KF-X, Pesawat garda terdepan TNI AU masa depan

Ramai pemberitaan tentang kerjasama Indonesia dan Korea Selatan dalam membuat pesawat tempur yang diberi nama KF-X. Ini pun telah melahirkan pro dan kontra. Meski terkesan ambisius, Kementrian Pertahanan mencoba menyikapi dengan bijak. Jet tempur yang akan mengadopsi generasi 4.5 G dan berkemampuan stealth ini, diharapkan akan menjadi tulang punggung TNI AU di masa datang. Dan kerjasama ini harus digelontorkan untuk mengejar kemandirian bangsa Indonesia dalam memenuhi kebutuhan alutsistanya.

Seperti apa sesungguhnya fakta di balik rencana pemerintah itu? Mari kita simak penelusurannya berikut ini:

Memorendum saling pengertian (MoU) yang di tandatangani Indonesia dan Korea Selatan di Seoul tanggal 15 Juli 2010, dapat kita maknai dari banyak sisi. Seperti kita ketahui beritanya, melalui MoU ini, kedua negara bersepakat untuk mengembangkan sebuah jet tempur maju yang menurut generasinya sudah mencapai 4,5 G. Kemampuan jet ini seperti diberitakan Defence News sudah melebihi jet temput KF-16 yang dioperasikan Korea.

Menurut kesepakatan tersebut, dalam proyek yang pengembangannya membutuhkan dana sebesar 5 triliun Won atau 1,4 miliar Dollar atau sekitar 37 triliun Rupiah, Indonesia sepakat menanggung 20% atau seperlimanya, sekitar Rp. 7,4 triliun.  Menurut Badan Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) Korsel ini, dana tersebut akan dibutuhkan dalam program pengembangan selama satu dekade ke depan. Pihak Korsel sendiri siap menanggung 60% dari dana tersebut, dan 20% sisanya akan diusahakan dari pemerintah atau korporasi lain. Seperti dikemukakan Direktur Tim Pengembangan KF-X DAPA Kolonel Lee Jong-hee, pihaknya sudah melakukan perundingan dengan Turki dan Uni Emirat Arab untuk menawarkan investasi pada proyek ini. Masih melanjutkan isi dari MoU, Indonesia juga sepakat untuk membeli 50 jet yang sementara ini diberi kode KF-X manakala sudah di produksi massal.

Pertama-tama, hal yang dapat diberi catatan adalah MoU ini mencerminkan kedekatan kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Korsel, yang selama ini sudah terlibat dalam saling beli peralatan pertahanan. Dari Indonesia, Korsel mendapatkan order overhaul kapal selam tipe 209 yang dioperasikan TNI AL. Korsel diketahui berpengalaman mengoperasikan tipe ini dan punya keahlian untuk meretofitnya. Selama itu, Indonesia juga membeli kapal LPD (landing Platform Dock) yang beberapa diantaranya dibuat di PT. PAL. Sementara itu Korsel membeli pesawat CN-235 buatan PT. DI.

MoU KF-X sendiri muncul setelah kedua negara menandatangani LoI (Letter of Intent) seiring dengan lawatan President Korsel lee Myung-bak ke Indonesia pada Maret 2009. Sekretaris jendral Kementrian Pertahanan RI Marsdya TNI Eri Herryanto juga dikutip menyatakan, bahwa MoU mencerminkan kuatnya komitmen dan kerjasama industri pertahanan kedua negara. Di luar itu, kedua negara melalui program KF-X juga bermaksud mendapatkan pengganti bagi pesawat tempur lama yang sudah saatnya pensiun. Yakti F-4 dan F-5 di Korsel dan F-5 di Indonesia.

Di Korsel sendiri, KF-X dikaitkan dengan rencana pengadaan pesawat tempur F-X III, yang kompetisinya akan dibuka tahun depan. Karena mengaitkan KF-X dengan F-X III, Korsel juga lalu bisa menarik minat pembuat pesawat tempur Barat untuk ikut cari peluang, mengingat lumayan banyak antara 40 sampai 60 pesawat tempur stealth. Sedangkan munculnya ide tentang proyek KF-X ini setelah ditemukan banyak rintangan dalam pemesanan jet tempur F-35 buatan Lockheed Martin (LM) dari USA. Belum lagi dengan masalah perawatan yang hanya bisa dilakukan oleh LM sendiri. Sehingga terpikir untuk membuat pesawat tempur sendiri.

Pengalaman dalam merakit F-16 dan membuat pesawat LiFT T-50 memacu mereka untuk membuat terobosan. Dan pilihan kerjasamannya dengan Indonesia. Ini bukan dengan tanpa alasa yang kuat, tetapi karena Korsel memandang Indonesia sebagai negara tetangga yang tidak pernah ada masalah tentang politik, ekonomi, batas wilayah. Selain itu, Korsel juga kepincut dengan Indonesia karena telah memiliki industri dirgantara sendiri yang notabene telah berhasil membuat pesawat CN-235 yang kini dioperasionalkan oleh AU Korsel.

Teknologi Stealth
Melalui proyek KF-X ini, Indonesia bisa ikut belajar teknologi pengelakan radar (Stealth). Proyek yang ditargetkan untuk membuat (dan tentunya juga menjual) 120 pesawat KF-X ini, diklaim lebih tidak kasat radar dibandingkan jet tempur Perancis Rafale atau Typhoon yang dibuat oleh Konsorsium Eurofighter, namun masih kalah bila dibandingkan dengan F-35 Lighting II.

Selain stealth, kemampuan lain yang ada pada KF-X adalah radar jajar pindai elektronik (electronically scanned array radar), sistem perang elektronik, sistem cari-dan- lacak (search-and-track) infra merah, penyergapan (intercept) dengan kecepatan super, serta kemampuan supercruise, dan kemampuan (serang) udara-ke-udara, udara-ke-darat, dan udara-ke-laut.

Rancangan sementara dari Pesawat KF-X

Tampak bahwa melalui proyek ini Indonesia atau PT. DI bila kemudian memang indutsri kedirgataraan nasional ini akan ikut terlibat penuh dalam proyek KF-X, akan mendapatkan alih teknologi beraneka ragam. Terkait dengan ini, ada baiknya pula pusat riset nasional, baik yang ada di lingkungan akademik, pusat litbang angkatan dan Kementrian Pertahanan, bisa mulai mengembangkan keahlian pada teknologi yang disebut di atas.

Memanfaatkan momentum
Bisa saja muncul pertanyaan ”Benarkan Indonesia sudah siap menapak ke program canggih seperti halnya KF-X, mengingat selama ini riset nasional seperti kurang prioritas, dan kondisi PT. DI masih tergolong merana?” itu baru dari segi teknis, karena selain itu juga ada pertanyaan sekitar biaya.

Pertanyaan tersebut tentu saja sah, karena memang faktanya seperti itu. Namun, dilihat dari sisi sebaliknya, proyek KF-X bisa menjadi momentum untuk menggerakkan kemampuan nasional, baik dalam menghidupkan kembali industri kedirgantaraan nasional ataupun umumnya. Sebelum ini, putra-putri Indonesia sudah berhasil membuktikan diri mampu menguasai teknologi dirgantara, seperti diwujudkan dalam merakit pesawat CASA NC-212, dalam ko-desain dan ko-produksi pesawat CN-235 bersama N-250 yang menernapkan teknologi fly-by-wire.

Melihat pengalaman hari kemarin dari PT DI/IPTN, maka salah satu hal yang masih lemah adalah dalam manajemen dan pemasaran, yang ditegaskan oleh mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsoso. Mengingat dalam proyek KF-X Indonesia juga ikut bertanggungjawab tidak saja dalam produksi tetapi juga marketing, maka proyek KF-X yang dijalankan bersama dengan Korsel, diharapkan juga bisa memperbaiki kemampuan manajemen dan marketing yang memang dibutuhkan bagi setiap industri. Adanya mitra asing diharapkan bisa menjadi rujukan efektif dalam pembelajaran ini.

Selebihnya mungkin ada pertanyaan, mengapa pesawat tempur dulu bukan pesawat angkut yang lebih sering kita butuhkan? Mengingat kita sering terkena bencana alam. Para pengagas tentu memiliki jawaban untuk hal ini, namun dalam konsep ”bermula dari akhir, dan berakhir pada awal” seperti dulu dikemukakan oleh BJ. Habibi, melalui pembuatan pesawat tempur yang berteknologi paling canggih, diharapkan SDM kedirgantaraan Indonesia bisa mengembangkan keahlian lebih dari memadai untuk membuat pesawat penumpang atau pesawat angkut.

Apapun itu, Indonesia sudah menanggapi serius tawaran kerjasama pembuatan KF-X. Baik Kementrian Pertahanan maupun PT DI tak ingin menampiknya karena sifatnya yang sangat strategis. Program pembuatan front-liner fighter ini bisa menjamin kekuatan udara Indonesia hingga 20-40 tahun kedepan. Program ini akan melecut kemampuan bangsa ini di bidang teknologi yang tak banyak dikuasai negara lain dan akan menempatkan Indonesia sebagai negara yang di segani.

Untuk itu, sebuah tim yang terdiri dari belasan insinyur telah dikirim ke Korsel dan kini tengah mematangkan konsep yang akan jadi rujukan bersama. Jika tidak ada aral melintang dan DPR memberi lampu hijau, roda produksi ditagetkan akan bergulir 2021. Tiga bulan kedepan kita akan melihat lebih jelas wujud konsep pesawat tempur lini depan ini.

Semoga yang dijalankan kedepan seiring dengan cita-cita mulia, yaitu untuk kemaslahatan umat manusia. Dan Indonesia akan benar-benar menjadi sebuah negara yang menjadi cerminan peradaban dunia.

Yogyakarta, 14 Oktober 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Disadur dari: majalah kedirgantaraan; Angkasa]

Iklan

8 thoughts on “KF-X, Pesawat garda terdepan TNI AU masa depan

    1. Makasih Dik untuk kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.
      Semoga dengan adanya tekad ini Indonesia bisa bangkit dari kerepurukan dan ketertinggalannya…. Amin.

  1. Biasanya pesawat kita jatuh bukan karena perang …, tapi lantaran spareparts di korupsi atau gak mau beli onderdil …….
    Pesawat tempur yang niscaya belum perang sudah jatuh sendiri …….
    (belajar ke Korsel ?)
    Lupakah kita dulu pernah punya ahli kedirgantaraan kelas international cuma di tendangi dan di usir ……

    1. Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya… moga bermanfaat.
      Mari kita merenda hari esok yang lebih baik dari sekarang, dengan dukungan teknologi kedirgantaraan yang mumpuni dan hasil kreasi anak bangsa sendiri.

  2. ini yang sangat menarik ditunggu..karena ingin sekali melihat dari dekat jet tempur stealth kolaborasi Korsel-Indo dan xxxx hehehe

    bagaimana kabar pakistan yg menawarkan join production kpd pt.DI mengenai jet tempur JF-17??

    1. Wah.. saya juga menunggu-nunggu bisa lihat langsung “bendanya”, karena disana terletak harapan besar bagi bangsa ini… semoga aja gak keburu di hantam bencana dan laknatullah yg menyebabkan NKRI hanya tinggal kenangan sejarah, seperti halnya singosari…
      Hmm.. untuk masalah penawaran dari Pakistan, saya belum tahu kabar perkembangannya, seperti masih jalan di tempat saja… 🙂
      Okey.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s