Labirin: Keunikan dan manfaat memilikinya bagi cipta, iman, kearifan, kesehatan dan kepercayaan diri

Lorong dan labirin sering disatukan dalam imajinasi publik, namun mereka berbeda dalam cara-caranya yang penting. Lorong adalah rangkaian jalan-jalan yang terpisah-pisah dan membingungkan, yang kebanyakan mengantarkan kepada akhir yang mematikan. Ketika Anda masuk, tujuannya adalah melepaskan diri secepat mungkin. Sedangkan labirin adalah tempat jalan yang melingkar. Ketika Anda masuk, tujuan Anda adalah mengikuti jalan sampai ke pusatnya, berhenti, kemudian berbalik dan kembali keluar, semuanya pada langkah apapun yang Anda pilih. Lorong-lorong yang rumit adalah teka-teki analitis yang akan dipecahkan; labirin dapat memiliki pusat yang khusus. Lorong-lorong rumit melibatkan otak kiri; labirin membebaskan otak kanan.

Sebagai gambaran, Daniel H. Pink dalam bukunya “A Whole New Mind” atau “Misteri otak kanan manusia” menjelaskan bahwa suatu ketika ia berjalan di sebuah labirin yang terdiri dari blok-blok bata empat kali empat inci. Delapan lingkaran yang memiliki pusat yang sama, yang dibentuk dari blok-blok putih yang berukuran sama, mengorbitkan sebuah ruang pusat yang kira-kira berdiameter dua kaki. Di sepanjang tepi bagian luar, beberapa blok mempunyai kata-kata tunggal yang dicetak di atasnya: Cipta, Iman, Kearifan, Percaya. Para pengunjung sering memilih salah satu dari kata-kata ini, dan kemudian mengulang-ulanginya, seperti sebuah mantra dalam meditasi, ketika mereka berputar ke pusat.  Saya memulai jalan labirin saya dengan menuju ke kiri dan berjalan melalui lingkaran pertama. Ketika saya melihat-lihat sekitar, saya melihat beberapa bangunan Pusat Kesehatan di satu sisi dan tempat parkir di sisi lain. Tidak ada yang transenden mengenai masalah ini. Terasa seolah-olah saya hanya sedang berjalan dalam sebuah lingkaran. Maka saya mulai lagi. Untuk menjauhi gangguan-gangguan, saya melihat ke bawah. Saya memfokuskan pandangan saya pada garis mengerucut yang membentuk batasan jalan saya, dan saya mulai berjalan lagi – selambat mungkin. Garis-garis membentuk lingkaran di sekitar saya. Dan setelah itu terasa seperti berkendaraan di sebuah jalan panjang yang kosong. Saya tidak mesti memberikan banyak perhatian, sehingga saya meleset ke sebuah tempat yang berbeda – dan itu memberikan pengaruh menenangkan yang tidak di duga-duga. Pengalaman tersebut, mungkin tidak mengejutkan. Ia mengejutkan kekuatan-kekuatan pemikiran otak kiri saya. “Labirin adalah sebuah tempat pelarian bagi otak kanan saya” kata David Tolzman, yang mendesain dan membangun labirin John Hopkins. “Ketika otak kiri terlibat dalam serangkaian perjalanan berkesinambungan yang logis di suatu jalan, otak kanan bebas untuk berpikir secara kreatif”.

Dewasa ini ada lebih dari 4000 labirin yang privat dan publik di Amerika Serikat. Mereka meningkatkan popularitasnya karena beberapa alasan. Diantaranya adalah untuk menemukan kembali jalan untuk berdoa, instropreksi dan penyembuhan emosional. Anda akan bisa menemukan mereka ada dimana saja; di alun-alun kota yang ramai di Swiss; alun-alun di Inggris; taman-taman umum di Indiana, hingga negara bagian Washington, D.C, sampai Denmark. Universitas-universitas di California bagian utara; penjara-penjara di California bagian selatan. Dan di tempat-tempat ibadah seperti gereja Riverside di Manhattan, National Cathedral di Washington, D.C, gereja-gereja Methodist di Albania, gereja Unitarian di San Jose, dan sinagog di Houston. Labirin-labirin juga muncul di pelbagai rumah sakit dan faslitas kedokteran lainnya.

Sekarang, sekitar 40 rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan mempunyai labirin-labirin. Salah satu Universitas kedokteran terbaik di dunia yaitu John Hopkins, para pengaturnya menginginkan sebuah tempat dimana para pasien, keluarganya dam staf kedokteran dapat pergi untuk “melakukan relaksasi fisik dan mental”. Tempat tersebut adalah labirin dimana di dalamnya terdapat dua buku kecil berwarna kuning yang dapat bertahan dari cuaca dimana orang-orang yang berjalan-jalan di labirin dapat menulis pikiran-pikirannya. Buku-buku catatan tersebut memberikan kesaksian atas penghiburan dan kapasitas makna yang dibawa oleh labirin. Para dokter dan perawat menulis bahwa mereka datang kesini setelah pengalaman-pengalaman yang menantang atau menyiksa. Keluarga dari orang-orang yang menjalani pembedahan melukiskan kunjungannya kesini untuk berdo`a, merenung dan mengalihkan diri mereka. Bahkan dalam buku-buku catatan itu terdapat cerita-cerita yang mengharukan yang ditulis oleh pasien itu sendiri. Catatan-catatannya seperti ini:

“Saya bergabung dalam spirit dari semua orang yang berjalan melintasi labirin dan menulis di halaman-halaman ini”

“Bagi saya operasi bedah yang saya jalani satu minggu yang lalu saat ini adalah permulaan dari fase kehidupan saya yang baru. Kata saya, ketika saya berjalan melintasi labirin adalah “Percaya”.

“Saya percaya akan masa depan”

DR. Lauren Artress, seorang – pendeta Episcopal di gereja Katedral Grace di San Francisco – yang paling banyak meletakkan labirin pada peta budaya, mengatakan “Kita hidup dalam dunia otak kiri… dan disini ada dunia lainnya yang utuh yang mesti kita integrasikan agar dapat menghadapi tantangan-tantangan abad berikutnya” Ketika orang berjalan-jalan ke labirin, mereka “menggeser kesadaran dari yang linear kepada yang non-linear” dan membawa ke permukaan “bagian pola dari diri kita yang intuitif dan mendalam”. Pengalaman itu berbeda dari pengalaman berada dalam sebuah lorong yang rumit, katanya “Ia membawa Anda kepada bagian keberadaan Anda yang benar-benar berbeda ketimbang sekedar pemecahan masalah, perasaan ‘saya harap saya dapat melakukannya’.” Bahkan bentuk labirin biasanya sangat penting. “Lingkaran adalah sebuah arketipe bagi keseluruhan atau kesatuan. Oleh karena itu, ketika orang-orang berjalan-jalan ke labirin, mereka mulai melihat kehidupan mereka yang utuh”.

Saudaraku sekalian, dari semua penjelasan diatas, labirin tentunya tidak akan menyelamatkan dunia. Begitu pula dengan orang-orang yang telah melakukan perjalanan di dalam labirin. Mereka tentu tidak dapat dengan segera menyelamatkan dunia melalui tangannya sendiri. Namun dengan adanya labirin-labirin yang di bangun sebagai fasilitas umum, pastilah dapat memberikan dampak yang cukup signifikan. Perlu dukungan dari berbagai pihak karena solusi ini sangat relevan bila mulai diterapkan dari sekarang. Dampaknya pun akan luas sebagaimana yang telah dirasakan di beberapa tempat di Amerika Serikat.

Yogyakarta, 24 April 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Referensi: buku “A Whole New Mind” atau ”Misteri otak kanan manusia”. Karya; Daniel H. Pink, 2006]

Iklan

2 thoughts on “Labirin: Keunikan dan manfaat memilikinya bagi cipta, iman, kearifan, kesehatan dan kepercayaan diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s