Earth (Bumi): Ibu kita yang sedang sakit

Earth (Bumi) yang kita tinggali sekarang tengah sangat tua (3,8 miliar tahun) dan mulai sakit-sakitan. Beberapa bukti dan catatan ilmiah telah menjelaskan itu, sehingga secara ringkas umur elemen kimia dapat diperkirakan berdasarkan uji radio aktif terhadap atom. Dan umum­nya dapat ditentukan dengan menggunakan uji contoh batu­batuan, yaitu dengan mengukur perubahan elemen berat seperti Rubidium Rb-87. Bila uji Rubidium ini diterapkan atas batuan yang tertua di bumi akan didapatkan bahwa batuan tertua ber­umur 3,8 miliar tahun. Jika diterapkan atas batuan tertua dari meteor akan didapatkan angka 4,56 miliar tahun. Kesimpulan ini membuktikan bahwa tata surya kita berumur sekitar 4,6 miliar tahun, dengan tingkat kesalahan 100 juta tahun. Sedikit berbeda, bila metode ini digunakan untuk mengukur gas di alam semesta maka akan menyebabkan tingkat variasi yang lebih lebar. Ilmuwan cukup puas mengetahui umur alam se­mesta sejak “Dentuman Besar” dengan perhitungan elemen kimia yaitu antara 11-18 miliar tahun.

Jadi Bumi kita telah berumur sekitar 3,8 miliar tahun. Sangat tua bagi tempat yang selamanya menjadi kediaman anak manusia. Sehingga sudah sewajarnya saat ini ia pun mulai sakit-sakitan dan menimbulkan banyak dampak yang kurang baik bagi kehidupan makhluk di atasnya. Dan sudah seharusnya bagi kita untuk menjaga dan merawat dengan baik agar umurnya lebih panjang dan menjadi ramah terhadap kita.

Namun, sungguh sangat disayangkan betapa banyak diantara kita yang seakan-akan tidak mempedulikan tentang hal ini. Kita bahkan semakin memperparah penyakit yang sedang dirasakan oleh ibu pertiwi ini dengan terus merusak hutan, laut, sungai, danau, tanah, dan udara dengan polusi yang menggila setiap tahunnya. Akibatnya inti bumi kian memanas yang kemudian membawa pada pola-pola cuaca yang tak dapat diperkirakan dan meningkatkan aktifitas gunung-gunung berapi serta seismik. Gempa-gempa pun sering terjadi dengan Skala Richter yang lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa dekade sebelumnya. Daerah pegunungan terancam bahaya lahar. Panas dari inti bumi juga dikeluarkan melalui selimut bumi dan pada akhirnya mencapai lapisan bumi dimana dasar laut pun ikut menghangat. Laut-laut yang menghangat akan membuat perubahan pada arus-arus laut, curah hujan dan pola-pola meteorologis lainnya menjadi tidak teratur. Bahkan lapisan es di kutub pun kian menipis dan mulai terjadi pecahan serta mencair. Sehingga menambah kemungkinan buruk terhadap pola-pola cuaca yang sangat sulit diprediksikan nanti.

Sebagai contoh bukti kerusakan yang telah dilakukan oleh manusia kepada Bumi adalah; dalam setiap satu harinya terdapat tidak kurang dari 5 juta pohon yang ditebangi. Padahal pohon adalah sumber utama penghasil oksigen yang paling berguna bagi kehidupan makhluk hidup. Setiap satu pohon dalam satu harinya mampu menyerap sekitar 2 ton Carbondioksida dan mampu melepaskan 1 ton oksigen ke udara. Jadi bila kita membunuh satu pohon saja, maka ada sekitar 2 ton Carbondioksida yang terlepas ke udara. Dan jika dikalikan dengan 5 juta pohon yang telah di tebangi, maka akan menjadi 10 juta ton Carbondiaoksida yang akan terlepas bebas ke udara, sehingga dapat berakibat fatal bagi kelangsungan kehidupan di muka Bumi ini.

Gambar 1. Penebangan Hutan/kerusakan hutan

Itu baru dari jenis pohon, padahal penghasil oksigen bagi kehidupan di Bumi ini tidak bergantung dari itu saja. Bumi juga sangat mengandalkan kehidupan biota laut seperti terunggu karang, ganggang laut, dan rumput laut. Tetapi sekali lagi sungguh disayangkan, bila kita mengetahui kondisi yang sedang dialami oleh kehidupan bawah laut ini, maka setiap tahunnya telah terjadi peningkatan kerusakan hingga mencapai angka 15%. Ini tentunya semakin mempengaruhi kesehatan kehidupan Bumi dan siapa saja yang hidup diatasnya.

Gambar 2. Kerusakan bawah laut

Belum lagi akibat dari penggunaan energi secara boros dan budaya konsumtif yang berlebihan. Kita terus saja menguras sumber daya alam yang terkadang tidak begitu diperlukan. Menggunakan energi seperti listrik dan BBM dengan sangat boros dan tidak mengindahkan polusi yang terus saja meningkat. Membelanjakan uang untuk barang-barang yang tidak begitu dibutuhkan bagi aktifitas kehidupan (budaya konsumtif). Sehingga semakin menguras sumber daya alam yang ada, dan terus saja membludakan jumlah sampah-sampah yang berbahaya akibat dari penggunaan produk yang tidak ramah lingkungan.

Gambar 3. Budaya konsumtif

Berikut ini diberikan beberapa contoh kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh ulah manusia sendiri;

Gambar 4. Limbah Plastik

Gambar 5. Limbah Pabrik

Gambar 6. Polusi udara dari asap pabrik

Gambar 7. Polusi udara dari kendaraan bermotor

Gambar 8. Lokasi kerusakan lingkungan akibat penambangan PT.  Freeport di Timika, Papua

Gambar 9. Alat berat penambangan

Selain itu, dampak dari pengerusakan lingkungan ini kian lama dirasakan kian bertambah parah. Contohnya; sekarang semakin berkurangnya cadangan air tawar, meningkatnya pencemaran udara, air dan tanah, munculnya beberapa penyakit baru yang sulit disembuhkan, angka penderita cacat dan kematian yang terus saja meningkat, hingga kepunahan beberapa jenis species dan mamalia terus terjadi.

Sungguh, Bumi ini sudah tua renta dan membutuhkan peremajaan. Namun jangan sampai dia meremajakan dirinya sendiri. Karena itu akan berakibat bencana dan kepunahan dari sebagian ras manusia dan makhluk hidup lainnya. Jangan sampai karena kita dan oleh sebab tingkat kerusakan yang tidak bisa di tolelir lagi, maka Bumi semakin cepat memasuki zaman seperti zaman gunung raksasa meletus (74.000 SM) atau zaman es seperti di zaman Pleistocene (18.000 SM) hingga Holocene (10.000-6000 SM), dimana peradaban manusia hampir punah olehnya, dengan 1000-10.000 jiwa saja yang bisa bertahan hidup dan menjadi cikal bakal manusia sekarang.

Sadarlah wahai saudaraku, selagi masih diberikan kesempatan hidup yang nyaman ini maka janganlah kita menjadi mereka yang tidak pernah peduli dengan kondisi buruk yang hadir disekitar kita. Sangat dibutuhkan kebijaksanaan kita sebagai makhluk yang diciptakan sebagai khalifah (pemimpin) di muka Bumi ini untuk menciptakan rona kehidupan yang bersinergi dan ramah terhadap lingkungan. Janganlah kita menjadi manusia yang serakah dan tidak pernah mengindahkan keseimbangan alam ini. Perbaikilah kebiasaan buruk itu mulai dari sekarang karena akan berdampak pada kebaikan diri sendiri serta anak cucu kita nanti.

Semoga kita tetap menjadi hamba Tuhan yang senantiasa memperhatikan lingkungan ini dengan penuh kebijaksanaan, kebaikan dan kebenaran. Amin.

Yogyakarta, 25 April 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* cinta_rasul@yahoogroups.com
* Arifin Mufti dalam bukunya “Matematika Alam Semesta”, Kodifikasi bilangan prima dalam Al-Qur`an, 2004

Iklan

6 thoughts on “Earth (Bumi): Ibu kita yang sedang sakit

    1. Terimakasih untuk kunjungan dan dukungannya…
      Saya sudah berkunjung di Blog Anda dan berhubung tulisan-tulisannya menarik maka saya mohon izin untuk mentautkan blog Anda. Siapa tau kita bisa terus saling bertukar ilmu dan informasi.

    1. Salam kenal kembali.
      Saya juga mengucapkan terimakasih banyak, karena sudah mau berkunjung dan mendukung tulisan ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

    1. Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Okey, saya akan terus berusaha memberikan informasi yang berguna terutama bagi saya pribadi dan semoga untuk Anda sekalian…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s