Mengubur Diri dalam Kesenangan

Posted on Updated on

Sungguh kesenangan adalah sesuatu yang menjadi setiap harapan diri manusia untuk bisa mendapatkannya. Tidak ada seorang pun yang mau meninggalkan hal ini, karena bagaimana ia akan menjalani kehidupan dengan penuh semangat bila tanpa ada kesenangan yang menunggunya di depan.

Orang yang selalu bekerja keras misalnya, dia tentu melakukan hal itu demi satu tujuan yaitu mendapatkan kesenangan dalam hidup. Orang yang giat menuntut ilmu juga melakukan semua itu untuk satu tujuan yaitu meraih kesenangan bagi kehidupannya. Bahkan orang yang taat dalam ibadah juga melakukan kegemarannya itu demi satu tujuan yaitu mendapatkan banyak kesenangan bagi hati dan kehidupannya. Sehingga kesenangan adalah sangat baik untuk di usahakan, namun tidak lantas membuat kita bisa larut di dalamnya. Kesenangan adalah penghibur tapi jangan jadikan dia sebagai sesuatu yang melenakan kita dari rahmat Allah SWT. Jangan jadikan dia satu hal yang membuat kita lupa bahwa rasa syukur dan mensyukuri adalah jalan menuju ridha Ilahi.

Allah SWT telah berfirman di Al-Qur`an:
”Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS. Al-`Ankabuut [29] ayat 54)

Menilik ayat di atas, maka betapa godaan duniawi itu jelas begitu dahsyatnya. Semua bentuk keindahannya hanyalah senda gurau yang bahkan bisa mendatangkan kecelakaan bagi kita, baik selama di dunia atau pun nanti di akherat.

Untuk itulah, mari kita menjalani kehidupan dunia itu dengan penuh rasa senang dan percaya diri, namun jangan lantas terlena dengan terus mengabaikan jalan kebaikan. Mengesampingkan kebenaran yang sejatinya telah di ajarkan oleh Allah SWT melalui perantara Rasulullah Muhammad SAW. Jalani kehidupan itu sesuai dengan harkat hidup dan kehidupan yang sesungguhnya. Lakoni setiap waktu dalam kehidupan ini dengan mematuhi aturan dan batasan yang telah Allah SWT tetapkan (Al-Qur`an). Karena hanya dengan begitu maka siapapun kita tentu memiliki hak untuk mendapatkan kesenangan. Sedangkan nikmat pahala dan keridhaan-Nya menjadi bonus di akherat.

Allah SWT berfirman:
”Sesungguhnya Al-Qur`an itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang haq dan yang bathil. Dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau” (QS. Ath-Thaariq [86] ayat 113-14)

Namun ingat, dalam hal beribadah maka sikap yang terus saja mengikuti kesenangan tentu tidak baik dilakukan. Contohnya dengan ”terlalu” berlebihan dalam mengamalkan ibadah. Ini tidak sesuai dengan apa yang telah Rasulullah SAW contohkan, karena sikap yang teratur dan terus menerus dalam keikhlasan adalah hal yang paling di sukai Allah SWT. Meski tidak banyak namun bila dilakukan dengan kesadaran dan niat yang tulus hanya kepada Allah SWT akan lebih mulia ketimbang dengan berlebihan melakukan ibadah namun dengan dibarengi niat riya` (ingin di puji/tidak ikhlas karena Allah SWT).

Rasulullah SAW bersabda mengenai hal ini seraya mengingatkan:
Di riwayatkan dari Aisyah RA: ketika saya sedang duduk bersama seorang perempuan, Nabi Muhammad SAW datang dan bertanya kepadaku, ”siapa dia?” aku jawab, ”si fulanah” dan aku ceritakan pada Nabi Muhammad SAW bahwa dia telah beribadah dengan berlebihan. Nabi Muhammad SAW bersabda dengan memperlihat-kan ketidaksetujuannya; ”Perbuatan baik yang dilakukan secara berlebihan tidak akan membuat Allah lelah (untuk memberikan pahala) namun engkau yang akan lelah dan al-din (perbuatan baik – ibadah yang paling dicintai Allah SWT) adalah yang dikerjakan secara tetap” (HR. Al-Bukhari)

Wahai saudaraku tercinta, lihatlah Qorun yang terus saja mengejar kesenangan duniawi. Sehingga hasilnya, dia pun harus mati mengenaskan dengan tenggelam bersama harta dan kesenangannya sendiri. Cermati pula Fir`aun yang terus memuja kesenangan duniawinya. Dia pun akhirnya harus tewas tenggelam di tengah laut merah ketika masih dalam bentuk kepongahannya sendiri. Sehingga tidaklah kesenangan itu bila terus di turuti akan membuatmu mencapai akhirnya. Tidak akan ada kepuasan dalam mengejar kesenangan dalam hidup ini. Sehingga lakukanlah yang pantas dan tidak berlebihan dalam kehidupan. Jadikan dunia ini sebagai hal yang pertama namun bukan yang utama. Sedangkan akherat adalah hal yang utama tapi bukanlah yang pertama. Sebab, hanya dengan begitu engkau pun akan mendapatkan ridha-Nya.

”Cinta seorang pendunia, dapat melihat keindahan yang kelabu.
Sedangkan keindahan yang sesungguhnya,
hanya cinta kepada Allah SWT”

Orang yang terlena dalam kesenangan akan meninggalkan akal sehatnya. Ia pun akan lupa dalam hal cinta dan mencintai. Sehingga meski tampak di mata ia telah merasakan kebahagiaan, namun sejatinya itu tidak benar. Sebenarnya ia sedang merasakan kesedihan dalam kobodohan. Hatinya telah menderita, karena tidak bisa menemukan ketenangan yang hakiki. Sehingga di setiap waktu dalam hidupnya hanya dilakukan dengan perbuatan yang foya-foya dan malas melakukan kebajikan. Kemudian dosa-dosa itu pula yang mengakhiri kehidupannya di dunia.

Kesenangan merupakan hal yang wajar di rasakan oleh seseorang, bahkan ada anjuran untuk itu. Namun, bila telah membuat seseorang terlena untuk tidak berdzikir kepada Allah SWT, maka itu menjadi tidak benar. Kita boleh mencintai apa yang menjadi kesenangan diri, namun bila telah mengalahkan rasa cinta kepada Allah SWT, maka itu namanya cinta yang syirik. Akibatnya, seseorang akan jauh dari rahmat dan ridha-Nya. Ia akan merasakan keruhnya kehidupan. Jauhnya kedamaian yang sebenarnya ingin ia penuhi bagi hati dan jiwanya. Sehingga penyesalan dan putus asa akan menemaninya dengan penuh kesetiaan

Untuk itu saudaraku, kembalilah pada fitrah dirimu yang telah Allah SWT ciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini. Penuhi kesenanganmu dalam aturan dan cara yang telah Dia tentukan. Dengan mengikuti apa saja yang telah dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Yaitu dengan menjadikan dunia sebagai hal yang pertama tapi bukanlah yang utama. Sedangkan akherat adalah yang utama namun bukanlah hal yang pertama.

Wallahu a`lam bishshowwab.

Yogyakarta, 08 Nopember 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Cuplikan dari buku: Cermin Kesadaran dan Perenungan, karya: Mashudi Antoro]

2 thoughts on “Mengubur Diri dalam Kesenangan

    Andika said:
    Desember 8, 2010 pukul 7:45 am

    kesengan terkadang membuat kita lupa pada Allah SWT, kebanyakan ketika orang mengalami cobaan maka disitulah orang akan kembali mengingat Allah, tapi sedikit yang dikala susah dan senang selalu mengingat Allah…
    marilah kita intropeksi diri dan memperbaiki diri 🙂

    *Jadikan dunia ini sebagai hal yang pertama namun bukan yang utama. Sedangkan akherat adalah hal yang utama tapi bukanlah yang pertama (kata-kata yg bagus sekali)

    makasi mas linknya, semangat terus hehehehehe

      oedi responded:
      Desember 8, 2010 pukul 8:12 am

      Makanya: ujian terbesar itu sebernarnya bukan di saat susah dan derita, tetapi pd saat kesenangan, kebahagiaan, ketenaran sdg di rasakan seseorang.
      Makasih Dik utk kunjungan dan dukungannya di tulisan ini, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s