Cermin Kesadaran dan Perenungan

Posted on Updated on

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” (QS. Al Furqaan [25] ayat 63)

Dunia ini penuh dengan kenikmatan, senda gurau, banyak pilihan, bahkan berjuta rupa dan warna. Semua itu bercampur dengan ujian yang setia mengiringi langkah seseorang di muka bumi. Baik dalam rupa kesedihan yang mencekam diri, atau bahkan dalam masa-masa bahagia dan ketenaran.

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu” (QS. Muhammad [47] ayat 36)

Maka, jalanilah kehidupan ini dengan kenyataan yang ada. Berlarilah menjauh dari khayalan semu dan kemunafiqkan. Karena waktu tidak akan pernah berbalik ke belakang. Ia akan senantiasa melindas keras bagi mereka yang bersedia jatuh dalam keterpurukan.

Hadits riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam biasa berdoa: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, menyia-nyiakan usia dan dari sifat kikir. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari fitnah kehidupan serta kematian” (Shahih Muslim No. 4878)

Namun, sudahkah kita mempersiapkan diri dalam merenda hari-hari yang ada di depan? Apakah semua persiapan itu memang berangkat dari niat yang tulus demi mendapatkan ridha Ilahi? Sebab berapa banyak orang yang telah mendapatkan segala macam harta namun ia tetap merasa menderita? Berapa banyak sosok yang telah menggenggam jabatan dan kedudukan yang tinggi, namun selama itu pula ia merasakan kegundahan yang dalam? Sehingga betapa banyak di dunia ini orang-orang yang tetap menderita dengan kepemilikan yang ada pada dirinya, padahal seharusnya dengan itu ia bisa lebih bahagia dari orang lain.

Sungguh, betapa banyak penderitaan dan kesakitan yang terjadi, dan betapa banyak pula yang dilakukan bukan karena seseorang layak mendapatkannya – oleh sebab miskinnya harta dan kepemilikan –, melainkan karena jalan yang telah ia pilih. Mereka senantiasa menerawang jauh ke langit imajinasi, dengan mengabaikan tujuan hidup di dunia dan diciptakan sebagai manusia. Bahkan mereka merasa ketika lepas dari penderitaan kemiskinan, maka telah lepas pula dari ujian. Padahal ujian terbesar dalam kehidupan ini justru berasal dari kekayaan, kemapanan, kepopuleran dan kemampuan yang dimiliki.

Maka dari itu, kita bukanlah satu-satunya orang yang terlepas dari ujian. Sebab tidak akan ada yang bisa terlepas darinya. Seberapapun jumlah kepemilikan yang ada pada diri, maka akan semakin menambah besar ujian yang harus di lalui. Untuk itu, janganlah kita terjatuh ke dalam lubang yang sama dan dalam bentuk kesalahan yang serupa pula. Dengan terus serakah dalam pencapaian dan menuruti setiap hawa nafsu duniawi, padahal tidak akan pernah terpuaskan meski dalam perilaku salah.

Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: “Seorang Mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama” (Shahih Muslim No. 5317)

Kini, sudah tiba waktunya bagi kita untuk terus menginstropeksi diri.  Memandang diri sendiri lewat cermin kesadaran dan perenungan. Telah menjadi keharusan bagi kita untuk menyadari bahwasannya kehidupan ini merupakan jalan yang harus diketahui arah dan tujuannya. Bukan jalan yang dengan sesuka hati bisa kita buat tanpa memperhitungkan masalah medan, jarak dan akhirnya. Sebab, kita harus menyadari bahwa kehidupan ini adalah tanggungjawab dan ujian besar, dengan maksud agar kita tidak lepas kendali atau pun larut dalam keputusasaan.

Dari Ibnu Mas`ud Radiyallahu`anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Diantara nasehat yang di dapat orang-orang dari sabda Nabi-Nabi terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendakmu” (Shahih Al-Bukhari). Sedangkan dalam shahih lainnya Al-Bukhari juga menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Malu adalah baik semuanya”.

Janganlah gemar membangun istana yang megah hanya untuk kesenangan diri sendiri di pagi hari, sedangkan di senja hari hanya dijadikan sebagai gudang dan tempat sampah yang berserakan. Jangan biasakan diri ketika masih prima, harta berlimpah, dan kemampuan otak yang cemerlang, lantas lupa akan kesederhanaan. Sebab semuanya adalah titipan Allah SWT yang bisa diambil kapanpun. Semuanya bisa berubah hanya dalam hitungan yang singkat; jatuh sakit, bangkrut, dipecat, bahkan dengan adanya kematian. Dan jangan pula kita larut dalam pujian atau malah gemar memuji-muji orang lain secara berlebihan. Karena yang demikian akan sama dengan mencelakai diri sendiri bahkan orang lain dalam tahapan yang halus namun pasti terlaksana.

Hadits riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu alaihi wassalam mendengar seorang memuji orang lain secara berlebih-lebihan, maka beliau bersabda: “Sungguh kamu telah membinasakannya atau telah memotong punggung orang itu” (Shahih Muslim No. 5321)

Curahkan waktumu dalam pemenuhan kebutuhan hidup dengan jalan yang benar dan tidak berlebihan. Kemudian saat cita-cita telah kesampaian, maka segera alirkan berkahnya dalam bentuk bantuan dan shodaqoh. Tebarkan selalu keramahan dan kesederhanaan dalam niat yang tulus dan bukan oleh sebab mengharapkan pujian. Jalinlah tali kasih sayang diantara sesama dengan cinta yang mengikat erat hingga ke relung sanubari. Dan capailah urusanmu dengan Sang Khalik dalam ketulusan dan penghambaan yang paling murni. Sehingga dengan demikian, maka tepatlah peran hidupmu di dunia ini. Engkau pun telah memegang amanah sebagai khalifah dengan jalan yang sesuai arah yang telah ditentukan. Sebagaimana Rasulullah SAW semasa hidupnya.

Hadits riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: ”Rasulullah SAW wafat ketika orang-orang sudah kenyang memakan kurma dan air” (Shahih Muslim No. 5284)

Bersabarlah karena Allah SWT, sebagaimana kesabaran yang di yakini oleh orang-orang shalih terdahulu. Seperti mereka menyadari hanya dengan bersabarlah maka kemudahan, pertolongan dan tempat kembali yang baik dari Allah SWT akan merengkuh diri. Kemenangan akan datang bersama dengan tingkat kesabaran dan jalan keluar akan hadir bersama instropeksi diri. Bahkan hanya dengan bersabarlah, maka diri pribadi akan lebih hati-hati dalam melangkah, menjadikan kalbu lebih tawadhuk (rendah hati) saat mendapatkan kemuliaan. Namun tetap bersikap qona`ah (menerima apa adanya) bila tengah menghadapi masalah yang sulit.

“Barang siapa yang menjaga diri maka Allah akan menjaganya, dan barang siapa yang mencukupkan diri maka Allah akan mencukupkannya, dan barang siapa yang bersabar maka Allah menjadikan ia orang yang bersabar” (Shahih Al-Bukhari no. 1469)

Untuk itulah saudaraku, biasakan diri untuk bercermin lewat kaca kesadaran dan nilai-nilai perenungan diri. Jadikan setiap yang kita jalani adalah langkah kehidupan yang mesti dilalui dengan penuh semangat, namun tetap menyadarinya sebagai satu bentuk ujian yang mengikat. Jangan jadikan kesempatan yang telah diberikan ini sebagai satu pelarian panjang terhadap kewajiban dalam mengagungkan Asma Allah SWT. Dengan terus mengejar kenikmatan dunia yang tiada lain hanyalah tipu daya dan senda gurau belaka.

Namun, jangan pula setiap nilai kebaikan yang dilakukan itu hanya demi mendapatkan pahala dari Allah SWT semata. Melainkan sadari bahwa semua itu sudah menjadi kewajiban dan kebutuhan bagi diri pribadi, sebagai ungkapan cinta yang sesungguhnya. Sedangkan masalah hasilnya (pahala dan syurga), biarlah Allah SWT saja yang menentukannya. Dan tetaplah bersikap wara` (menjaga diri) dengan amalan yang mengakar pada syariat Tuhan (Islam), serta istiqomah (terus menerus) lah dalam melakukan kebenaran itu. Agar kita tetap terjaga dari bentuk kesalahan dan perilaku dosa.

Semoga kita senantiasa mengamalkan peran hidup dan kehidupan ini sesuai dengan tujuan penciptaan, yaitu sebagai khalifah di muka bumi. Sehingga berkah dan ridha Allah SWT pun akan seiring mengikuti. Amin.

Yogyakarta, 10 Oktober 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Tulisan ini juga telah di terbitkan oleh lembar jum`at Al-Rasikh UII pada tanggal 15 Oktober 2010]

6 thoughts on “Cermin Kesadaran dan Perenungan

    Uncu said:
    Oktober 12, 2010 pukul 5:19 pm

    InsyaAllah, amiin…

    Makasih ya di atas linknya kali ini, sangat bermanfaat tuk aq jadikan pencerahan dlm diri’q, krn segala tindakan, sifat jg kelakuan’q, aq sendiri terkadang tidak menyadarinya, bhkan terlana,,,
    Semoga kita selalu diberi kesempatan tuk saling memberi & mengingatkan ttg kebaikan, amiiin,,,

    Trim’s ^__^

      oedi responded:
      Oktober 14, 2010 pukul 12:11 pm

      Amiiin…
      Makasih juga karena berkenan berkunjung dan memberikan komentar. semoga bermanfaat.
      Tulisan ini pada dasarnya khusus untuk diriku sendiri kok, ya berhubung kita harus saling mengingatkan makanya ini tulisan ku sebarkan pada kenalan.
      Semoga kita bisa meraih setiap cita dan cinta yang tidak lepas dari arah jalan yang di ridhai-Nya. Chayoo….

    Andika said:
    Oktober 13, 2010 pukul 5:12 am

    wah informasi yang sangat berguna mas… makasi ya dikasi linknya
    “Barang siapa yang menjaga diri maka Allah akan menjaganya, dan barang siapa yang mencukupkan diri maka Allah akan mencukupkannya, dan barang siapa yang bersabar maka Allah menjadikan ia orang yang bersabar” (Shahih Al-Bukhari no. 1469)
    hadist ne begitu dalam maknanya 🙂
    saatnya kita merenung dan intropeksi diri …..

      oedi responded:
      Oktober 14, 2010 pukul 12:14 pm

      Makasih juga Dik untuk kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.
      Yup… benar sekali, bahwa hadits itu sangat dalam maknanya dan kita sebagai seorang diri yang mengharap tetap menjadi umatnya nanti di yaumil akhir, sudah waktunya untuk terus memperbaiki diri. Agar ridha Allah dan jalan yang lurus tetap bisa kita nikmati.

    aisyah said:
    Oktober 20, 2010 pukul 4:29 pm

    amin…
    bagus mas linknya,, bermanfaat dan menginspirasi…
    “Padahal ujian terbesar dalam kehidupan ini justru berasal dari kekayaan, kemapanan, kepopuleran dan kemampuan yang dimiliki.” betul jg mas kata2 ini.. 😀

    makasie udah dikasih link nya. jazakallahukhoiro

      oedi responded:
      Oktober 21, 2010 pukul 5:44 am

      Sama2 deh, makasih juga cos udah mau mampir dan memberikan dukungannya, semoga bermanfaat.
      Ya emang begitu adanya, bahwa cobaan terbesar sesungguhnya berasal dari kekayaan, kemapanan, kepopuleran dan kemampuan yang dimiliki karena biasanya kita menganggap ini bukanlah sebuah ujian tp merasa ini adalah sebuah anugerah. Memang itu semua salah satu rahmat-Nya tapi ingat bahwa ia beriringan dengan ujian ketaqwaan dan kebaikan. Makanya banyak yg gagal dalam melalui ujian besar ini, karena hanya yang memiliki iman dan taqwa yang sesungguhnya saja yg bisa melaluinya dengan prediket memuaskan.
      Semoga kita bisa melalui setiap ujian yg dialamatkan pada diri kita sendiri. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s