Hilangnya Keindahan Malam

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS. A-Naba` [78] ayat 10-11)

Sungguh, malam-malam kita sudah tak seperti dulu lagi. Kesunyiannya tak pernah lagi larut dalam simphoni syahdu cinta Illahi. Pertigaan malam yang sunyi pun tak terabadikan lagi dalam heningnya dzikir dan Qiyamul lail.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra`d [13] ayat 28)

Panjangnya waktu malam-malam kita, tak sekelumit pun larut dalam instropeksi. Padahal apakah sepanjang siang tadi kita telah banyak melakukan kebaikan? Atau malah sebaliknya, hanya dilakukan dalam kesia-siaan dan perilaku yang keliru. Sudahkah kita menepati kewajiban dan mengamalkan hak kita dalam fitrah kehidupan ini? Yaitu mengerjakan yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya. Atau merengek di kehadirat Allah SWT saat larut datang menjelang, meminta pengampunan dan berharap cemas atas perbuatan yang telah dilakukan selama ini.

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka[1] (QS. Al-Furqaan [25] ayat 63-64)
[1] Maksudnya orang-orang yang sembahyang tahajjud di malam hari semata-mata karena Allah SWT.

Silaturahim kitapun tak seperti dulu lagi. Shaf-shaf jamaah di ruangan masjid terlihat renggang dan sepi. Selepas shalat pun kita tidak lagi memilih untuk duduk sejenak dalam berdzikir, shalat sunnah dan bertadarus. Berlomba-lomba untuk meraih ridha Allah SWT dan meramaikan kebiasaan agung dalam Islam. Padahal Allah SWT telah berfirman:

”Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah [9] ayat 18)

”Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk di muliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang” (QS. An-Nuur [24] ayat 36)

Jadi, dengan memperhatikan ayat di atas, betapa meruginya bila kesempatan yang mulia itu tidak segera kita ambil, yaitu memakmurkan masjid dan ibadah. Sebab, Allah SWT telah menerangkan bahwa mereka yang sudi untuk memakmurkannya, maka akan mendapatkan keimanan dan petunjuk-Nya.

Namun, ternyata semangat dalam memburu kemuliaan telah tergantikan dengan kesibukan duniawi dan kemalasan yang kaku. Padahal setiap diri memiliki waktu yang sama dalam hari-harinya. Lantas mengapa tetap ada saja yang memiliki lebih banyak kesibukan dunia namun tidak melalaikan kecintaan terhadap negeri akheratnya?

Merekalah orang-orang shalih terdahulu. Dimana tidak seorangpun dari mereka yang hanya hidup dalam berpangku tangan atau hanya ahli ibadah. Mereka juga tetap memiliki pekerjaan dan tanggungjawab yang sama seperti kita. Bahkan apa yang harus mereka tunaikan jauh melebihi orang-orang pada umumnya. Namun begitu, mereka tetap bisa menjalani Hablumminallah dan Hablumminannas secara seimbang.

Sangat disayangkan, banyak diantara kita yang lupa dengan kesempatan yang diberikan. Kita terus merasa bahwa waktu masih jauh menjelang dan akan tetap seperti saat ini. Padahal itu adalah peluang besar untuk sedih menghampiri. Sebab kita hanya bisa menuntut tanpa adanya kiat usaha untuk merubah keadaan. Sehingga kesedihan pun akan membuat hidup menjadi keruh dan tidak bermakna. Menjadikan kelakuan sehari-hari hanya sia-sia belaka, bahkan mengajak kita untuk terus berlemah semangat dan tidak bergairah dalam menatap hari depan. Menjauh dari cahaya kebaikan dan langkah yang lurus pada kebenaran.

Tentang hal ini, maka Rasulullah SAW bersabda seraya mengingatkan kita semua sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari berikut ini:

“Ada dua nikmat dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan” (HR. Al-Bukhari)

Untuk itulah, amal ibadah yang menjadi rutinitas kita selama ini janganlah di pandang dalam kepuasaan yang berlebihan. Sebab tidak menjadi baik bila hakekat yang terkandung di dalamnya tidak diketahui. Itulah ”Iqra`” (baca) yang sebenarnya telah Allah SWT perintahkan bagi kita. Yaitu mengkaji setiap permasalahan dan kelakuan hingga kita mengetahui apa yang menjadi maksud sebenarnya. Bukan hanya sekedar mengaji/membaca saja, melainkan menyelami lebih dalam setiap maknanya. Sehingga Islam yang rahmatan lil `alamin benar-benar dapat terwujud dalam kehidupan ini.

Saudaraku tercinta, mumpung Ramadhan baru saja berlalu satu bulan dan Shawwal di hari terakhirnya ini. Mari kita kembali dengan semangatnya. Jadikan malam-malam panjang kita semarak dalam kebiasaan berjamaah, dzikir dan tadarus. Tambahkan pula kenikmatannya dengan Qiyamul lail dalam keheningan malam. Sebab barangsiapa yang menjadikan amalannya sebagai satu hal yang rutin dan seimbang, maka itu adalah sesuatu yang sangat disukai oleh Allah SWT, daripada ibadah yang dilakukan secara berlebihan namun jarang diterapkan.

Diriwayatkan dari Aisyah RA: ketika saya sedang duduk bersama seorang perempuan, Nabi Muhammad SAW datang dan bertanya kepadaku, ”Siapa dia?” aku jawab, ”Si fulanah” dan aku ceritakan pada Nabi Muhammad SAW bahwa dia beribadah dengan berlebihan. Nabi Muhammad SAW bersabda dengan memperlihatkan ketidaksetujuannya; ”Perbuatan baik yang dilakukan secara berlebihan tidak akan membuat Allah lelah (untuk memberikan pahala) namun engkau yang akan lelah dan al-din (perbuatan baik – ibadah yang paling dicintai Allah) adalah yang dikerjakan secara tetap” (HR. Al-Bukhari)

Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah SWT yang gemar mengenang malam-malam kehidupan dalam percintaan yang agung. Menjadikan keheningannya tetap dalam dzikir dan cinta yang sesungguhnya. Amin.

Yogyakarta, 08 Oktober 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

Iklan

8 thoughts on “Hilangnya Keindahan Malam

  1. Alahmdulillah diingatkan kang Oedi…. kenyataannya memmang begitu kita. Berela kurang tidru, tapi bukan untuknya. Masih berharap indahnya niat, semoga apa yang kita lakukan disaat waktu seharusnya untukNya, diakarkan pada ibadah. Sehingga tak ada yang kita lakukan dengan sia-sia….. Amiiin…..

    1. Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.
      Ya sebagai hamba Allah, tugas kita kan untuk saling mengingatkan, tujuannya tiada lain agar sama-sama meraih ridha dan kasih sayang-Nya. Mari mulai saat ini kita berupaya sebaik mungkin dalam meningkatkan kebaikan diri kita. Hingga ajal datang menjemput.

  2. Amiin Yaa RobbalAalamiin,,,

    Alhamdulillah, terbangunku dari lelap tidur malamku, mengharapkan Ridho Allah,

    Terimakasih banyak ya die, atas Link Tulisanmu “Hilangnya Keindahan Malam”, yg merupakan pengingat buat kita sahabat2mu, agar tidak selamanya terlena dgn kesibukan Duniawi semata. Anggapan kebanyakan kita, ‘masih ada kesempatan esok hari tuk kita berubah lebih baik’ adl; hal yg sangat merugi, karena tdk satupun diantara kita tau Rahasaia Tuhan akan KehendakNYA atas diri kita saat ini, besok, lusa atau kapanpun.

    Semoga kita selalu diberi kesadaran tuk segera kembali keJalanNYA, dan semoga Allah selalu melimpahkan Rahmat bagi kita Semua, amiiiin ^^

    1. Terimakasih banyak juga mbak untuk kunjungan dan dukungannya, semoga kita benar2 manjadi hamba Allah SWT yang beruntung di dunia dan akherat.
      Subhanallah… aku turut senang untukmu mbak, dan sebenarnya ini tulisan ditujukan pada diriku sendiri, untuk kembali mengingatkan atas kekurangan diri selama ini yang terlalu gandrung pada duniawi hingga lalai pada-Nya.
      Namun, karena berusaha untuk menjalani kewajiban yaitu saling mengingatkan, maka tersebarlah tulisan ini.

  3. wah tulisan yang bagus sekali mas, mengingatkan kita akan keheningan malam dan indahnya beribadah di malam hari… saatnya kita intropeksi diri dan menyerahkan segalanya pada Allah… saatnya diwaktu malam kita untuk curhat kepada Allah, setelah hablumminannas kita jalankan dari pagi hingga sore hari, kini tiba waktunya untuk menjalankan hablumminallah di malam hari…. manfaatkan kesehatan dan kesempatan untuk selalu dijalan Allah …

    makasi mas linknya hehehe…. dah lama ga ngbrol” kita 🙂

    1. Makasih juga Dik untuk kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.
      Yup, benar sekali, sudah waktunya bagi kita untuk kembali ke fitrah penciptaan kita, yaitu menyeimbangkan antara keperluan Hablumminannas dengan urusan Hablumminallah. Agar tidak ada penyesalan di usia senja, terlebih ketika ajal datang menjemput ruh di akhir kesempatan.
      NB: Ya tar kalau ada waktu kita ngobrol2 lagi, atw skalian ngerayap ja. hehe…

    1. Ya terserah Dika kpn sih mas manut aja, kalu mas sih pengennya minggu ini, tp ya tergantung Dika bisa apa ga, apalagi Ayu masih sakit kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s