Nasib Buta Aksara di Kota Pendidikan

Posted on Updated on

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap manusia. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menuntut ilmu, karena sejatinya ilmu dapat diraih tidak hanya sebatas di bangku sekolah. Memang ilmu akan lebih mudah di dapatkan di bangku sekolah formal, namun bila kondisi tidak memungkinkan maka ilmu tetap saja bisa didapatkan dimana saja, asalkan ada niat dan kemajuan antara yang belajar atau yang mengajarkan. Antara pihak yang terkait dengan orang yang menjadi tanggungjawab mereka.

Saudaraku sekalian, Rasulullah SAW sangat memperhatikan tentang pendidikan umatnya dalam hal ilmu pengetahuan. Karena selain perhatian pada bidang akhlak, ekonomi dan administrasi pemerintahan, maka perhatian dalam bidang pendidikan juga tidak kalah pentingnya bagi Rasulullah SAW. Ini terlihat tidak lama setelah beliau menetap di kota Madinah. Beliau bersabda bahwa;
“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap orang, laki-laki dan perempuan” (Shahih Al-Bukhari).

Dan perintah ini sebenarnya telah mengacu pada firman Allah SWT di dalam Al-Qur`an seperti di surat Al-`Alaq ayat 1-4 berikut:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam”

Sebenarnya sejak wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW di gua Hira ini, maka Allah SWT telah mengingatkan kepada hamba-Nya akan pentingnya sebuah pendidikan. Dengan kata “Iqra`” (bacalah) saja maka sejatinya Allah SWT telah memerintahkan kepada setiap hamba-Nya untuk bisa memiliki kemampuan/keahlian dalam ilmu pengetahuan.

Sehingga bagaimana bisa seseorang dapat memahami dari satu kejadian/perihal secara lebih mendalam bila ia sendiri tidak memiliki kemampuan (ilmu) untuk dapat mengerti duduk permasalahannya (dalam hal ini khususnya firman/aturan dari Allah SWT). Padahal pengetahuan yang mendalam akan sesuatu hal adalah pokok bagi tindakan yang bisa seseorang kerjakan. Dan seseorang tidak akan menjalankan sesuatu yang benar bila ia sendiri tidak mengetahui apa sebenarnya kebenaran itu.

Selain dari itu, bahkan dalam usaha untuk dapat mencerdaskan kehidupan umatnya, maka beliau tidak pernah membuang kesempatan karena menyadari akan pentingnya arti sebuah pendidikan. Langkah ini terlihat ketika perang Badar usai dan terdapat beberapa orang tawanan perang dari kaum Quraisy yang bisa membaca dan menulis huruf arab. Maka bagi mereka (tawanan) diberikanlah sebuah kebijakan yaitu satu kebebasan asalkan dengan syarat bahwa mereka mau mengajarkan cara menulis dan membaca kepada kaum muslimin di kota Madinah.

Pada saat itu terdapatlah 70 orang tawanan dan oleh Rasulullah SAW  bagi setiap orangnya diperintahkan untuk mengajarkan minimal 10 orang muslim dari kalangan anak-anak dan orang dewasa di Madinah. Sehingga dari kebijakan itu maka terdapatlah 700 orang muslim Madinah yang bisa membaca dan menulis. Dan angka ini dikemudian hari kian bertambah seiring dengan semakin berkembangnya pola pendidikan serta prasarana yang dimiliki. Sehingga pada akhirnya banyaklah dari masyarakat Madinah (muslimi dan non muslim) yang terlepas dari belenggu buta huruf.

Selain itu, sarana dan prasarana pendidikan untuk umatnya secara perlahan telah dibangun oleh Baginda Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Contohnya:

1. Dar al-Arqam
Ini adalah rumah dari Arqam bin Abi al-Arqam di Al-Safa (Makkah) yang pernah dijadikan tempat pendidikan awal Islam (tempat menyampaikan wahyu dan mengajarkan untuk dihafalkan) bagi para sahabat oleh Baginda Rasulullah SAW.

2. Al-Masjidil
Masjid selain dijadikan tempat ibadah, maka di zaman Rasulullah SAW juga digunakan sebagai tempat untuk penyebaran dakwah dan ilmu Islam, tempat menyelesaikan perkara dan sengketa diantara warganya, tempat menerima para duta besar dan pemimpin negara, tempat pertemuan, tempat bersidang dan madrasah (sekolah) bagi mereka yang hendak menuntut ilmu Islam.

3. Kuttab
Ini adalah bangunan tempat belajar dan mengajar layaknya sekolah pada masa sekarang. Tempat inilah yang pernah digunakan saat para tawanan perang Badar mengajarkan masyarakat Madinah untuk bisa  membaca dan menulis huruf arab sebagai syarat pembebasan mereka.

4. Al-Suffah
Ini merupakan ruangan yang tersambung dengan masjid Nabawi dan digunakan untuk tempat belajar dan mengajar juga berfungsi sebagai asrama bagi pelajar yang belum memiliki tempat tinggal.

Bahkan perkembangan pendidikan ini di masa kekhalifahan menjadi semakin jauh berkembang, seperti dengan didirikannya berbagai macam perpustakaan dan tempat pendidikan;

  1. Perpustakaan umum (didirikan untuk orang banyak).
  2. Perpustakaan tidak umum (untuk kalangan terbatas di komplek istana).
  3. Perpustakaan khusus (merupakan perpustakaan pribadi milik ulama atau ilmuwan, namun terkadang tetap bisa di pakai oleh orang lain).
  4. Madrasah dan universitas mulai didirikan (terpisah dari masjid).

Namun, sungguh ironis dimana bangsa Indonesia hingga saat ini belum juga bisa  memberantas buta aksara, padahal negeri ini begitu kaya. Lihat saja, masih banyak warga masyarakatnya yang tidak bisa walau sekedar membaca dan menulis. Bahkan yang sempat membuat ”kaget” penulis dimana Yogyakarta merupakan salah satu propinsi yang tingkat buta aksaranya tertinggi di Indonesia. Apa yang terjadi dengan semua ini? Padahal sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa Yogyakarta adalah kota yang memiliki julukan sebagai kota pendidikan alias tempat orang-orang menuntut ilmu.

Yogyakarta memang bukan merupakan kantong buta aksara, walaupun merupakan salah satu dari sepuluh provinsi yang memiliki tingkat buta aksara yang tinggi. Menurut data Biro Pusat Statistik jumlah penduduk buta aksara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2005 sebanyak 340.661 jiwa (13,28% dari penduduk kelompok umur 15 tahun ke atas) dan menurun pada tahun 2006 sebanyak 270.174 jiwa (15,57%). Sedangkan pada awal tahun 2008 jumlah penduduk buta aksara di atas usia 15 tahun sebanyak 75.301 orang atau 2,29% dari jumlah penduduk DIY.

Di Yogyakarta, khususnya Kabupaten Sleman memang memiliki kecenderungan penurunan tingkat buta aksaranya. Pada tahun 2008 tingkat buta aksara di Kabupaten Sleman menurun menjadi hanya 1,00%. Namun ini tidak cukup baik bagi beberapa wilayah kecamatannya, lihat saja di Kecamatan Tempel misalnya, di daerah ini masih banyak warganya yang tidak bisa membaca dan menulis, terutama kalangan orang tua dan lanjut usia. Padahal, meskipun kondisi geografinya berbukit namun wilayah mereka tidak jauh dari pusat kabupaten dan tempat-tempat pendidikan (sekolah, universitas). Memang tidak bisa dipungkiri alasan klasik ekonomi tetap menghantui mereka sebagai penyebab tidak bisanya mengeyam pendidikan, namun bukankah kita sekarang sudah masuk dalam dunia yang jauh lebih baik dari zaman penjajahan? Lantas mengapa masih saja perhatian terhadap ilmu dan pendidikan ini masih sangat kurang, padahal salah satu tujuan yang termaktub di dalam UUD 45 adalah ”Mencerdaskan kehidupan bangsa”?

Di kecamatan Tempel ini, Alhamdulillah masih ada dua orang guru yang mau mengabdikan dirinya sebagai sukarelawan pendidikan. Mereka hingga kini masih tetap berjuang sendiri demi mencerdaskan kehidupan warganya. Tanpa mengenal lelah dan putus asa mereka terus mengajarkan apa saja yang bisa mereka ajarkan, terutama membaca, menulis dan menghitung yang benar. Semua yang dilakukan hanya dengan satu tujuan yaitu membuat orang lain disekitar mereka menjadi tidak bodoh atau paling tidak bisa membaca dan menulis.

Cara mengajar yang dilakukan pun tidak harus dibangku sekolah formal, melainkan dengan sistem menjemput bola alias mendatangi para murid di tempat mereka bekerja dan tinggal. Contohnya, di pinggiran kali Brantas tempat mereka bekerja atau ditempat pembuangan sampah dimana mereka mengais rejeki, dan lain-lain sebagainya.

Perjuangan yang mesti dilakukan tidaklah mudah, seperti yang sering dialami oleh seorang tenaga sukarelawan – sebut saja Rukmini – seusai mengajar di sekolah dasar dimana ia menjadi guru tetap, ia akan segera menuju tampat murid-muridnya berada. Namun disini kendalanya, ia harus menempuh medan jalan yang berbukit dan karena kendaraan yang dimiliki adalah sebuah motor tua maka terkadang ia pun harus berkilo meter dalam mendorong motornya karena busi yang mati terkena air, atau tidak kuat dalam mendaki.

Sungguh perbuatan yang mulia dan patut diacungi jempol bahkan dijadikan sebagai motivasi bagi kita bersama, bahwasannya berdakwah itu tidaklah cukup hanya dilakukan di masjid-masjid atau tempat-tempat majelis taklim, karena seperti yang para sukarelawan pendidikan telah lakukan diatas juga merupakan dakwah, yaitu memerangi kebodohan. Mereka adalah para da`i yang sesungguhnya, sebab yang dilakukannya adalah demi satu kebaikan dan langsung bisa dirasakan manfaatnya bagi orang lain. Semua dilakukan hanya demi kebaikan orang lain, tanpa adanya riya` (mengharapkan pujian), sebab hanya bertujuan bagi kebaikan mereka bersama.

Teruslah berjuang saudaraku tercinta hai sukarelawan pendidikan. Engkau akan mendapatkan tempat dan hikmah yang layak disisi-Nya. Do`aku selalu menyertaimu.

Yogyakarta, 30 Juni 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Sebagian tulisan ini disadur dari buku; Kajian Hati, Isyarat Tuhan, karya; Mashudi Antoro]

One thought on “Nasib Buta Aksara di Kota Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s