Surga dalam Keluarga

Posted on Updated on

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim [66] ayat 6)

Keluarga adalah sesuatu yang sangat istimewa, yang harus kita jaga dengan baik. Rasakanlah kenikmatan itu sebelum merasa kehilangan. Karena menjadi seorang suami adalah suatu kenikmatan. Menjadi seorang istri adalah kenikmatan. Menjadi seorang ayah adalah suatu kenikmatan. Menjadi seorang ibu adalah suatu kenikmatan. Menjadi seorang anak adalah suatu kenikmatan. Menjadi saudara, sepupu, kakek, nenek, ipar, besan juga sebuah kenikmatan tersendiri. Namun, sebagian orang ada yang telah merasakan kesenangan itu dan sebagian besarnya lagi tetap tidak dapat merasakannya kecuali bila telah kehilangan.

Bersyukurlah atas segala kenikmatan keluargamu sebelum Anda merasakan kehilangan mereka. Karena kenikmatan itu bisa saja menghilang saat beberapa persoalan yang terjadi di dalam rumah tangga kita. Ketika terjadi perceraian antara suami dan istri yang kadang ditimbulkan oleh keputusan yang mendadak atau hanya karena persoalan yang sepele. Anak yang lari dari rumah karena merasa kurang diperhatikan oleh kedua orangtuanya, sehingga mencari pelarian yang keliru. Atau kehilangan yang timbul akibat mereka yang di cintai telah meninggal dunia.

Saudaraku sekalian, tanyakanlah kepada mereka yang telah kehilangan tentang arti mencintai keluarga. Lihatlah seorang ayah yang telah kehilangan anaknya. Lihatlah para ibu yang juga telah kehilangan anak kesayangannya. Lihat juga seorang anak yang telah kehilangan orangtuanya. Dan saudara yang juga telah kehilangan saudaranya. Tanyakan kepadanya, seandainya waktu itu bisa di putar kembali, apa yang akan mereka lakukan?

Dari jawaban mereka, maka kita akan mendapatkan sebuah penyesalan, dimana seorang istri akan berkata; “Saya menyesal telah berkhianat kepada suami karena telah berhubungan dan berbicara mesra dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuannya, baik melalui ruang chatting, Facebook, atau telepon”. Padahal istri yang baik adalah ia yang cerdas, mencintai suami dengan tulus dan selalu memikat hati suaminya serta memintanya untuk selalu menjadi imamnya dalam amal dan ibadah.

Di kesempatan lain kita juga akan mendapatkan penyesalan dari seorang suami yang merasa telah mengabaikan istri dan anak-anaknya karena terlalu “gandrung” dengan pekerjaannya, sehingga ia pun lupa tentang pentingnya memberikan perhatian dan kasihsayang. Dia hanya menganggap bahwa dengan memenuhi kebutuhan materi, maka terpenuhilah semua kebutuhan hidup. Padahal tidaklah demikian adanya, sebab dengan sedikit meluangkan waktu untuk bercanda, nonton tivi bareng, atau liburan, maka dapat menjaga kebersamaan dan meningkatkan rasa cinta dalam keluarga.

Kita juga akan melihat fenomena bahwa seorang anak telah menyesal karena menganggap teman-temannya lebih berharga daripada kedua orangtuanya sendiri. Sehingga sekat-sekat ruang kamar di dalam rumah semakin kentara sebagai tempat pengasingan dan memisahkan hubungan kekeluargaan. Dan ia baru tersadar ketika orangtuanya telah meninggal dunia dan ia pun harus menjadi yatim piatu.

Fenomena-fenomena diatas adalah sedikit gambaran akan kenyataan yang ada di dalam keluarga kita sekarang, khususnya umat Islam. Saat ini, satu persatu keluarga mulai tergelincir. Pondasi-pondasi rumah tangga yang senantiasa menjaga stabilitas agama dan negara banyak yang telah runtuh. Akibatnya seringlah terjadi kerusuhan dan pertengkaran. Dalam lingkup masyarakat umum ataupun pendidikan. Dan semua itu bermula dari sikap tiap-tiap individu yang lebih mementingkan egoisme dari pada rasa cinta dan kasih sayang. Lebih mementingkan kesenangan sesaat ketimbang kebahagiaan keluarga yang dirahmati.

“…..Akankah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?….” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 61)

Untuk itu, marilah kita memperbaiki problematika ini. Mari dari sekarang kita jaga keutuhan keluarga kita, karena bila dalam rumah tangga saja kita telah hancur, maka rusaklah masa depan bangsa dan umat ini. Lihatlah ke dalam keluarga kita, rumah kita sendiri dari sekarang, apakah kita sudah beribadah kepada Allah SWT dengan sesungguhnya? Bersaksilah bahwa Anda akan menjaga keutuhan keluarga hanya karena Allah SWT, meskipun di dalam hati ada perasaan untuk berkhianat dan lari dari tanggung jawab. Yakinkan pada diri Anda bahwa telah menjaga keutuhan agama dan umat bila telah berhasil menjaga keutuhan keluargamu. Mulailah berniat untuk senantiasa menjaga keutuhan keluarga seperti dengan mengajarkan kepada anak untuk terus mencintai ibu mereka. Sebab ibu adalah orang terdekat yang bisa mengeluarkan mereka dari kehidupan yang tidak baik. Jadilah seorang suami yang tidak keras dalam mempertahankan pendapat (sampai pada batas tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada anggota keluarga untuk sekedar mengemukakan pendapat atau saran), sehingga mengabaikan sikap demokratis. Sebab suami yang baik itu adalah orang yang ketika memimpin keluarganya, maka menggunakan pola-pola musyawarah dalam menghadapi suatu persoalan. Bahkan kepada anak-anaknya meskipun masih kecil. Sebab bila kesewenang-wenangan terjadi, maka akan hilanglah kasih sayang dan kewibawaan. Sehingga kegundahan dan musibah pun akan datang mendera keluarga.

Jadilah seorang istri yang patuh kepada suami dan menjadi pengingat bila ia melakukan penyimpangan atau kelalaian. Hadirlah selalu disisinya saat keadaan sedang susah atau dalam masa-masa kebagiaan. Karena dengan begitu menjadi kuat dan sukseslah dia.

Tetaplah menghormati kedua orang tua dengan cara selalu mencium tangannya, meminta ridha dan restu mereka meskipun Anda sudah dewasa dan berkeluarga. Jadilah anak yang senang dalam menggandeng tangan mereka saat memiliki kesempatan berjalan-jalan, karena itu akan meningkatkan kepercayaan dan kasihsayang kalian berdua. Atau anggaplah kakek dan nenek masih sebagai anggota keluarga yang paling tua, sehingga hubungan silaturahmi kalian akan tetap terjaga.

Rasulullah SAW bersabda;
“Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku diantaramu” (HR. Tirmidzi no. 3830 dan Ibnu Majah no. 1967)

Memperhatikan hadits diatas, maka kewajiban dalam mencintai keluarga secara benar menjadi sangat penting. Karena tanpa adanya kebahagiaan dalam keluarga, maka seseorang akan sulit mencapai kesuksesan. Tapi ingat kebahagiaan dalam keluarga ini bukan berarti seseorang dalam hidupnya selalu terpenuhi dengan fasilitas dan uang yang cukup, melainkan tingkat perhatian, kasih sayang, motivasi dan kerjasama yang ada di dalam keluarganya. Kita bisa melihat banyak orang sukses yang dapat meraih keberhasilan hanya dengan bapak yang seorang tukang becak atau petani di desa. Mereka tetap bisa sukses meski dengan hidup yang pas-pasan, karena ada kekuatan yang lebih besar dari uang, yaitu cinta dan do`a keluarga. Sehingga sukses dan berhasilnya seseorang itu hanya bisa diukur dari seberapa baik ia mencintai keluarga dan dicintai oleh keluarganya.

Jadi saudaraku tercinta, jadilah sosok yang sangat berpengaruh di dalam keluarga. Jadilah anggota yang saling mendukung satu sama lainnya. Jadilah pribadi yang sangat mencintai keluarga. Karena dengan demikian, maka kita akan mudah mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya melebihi yang lainnya. Dan jalan untuk menuju Surga yang di janjikan akan jelas terlihat di depan kehidupan kita.

Semoga kita senantiasa menjadikan keluarga sebagai rahmat dan karunia yang sangat berpengaruh bagi diri pribadi. Tanpanya kita tidak akan berarti apa-apa. Sehingga kesejahteraan dan kebahagiaan akan menjadi miliki kita. Amin

Yogyakarta, 26 Mei 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Tulisan ini adalah cuplikan dari buku: Cinta Dua Kalimat Syahadat, karya; Mashudi Antoro]

2 thoughts on “Surga dalam Keluarga

    sasaklebung said:
    Mei 27, 2010 pukul 5:09 am

    Kita tidak akan pernah tau seberap besar arti dari
    apa yang kita miliki sekarang sebelum kita
    kehilangannya.

      oedi responded:
      Mei 27, 2010 pukul 5:14 am

      Yup… benar sekali yang Anda katakan, semoga kita tidak menjadi orang yang menyesal setelah sesuatu yang berharga hilang dan tak kembali….
      Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya di tulisan ini…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s