Gadis Shalehah itu bernama Rieka Berdiyev (Kenangan yang tak lekang oleh waktu)

Posted on Updated on

Saat itu, dengan bersandar di salah satu sudut luar dari masjid kampus UGM, saya tengah asyik duduk bersantai dan sedikit menghilangkan rasa penat setelah seharian beraktifitas. Tak lama berselang waktu hadir seorang wanita yang mengenakan jilbab lengkap dengan pakaian Muslimah yang sangat rapih. Matanya biru (blue ayes), hidungnya mancung dan berkulit putih bersih. Pembawaannya pun pemalu dan tampak seperti seorang yang sangat mengerti tentang etika Islam bagi kaum wanita. Ketika semakin mendekat saya kira dia seorang wanita Bosnia. Rieka, ia biasa memanggil dirinya terhadap teman atau orang yang dikenalinya. Dan saat itu ternyata bersama temannya ia hendak menunaikan shalat Ashar.

Waktu terus beranjak, saya pun terus asyik dengan diam yang tenang sambil membaca buku dan menikmati ademnya suasana di masjid kampus UGM itu. Namun, seketika saya merasa tidak percaya tentang apa yang telah terjadi, wanita yang tadi diperhatikan lalu bersama temannya sesama bule datang menghampiri. Ternyata mereka cukup lancar berbahasa Indonesia, sehingga komunikasi kami pun menjadi semakin lancar. Saat itu ternyata mereka bertanya kepada saya tentang dimanakah letak kampus Pasca Sarjana Ekonomi, atau orang Jogja biasa menyebutnya dengan MM UGM. Selain itu mereka juga bertanya tentang Universitas yang berbasis Islam di Jogjakarta.

Di awali dengan perkenalan, saya pun memberikan penjelasan tentang letak dan bagaimana menuju kesana bila tidak memiliki kendaraan sendiri. Setelah itu ternyata kami pun larut dalam banyak pembicaraan yang sebelumnya tidak diduga sama sekali. Rieka ini ternyata bernama lengkap Rieka Berdiyev. Ia berasal dari Rusia namun sebelum ke Indonesia telah pindah ke Chechnya. Ia pun belum lama memeluk Islam. Baru sekitar 8 bulan ini ia menjalani aktivitas hidup sebagai seorang Muslimah. Itu bisa terjadi setelah perkenalannya dengan seorang pemuda yang sederhana, sopan dan menunjukkan ‘respek’ yang sangat baik kepadanya. Saat itu ia masih di bangku kuliah tingkat akhir.

Rieka tidak menunjukkan seorang yang baru memeluk agama Islam, karena ucapan seperti; “Alhamdulillah”, “Subhanallah” dan “InsyaAllah” sangat lancar dan fasih dari bibirnya. Kemudian dengan mata yang berkaca-kaca Rieka pun menceritakan proses ia mengenal dan kemudian memeluk agama Islam. Dengan mengatakan “I was really trapped by jaahiliyah (kejahilan)” ia pun mengenang masa lalunya sebagai seorang gadis Rusia yang bebas. Pergaulan yang menurutnya bisa ada oleh sebab pemahaman tentang kebebasan yang dangkal dan tanpa batas. Namun terus terang ia menyakinkan bahwa ia tidak pernah melakukan perbuatan zina (hubungan intim diluar nikah).

Di Rusia, meskipun kini komunitas Muslimnya boleh berbangga karena mereka tercatat sebagai komunitas Muslim terbesar di Eropa dengan jumlah mencakup sekitar 15-20% populasi penduduk dan terus bertambah dari waktu ke waktu. Bahkan bisa dikatakan pula bahwa 60 persen pemeluk baru Islam adalah etnis Rusia yang sebelumnya tidak beragama (Ateis). Namun tempat dimana dulu ia pernah tinggal tetap saja sangat sulit mengakses kehidupan Islam. Sedangkan ketika ia tinggal di Chechnya, Rieka mendapati banyak hal yang berbeda dan terus terang sangat menarik perhatiannya. Sangat berbeda dengan lingkungannya dulu di Rusia, karena di Chechnya ia bahkan bisa bersentuhan langsung dengan kehidupan Islam yang bila di tempat asalnya Rusia terkadang sulit untuk diketahui.

Perkenalan lebih dalamnya mengenai Islam tidaklah lepas dari pemuda yang menjadi teman sebangku kuliahnya itu. Meskipun mereka tidak satu jurusan, namun perkenalan itu secara tidak disengaja terjadi berulang kali di perpustakaan kampus. Pertemuan pun sempat terjadi tiga kali, dan saat ketiga kalinya itu pula ia pun lantas berinisiatif untuk bertanya tentang siapa nama dan tinggal dimana sang pemuda?

Sang pemuda pun menjawab; nama saya Mahardika Putra Riandi, tinggal di kota Grozny dan sebenarnya berasal dari Indonesia. Rieka semakin bingung, sebab nama seperti ini belum pernah didengarnya, meski jika negara Indonesia memang ia mengetahuinya dari internet. Untuk menjawab rasa penasarannya, maka langsung saja ia bertanya lebih jauh dan sejak itu pula bila bertemu lagi disempatkannya untuk bisa bertanya lebih jauh tentang Indonesia, Islam dan lain-lainnya.

Perkenalannya dengan pemuda itu ternyata semakin dekat, dan pemuda itu juga semakin baik kepadanya dengan membawakan beberapa buku-buku kecil (booklets) tentang Indonesia dan kehidupan Islam disana. Rieka mengaku, bahwa pemuda itu juga banyak memberinya pemahaman yang dalam tentang kehidupan kaum wanita sesuai dengan ajaran Islam, dan membuatnya kian tertarik dengan agama ini. Dan hanya dalam waktu sekitar dua bulan ia mempelajari Islam, termasuk berdiskusi dengan Mahardika. Rieka merasa bahwa inilah agama yang akan menyelamatkannya. Inilah ajaran aqidah yang sejatinya ia cari-cari selama ini.

Kemudian suatu ketika Mahardika bersama saudara sepupunya Ani mengajak Rieka untuk berkunjung ke masjid Akhmad Kadyrov di kota Grozny untuk mengenal Islam lebih dekat. Masjid Akhmad Kadyrov adalah masjid yang terbesar di Chechnya karena mampu menampung lebih dari 10.000 jamaah, kemudian dilengkapi dengan menara-menara setinggi 180 kaki yang menjulang ke langit. Dengan biaya pembangunan sekitar 20 juta dollar, maka di masjid ini juga terdapat kantor administrasi urusan agama Islam Chechnya, sekolah agama, universitas Islam, hotel serta perpustakaan Islami. Sehingga sangat layak bila di bilang sebagai masjid yang sangat luar biasa dan terbesar di Eropa.

Gambar 1. Foto: Masjid Akhmad Kadyrov tampak di siang hari

Gambar 2. Foto: Masjid Akhmad Kadyrov tampak di malam hari

Rieka pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, bahkan moment semacam ini yang sangat ia tunggu-tunggu.  Dan terang saja sejak berkunjung ke masjid Akhmad Kadyrov, maka sejak saat itu pula ia semakin berkeinginan untuk menjadikan Islam sebagai agama panutannya hingga akhir hayat. Rieka berkata; “Saya sendiri terus belajar ilmu-ilmu dasar mengenai Islam dan tentang sikap seorang perempuan dari Sister Ani, kemudian belajar shalat dan hukum-hukum di dalam Islam itu, yang pada akhirnya di beberapa waktu kemudian saya mengatakan kepada Mahardika dan Ani untuk memeluk Islam. Dan Alhamdulillah saya juga bisa turut mengIslamkan keluarga saya dikemudian hari, meski dengan perjuangan”

Pernah satu saat ia bersitegang dengan orang tuanya mengenai Islam ini. Mereka berdebat tentang ajaran agama Islam dengan keras. Menurut orang tuanya, agama Islam merupakan sebuah agama yang tidak baik, karena membolehkan seorang suami memukul istrinya sendiri. Bagaimana bisa, bila kekerasan menjadi salah satu yang dibolehkan oleh sebuah agama yang mengaku adalah rahmat bagi sekalian alam?

Mendapatkan sangkalan dari kedua orangtuanya itu, Rieka pun berusaha menjelaskan. Dengan perlahan dan sangat hati-hati ia mencoba memberikan penjelasan yang lebih luas dan merupakan hakekat sebenarnya dari pembolehan dalam pemukulan itu. Rieka mengawali dengan membacakan salah satu firman Allah SWT di dalam Al-Qur`an surat An-Nisa [4] ayat 34, yang artinya; ”……. sebab itu, maka wanita yang sholeh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukulah mereka. Kemudian jika mereka menaati, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”

Ia pun terus menjelaskan tentang aturan tersebut; “Jadi seorang suami boleh memukul istrinya jika ada indikasi istrinya tersebut telah nusyuz. Nusyuz adalah tindakan atau perilaku seorang istri yang tidak bersahabat pada suami. Dalam Islam, suami-istri ibarat satu jasad dan jasadnya adalah rumah tangga. Keduanya harus saling menjaga, saling mengingatkan, saling menghormati, saling mencintai, saling menyayangi, saling mengasihi, saling memuliakan dan saling menjaga. Istri yang nusyuz adalah istri yang tidak lagi menghormati, mencintai, menjaga dan memuliakan suaminya. Istri yang sudah tidak lagi komitmen pada ikatan suci pernikahan. Misalnya, istri yang selingkuh dengan pria lain”

“Jika seorang suami telah melihat gejala nusyuz dari istrinya, maka Al-Qur`an memberikan tuntunan bagaimana mengambil sikap sehingga dapat mengembalikan istrinya ke jalan yang benar. Tuntunan itu terdapat dalam surat An-Nisa ayat 34 seperti yang telah disebutkan diatas. Di situ Al-Qur`an memberikan tuntunan melalui tiga tahapan, yaitu:

Pertama, menasehati istri dengan baik-baik, dengan kata-kata yang bijaksana, kata-kata yang menyentuh hati. Dan tidak diperkenankan untuk mencela dengan kata-kata kasar. Baginda Rasulullah SAW sendiri melarang hal itu karena kata-kata yang kasar lebih menyakitkan daripada tusukan pedang. Kedua, jika cara pertama tidak mempan kemudian coba dengan cara pisah tempat tidur. Sikap ini bertujuan agar sang istri bisa merasa dan instropeksi diri. Dengan teguran seperti ini diharapkan istri bisa kembali sholeh. Karena istri yang benar-benar mencintai suaminya akan sangat terasa jika sang suami tidak mau tidur dengannya. Ketiga, namun jika ternyata si istri memang bebal, naruninya telah tertutupi oleh hawa nafsunya dan tidak mau juga berubah setelah kedua peringatan sebelumnya, maka barulah cara ketiga digunakan, yaitu memukul. Nah, yang sering tidak dipahami oleh orang banyak adalah bagaimana ’prosedur’ pemukulan yang dikehendaki oleh Al-Qur`an itu. Suami boleh memukul dengan syarat: 1) Telah menggunakan kedua cara sebelumnya; 2) tidak boleh memukul muka; 3) tidak boleh menyakitkan (tidak sampai membekaskan luka).

Lebih jauh lagi Rieka memberikan penjelasan; “Jadi dalam Islam seorang suami tidak diperkenankan memukul dengan sesuka hatinya. Sang suami harus mengikuti ketentuan yang telah dituntunkan di dalam ajaran Islam, karena jika tidak bukan penyelesaian yang didapatkan tetapi semakin banyaknya masalah yang akan mendera kehidupan rumah tangganya. Rasulullah SAW sendiri juga pernah memberikan teladan dengan bersabda ”la tadhribuu imaalah” yang artinya ”jangan kalian pukul kaum perempuan”. Dan dalam hadits lainnya beliau menjelaskan ”bahwa sebaik-baik lelaki atau suami adalah yang berbuat baik pada istrinya”

Kata Rieka; “Mendapati semua penjelasan itu, maka kedua orangtua saya tidak bisa lagi berkilah. Mereka bahkan dengan sadar langsung mengatakan bahwa ajaran Islam adalah yang terbaik dari semuanya. Mereka kemudian bertanya lebih banyak kepada saya tentang Islam ini. Dan memang benar bahwa hidayah dan pertolongan Allah itu akan datang kepada siapa saja yang memang telah berusaha dan bercita-cita untuk mewujudkannya. Begitu pula yang saya rasakan, bahwa keluarga saya akhirnya memilih dengan kesadaran sendiri untuk berhijrah ke dalam Islam”

Sungguh pengalaman dan perjuangan yang menarik dan mengharukan saya ketika itu meluncur dari bibir tipis Rieka. Saya sangat terkesan dengan sikap dan tindakan yang telah diambil olehnya. Bahkan selama mendengarkan cerita dari Rieka itu, saya pun hampir tidak yakin kalau Rieka adalah seorang yang baru masuk Islam, karena ternyata ia  memiliki pemahaman agama yang dalam. Itu terlihat dengan apa yang ia sampaikan mengenai aturan pemukulan terhadap kaum perempuan (istri) telah sama dengan apa yang pernah saya tulis di sebuah lembar Jum`at di kampus UII dulu. Rieka pun telah benar menjalankan hidup dan kehidupannya sesuai dengan apa yang telah dituntunkan oleh Islam.

“Rieka, may Allah bless you and your family. Be strong, many challenges lay ahead in front of you.  Doaku selalu menyertaimu, semoga selalu di kuatkan dan di mudahkan urusannya!”

Hijrah ke Indonesia
Suatu hari, sebelum Rieka menghadapi ujian akhir kelulusannya (pendadaran), ia ditawari oleh pihak universitas untuk melakukan studi banding dan penelitian di Indonesia. Namun dengan syarat ia pun harus lulus terlebih dulu dengan nilai yang baik. Dan benar, ia pun lulus dengan predikat sangat memuaskan, sehingga terbukalah kesempatan untuk datang langsung ke Indonesia. Setelah semua kebutuhan dan perlengkapan yang diperlukan terpenuhi, berangkatlah Rieka dengan ditemani rekannya yaitu Mieska Gainutdin ke Indonesia, dengan tujuan utamanya adalah Yogyakarta.

Jadi dari sinilah awalnya kami bisa bertemu. Di Jogja, Rieka dan Mieska melakukan beberapa penelitian yang berkaitan dengan kehidupan agama Islam, budaya dan karakteristik masyarakat Islam Indonesia pada umumnya, khususnya di Jogja sebagai tempat tinggalnya sementara. Hasil dari riset ini akan menjadi studi banding bagi Chechnya yang notabene sebuah negara penganut Islam terbesar di Eropa.

Saat kami bertemu untuk pertama kalinya, Rieka juga sempat bertanya tentang apa saja universitas Islam yang ada di Yogyakarta. Sebagai contoh, saya pun sedikit  menjelaskan tentang Universitas Islam Indonesia (UII), UIN Sunan Kalijaga, Ahmad Dahlan, dan UMY. Dan karena saya ber-almamater UII sehingga bisa menjelaskan lebih banyak tentang universitas Islam tertua di Indonesia ini. Ia pun sangat tertarik untuk bisa berkunjung dan mengenal lebih dekat. Bahkan Rieka meminta bantuan saya untuk sudi mengantarkan mereka ke kampus UII, sehingga bisa mengamati secara langsung tentang universitas ini.

Sesuai waktu yang dijanjikan, kami pun menuju kampus terpadu UII yang berada di jalan Kaliurang Km. 14,5. Disana kami cukup lama mengamati tempat perkuliahan, sarana kampus, fasilitas keagamaan dan non keagamaan, bahkan kami pun sempat makan di kantin mahasiswa FTI. Saya pun sengaja mengajaknya untuk berjalan kaki agar lebih dekat dan puas mengamatinya. Dan karena itu pula, maka tak jarang Rieka bisa bertanya secara langsung kepada dosen atau mahasiswa sebagai bahan penelitiannya.

Saya juga sempat membantunya dalam melakukan riset di daerah pedesaan seperti; Gunung Kidul, kawasan lereng gunung Merapi, dan kabupaten Bantul. Disana Rieka meneliti tentang kebudayaan dan karakteristik masyarakatnya. Kemudian karena sikap Rieka yang santai dan ternyata hobi berpetualang, maka di waktu luang saya pun berkesempatan untuk memperkenalkan lebih jauh tentang Yogyakarta, seperti mengajaknya mengenal kawasan sentra industri batik, tenun dan kerajinan craft di  daerah Gamplong (Sumberhayu, Moyudan, Sleman), keunikan kawasan jalan Malioboro, keasrian Keraton Ngayojokarto Hadiningrat dan alun-alun utara, serta keindahan pantai Baron dan Sundak.

Saya menemani Rieka di Jogja cukup lama. Banyak waktu yang telah kami lalui dengan saling berbagi informasi dan ilmu. Namun karena waktu penelitian yang dibutuhkan telah berakhir dan hasil yang didapatkan sudah memenuhi kebutuhan, tibalah waktunya bagi kami untuk berpisah. Rieka tidak sempat memberikan alamat rumah, no telepon ataupun sekedar alamat emailnya, namun ia berjanji bahwa suatu saat nanti akan kembali ke Indonesia dan akan memberikan sebuah kejutan untuk saya.

Sampai ketemu lagi Rieka Berdiyev, semua kisah yang pernah kita lalui sungguh berkesan bagiku dan itu takkan pernah terlupakan. Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi dalam masa dan kondisi yang sangat kita rindukan. Amin

Yogyakarta, 29 April 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

4 thoughts on “Gadis Shalehah itu bernama Rieka Berdiyev (Kenangan yang tak lekang oleh waktu)

    Muhammad Arif said:
    Mei 12, 2010 pukul 11:46 am

    Subhanallah…kisah pertemuan yang mengesankan dan inspiratif, Mas!

    bertemu dengan saudari seiman memang terasa membanggakan. Mudah-mudahan kita dapat terus menggali keislaman lebih baik lagi.
    Saat ini paska terjadinya insiden 11 september, orang Eropa dan Amerika banyak yang telah menganut Islam. Dan yang tidak disangka-sangka, Russia sebagai negara komunis, diam-diam masyarakatnya tertarik untuk masuk Islam. Mungkin ini adalah pertanda dari kebangkitan umat. Alhamdulillah…semoga saja umat Islam dapat meraih kejayaannya kembali.

    postingan yang bagus Mas!
    wassalam

      oedi responded:
      Mei 17, 2010 pukul 11:50 am

      Alhamdulillah sudah berkenan untuk berkunjung di blog ini. terimakasih atas dukungan dan komentarnya….
      Saya menjadi senang bila saudara Arif senang dengan tulisan ini, semoga bermanfaat.
      Ya, bertemu dengan saudara yang seiman entah dari mana ia berasal dan dari ras mana tetap sesuatu yang berkesan dan sulit untuk dicari tandingannya, coba bayangkan bagaimana nanti ketika kita bisa bertemu di Syurganya Allah SWT di akherat? tentunya akan jauh lebih indah dan nikmat terasa.
      Mari mulai dari sekarang kita tunjukkan pada dunia bahwa Islam adalah memang ajaran yang Rahmatan lil `alamin, karena yakinlah bahwa suatu saat nanti Islam akan kembali bangkit dan umat akan jauh lebih baik dan sejahtera dari sebelumnya.
      Salam…

    andika said:
    November 15, 2010 pukul 6:29 am

    asyik… ternyata mas mendapatkan pengalaman yg sangan berkesan 🙂
    napa baru cerita sekarang ya hehehehe..

    suatu saat mas akan memilih 😛

      oedi responded:
      November 16, 2010 pukul 4:41 pm

      Makasih Dik masih tetap sering berkunjung di blog ini… semoga tetap memberikan manfaat.
      Hehe… maaf ya kalu baru cerita sekarang…
      Iya po harus memilih? ya semoga saja bisa memilih dan mendapatkan yg memang sudah dipilihkan langit sebagai yang terbaik…. amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s