“Malu tidak akan datang kecuali dengan kebaikan“ (HR. Muslim dari Imran bin Husein)

Jangan biasakan dirimu melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Jangan pernah menjadi seorang pecundang yang tidak bisa memperbaiki keadaan yang buruk di waktu sebelumnya. Sebaliknya, tetaplah tegar dalam menghadapi segala masalah kehidupan ini. Teruslah berjuang hingga titik darah penghabisan dalam menegakkan Haq yang telah jelas Allah SWT tetapkan. Jadilah sosok yang tampil dalam wajah yang cerah dalam keikhlasan. Muncullah sebagai seorang diri yang selalu zuhud dalam kehidupan duniawi namun percaya diri pada keindahan akherat.

Hadits riwayat Abu Hurairah RA: Dari Nabi SAW beliau bersabda: ”Seorang Mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama” (Shahih Muslim No. 5317)

Selain itu, bersabarlah dan selalu bersyukurlah dengan apa yang di dapatkan. Jangan sesekali mengabaikan hal ini, karena tentu tidak bisalah diri kita ini mencapai puncak tertinggi akhlak kepada Allah SWT. Sebab puncak itu adalah bersyukur dan mensyukuri. Dan dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW telah bersabda seraya mengingatkan kita semua untuk memperhatikan hal ini. Yaitu:

“Sungguh berbahagialah orang yang telah masuk Islam, dan diberi rezki cukup, lalu merasa cukup terhadap apa-apa yang diberikan Allah kepadanya” (HR. Muslim)

Diceritakan bahwa suatu ketika Salman Al-Farisyi RA ditanya oleh seseorang tentang sesuatu yang bisa merangkum semua ajaran yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada semua umat. Ini terjadi karena tidak mungkin untuknya bisa menghapal semua ajaran di dalam Islam.

Salman Al-Farisyi RA pun menjawab; “Amalan itu adalah mencintai diri sendiri dengan cinta yang sesungguhnya. Karena orang yang telah benar-benar mencintai dirinya, maka tidak akan melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan keburukan atau musibah bagi dirinya”. Dalam artian bahwa selama hidupnya, maka seseorang akan terus berlaku cerdas dengan gemar melakukan kebajikan yang sesuai dengan aturan-Nya dan terus menjauhi segala macam kejahilan dan kejahatan, alias meninggalkan apa yang telah menjadi larangan-larangan-Nya.

Namun kecintaan terhadap diri inilah yang sering disalahartikan, sebab banyak yang tidak benar dalam mencintai dirinya sendiri, melainkan bersikap egois dengan terus mementingkan diri sendiri hingga melupakan kepentingan orang lain. Seseorang hanya merasa bahwa ia adalah yang terbaik dan menganggap yang lainnya lebih hina dari dirinya. Sehingga timbullah rasa sombong dan malas melakukan kebaikan yang berlebih. Ini yang namanya keliru dalam prinsip mencintai diri sendiri, karena di dalamnya ia tidak akan bisa mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya, padahal bila tidak bisa mencintai keduanya itu, maka niscaya tidak akan ada kebaikan yang murni bagi dirinya.

Sehingga tiada alasan untuk berpaling dari rahmat Allah SWT. Bukan sebuah keputusan yang bijak ketika seseorang sudi meninggalkan perilaku zuhud terhadap kehidupan dunia. Sebab dengan begitu ia pun telah mendekat pada kesesatan. Peluang dalam mendapatkan kebaikan dari Allah SWT pun kian menjauh pergi. Syafaat Rasulullah Muhammad SAW juga tak akan ia dapatkan ketika di butuhkan di peradilan Mahsyar.

Dikisahakan pula bahwa suatu ketika hiduplah seorang saudagar kaya bernama Ibrahim. Ia memiliki banyak harta dan kepemilikan dengan pengaruh yang luas di kalangan para kabilah Arab. Suatu ketika ia sedang melewati sebuah gurun pasir yang luas. Saat itu dilihat olehnya seekor burung yang tengah menggelapar dan patah sayapnya. Di dalam hati Ibrahim berkata; “Sebentar lagi burung itu pasti akan mati”. Namun apa yang ia pikir malah menjadi sebaliknya. Burung yang dikira akan mati malah menjadi sehat kembali. Dalam penderitaanya itu, tiba-tiba datang burung lain yang menyudukan air ke dalam mulutnya. Kemudian merawat sayapnya yang patah itu. Meski dengan keterbatasan dan kesusahan, berulang kali burung itu merawat dan memberi makan burung yang sakit tadi. Hingga pada akhirnya ia sembuh dan bisa hidup seperti semula.

Melihat peristiwa itu, Ibrahim tersentuh dan lantas menyadari bahwa rahmat dan karunia Allah SWT itu tiada bandingannya. Betapa tidak, burung yang secara logika manusia akan mati, namun di mata Allah SWT bisa menjadi lain ceritanya. Tanpa disangka-sangka, maka datang seekor yang lainnya untuk menyelamatkan hidupnya. Dan akhirnya si burung tadi bisa hidup layaknya seperti biasa. Lantas mengapa aku sebagai manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna tidak melakukan hal yang sama? Mengapa dengan kepemilikan yang ada sekarang, itu tidak menjadikan aku sebagai seorang yang dermawan? Bukankah dengan banyak berbagi dan memperhatikan orang lain, akan semakin banyak mendatangkan rahmat dan ridha Ilahi? Sebab, nikmat yang telah Allah SWT janjikan tidak ada batasnya.

Singkatnya, sejak kejadian itu Ibrahim yang adalah saudagar kaya gemar membagi-bagikan harta miliknya untuk siapa saja yang membutuhkan. Bahkan ia pun tidak segan-segan membantu dengan tangannya sendiri bila ada seorang tetangga, sahabat, atau saudara yang meminta pertolongan darinya. Dan hikmahnya adalah, ia pun menjadi kian banyak mendapatkan rezki dan kebaikan. Bahkan hingga akhir ajalnya, Ibrahim tetap bisa mengulurkan tangan dan kepemilikannya dengan keikhlasan. Sedangkan orang-orang yang ada di sekitarnya menjadi kian sejahtera.

Memperhatikan kedua kisah di atas, kita sangat dianjurkan untuk bisa menikmati semua kesempatan kehidupan ini. Mencintai, berjuang, bercita-cita dan apa saja yang ada di alam dunia. Namun bersamaan itu pula, maka kita mesti sadar bahwa seindah apapun dia dan sebaik-baiknya kehidupan dunia, tentu hanya bersifat sementara. Sedangkan kehidupan akherat akan berlangsung lama dan abadi. Nah, disinilah keunggulan orang-orang yang telah berlaku zuhud. Mereka tetap menjalankan peran hidupnya di dunia secara maksimal, namun tidak lantas mengabaikan kepentingan akherat. Dunia selalu di usahakan dengan sungguh-sungguh, sedangkan perbekalan untuk perjalanan panjang di akherat tetap tidak mereka lupakan. Tidak sedikitpun niatan dihatinya untuk sekedar menghabiskan waktu hanya untuk mengejar kehidupan dunia. Bahkan seiring dengan perjalanan kehidupan duniawi, mereka juga terus mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang di alam akherat.

Wahai saudaraku yang tercinta, kezuhudan tidak lantas membuatmu sebagai fakir dan miskin. Bahkan menjadikan engkau semakin kaya dan melengkapi kesempurnaan penciptaanmu. Untuk itu, berlakulah zuhud pada dunia, niscaya engkau akan mendapatkan bahwa kasih sayang Allah SWT itu benar-benar indah dan menjadi idaman bagi hatimu.

Yogyakarta, 11 Januari 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Cuplikan dari buku “Cermin Kesadaran dan Perenungan”, karya; Mashudi Antoro]

2 thoughts on “Kezuhudan Hidup

    Andika said:
    Januari 11, 2011 pukul 3:47 am

    wah tulisan yang inspiratif sekali dan mengingatkan kita agar tidak lalai dalam menjalin hubungan habluminallah dan hablumninannas…
    kita terkadang lupa untuk berbuat baek pada sekitar lingkungan kita, malah sibuk dengan lingkungan diluar san, tidak salah tapi alangkah baeknya kalo kita memperhatikan tetangga kita, sahabat kita terlebih dahulu… itu akan lebih bermanfaat saya rasa. dimulai dari lingkungan yang kecil.. perlahan-lahan maka akan menciptakan suasana kekeluargaan yang akan menyebar kemana-mana
    amin….

    makasi mas linknya 🙂

    “Terangkan kegelapan dalam diri kita dengan api keimanan yang tulus hanya kepada Allah SWT. Kemudian perbanyak rasa malu pada-Nya hingga ia bisa menyelamatkanmu dalam kebaikan”
    cerminan bagi kita untuk berintropeksi diri 🙂

      oedi responded:
      Januari 11, 2011 pukul 6:05 am

      Okey Dik, sama deh… makasih udah mau berkunjunga, semoga tetap memberikan manfaat.
      Yup, betul sekali yang Dika katakan, kita memang terkadang lupa atau bahkan sengaja melupakan orang-orang yang berada di sekitar kita dalam usaha membantu, mengingatkan mereka. Kita sering sibuk dengan diri sendiri padahal sadarlah bahwa kita ini tidak ada artinya tanpa orang lain.
      Untuk itu, perseringlah bercermin diri lewat perenungan yang tujuannya untuk mengingatkan diri kita tentang fitrah penciptaan dan peran hidup di dunia ini.
      Chayooo ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s