Pesan Keadilan Bagi Para Penguasa

Posted on Updated on

Berikut ini akan saya berikan beberapa kisah yang berhubungan dengan tindakan para pemimpin besar umat Islam. Sikap yang terkandung di dalam setiap kisahnya akan memberikan gambaran nyata tentang kebaikan, kebijaksanaan, keadilan dan cinta kasih yang mestinya harus dimiliki oleh setiap pemimpin bangsa.

Diantaranya sebagai berikut:

1. Kebijaksanaan seorang khalifah
Tersebutlah kisah seorang khalifah di Andalusia (Spanyol) yang bernama Manshur ibn Abi Amir al-Hajib. Dengan kekuasaannya itu ia hendak membangun jembatan besar untuk menghubungkan dua sisi kota yang terbelah oleh sungai.

Studi kelayakan pun telah dibuat dan berdasarkan perhitungan, maka biaya untuk pembuatan jembatan itu mencapai 140 dinar emas. Bagi Manshur al-Hajib, biaya tidak jadi soal, yang penting kedua sisi kota bisa berhubungan dengan lancar dan kegiatan ekonomi bertambah baik serta kemakmuran rakyat bisa meningkat. Sebab pemerintah telah menghitung untung-rugi dari pembangunan jembatan ini.

Namun, pembangunan jembatan tak segera bisa dilakukan. Ada sebidang tanah milik seorang penduduk tua di seberang sungai yang harus dibebaskan lebih dulu. Kendati kecil, tanah itu sangat diperlukan, sebab disanalah pangkal dari jembatan akan di tancapkan.

Mendapati masalah tersebut, Manshur al-Hajib lalu mengutus para pembantunya untuk menawarkan ganti rugi kepada pemilik tanah. Orang tua pemilik tanah memberi harga tanah sepuluh dinar emas. Pembantu khalifah pun setuju. Kemudian dengan di hadiri dua orang saksi, saat itu juga transaksi dilakukan.

Mendapatkan tawarannya di setujui, orang tua itu tampak gembira. Seumur hidupnya ia tidak pernah menggenggam uang sebanyak sepuluh dinar emas. Seandainya saja tanah itu ditawar lima dinar emas saja, ia pun tetap akan memberikannya. Tapi kesepakatan telah terjadi dan orang tua itu pun mendapatkan uangnya. Ia lantas berkata di hati; “Aku akan segera membeli tanah baru dan menyimpan sisa uangnya untuk bekal hari tua nanti”.

Setelah urusan selesai, para pembantu khalifah pulang ke istana dengan riang gembira. Mereka merasa sudah menyelesaikan pekerjaan yang diamanahkan oleh sang khalifah, bahkan dengan harga tanah yang tidak terlalu tinggi. Tapi, setelah kesepakatan jual beli itu disampaikan kepada khalifah Manshur al-Hajib, saat itu juga wajah khalifah berubah. Ia lantas berkata; “Jemput orang tua itu. Bawa ia ke sini sekarang juga”

Dengan wajah pucat, orang tua pemilik tanah tadi dibawa ke istana. Berbagai pikiran dan prasangka telah bersarang di otaknya. Namun khalifah Manshur al-Hajib menyambutnya dengan suka ria dan wajah yang berseri, lalu bertanya; “Betulkah Anda menjual tanah milikmu dengan harga 10 dinar emas?”

“Benar tuanku” jawabnya pelan.

“Tanah itu diperlukan untuk kepentingan umum, kepentingan umat. Kuucapkan terimakasih atas kesediaanmu untuk menjual tanah itu dengan harga yang murah. Sekarang, terimalah sembilan kali sepuluh dinar lagi agar harganya menjadi genap 100 dinar emas. Semoga Allah SWT memberkatimu” balas Manshur al-Hajib.

Orang tua pemilik tanah merasa tidak percaya dengan yang tengah ia dengar. Saking senangnya, seluruh persendian tubuhnya serasa lunglai. Ia sama sekali tak menyangka akan mendapatkan penghargaan yang luar biasa dari sang khalifah dan pemerintah. Sehingga meyakini bahwa hanya dengan kepemimpinan yang benar, adil dan sesuai hakekat Islam, maka negara dan masyarakat akan terus sejahtera.

2. Air mata sang khalifah
Suatu malam, khalifah Umar bin Khaththab ditemani oleh `Abdullah ibn Abbas berjalan-jalan meninjau keadaan rakyatnya. Di ujung sebuah kampung, mereka melihat sebuah kemah yang masih menyala lampunya. Mereka lalu mendekati dan mengintip ke dalam kemah itu. Ternyata ada seorang wanita tua dikerumuni beberapa anak kecil sedang menunggui sebuah periuk di atas tungku.

“Sabar anak-anakku, sebentar lagi kalian akan makan kenyang” kata wanita itu manakala mendengar anak-anaknya merintih kelaparan.

Ketika itu `Abdullah berkata; ”Wahai Amirul Mukminin, mengapa kita berlama-lama berdiri disini? Ayolah, kita jalan lagi”

Di jawab oleh Umar; “Demi Allah, saya tidak akan meninggalkan tempat ini  hingga melihat masakan dalam periuk itu matang dan anak-anak serta wanita tua itu makan dengan kenyang”

Namun, setelah lama mereka menunggu masakan itu tidak juga matang, sementara anak-anak terus saja merintih kelaparan. Dan dengan kata-kata yang sama wanita tua itu terus menghibur anak-anaknya.

`Abdullah ibn Abbas dan khalifah Umar bin Khaththab akhirnya tak sabar lagi menunggu. Setelah memberi salam, mereka masuk ke dalam kemah.

“Kenapa anak-anakmu terus menangis?” Tanya Umar.

“Mereka dari tadi lapar” jawab wanita itu.

“Kenapa mereka tak kau beri makan dengan yang ada di dalam periuk itu?” kejar Umar.

“Periuk ini kosong. Di dalamnya hanya ada air saja” jawab wanita itu.

Umar membuka periuk itu. Benar, ia hanya melihat ada air yang mendidih. Lalu ia bertanya; “Mengapa Anda melakukan ini?”

“Saya sengaja melakukan ini untuk memberi kesan kepada mereka kalau saya sedang memasak. Saya terus menyalakan api, hingga mereka jenuh menunggu dan akhirnya tertidur. Semua ini saya lakukan karena memang tidak ada yang bisa di masak. Sudah lama saya tidak memiliki orangtua, suami ataupun saudara” jawab si wanita.

“Mengapa Anda tidak melaporkan nasibmu kepada khalifah Umar bin Khaththab, sehingga ia dapat mengambilkan sebagian harta dari Bait al-Mal untuk keluargamu?” kejar Umar.

Di balas oleh wanita itu; “Semoga Umar tidak dipanjangkan umur atau redup bintangnya, karena ia telah menyengsarakan kami”

Mendapat jawaban itu Umar terkejut sekali. Sementara `Abdullah ibn Abbas sudah memperlihatkan kemarahannya. Namun Umar menyabarkannya.

Umar kembali bertanya menyelidiki; “Wahai saudariku, dengan apa Umar menyengsarakanmu?”

“Benar, Umar telah menyengsarakan kami. Sebagai seorang pemimpin, sudah semestinyalah ia tahu nasib dan kehidupan setiap rakyatnya. Ia seharusnya sudah mendata tentang berapa banyak rakyatnya yang memerlukan bantuan seperti kami”

Mendapatkan jawaban dari wanita itu, sekelebat Umar membalikkan tubuhnya dan pergi berlari keluar kemah yang diikuti oleh `Abdullah menuju Bait al-Mal.

“Tunggu sebentar, khalifah Umar akan segera kembali membawakan makanan untuk kalian” seru Umar kepada wanita itu.

Tak berapa lama, di tengah gelapnya malam, dua orang tampak sedang berjalan beriringan. Yang satu memanggul satu karung gandum dan yang lainnya berjalan dibelakangnya.

“Wahai Amirul Mukminin, biarlah saya yang mengangkat karung gandum itu” pinta `Abdullah ibn Abbas.

“Demi Allah, bagi saya mengangkat gunung dari besi lebih ringan daripada harus menanggung dosa lantaran kelalaian saya” Jawab khalifah Umar bin Khaththab sembari menangis.

3. Kesantunan cinta seorang khalifah
Suatu ketika, Al-Aqra ibn Habis menghadap Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab. Saat menghadap, ia melihat Umar sedang bermain dengan anak-anaknya. Mereka bergelantungan di pundak dan punggungnya. Maka Al-Aqra berkata:

“Tidak sepantasnya seorang Amirul Mukminin berlaku demikian. Seperti inikah engkau berbuat dengan anak-anakmu?”

Mendapatkan pernyataan itu, kontan saja Umar terperangah. Kemudian ia bertanya kepada Al-Aqra; “Dan kamu wahai Aqra, apa yang kamu perbuat di rumahmu?”

Dia menjawab; “Kalau aku, saat aku ke rumahku, duduklah orang yang berdiri, diamlah orang yang berbicara dan bangunlah orang yang tidur. Dan aku mempunyai sepuluh anak, namun tidak pernah sekalipun aku mencium mereka”

Maka Umar menimpali: “Kalau demikian halnya, kamu tidak pantas menjadi hakim bagi kaum Muslimin”

Lalu Umar bin Khaththab memerintahkan agar Al-Aqra bersikap baik kepada keluarganya dengan mencintai mereka sepenuhnya, lalu ia pun mencopot jabatannya sebagai hakim.

4. Kearifan dan zuhudnya sang khalifah
Suatu ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima sepucuk surat dari gubernurnya di Khurasan yang isinya meminta izin kepadanya untuk menggunakan kekerasan terhadap penduduk disana. Dalam surat itu disebutkan, “Mereka tidak dapat diperbaiki selain dengan pedang dan cambuk”

Setelah membaca surat tersebut, khalifah Umar bin Abdul Aziz mengirim balasan kepada gubernurnya. Ia berkata: “Anda dusta! Yang dapat memperbaiki mereka adalah keadilan dan kebenaran. Oleh sebab itu, ciptakanlah keadilan dan kebenaran dalam kehidupan mereka. Dan ketahuilah bahwasannya Allah tidak akan memberikan kebaikan pada amal seseorang yang berbuat kerusakan”

Begitulah pesan tegas namun humanis dari seorang pemimpin besar Islam di zaman dahulu. Pesan tegas itu lantas disikapi dengan baik oleh gubernurnya di Khurasan dan hasilnya menjadi sesuai dengan harapan bersama.

Konon semasa ia menjabat sebagai Khalifah, walaupun hanya 2,5 tahun  tak satu pun mahluk dinegerinya menderita kelaparan. Tak ada serigala mencuri ternak penduduk kota, tak ada pengemis di sudut-sudut kota, tak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat. Lebih mengagumkan lagi, penjara tak ada penghuninya. Sejak di angkat menjadi Khalifah Umar bertekad, dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengecewakan amanah yang di embannya. Akhirnya dia berhasil mengelola negara dan memanifestasikan hadits Nabi Muhammad SAW: “Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan dia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Diceritakan pula bahwa suatu ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang berada di kantor untuk kerja lembur kerajaan. Keadaan ruangan sangat gelap hingga terpaksa memasang lampu pelita. Seseorang datang dan masuk kantor khalifah setelah diizinkan.

Tiba-tiba Umar memadamkan api pelita itu, maka beliau bercakap dengan tamunya dalam keadaan gelap, membuat orang lain keheranan.

“Mengapa Amirul Mukminin melayani tamu dalam keadaan gelap?” tanya seorang pegawai khalifah.

“Yang datang tadi itu adalah keluargaku. Dia datang kepadaku karena ada urusan pribadi, sedangkan lampu pelita adalah milik negara. Oleh sebab itu, ketika aku berbicara masalah pribadi, aku padamkan lampu tersebut, karena tak mau terpakai milik negara.” kata Umar bin Abdul Aziz.

Lihatlah betapa amanahnya seorang pemimpin Islam pada waktu itu. Beliau tidak menggunakan kedudukannya sebagai Khalifah untuk kepentingan sendiri atau kaum keluarga dan sahabat malah apa yang beliau ada disedekahkan ke Bait al-Mal.

Namun, Umar bin Abdul Aziz sangat bersedih ketika diberi jabatan (amanah) oleh umat untuk menjadi Khalifah. Ini dikisahkan oleh isterinya, Fatimah yang melihat Umar sedang menangis di kamarnya. Fatimah pun menanyakan apa yang terjadi pada diri suaminya.

Lalu Umar menjawab, “Ya Fatimah, saya telah dijadikan penguasa atas kaum Muslimin dan orang asing, saya memikirkan nasib kaum miskin yang sedang tertimpa kelaparan, kaum telanjang dan sengsara, kaum tertindas yang sedang mengalami cobaan berat, kaum tak dikenal dalam penjara, orang-orang tua yang patut dihormati, orang yang mempunyai keluarga besar namun penghasilannya sedikit, serta orang-orang dalam keadaan serupa di negara-negara di dunia dan propinsi-propinsi yang jauh. Saya merasa bahwa Tuhanku akan bertanya tentang mereka pada Hari Berbangkit dan saya takut bahwa pembelaan diri yang bagaimana pun tidak akan berguna bagi saya. Lalu saya menangis.”  Subhanallah, alangkah mulia hatinya sehingga begitu sedihnya beliau menerima jabatan itu.

5. Pesan cinta dan perdamaian dari sang penakluk
Tersebutlah kisah seorang pemimpin besar Islam yaitu Salahuddin al-Ayyubi. Pada waktu pengepungan terhadap Karak yang dilakukan tentaranya, penguasa Darussalam pada waktu itu mempunyai saudara perempuan tiri yang bernama Isabela (Sybelllya), yang pada waktu itu tengah melangsungkan upacara pernikahan.

Sultan Salahuddin al-Ayyubi mengirimkan hadiah kepada pasangan pengantin itu dan memerintahkan pasukannya agar tidak melemparkan bom ke menara tempat kedua mempelai itu tinggal.

Pernah juga suatu ketika selama peperangan salib, raja Richard III dari Inggris yang sedang berperang melawan pasukan Salahuddin al-Ayyubi jatuh sakit. Dengan keadaan raja Inggris yang sakit dan hanya mempunyai beberapa ratus prajurit saja yang masih hidup, ia sebenarnya dengan mudah dapat ditawan oleh tentara Saljuq.

Meskipun orang-orang Saljuq dapat memenangkan perang dengan mudah ketika itu, mereka tidak melakukannya. Sebaliknya, Sultan mereka (Salahuddin al-Ayyubi) yang sangat baik hati itu mengirimkan es dan buah-buahan kepada pemimpin mereka yang sedang sakit. Bahkan membahayakan jiwanya sendiri dengan melakukan kunjungan pribadi kepada raja Richard III yang sedang sakit itu, dengan menyamar sebagai seorang dokter.

Sikap ini begitu berkesan dan sangat luarbiasa bagi siapapun. Bahkan ketika prajurit perang salib kembali ke tanah air mereka setelah mengalami kekalahan, mereka menceritakan kepada rakyatnya bahwa para penakluk bersikap kesatria, sopan dan adil.

Begitulah sikap satria dan cinta kasih yang telah ditunjukkan oleh seorang Salahuddin Al-Ayyubi, pemimpin besar umat Islam. Singkat cerita, akhirnya ketika menjelang ajalnya, Salahuddin al-Ayyubi meninggalkan wasiat bahwa semua simpanan dan harta benda miliknya harus dibagikan kepada rakyatnya yang membutuhkan. Baik ia dari kalangan Muslim ataupun non Muslim.

6. Kesimpulan
Demikian sekiranya kisah-kisah yang dapat menembus batas ruang dan waktu, bahkan segala zaman dan peradaban. Pesan-pesan yang terkandung di dalamnya begitu menggugah dan sangat berguna, terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga bila dibandingkan dengan saat sekarang, betapa rindu hati ini untuk memiliki pemimpin yang sedemikian adanya.

Kita bisa membandingkan dengan yang tengah terjadi pada bangsa ini. Betapa keadilan, ketegasan, kearifan, kebijaksanaan dan cinta kasih telah jauh dari sikap para pemimpin kita. Mereka selalu disibukkan dengan kepentingan diri sendiri dan sering mengabaikan kepentingan orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya. Bahkan dengan sengaja mereka telah menyengsarakan rakyat dengan dalil-dalil kepentingan bersama. Mereka juga lalai dan lupa bahwa jabatan yang sedang ia pegang saat ini adalah amanah yang mesti dijalankan dengan baik – tidak peduli resikonya – dan tentunya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, saat di peradilan Mahsyar. Padahal bila mereka tahu beban yang mesti di pikul di pundaknya nanti, maka tentulah mereka akan berpikir ulang dalam menerima jabatan. Terlebih bila hendak meminta jabatan atau kedudukan sosial di masyarakat.

Untuk itu, mari mulai dari sekaranglah kita jauh memperbaiki diri. Berusaha kembali pada fitrah diri yang diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini. Menjadi seorang yang bila telah di amanahkan sebagai pemimpin, tetap menjalankan amanah itu dengan penuh kecintaan dan jalan yang benar. Karena jangan sampai murka dan laknat Allah SWT yang jauh lebih besar akan benar-benar terjadi bagi bangsa ini. Sebagaimana firman-Nya di Al-Qur`an berikut ini:

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah (dan pemimpin) di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (QS. Al- Isra` [17] ayat 16)

“Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka” (QS. Al-Kahfi [18] ayat 59)

Semoga kita terhindar dari semua sifat-sifat durhaka dan zalim, dengan harapan senantiasa mendapatkan rahmat dan ridha-Nya. Amin.

Yogyakarta, 03 Nopermber 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Disadur dari kisah-kisah orang-orang terdahulu]

3 thoughts on “Pesan Keadilan Bagi Para Penguasa

    putri said:
    November 10, 2010 pukul 4:43 am

    subhanallah,,
    ayooo,,mari mulai dari diri sendiri,,jadilah pemimpin yang baik bagi diri dan sekitar kita
    smangat!!!

      oedi responded:
      November 10, 2010 pukul 12:18 pm

      Makasih ya Put udah berkenan mampir di tulisan ini, semoga bermanfaat.
      Ayoooo…. mari dari sekarang kita terus memperbaiki diri, menjadi pemimpin yang sesuai fitrah penciptaan-Nya, minimal terhadap diri sendiri.
      Chayooo…. 🙂

    beny maulana said:
    Februari 21, 2012 pukul 3:50 am

    subhanallah merinding dan terharu ketika membaca tulisan ini sangat mendorong untuk diri sendiri agar lebih berusaha menjadi yang lebih baik untuk kedepannya..alangkah bijaksana nya para salaful soleh terdahulu..
    terimakasih mas atas link nya.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s