Saatnya membantu sesama (shodaqoh, infaq, wakaf, dll)

Posted on Updated on

Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, maka seorang manusia itu tidak ada yang bisa hidup dalam nuansa kesendirian. Tidak akan ada yang tidak membutuhkan pertolongan dari orang lain. Untuk itulah, memperhatikan dan membantu sesama adalah satu sifat yang sangat baik bila dikerjakan.

“…..,Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al-Maa`idah [5] ayat 2)

Namun, kebaikan itu tidak banyak yang berjalan sesuai dengan alur  yang telah Allah SWT berikan. Banyak diantara kita yang telah lupa akan hikmah dalam mencintai dan dicintai, atau mengasihi dan dikasihi. Kita terus saja disibukkan dengan urusan dalam pemenuhan kebutuhan sendiri tanpa adanya usaha untuk memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan. Sehingga kedamaian, kesejahteraan dan kerukunan antara umat tidak pernah terwujud dalam kehidupan.

Mengenai tolong menolong ini, Rasulullah SAW pernah bersabda seraya mengingatkan dengan tegas kepada kita semua; “Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini manis lagi hijau, tetapi tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah” (HR.  Al-Bukhari no. 3074 dan Tirmidzi no. 2512)

Maksud dari sabda beliau ini adalah bahwa kita sebagai sesama hamba Allah SWT maka sudah semestinya untuk saling membantu, namun sebaliknya jangan pula gemar dalam menyusahkan orang lain alias hanya mengharapkan bantuan dari orang lain.

“Tidak seorangpun makan makanan yang lebih baik daripada yang dihasilkan oleh kerja tangannya (sendiri)” (HR. Al-Bukhari)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA: bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Demi Dia yang menggenggam hidupku, akan lebih baik bagi seseorang untuk mengambil seutas tali dan memotong kayu (di hutan) lalu membawanya dengan punggungnya dan menjualnya daripada meminta sesuatu kepada seseorang dan orang yang ia minta mungkin memberinya mungkin tidak” (HR. Al-Bukhari)

Karena sejatinya antara orang miskin dengan peminta-minta itu tidak sama. Dan yang terbaik dari keduanya adalah orang miskin tetapi tidak meminta-minta. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA: bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling kepada orang lain untuk meminta segenggam atau dua genggam kurma, tetapi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki cukup (uang) untuk memenuhi kebutuhannya dan keadaannya itu tidak diketahui orang lain; orang lain mungkin memberinya sedekah, tetapi ia tidak mengemis kepada orang lain” (HR. Al-Bukhari)

Untuk itulah maka sangat dianjurkan untuk bisa saling memperhatikan dan membantu di antara sesama manusia. Bagi yang membantu maka ia akan mendapatkan kebaikan dari apa yang telah ia berikan pada yang membutuhkan. Ia akan mendapatkan do`a dan dukungan dari yang pernah ia bantu secara terus menerus. Contohnya adalah ketika seorang pengusaha sudi membantu permodalan kepada orang yang kekurangan  modal usahanya, atau membantu dalam memberikan ilmu pengetahuan terkini. Lambat laun usaha orang tersebut akan kian berkembang sehingga daya beli dan taraf kehidupannya pun akan meningkat. Antara si pemberi modal dan yang menerima modal pun kemudian bisa saling bekerjasama, sehingga perputaran roda ekonomi akan menjadi semakin lancar, dan hasilnya menjadi sejahteralah mereka berdua.

Namun, banyak diantara kita yang tidak lagi gemar ber-shodaqoh, ber-infaq dan wakaf, padahal itu adalah wujud nyata dalam menjalankan peran penting dalam hidup dan kehidupan ini. Shodaqoh adalah pemberian yang dapat berupa harta maupun perbuatan baik. Shodaqoh wajib disebut zakat (berupa harta), shodaqoh sunnah tidak harus berupa harta (misalnya berbuat kebaikan, tersenyum), tidak ditentukan besarnya serta dapat diberikan kepada siapa saja. Infaq adalah suatu bentuk kegiatan dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan pihak pemberi maupun pihak penerima. Sedangkan wakaf adalah harta benda yang diperuntukkan bagi umat secara sukarela.

Dalam urusan bershodaqoh, Rasulullah SAW telah menjelaskan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, yaitu;

”Setiap anggota badan manusia diwajibkan bershodaqoh setiap hari selama matahari masih terbit. Kamu mendamaikan (dua orang yang sedang berselisih) adalah shodaqoh, kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraanya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah shodaqoh, berkata yang baik itu adalah shodaqoh, setiap langkah berjalan untuk shalat adalah shodaqoh, dan menyingkirkan suatu rintangan di jalan adalah shodaqoh” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu, bershodaqoh hukumnya wajib bagi setiap orang namun dengan batas kemampuan yang dimilikinya. Sebagaimana sabda beliau:

Diriwayatkan dari Abu Musa RA: Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Setiap Muslim harus bershodaqoh”. Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, jika seseorang tidak memiliki apa pun untuk dishodaqohkan, apa yang harus ia lakukan?” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ia harus bekerja hingga memperoleh upah dan memberikan shodaqoh”. Lebih jauh orang-orang bertanya, “bagaimana jika hal itu pun tidak bisa ia lakukan?” Nabi Muhammad SAW pun menjawab, “Tolonglah orang yang membutuhkan pertolongan”. Orang-orang berkata, “jika ia tidak dapat melakukan hal itu?” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Maka ia harus mengerjakan semua perbuatan baik dan menghindari semua perbuatan buruk dan hal ini akan diperhitungkan sebagai pahala bersedekah” (HR. Al-Bukhari)

Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar RA: Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Jangan simpan uangmu di dalam kantung uang; oleh karena Allah akan menahan anugerah-Nya darimu. Berikanlah (di jalan Allah) sesuai dengan kemampuanmu” (HR. Al-Bukhari)

Sedangkan untuk infaq sendiri beliau juga telah bersabda:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA: bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Allah berkata, ‘Keluarkanlah (infaq) dan akan Ku-keluar-kan untukmu’” Nabi SAW juga berkata, “Tangan Allah adalah penuh, dan tidak akan berkurang meskipun dikeluarkan sepanjang siang dan sepanjang malam”. Nabi SAW juga berkata, “Tidakkah kalian lihat apa yang telah Dia keluarkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan-Nya tidaklah berkurang, dan Singgasana-Nya di atas air; dan di Tangan-Nya terdapat miizan (keputusan) yang dengan itu Dia meninggikan atau me-rendahkan seseorang” (HR. Al-Bukhari)

Sehingga betapa ruginya diri kita saat kesempatan dan kemampuan untuk sedikit mengeluarkan harta demi sebuah shodaqoh, infaq atau wakaf tidak dilakukan. Betapa tangisan hati itu akan nyata ada sedangkan obatnya tidak segera kita diberikan. Betapa diri akan menyesal ketika setiap hikmah kebaikan tersia-sia dalam kesempatan yang ada di depan mata. Itulah perhatian dan saling membantu di antara sesama hamba Allah SWT.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA: seorang lelaki menemui Nabi Muhammad SAW dan bertanya, “Ya Rasulullah SAW, shodaqoh apakah yang paling utama?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “Shodaqoh yang kau berikan ketika kau dalam keadaan sehat, kikir dan takut terhadap kemiskinan dan menginginkan kekayaan. Jangan-lah menunggu sampai dekatnya saat kematian dengan mengatakan, ‘untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian, dan harta tersebut telah menjadi milik ahli warisnya” (HR. Al-Bukhari)

Contoh lain dalam memperhatikan dan membantu orang lain adalah dengan memberikan tumpangan kendaraan (hewan, mobil. motor, dll) kepada yang membutuhkan. Kita bisa dengan nyata mengalami peristiwa ini dimana terkadang ada orang lain yang tidak memiliki kendaraan dan terpaksa harus berjalan kaki untuk bisa tiba di suatu tempat. Dalam hal ini kita memiliki kendaraan lalu menawari untuk mengajaknya atau bahkan mengantarkannya hingga ke tempat tujuan.

Hadits riwayat Asma binti Abu Bakar RA, ia berkata: Zubair mengawiniku sedangkan ia tidak memiliki harta atau hamba sahaya atau apapun kecuali kudanya. Akulah yang memberi makan kudanya, mencukupi bahan makanannya, mengurusnya, menumbukkan biji bagi hewan penyiramnya, memberinya makan, memberi minum, menjahitkan timbanya dan membuatkan adonan rotinya. Tetapi, aku tidak pandai membuat roti karena itu wanita Ansar tetanggakulah yang membuatkan roti untukku. Mereka adalah para wanita yang jujur. Ia berkata: Aku biasa memindahkan biji kurma dari tanah Zubair yang diberikan Rasulullah SAW dengan memanggulnya di atas kepalaku yang berjarak kira-kira duapertiga farsakh (1 farsakh = 3 mil). Ia berkata lagi: Suatu hari aku datang membawa biji kurma di atas kepalaku lalu bertemu dengan Rasulullah SAW beserta beberapa orang sahabat. Beliau memanggilku, kemudian mengucap: Ikh, ikh (ucapan untuk menderumkan untanya). Beliau bermaksud memboncengku di belakangnya. Asma berkata: Aku merasa malu dan aku tahu kecemburuanmu. Zubair berkata: Demi Allah! Engkau me-manggul biji kurma di atas kepala adalah lebih berat daripada engkau menunggang bersama beliau. Ia berkata: Sampai Abu Bakar RA akhirnya mengirimkan seorang pembantu yang mengambil alih pengurusan kuda, seakan-akan ia telah membebaskanku” (Shahih Muslim No. 4050).

Selain itu, dalam urusan berkendaraan maka sebagai upaya untuk peka terhadap perasaan orang lain maka ucapkanlah salam kepada pejalan kaki. Dan pejalan kaki hendaknya mengucapkan salam pada orang yang sedang duduk. Bahkan yang berjumlah sedikit juga mengucapkan salam pada yang lebih banyak. Ini sesuai sabda Rasulullah SAW berikut:

Hadits riwayat Abu Hurairah RA, ia berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Seorang pengendara hendaknya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan pejalan kaki mengucapkan salam kepada orang yang duduk dan jamaah yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada jamaah yang beranggota lebih banyak” (Shahih Muslim No. 4019)

Demikianlah beberapa contoh perilaku yang berhubungan erat dengan perhatian dan membantu orang lain. Semoga bisa bermanfaat dan dijadikan perenungan kita bersama.

“Jauhilah segala yang haram, niscaya kamu menjadi orang yang paling (tekun) beribadah. Relalah dengan sebagian rizki Allah, niscaya kamu menjadi orang yang paling kaya. Berperilakulah yang baik kepada tetangga, niscaya kamu tergolong orang Mukmin. Cintailah pada orang lain hal-hal yang kamu cintai untuk dirimu, niscaya kamu tergolong orang Muslim” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

***

Saudaraku sekalian, kebaikan pada sesama tidak bisa diakhiri dengan perbedaan agama, keyakinan dan siapa dia bahkan hewan dan tumbuhan. Perhatian terhadap siapa saja tidak bisa dibatasi dengan perbedaan dalam strata sosial dan kelayakan. Yang namanya kebaikan ya kebaikan, tidak bisa dijadikan keburukan dan semua itu akan tetap dicatat sebagai sebuah kebaikan. Contohnya saja dari kisah seorang pelacur yang bertobat kemudian dengan ikhlas lillahi ta`ala ia membantu seekor anjing yang sedang kehausan. Akhirnya mendapatkan balasan kebaikan yang setimpal dari Allah SWT di akherat.

Dari Abu Hurairah RA: bahwa Nabi SAW bersabda; “Bahwa pada suatu hari yang sangat panas seorang wanita pelacur melihat seekor anjing sedang mengelilingi sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Ia kemudian melepas sepatu kulitnya (untuk mengambil air sumur yang akan diminumkan kepada anjing), lalu wanita itu diampuni dosanya” (Shahih Muslim No. 4163)

Sebaliknya ada seorang yang hanya melakukan sebuah kesalahan yang kecil namun tetap saja akan dicatat sebagai satu keburukan akhlak, dan balasannya adalah siksa di Neraka. Ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini:

Hadits riwayat Abu Hurairah RA: Bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh ada seorang hamba yang mengucapkan satu kata (buruk) sehingga ia terjerumus ke dalam Neraka lebih dalam dari jarak antara timur dan barat” (Shahih Muslim No. 5303)

Untuk itulah wahai saudaraku, jangan pernah abaikan sikap dalam memperhatikan dan membantu sesama. Jangan jadikan hari-hari kita terus  berlalu sedangkan tidak sedikitpun nilai kebaikan diantara sesama mahluk Allah SWT telah dilakukan. Tetapi jadikan setiap berkah memiliki harta dan jabatan sebagai upaya agar kita bisa lebih banyak membahagiakan orang lain. Jadikan setiap kecerdasan dan kemampuan akal yang lebih dari orang lain itu sebagai kiat dalam membangun satu peradaban yang terbaik dan mulia. Jadikan diri yang bila memiliki kekurangan dari segi materi untuk senantiasa memberikan bukti bahwa kita memang layak dibantu namun bukan untuk diberi. Karena diberi sama dengan peminta-minta, sedangkan dibantu akan sama dengan teman sejawat.

Selain itu, kepada kita yang memiliki kemampuan, maka Rasulullah SAW telah menganjurkan seraya mengingatkan:

“Tolonglah saudaramu, baik dia zalim dan di zalimi” para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, kita boleh menolong kalau dia di zalimi, lalu bagaimana mungkin kami memberikan pertolongan kalau dia berlaku zalim? Rasulullah SAW lalu bersabda; “Cegahlah dia untuk tidak melakukan kezaliman, karena sesungguhnya hal itu merupakan pertolongan baginya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan At- Tirmidzi)

Sehingga makna dari sikap memperhatikan dan membantu sesama makhluk itu menjadi semakin luas. Bahkan ia tidak terbatas kepada mereka yang baik-baik saja, melainkan kepada yang zalim pun kita dianjurkan untuk tetap bisa memberikan perhatian dan pertolongan. Sebab, dengan tetap menjadikan sikap memperhatikan dan membantu sesama maka akan terus memupuk perasaan cinta yang ada di dalam dada. Dan hikmahnya, antara kedua orang yang bersangkutan akan dapat merengguh kemuliaan dihadapan Tuhan yang Maha Pengasih, yaitu Allah SWT.

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” (QS. Al-Furqaan [25] ayat 63)

Rasulullah SAW pun bersabda:

“Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian mengasihi” wahai Rasulullah semua kami pengasih, jawab mereka. Berkata Rasulullah: “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang diantara kalian kepada sahabatnya (Mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia)” (HR. Ath-Thabrani)

Sebaliknya, bila sikap dalam memperhatikan dan membantu sesama ini tidak dilakukan, maka selama itu pula hati seseorang akan menangis dengan duka yang dalam. Mungkin tangisannya ketika di dunia ini tidak tampak dengan jelas, tetapi pasti nyata di akherat. Sedangkan hukuman perih di Neraka tidak bisa dihindari lagi, sebab peradilan Allah SWT telah memutuskannya dengan sangat tegas dan adil.

Saudaraku yang budiman, kebaikan itu akan sebaik dengan hikmahnya, kebajikan akan setara dengan hasilnya, dan kemuliaan itu akan hadir bagi mereka yang gemar melakukan kebaikan. Orang yang pertama kali mendapatkan manfaat dari perilaku baik adalah yang melakukannya. Ia akan terus dapat merasakan manisnya ”buah segar” saat itu juga, sebab ketenangan dan kekuatan jiwa yang suci telah memeluknya dengan cinta.

Memperhatikan dan membantu sesama adalah wujud nyata bahwa diri seseorang telah digenangi dengan cinta yang murni. Ia akan berlaku seperti wewangiyan yang menyumbul sukma, sebab telah mendatangkan banyak manfaat, tidak bagi yang menerimanya melainkan kepada siapa saja yang melakukannya.

Untuk itulah hai saudaraku sekalian, lakukanlah banyak kebaikan saat engkau mampu melakukannya. Ketika dalam masa bahagia atau dalam kondisi yang gundah gulana. Berbuat baiklah dalam bentuk keikhlasan, niscaya engkau akan mendapatkan ketentraman hati. Berilah shodaqoh, infaq, atau wakaf kepada mereka yang papa dalam hidupnya. Tolonglah orang yang terzalimi atau yang menzalimi. Bantulah orang-orang yang terkena bencana dan musibah (seperti yang kerap terjadi di negeri tercinta kita ini; banjir bandang di Wasior, gempa dan tsunami di kepulauan Mentawai, gunung Merapi meletus di Yogyakarta, dll). Santunilah anak yatim dan piatu dan ringankan beban orang yang menderita dan kelaparan. Saling mengasihilah diantara kalian, niscaya dengan begitu maka hatimu akan merasakan ketenangan yang bahagia. Jiwamu akan mencapai cinta yang terbaik dan indah.

Yogyakarta, 28 Oktober 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Cuplikan dari buku “Kasihanilah Tangisan Hati”, karya: Mashudi Antoro (Oedi`)]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s