Larut dalam Kenestapaan

Posted on Updated on

Nestapa adalah kata kunci menuju kegagalan. Nestapa adalah cikal bakal hasil dari kehancuran di kehidupan. Bahkan tidak ada yang baik dari kenestapaan, sebab ia hanya akan menjadikan seseorang terus larut dalam keputusasaan dan menyia-nyiakan waktunya dalam kehidupan.

Coba ingat dan perhatikan, apakah pernah ada keberhasilan dalam rangka menyonsong kenestapaan? Apakah ada kesuksesan yang berawal dari langkah hidup yang larut dalam kesedihan? Sungguh tidak akan berlaku hal yang demikian, sebab pencapaian yang bisa di raih oleh siapapun jua adalah hasil yang berakar dari niat dan usaha dalam menghilangkan segala bentuk kegundahan dan kesedihan. Menyingkirkan semua nestapa yang teralami dalam kehidupan.

Untuk itu, marilah kita senantiasa mendongkrak segala kesedihan itu menjadi semangat yang membara laksana dapur magma. Mari kita terus percaya diri bahwa kita pasti akan berhasil dan meraih apa yang menjadi cita-cita. Karena mereka yang berhasil melewati setiap ujian duka cita dalam kesabaran akan meraih kebahagiaan dunia dan akherat.

Allah SWT telah berfirman:
”Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (QS. Faathir [35] : 34)

Memang sebagai manusia biasa kita tidak luput dari rasa sedih dan kegundahan. Tetapi janganlah larut dengan perasaan itu. Jangan jadikan waktu-waktu kita terbuang percuma dalam kemunduran kreatifitas diri. Jangan pudarkan harapan hati bahwa esok hari akan menjadi tahapan yang paling membahagiakan. Sebaliknya, jadikan diri jika telah berhasil menyampingkan duka cita menjadi sebuah motivasi adalah satu hal yang paling berarti dalam kehidupan.

Tidak ada gunanya kita larut dalam keterpurukan semangat, sebab apakah dengan begitu akan bisa menyelesaikan masalah? Apakah dengan terus berdiam diri tanpa melakukan perubahan dan bekerja keras kita akan terbebas dari segala derita? Tentu tidak saudaraku, bahkan bila kita terus saja larut dalam penyesalan, kesedihan dan malas melakukan perbaikan, maka derita itu akan terus menghampiri. Segala bentuk keburukan akan menyelimuti hati dalam kekufuran. Sedangkan keberhasilan dan cita-cita kian jauh meninggalkan kita di belakangnya.

”Semua keindahan dunia berasal dari keinginan.
Cintanya adalah palsu, sebab hanya kesementaraan dan pinjaman”

Terimalah apa saja yang tengah di dapatkan sekarang dengan segala keikhlasan dan jalani sesuatunya dengan kesabaran. Jangan merasa bahwa kita adalah seorang yang paling malang dan hina, sebab Rasulullah Muhammad SAW dan keluarganya sendiri bahkan kerap kesulitan dalam menjalani hidupnya sehari-hari. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA berikut ini:

Hadits riwayat Aisyah RA, ia berkata: ”Sejak berpindah ke Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang karena makan gandum selama tiga malam berturut-turut sampai beliau wafat” (Shahih Muslim No. 5274)

Hadits riwayat Abu Hurairah RA, ia berkata: Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Dalam riwayat Ibnu Abbad: Demi Tuhan yang jiwa Abu Hurairah berada dalam genggaman-Nya, belum pernah Rasulullah membuat keluarganya kenyang selama tiga hari berturut-turut dengan roti gandum sampai beliau wafat” (Shahih Muslim No. 5286)

Menilik hadits di atas, maka sejatinya tidak ada alasan bagi kita untuk berlarut-larut dalam keterpurukan semangat dan kesedihan. Sebab, orang yang paling dikasihi oleh Allah SWT saja juga mengalami kesedihan dan derita dalam kehidupan ini. Bedanya, beliau tidak menjadikan cobaan itu sebagai derita yang berkepanjangan. Beliau tidak pernah tidak sabar dalam menjalaninya. Sebab beliau dan keluarganya senantiasa bersabar dan berusaha membuat diri mereka merasa cukup, tetap tawakkal dan tidak pernah berpangku tangan apalagi meminta-minta.

Tentang hal ini Rasulullah SAW pernah bersabda:
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri RA: beberapa orang Anshar meminta (sesuatu) kepada Rasulullah SAW dan diberi. Kemudian mereka meminta lagi (sesuatu) dan kembali diberi. Kemudian kem-bali mereka meminta (sesuatu) dari Rasulullah SAW hingga semua yang dimiliki Rasulullah SAW habis. Rasulullah SAW bersabda,“Apabila aku memiliki sesuatu, aku tidak akan menyembunyikannya darimu. (Ingatlah) siapa pun yang tidak meminta (mengemis) kepada orang lain, Allah akan memenuhinya, dan siapa pun yang berusaha membuat dirinya merasa cukup, maka Allah akan membuat dirinya merasa cukup. Dan siapa pun yang berupaya bersabar, maka Allah akan membuatnya sabar. Tidak ada anugerah yang lebih baik dan lebih besar yang diberikan kepada seseorang selain kesabaran” (HR. Al-Bukhari)

Untuk itu saudaraku, segeralah berpaling dari palung kesedihan. Menjauhlah dari yang bisa membuatmu kian terpuruk dalam kenestapaan,  Bangkitlan segera dengan senantiasa merasa malu bila hanya larut dalam kesedihan. Malu bila setelah datangnya kepedihan hidup engkau tidak segera maju dan melakukan perubahan. Sebab, malu adalah sebagian dari keimanan. Sebagaimana hadits berikut:

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA: Nabi SAW Pernah bersabda:  “Iman meliputi lebih dari enam puluh cabang atau bagian. Dan Al- haya’ (rasa malu) adalah sebuah cabang dari iman” (HR. Al-Bukhari)

Jangan biasakan diri untuk selalu membandingkan bahwa kemuliaan adalah hak bagi mereka yang mempunyai kepemilikan yang banyak. Atau engkau sendiri yang membuat batasan bahwa kebaikan hanya berlaku untuk mereka yang beruntung dalam hidupnya. Karena setiap yang terjadi dan dialami oleh seseorang tentunya akan memberi kesempatan baginya untuk bisa meraih segala bentuk kebaikan dan kemuliaan. Asalkan ia tetap tawakkal dan lurus mengikuti aturan-Nya.

Hadits riwayat Abu Hurairah RA, ia berkata: Bahwa Rasulullah ber-sabda: ”Ketika seorang dari kalian memandang orang yang melebihi dirinya dalam harta dan anak, maka hendaklah ia juga memandang orang yang lebih rendah darinya, yaitu dari apa yang telah di lebihkan kepadanya” (Shahih Muslim No. 5263)

Jadi, kembangkan lebar-lebar sayap jiwamu dalam semangat dan percaya diri. Tebarkan keindahanmu bersama tawakkal dan keimanan hanya kepada Allah SWT. Ikuti jejak langkah yang di tinggalkan oleh Rasulullah Muhammad SAW bagi kita. Sebab dengan begitu engkau pun akan mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya dengan cinta yang sesungguhnya. Engkau juga akan melakukan sesuatunya dengan segala perhitungan yang benar, sehingga berkahnya adalah, bahwa dirimu akan mendapatkan segala bentuk kenikmatan dan kemuliaan bagi manusia.

”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat [41] : 30)

Semoga kita senantiasa diberikan kelapangan hati dan pikiran dalam menggapai ridha Allah SWT. Sehingga akan meraih segala macam kebahagian dan kemuliaan di dunia dan akherat.

Wallahu a`lam bishshowwab.

Yogyakarta, 07 Nopember 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Cuplikan dari buku: Cermin Kesadaran dan Perenungan, karya: Mashudi Antoro]

6 thoughts on “Larut dalam Kenestapaan

    Andika said:
    Desember 8, 2010 pukul 6:45 am

    wah tulisan ini memberikan semangat yang baru aga tidak larut dalam kenestapaan
    “marilah kita senantiasa mendongkrak segala kesedihan itu menjadi semangat yang membara laksana dapur magma. Mari kita terus percaya diri bahwa kita pasti akan berhasil dan meraih apa yang menjadi cita-cita. Karena mereka yang berhasil melewati setiap ujian duka cita dalam kesabaran akan meraih kebahagiaan dunia dan akherat”
    kata-kata yang bagus dan inspiratif sekali mas…

    makasi linknya, semangat berkarya mas 🙂

      oedi responded:
      Desember 8, 2010 pukul 6:53 am

      Okey, sama2 Dik untuk kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.
      Ayo…. jangan terus larut dalam kenestapaan, sebab tidak ada yang baik dari sikap itu. Bahkan hanya akan mengantarkan kita pada jurang kehancuran.
      Chayoooo….. 🙂

    Andika said:
    Desember 8, 2010 pukul 7:02 am

    yoi mas…. terimakasih selalu dan tidak bosan untuk mengingatkan dika 🙂

      oedi responded:
      Desember 8, 2010 pukul 7:06 am

      Hehe… tenang aja, kalau ada tulisan terbaru InsyaAllah akan mas tag terus kok… cos kita sebagai manusia itu harus terus saling mengingatkan dan mau diingatkan… biar lebih indah dan bermakna hidup ini… 🙂

    Andika said:
    Desember 8, 2010 pukul 7:18 am

    sepatu (sepakat dan setuju) mas….kita emang harus terus saling mengingatkan
    tapi mas yg harus sering mengingatkan dika hehehehehe

      oedi responded:
      Desember 8, 2010 pukul 8:08 am

      Halah… gak juga gt Dik, siapa ja mesti harus mengingatkan dan mau di ingatkan…. biar adil.. hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s